NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Candi Borobudur

Bus pariwisata yang membawa rombongan PH2 berhenti dengan mantap di pelataran parkir Candi Borobudur yang luas. Begitu pintu bus terbuka, hawa panas Magelang yang mulai menyengat langsung menyambut mereka. Namun, semangat para siswa tidak surut sedikit pun. Megahnya stupa-stupa batu yang terlihat dari kejauhan seolah menjadi magnet yang menarik mereka untuk segera melangkah masuk.

Rombongan "Penguasa Kursi Belakang" dari Bus 4 langsung merapatkan barisan. Reno, Dion, Feri, Gery, dan Adrian, ditambah Sammy yang baru saja bergabung dari barisan tengah, berjalan dengan gaya santai namun penuh energi. Mereka mulai menyisir area pelataran, mata mereka liar mencari sudut atau spot foto yang terlihat aesthetic dan tidak terlalu padat oleh turis lain.

"Ger, di sana bagus tuh! Latar belakangnya langsung ke stupa utama," seru Dion sambil menunjuk ke arah struktur batu yang menjulang tinggi di depan mereka.

Gery hanya mengangguk, mencoba fokus pada kegembiraan bersama teman-temannya. Ia sengaja tertawa kencang menanggapi lelucon konyol Reno tentang "jurus kungfu" yang akan mereka pakai saat difoto nanti. Baginya, obrolan tentang Angela di bus tadi sudah cukup menguras energi mentalnya, dan kini ia hanya ingin menjadi Gery yang biasa—Gery yang seru diajak bercanda oleh dion dan kawan-kawan.

Namun, di barisan belakang yang berjarak hanya beberapa meter, suasana jauh berbeda. Vanya berjalan berdampingan dengan Nadia, sementara Yola, Vivi, dan Rini mengekor di belakang mereka. Nadia, yang memiliki pendengaran setajam radar jika sudah menyangkut urusan asmara, ternyata tidak melewatkan sedikit pun obrolan antara Vanya dan Gery di bus tadi.

"Van," bisik Nadia sambil menyenggol lengan sahabatnya itu. "Gue tadi nggak sengaja denger... Angela itu siapa sih? Kayaknya Gery ceritanya serius banget sampai bawa-bawa masalah status sosial segala."

Vanya mengembuskan napas panjang, matanya menatap punggung Gery yang sedang dirangkul oleh Sammy di depan sana. "Adek kelasnya pas SMP, Nad. Malaikat penyelamat katanya. Cantik, Chinese, kaya raya pula. Gue jadi ngerasa remah-remah peyek denger speknya."

Nadia mengerutkan kening, rasa ingin tahunya semakin memuncak. "Serius? Gery yang kalem gitu punya sejarah sama cewek spek bidadari? Tapi kok bisa mereka pisah? Apa gara-gara beda dunia itu yang dia maksud?"

Vanya hanya mengedikkan bahu, mencoba bersikap acuh tak acuh padahal hatinya terusik. "Gery ngerasa nggak level. Dia minder sendiri. Tapi yang bikin gue kesel, dia masih nyimpen nomernya dan masih suka komunikasi soal basket."

Nadia terdiam sejenak, menimbang-nimbang informasi baru ini. Sebagai orang yang baru saja merasakan pahitnya pengkhianatan, ia merasa harus waspada demi sahabatnya. "Hati-hati, Van. Biasanya cewek masa lalu yang belum 'selesai' itu lebih bahaya daripada selingkuhan baru. Apalagi kalau Gery ngerasa punya utang budi nyawa sama dia."

Gery sebenarnya mendengar sayup-sayup namanya disebut, namun ia memilih untuk tetap berjalan lurus. Ia sengaja melempar topi Reno ke arah Adrian untuk memicu kejar-kejaran kecil, menciptakan distraksi agar para wanita itu tidak bisa menginterogasinya lebih lanjut di tempat terbuka seperti ini.

Matahari Magelang semakin meninggi, memantulkan cahaya pada relief-relief kuno yang bisu. Di tengah kemegahan warisan dunia itu, sebuah drama baru tentang masa lalu dan rasa tidak percaya diri mulai bersemi di antara langkah-langkah mereka yang menapak naik ke puncak candi.

Sesi pemotretan di bawah terik matahari Magelang benar-benar menguras sisa-sisa tenaga mereka. Setelah berkeliling dari relief ke relief, rombongan laki-laki akhirnya menyerah dan memilih menepi. Mereka menemukan perlindungan di bawah pohon beringin besar yang rimbun, di mana dahan-dahannya yang menjuntai menciptakan kanopi alami yang menyejukkan.

Gery menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang kasar, matanya menyipit memperhatikan Sammy di kejauhan. Sammy yang sedang mengantre di penjual air mineral tampak dikepung oleh Vanya dan Nadia. Gestur kedua gadis itu terlihat sangat mengintimidasi; mereka bicara dengan nada serius dan sesekali melirik tajam ke arah Gery yang sedang duduk santai. Sammy berkali-kali menggaruk lehernya, tanda bahwa ia sedang terjepit dalam situasi canggung.

Tak lama kemudian, Sammy berjalan menghampiri rombongan dengan menenteng plastik berisi botol-botol air mineral dingin. Ia membagikannya satu per satu, lalu segera menghempaskan pantatnya duduk di samping Gery. Tanah di bawah pohon itu masih terasa dingin dan lembap, memberikan sensasi sejuk yang instan bagi tubuh mereka yang kepanasan.

"Ger," Sammy berbisik, napasnya masih sedikit memburu. "Tadi Vanya sama Nadia nanya-nanya tentang Angela. Kok mereka bisa tahu soal dia, sih? Perasaan di sekolah SMK kita sekarang, cuma kita berdua doang yang berasal dari SMP yang sama."

Gery tertawa pelan melihat raut wajah Sammy yang tampak seperti orang baru saja habis disidang. "Tenang, Sam. Tadi malam di taman pas gue berdua sama Vanya, dia nanya masa lalu gue pas SMP. Ya sudah, gue jujur aja cerita soal kejadian tawuran di Jaktim itu, terus cerita gimana Angela nolongin gue pas gue lagi berdarah-darah."

Sammy langsung menyela dengan mata berbinar, memori lama mendadak berputar kembali. "Oh iya! Gue inget banget kejadian itu! Hari itu sekolah gempar banget, banyak anak-anak kita yang ketangkep Satpol PP sampai masuk berita. Besoknya kepala sekolah marah-marah pas upacara sampai mukanya merah padam. Gue kira lo juga ketangkep waktu itu, ternyata lo 'diselamatkan' bidadari motor matic ya?"

Gery tersenyum tipis, lalu bertanya dengan nada selidik, "Terus, tadi lo cerita apa aja ke mereka berdua?"

"Nggak banyak, sih," jawab Sammy sambil meneguk air mineralnya. "Gue cuma bilang kalau Angela itu adek kelas kita yang rajin ikut latihan basket. Dia emang ulet banget kalau latihan, selalu minta diajarin lay-up sama dribble ke senior-senior termasuk ke lo. Gue nggak cerita yang aneh-aneh, kok."

Namun, Sammy belum selesai. Ia menoleh ke arah Gery dengan tatapan merasa bersalah. "Terus... Vanya maksa minta akun Friendster atau Facebook-nya Angela. Dia bilang mau liat 'referensi' cewek pilihan lo. Karena gue males didebat terus, ya akhirnya gue kasih tahu nama akunnya. Pas dapet namanya, mereka berdua langsung lari buru-buru ke arah tempat duduk yang agak tertutup, terus gue liat Vanya langsung ngeluarin laptop dari tasnya. Mungkin mereka mau langsung sesi investigasi FBI sekarang juga."

Gery tertawa renyah, menggelengkan kepalanya melihat tingkah posesif Vanya. "Biarin aja, Sam. Wanita emang begitu, rasa penasarannya lebih tinggi daripada tangga Candi Borobudur ini."

Reno, yang sejak tadi diam-diam menguping pembicaraan mereka sambil selonjoran, tiba-tiba melemparkan botol kosongnya ke arah Gery. "Woi, Ger! Kenalin ke gue dong si Angela itu. Gue kan begini-begini masih ada keturunan Tionghoa-nya, meskipun wajah gue nggak terlalu dominan Chinese sih, tapi lumayanlah buat dicoba."

Gery menangkap botol kosong itu dengan tangkas, lalu menatap Reno dengan tatapan jahil yang membuat rekan-rekan lainnya menoleh penasaran.

"Kalau lo mau gue kenalin ke dia, syaratnya berat, Ren," ucap Gery sambil terkekeh. "Lo harus jago dulu main basketnya, karena dia sekarang sudah jadi pemain inti tim perempuan di SMP kita dulu. Liat aja tadi pagi, lo lempar bola buat poin dari jarak dekat aja masih sering miss alias nggak masuk, apalagi mau lempar perasaan ke dia. Yang ada lo kena block duluan sebelum sempet PDKT! Hahaha!"

Tawa pecah seketika di bawah pohon besar itu. Dion, Adrian, dan Feri ikut meledek Reno yang wajahnya langsung memerah karena malu sekaligus kesal dipatahkan telak oleh Gery. Di tengah suasana riang para lelaki itu, Gery tidak menyadari bahwa beberapa puluh meter dari sana, Vanya dan Nadia sedang memandangi layar laptop dengan ekspresi yang sangat serius, membedah setiap foto di profil Facebook milik Angela.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!