Jayden, seorang pemuda biasa, tiba-tiba terlibat dalam dunia penuh misteri, godaan, dan permainan kekuasaan setelah bertemu dengan Eveline Bloodthorne.
Dengan sistem aneh di kepalanya yang memberinya misi dan imbalan, Jayden harus bertahan dari intrik keluarga, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut rumah megah mereka.
Sementara itu, masa lalunya kembali menghantui ketika sahabat masa kecilnya, Rose, terbaring koma di rumah sakit, dan Jayden harus menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan yang menimpanya.
Di tengah semua ini, Jayden juga harus menghadapi godaan dari wanita-wanita disekitarnya, termasuk ibu Rose, Elena, yang hidupnya penuh dengan kepedihan.
Apakah Jayden bisa bertahan tanpa terseret dalam arus nafsu dan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUSTAHIL!!!
Ruangan itu, tiba-tiba dihancurkan oleh sebuah suara, memaksa semua orang menoleh.
“Bau busuk apa ini?” suara lemah dan bingung itu menggema di ruangan, mengejutkan semua orang.
Seluruh pandangan serentak beralih ke arah sumber suara tak terduga tersebut, dan desahan kaget terdengar ketika Nyonya Besar keluarga itu, nenek Eveline, perlahan melepaskan masker oksigennya. Berkedip dengan bingung, dia menatap anggota keluarga yang berkumpul.
Ruangan yang sebelumnya membeku karena terkejut berubah tak percaya. Para dokter, perawat, Eveline, Jayden, dan seluruh keluarga menatap wanita tua itu seakan sedang menyaksikan penampakan ajaib.
Kerutan tipis muncul di dahi Nyonya Besar saat dia menyerap kebingungan di sekelilingnya.
Eveline, yang sejak awal masih mencengkeram leher Jayden, perlahan melepaskan genggamannya.
“Apakah… apakah itu hantu?” Michelle tergagap.
Ding!
[ Misi: Jangan lupa untuk membalas apa yang baru saja terjadi. kau tidak bisa membiarkan siapa pun menginjak-injakmu begitu saja. bahkan jika itu seseorang yang memiliki vagina.
Durasi Waktu: 1 hari
Hadiah: tergantung pada performamu. sistem akan menilaimu. ]
[Jangan mencoba bersikap lunak pada gadis itu. ejekan dan tindakanmu akan menentukan hadiahmu.]
Jadi, tepat di tengah-tengah kebangkitan gila wanita tua ini, Jayden justru menerima sebuah misi.
Dia seharusnya melepaskan Eveline, mengira bahwa dia hancur karena kematian nenek tercintanya. Namun sekarang, ketika wanita tua itu ternyata masih hidup dan sistem telah memberinya lampu hijau, tak ada lagi alasan untuk menahan diri.
Setelah keterkejutan awal mereda, Eveline yang diliputi kebahagiaan dan kelegaan, bergerak hendak mendekati neneknya, ingin memeluknya erat dan memastikan bahwa wanita tua itu benar-benar hidup.
Eveline, yang bertekad mendekati neneknya, mendapati jalannya tiba-tiba terhalang ketika Geoffrey bergerak cepat mencegat. Dengan cepat, dia mendorong Eveline ke samping dan memposisikan dirinya di sisi wanita tua itu.
“Nyonya Besar,” panggil Geoffrey.
“Sejak kapan kau menjadi begitu formal denganku, Geoffrey?” tanyanya wanita tua itu.
“Mary,” panggil Geoffrey dengan menyebut namanya.
Eveline, yang berdiri di pinggir, tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening melihat pertunjukan kesetiaan tak terduga dari Geoffrey.
Dengan tetap mempertahankan sikap tenangnya seperti biasa, Geoffrey dengan mulus melanjutkan percakapan dengan wanita tua itu.
Namun, Eveline yang tajam dan peka, dapat melihat sandiwara itu. Dia menyadari bahwa pria itu memanfaatkan momen ini agar dia tidak memiliki kesempatan berbicara dengan neneknya. Geoffrey tidak ingin Eveline memberi tahu neneknya tentang dugaan pengkhianatannya.
Saat Geoffrey dan Mary terlibat dalam percakapan santai. Para anggota keluarga, Jack, Martin, Michelle, dan istri Martin, mendapati diri mereka bergulat dengan beragam emosi saat menyaksikan pemandangan itu terungkap.
Mereka tidak bisa mempercayai bahwa ibu mereka benar-benar selamat.
Bagi Jack, pemandangan Mary yang berinteraksi begitu nyaman dengan Geoffrey memicu amarahnya. Tangannya gemetar ketika dia memikirkan kemungkinan terbongkarnya keterlibatannya dalam peracunan ibunya sendiri. Dia mengenal ibunya, wanita itu tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja, bahkan jika pelakunya adalah anaknya sendiri.
Dengan putus asa, dia menoleh menatap saudaranya, orang yang pertama kali menanamkan ide ini ke dalam kepalanya.
Di sisi lain, Michelle dan istri Martin tanpa sadar saling menggenggam telapak tangan yang basah oleh keringat.
Sementara itu, Seventeen berjalan mendekat dan entah bagaimana dia berhasil mendapatkan handuk di tengah kekacauan ini, lalu berdiri di samping Jayden sambil memijat lehernya yang bengkak.
Jayden memperhatikan Seventeen yang berdiri diam di sisinya. Saat melihat Seventeen tetap bersikap acuh tak acuh, Jayden berpikir bahwa Seventeen masih belum cukup siap. Dia tidak bisa hanya fokus pada satu hal sambil mengabaikan yang lain? Itu tidak pantas bagi seorang pelayan.
Seorang pelayan harus memiliki empat mata, memperhatikan segalanya, mengamati semua orang.
Saat nenek Eveline bercakap-cakap dengan gembira bersama semua orang, perhatian Jayden teralihkan oleh bunyi sistem yang.
[ Misi: Mereka tidak terlihat sebahagia itu. mengapa kau tidak mengacaukannya saja… menyela kebersamaan mereka?
Durasi Waktu: 15 menit
Hadiah: 2 putaran undian ]