“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Usai pesta berakhir, suasana restoran mulai lengang. Banyak tamu telah pergi, termasuk Arga yang tak lagi terlihat di sana. Yura masih duduk di meja tamu dengan ekspresi tenang, seolah hiruk-pikuk sebelumnya tak meninggalkan bekas apa pun.
Hans mendekat, lalu duduk tepat di hadapannya.
“Aku sungguh tidak menyangka … Nona muda Lartika itu adalah kamu, Yura.”
Yura mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang terasa getir.
“Kalau tahu dari awal, Tuan Hans pasti tidak akan menghina saya, bukan? Atau tetap akan menghina saya?”
Kalimat itu membuat dada Hans terasa sesak. Rasa bersalah segera merambat di wajahnya.
“Bukan begitu,” ujarnya cepat. “Aku minta maaf atas semua yang terjadi. Yura … aku benar-benar minta maaf.”
Namun, Yura tak menunjukkan reaksi apa pun. Tatapannya kosong, seakan kata maaf itu tak lagi berarti baginya.
Yura bangkit dari kursinya. Baru satu langkah ia melangkah, tangan Hans meraih pergelangan tangannya, menahannya.
“Yura, tunggu.”
Wanita itu berhenti, namun tak menoleh.
“Apa lagi, Tuan Hans?”
“Aku tahu satu rahasia tentang masa lalumu.”
Langkah kaki Yura terhenti seketika. Hans berdiri, suaranya merendah namun penuh tekanan.
“Ibu yang selama ini merawatmu … bukan ibu kandungmu. Dan pria yang selama ini kau bela mati-matian … bukan ayahmu.”
Perlahan Yura menoleh. Alih-alih terkejut, senyum tipis justru terukir di bibirnya.
“Itu saja?” katanya ringan. “Memang bukan. Dia ayah tiriku. Saat kami pindah ke kota, ibuku menikah lagi. Suami pertamanya?” Yura terkekeh dingin. “Pria bejat.”
Tatapan Yura menusuk tajam.
“Tuan Hans kurang kerjaan sampai harus menyelidiki hidup saya sejauh ini? Atau Anda terlalu membenci saya?”
Hans menggeleng cepat.
“Aku tidak membencimu, Yura. Justru sebaliknya.” Ia menarik napas berat. “Aku minta maaf.”
Yura mengibaskan tangannya, hendak pergi. Namun Hans melanjutkan dengan suara yang lebih pelan dan mematikan.
“Tanda lahir di punggungmu … sangat mirip dengan Putri kecil keluarga Wijaya yang hilang puluhan tahun lalu.”
Tubuh Yura menegang.
“Sebelum mereka mengadopsi Putri baru untuk mengisi kekosongan keluarga Wijaya,” lanjut Hans.
“Cukup!” Yura menghentakkan tangannya dengan keras.
“Tanda lahir itu tidak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya. Jangan bawa-bawa nama Anda ke hidup saya!”
Ia berbalik, hendak meninggalkan Hans untuk terakhir kalinya.
“Yura,” panggil Hans.
Langkah itu terhenti lagi.
“Aku punya bukti,” ucap Hans mantap. “Kalau kamu … adalah adik kandung ku yang selama ini hilang.”
Kedua tangan Yura mengepal erat, kukunya menancap ke telapak.
“Aku akan menunjukkan buktinya,” suara Hans bergetar, bukan karena ragu, tapi karena harap yang terlalu besar.
“Kalau kamu nggak percaya, aku punya bukti. Kamu bukan anak dari orang tua yang membesarkanmu. Kamu putri keluarga Wijaya.”
Hans melangkah setengah langkah lebih dekat.
“Kamu adikku, Yura.”
Kata adik itu menghantam lebih keras dari tamparan. Yura tertawa kecil, tawa yang terdengar rapuh dan kosong.
“Adik?” matanya memerah, tapi sorotnya membeku.
“Kamu datang ke hidupku, menghinaku, meremehkanku, lalu sekarang bilang aku adikmu?”
Hans terdiam, dadanya naik turun.
“Kalau aku benar adikmu,” lanjut Yura lirih namun tajam, “di mana kamu saat aku diseret hidup yang bukan milikku? Di mana keluarga Wijaya saat aku belajar bertahan sendirian?”
Hans ingin menjawab, namun tak satu pun kata keluar.
Yura mengangkat wajahnya, menatap Hans tanpa sisa harap.
“Dengar baik-baik, Tuan Hans. Selama aku hidup…” suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena menahan luka terlalu lama,
“aku tidak mau mengakui Anda sebagai bagian dari hidupku.”
Kalimat itu jatuh seperti palu, Hans memejamkan mata sesaat.
“Yura—”
“Tidak,” potong Yura tegas.
“Aku sudah kehilangan terlalu banyak untuk percaya pada darah dan nama keluarga. Aku tidak butuh identitas baru, aku hanya ingin hidupku tetap utuh." Ia berbalik pergi, langkahnya cepat namun tertahan emosi.
Hans menatap punggungnya menjauh, lalu berbisik nyaris tak terdengar,
“Sekalipun kamu menolak … aku tetap akan melindungimu. Sebagai kakak.”
Yura berhenti sejenak, tanpa menoleh, ia berkata dingin,
“Aku tidak pernah minta kamu melindungiku. Karena selama ini kamu orang yang paling banyak menyakitiku,"
Kata-kata itu adalah kenyataan yang selama ini Yura rasakan.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih