Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembatalan kontrak
"Ya" Norma mengangguk.
"Bagaimana saya bisa bicara jika dirimu masih berdiri layaknya manekin begitu!" ujar Syakir.
Norma segera duduk, bersebrangan dengan Syakir. Kepala masih menunduk, tak berani bertatap mata. Sedari tadi dirinya merasa sungkan, karena Syakir berbeda dari hari kemarin. Pandangan matanya lebih dalam, Norma tidak mengerti itu.
"Setelah masa Iddah mu habis, saya berniat melamarmu" ucapnya tegas, tapi lembut.
"Hah?!" Norma mendongak, melongo terkejut.
"Jarak kita bahkan hanya satu langkah, apa kamu tidak mendengarnya?" Syakir menekan ucapannya.
"Sa-saya..._"
"Saya tidak menerima penolakan Norma lestari! Surat kontrak telah jadi abu yang artinya pembatalan otomatis." balas Syakir enteng, beralih posisi menjadi bersandar, kedua tangan bersedekap dada.
"Anda tidak ada hak untuk memaksa saya! Mentang-mentang anda berjasa, tapi bukan berarti seenaknya mengatur kehidupan pribadi saya!" Norma kesal bukan main. "Dan lagi, saya tidak ada kepikiran untuk kembali membina rumah tangga" lanjutnya lagi, menatap nyalang pria di depannya ini.
Syakir tersenyum misteri "Itulah gunanya teliti. Apa dirimu tak membaca keseluruhan isi surat kontrak itu Norma Lestari?" balas Syakir mengeluarkan lembaran kertas putih berisi tulisan hitam "Silahkan di baca copy surat kontrak ini" ucapnya mengulum senyum.
Norma menarik kasar surat tersebut. Mulai membacanya dari bagian atas. Awalnya dirinya masih terlihat biasa saja, namun pada akhir point, netra indah itu membola sempurna.
Isi Surat:
8. Jika pihak pertama (Syakir Rafisqy) berubah pikiran, lalu membatalkan surat kontrak. Baik dengan merobek surat atau dengan cara apapun, maka otomatis perjanjian akan batal (hangus).
9. Dan jika point di urutan delapan terjadi, maka pihak kedua (Norma Lestari) tidak di perkenankan protes.
10. Dengan menandatangani surat ini, maka dengan kata lain, pihak pertama dan kedua menyetujui semua point. Jika di perjalanan masa kontrak, pihak kedua tidak setuju, maka pihak kedua harus membayar dua kali lipat dari uang kontak!
Dada Norma naik turun menahan amarah. Merasa tertipu tapi tidak bisa menuntut, karena dari awal ini adalah kesalahannya yang teledor tidak mau membaca dengan teliti. Karena ingin cepat Nuri di ambil tindakan operasi, Norma membaca asal-asalan surat kontrak saat itu. Bisa di katakan Syakir tidak salah sepenuhnya, dan keberuntungan berpihak pada pria itu.
Sedangkan Syakir, pria ini merasa menang melihat wajah Norma yang merah padam menahan kesal.
"Bagaimana Nyonya Norma Lestari Rafisqy? Apakah anda masih berniat menolak tawaran dari saya?" tanyanya santai, bibir menahan senyum.
Norma hanya diam, mata menatap nyalang pria di depannya ini. Jika saja tidak sedang hamil, pasti dirinya dengan senang hati menendang wajah Syakir yang seolah tanpa rasa bersalah.
"Baiklah, saya beri waktu dua jam. Kalau begitu saya ke kebun belakang dulu. Nanti setelah saya kembali, saya harap sudah mendapat jawaban dari kamu" ucapnya, beranjak, lalu meninggalkan Norma yang memendam kesal.
.
*****
.
"Jalan Jeruk Sawit" gumam Dawiyah, membaca papan plang yang tertera di pinggiran jalan raya.
"Betulan ini kah?!" ucapnya ragu.
"Ojek Kak!" ujar Pria berhenti di dekat Dawiyah.
"Tidak bang. Saya sedang cari alamat. Apa betul ini jalan menuju hunian jeruk sawit milik Syakir Rafisqy?" tanya Dawiyah, menunjuk papan plang.
"Iya Kak. Ini jalan menuju perkebunan sawit sekaligus kebun jeruk. Tumben betul ada orang asing kesana! Sudah beberapa perempuan yang menuju hunian itu" pria ini mengernyit heran.
"Saya cuma bertanya, tidak melayani orang kepo!" sembur Dawiyah sinis.
"Ihhhh.... Garangnye......" pria itu langsung tancap gas.
Dawiyah kembali menaiki motornya, menghidupkan mesin, lalu motornya mulai melaju memasuki area jeruk sawit.
**
"Permisi Bang, apa pemilik hunian ini ada di rumah?" Sapa Dawiyah pada pria yang sedang memberi makanan ayam.
Pria ini berbalik, menatap sejenak wanita di hadapannya.
"Alamak, kacak nye......" Dawiyah mengedipkan mata terpukau.
"Sayang betul orang se-tampan rupawan ini hanya pembersih kebun" Dawiyah berdecak sesal.
Pria yang di puji hanya diam, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Di tanya tak di jawab, di puji malah tak di tanggapi, apa tu telinga masih berfungsi dengan baik?" monolognya heran "Ah atau Dia ini berkebutuhan khusus kali. Kesian...." ucapnya lagi.
Ucapan Dawiyah membuat Syakir terkejut. Tapi pria itu tidak menanggapinya. Pria itu berjalan ke area belakang untuk masuk ke rumah.
"Cari siapa kak?" Sapa Mak Cik Syam. wanita itu menenteng keranjang belanja.
"Eh Mak Cik. Apa Norma tinggal di hunian ini?" tanyanya sopan.
"Benar kak. Masuk saja, Norma ada di dalam. Kalau begitu saya pergi dulu" balas Mak Cik Syam.
*
*
"Assalamualaikum" ucap Dawiyah berdiri di serambi, di depan pintu.
"Wa'alaikum salam. Dawi..." pekik Norma tertahan. Tak menyangka sahabatnya ada di sini.
"Nor? Betulan ini dirimu. Alamak, gemoy Nye........ Mana pakaian modis pula ini" Dawiyah terpesona melihat perubahan sahabat, bukan hanya dari penampilan, tapi juga wajah yang terlihat lebih berseri.
"Apakah kau ni. Yuk masuk!" Norma menarik tangan Dawiyah, masuk kerumah.
Dawiyah melihat sekeliling ruangan hunian rumah panggung ini. Hunian yang terlihat sederhana, elegan ini membuatnya nyaman. Walau terlihat simple, tapi fasilitas di dalamnya bukan kaleng-kaleng.
"Minum Daw" Norma menaruh minuman dingin dan beberapa cemilan.
"Aduhai... Bukan main Nyonya Norma ini. Pantaslah dirimu glowing Nor, tinggalnya saja dirumah ber-AC begini. Suasana sepi tapi menenangkan. Sejuk, asri tanpa polusi, baik polusi udara maupun polusi mulut ipar mertua" ucap Dawiyah enteng.
Naura terkekeh mendengarnya "Ada-ada saja kau ni. Hem.. Aku rasanya seperti mimpi dirimu datang kesini Daw. Bila dirimu pulang kampung? Kenapa tak memberi kabar?" tanya Norma.
"Baru kemarin. Bukannya kemarin dirimu pulang kampung, kenapa tak mampir kerumah?" balas Dawiyah balik.
Norma terdiam, bingung harus memulai dari mana. Norma belum ada menceritakan permasalahannya, dan dirinya tidak tahu saja jika Dawiyah sudah mengetahui semua gosip panas yang menimpanya.
"Aku yakin apapun keputusanmu kemarin pasti punya alasan yang besar. Dan.... Pasti begitu berat menanggung beban ini" ucap Dawiyah. Iya mengerti pasti berat dan bingung Norma untuk bercerita, mungkin juga sungkan, karena menyangkut aib.
"Terima kasih Daw, cuma dirimu yang mengerti aku. Yang lainnya hanya bisa menghakimi tanpa menelisik akar dari masalah" lirih Norma, terisak.
"Menangislah jika membuat hati lega, asal jangan menyesali jika niat mu sebenarnya demi kebaikan" Dawiyah mengusap punggung Norma. Sepenuhnya sudah mengerti pengorbanan sahabatnya meski Norma belum bercerita.
Dawiyah sudah mengerti ketika melihat Nuri sudah tidak lagi seperti dulu. Kini gadis kecil itu sudah sembuh, normal layaknya anak seusianya. Melihat itu, Dawiyah paham.
.
"Jangan sesali apa pun Nor. Seharusnya kau bersyukur bisa terbebas dari pria durjana Syamsul itu. Kau disini banting tulang cari duit dengan cuci gosok, mengurus anak, Pria bejat itu di luar negeri asik mesra dengan wanita lain!" ucap Dawiyah berapi.
"Maksud mu daw?"
.
Jangan lupa like dan komentarnya 🙏