Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 02
SANGAT MENGEJUTKAN
Mansion Holloway berdiri megah di balik pagar besi hitam yang menjulang tinggi.
Bangunannya tidak putih seperti rumah keluarganya—melainkan kelabu, dingin, dengan jendela-jendela tinggi yang terlihat lebih seperti mata pengawas daripada tempat tinggal. Lampu-lampu luar menyala terang, tapi tidak memberi rasa hangat. Justru membuat bayangan terlihat lebih tajam.
Mobil berhenti perlahan di halaman depan.
Seorang kepala pelayan pria berusia sekitar lima puluh tahun segera mendekat, membukakan pintu dengan gerakan yang terlalu cepat, seolah keterlambatan satu detik saja adalah kesalahan fatal.
“Selamat datang, Tuan Holloway,” ucapnya rendah.
Luis turun lebih dulu, lalu menoleh ke Elizabeth. Tatapannya tenang, senyum tipis masih bertengger di sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangan—kali ini bukan untuk formalitas, melainkan seperti sebuah pernyataan kepemilikan.
“Selamat datang di rumahmu,” katanya.
Elizabeth menyambut uluran tangan itu dan turun dengan anggun. Sepatu haknya menyentuh lantai marmer hitam yang dingin.
Ia menegakkan punggung, mengingat pesan terakhir ibunya. Tetap sopan. Tetap lembut.
Namun sejak langkah pertamanya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Para pelayan berdiri berjajar di sisi lorong utama. Mereka menunduk serempak saat Luis melangkah masuk, nyaris tanpa suara.
Tidak ada senyum. Tidak ada tatapan penasaran pada istri baru tuan rumah. Hanya ketakutan yang disembunyikan dengan rapi.
Elizabeth menangkapnya.
Cara tangan mereka gemetar kecil saat memegang nampan. Cara napas mereka ditahan. Cara mata mereka menghindari tatapan Luis seolah pria itu bukan hanya majikan—melainkan ancaman.
“Bawa koper Nyonya Holloway ke kamar utama,” perintah Luis singkat.
“Baik, Tuan,” jawab beberapa suara hampir bersamaan.
Elizabeth menoleh sekilas, ingin mengucapkan terima kasih, namun pelayan wanita di dekatnya justru menunduk lebih dalam, seolah kata apa pun dari Elizabeth bisa menyeretnya ke masalah.
Lorong besar itu berujung pada sebuah ruang duduk luas. Di sanalah dua sosok menunggu.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam disanggul tinggi duduk di sofa berlapis beludru gelap. Wajahnya keras, matanya tajam dan dingin—tidak ada sedikit pun kehangatan ibu yang menyambut menantu. Di sampingnya berdiri seorang wanita lebih muda, sekitar akhir tiga puluhan, berpostur tinggi dan berwajah angkuh, dengan tatapan yang menilai dari ujung kepala hingga kaki.
“Ibu,” ucap Luis datar. “Kami sudah sampai.”
Wanita itu menatap Elizabeth lama, terlalu lama, tanpa berdiri. Lalu akhirnya berkata,
“Jadi ini dia.” Bukan sapaan. Bukan sambutan. Hanya penilaian.
Elizabeth tersenyum sopan dan menunduk sedikit. “Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Holloway.”
“Hm.” Wanita itu mendengus pelan. “Kau terlihat… biasa saja.”
Elizabeth terdiam sesaat, lalu kembali tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan penilaian. Namun cara wanita itu mengatakannya terasa berbeda—tajam, disengaja.
“Kau terlalu kurus,” sambungnya tanpa ragu. “Dan wajahmu terlalu lembut. Wanita seperti ini biasanya tidak bertahan lama di keluarga kami.”
“Kau bisa memanggilku Esperance,” kata akhirnya, bukan dengan nada ramah, melainkan seolah memberi izin yang tidak tulus. “Dan ini Soraya, kakak Luis.”
Soraya menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak mengerti pilihanmu, Luis. Semoga kau bisa bertahan di sini!”
Luis menoleh sekilas. Tatapannya tidak keras, tapi cukup membuat Soraya menutup mulutnya.
“Aku tidak meminta pendapat,” jawabnya singkat.
Keheningan jatuh. Elizabeth merasakan udara di ruangan itu mengeras. Cara Soraya menelan ludah. Cara Esperance mengalihkan pandangan dengan ekspresi tidak senang. Cara pelayan yang berdiri di sudut ruangan semakin menunduk.
Semua orang menyesuaikan diri pada Luis.
Esperance akhirnya berdiri. “Makan malam sudah siap. Tapi aku harap kau tidak berharap sambutan hangat di sini, Elizabeth Taylor.”
Elizabeth mengangkat pandangannya. “Aku tidak berharap apa pun selain menjadi istri yang baik.”
Soraya terkekeh kecil. “Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan nada itu, sayang.”
Luis tersenyum tipis, nyaris puas.
Makan malam berlangsung dalam suasana yang sunyi dan menekan. Piring-piring porselen mahal tersaji dengan rapi, makanan disusun sempurna, namun tak satu pun percakapan mengalir dengan wajar. Setiap suara sendok menyentuh piring terdengar terlalu keras.
Elizabeth duduk tegak, memakan makanannya perlahan, menjaga gerak-geriknya seperti yang diajarkan sejak kecil. Ia mencoba berbasa-basi, menanyakan resep, memuji tata ruangan—namun jawabannya selalu singkat, dingin, atau diabaikan.
Esperance beberapa kali menatapnya seolah mencari celah kesalahan.
Soraya memperhatikan setiap geraknya dengan sinis.
Dan Luis—Luis menikmati semuanya.
Elizabeth menyadari itu ketika ia melihat sekilas tatapan suaminya. Tenang. Mengamati. Seolah ia sedang menguji seberapa kuat istrinya berdiri di tengah tekanan.
Seorang pelayan tanpa sengaja menjatuhkan sendok kecil.
Suara logam itu memantul di ruangan seperti letupan kecil.
Pelayan itu langsung pucat. Tubuhnya menegang. Ia membungkuk berulang kali. “Maaf, Tuan. Maaf.”
Luis tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya.
Beberapa detik terasa seperti selamanya.
“Pergi,” katanya akhirnya.
Pelayan itu berlari kecil meninggalkan ruangan, hampir tersandung di ujung pintu.
Elizabeth menelan ludah.
Ia menatap piringnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia perlihatkan. Ia belum pernah melihat ketakutan seperti itu—ketakutan yang begitu dalam hingga membuat seseorang lupa bernapas.
Luis menoleh padanya. “Kau tidak nyaman?”
Elizabeth menggeleng cepat. “Tidak. Aku hanya… lelah.”
Luis meraih tangannya di bawah meja. Genggamannya kuat, tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Elizabeth mengerti bahwa ia diperhatikan.
“Kau akan terbiasa,” katanya pelan.
Kalimat itu kembali terdengar.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahannya, Elizabeth merasakan sesuatu yang jelas—bukan cemas, bukan gugup.
Takut.
Bukan pada ibu mertuanya. Bukan pada kakak iparnya.
Melainkan pada pria yang duduk di sampingnya, tersenyum tenang, seolah seluruh rumah ini—dan semua orang di dalamnya—bergerak sesuai kehendaknya.
Elizabeth tetap tersenyum sopan.
Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bergetar pelan.
.
.
.
Selang beberapa menit selesai makan malam, Luis sendiri yang mengantarkan Elizabeth ke kamar.
“Cari pelayan itu, atau Luis akan melampiaskan ke kita.” Pinta Esperance yang menatap lurus, tajam dan datar kepada Soraya juga kepala pelayan di sana.
“Aku mengerti.” Balas Soraya yang segera bergegas menyuruh pelayan tadi.
Sementara di kamar yang luas dan mewah, sepasang suami-istri itu baru saja masuk. Elizabeth tak melihat adanya pantulan cahaya di kamar bertema gelap itu.
“Boleh aku membuka gorden jendelanya?” tanya Elizabeth yang kini ditatap oleh Luis.
“Tentu saja! Kau bisa lakukan apapun di kamar ini.” Balas Luis yang berjalan mendekatinya dan menyentuh kedua pipi istrinya. “Tapi aku lebih suka tertutup agar tidak ada yang melihat!”
Ucapan itu benar-benar membuat Elizabeth sedikit berkernyit. Hingga Luis mencium keningnya cukup agresif lalu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Elizabeth di malam pertama mereka.
Wanita cantik dengan dress tak kalah cantiknya itu, berbalik, mengamati keseluruhan ruangan di dalam kamar tersebut. Sangat mencengkam dan terdapat sebuah aksesoris yang mengerikan berupa tongkat besi, rantai dan beberapa pedang panjang serta pendek. Cukup lama dia menatapnya untuk memastikan itu benda sungguhan bukan mainan.
-‘Untuk apa dia menyimpan semua benda itu di sini?’ batin Elizabeth yang mulai berjalan ke arah jendela besar dan membuka gorden hitam tersebut.
Wajah cantik nan tenangnya tadi seketika terkejut, kedua matanya membulat sempurna saat dia melihat Luis Holloway memukuli seorang wanita dengan kasar dan brutal— seorang pelayan wanita yang menjatuhkan sendok di tengah makan malam tadi.
DARRR!
Suara tembakan membuat tubuh Elizabeth menegang hingga ia gemetar menutup gorden dan menatap lurus seolah yang dia lihat bukanlah kenyataan.
Ia menoleh ke dinding kamar, lebih tepatnya ke benda-benda tajam dan berbahaya tadi.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl