" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapanbelas
Sekitar jam 10.00 malam kakek Darto dengan dua perawat dan satu orang yang dokter sudah sampai di bandara untuk membawa Naura pergi ke luar negeri untuk menyembuhkan penyakitnya.
Semua prosedur dan surat perizinan sudah diurus oleh kakek Darto untuk membawa naura pergi dari negara tersebut.
Tidak asa seorang pun yang tau tentang kepergian gadis itu terkecuali dokter dan perawat itu yang sudah kakek darto peringatkan jangan ada yang membuka suara soal kepergian gadis itu pada siapa pun yang nantinya bertanya tanya.
Bahkan cucunya sendiri kakek Darto tidak memberitahukan tentang kepercayaan mereka karena kakek Darto sudah punya alasan jikalau cucunya itu bertanya kemana perginya gadis tersebut.
Kakek Darto juga menyewa pesawat bisnis hanya untuk membawa kepergian mereka ke negara tersebut yang masih dirahasiakan.
Setelah semua persiapan sudah selesai dan Naura yang tidak sadarkan diri pun sudah berada dalam pesawat mereka mulai perlahan pesawat mulai Lepas Landas meninggalkan tanah air tanpa jejak. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa melacak keberadaan kepergian mereka.
Di dalam pesawat kakek darto menyadarkan tubuhnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya untuk mengirimkan pada seseorang.
Setelah selesai kakek darto pun kembali meletakkan ponselnya lalu memejamkan kedua matanya untuk mengurai rasa lelah yang belum sepenuhnya hilang.
Bahkan Baru sampai di tanah air tadi pagi kini kakek darto harus terbang lagi meninggalkan tanah air hanya untuk membawa gadis itu dan juga sebuah misi tertentu.
*
*
*
Keesokan paginya matahari memancar sinar dengan begitu terang, Burung burung berkicau di ranting pohon dan juga suara ayam jago yang berkokok membangunkan seorang pemuda dari tidurnya.
Perlahan mata hazel nanti tajam itu menarik tubuhnya bersandar pada tempat tidur sambil melihat jam yang ada di dinding kamar tempat yang menujukan pukul 6 pagi.
Di kamar tersebut juga terlihat barang-barang berserakan di lantai meningkatnya berserakan di mana-mana, serta vas bunga pun hancur lebur dengan darah yang sudah mengering terlihat di lantai keramik yang mengkilat.
Pemuda itu adalah Shaka yang baru saja bangun pagi hari setelah semalam melampiaskan semua amarahnya dengan membuat semua barang barang di kamar itu hancur tak tersisa.
Saat Shaka menginjakkan kakinya di lantai ia melihat ke seluruh ruangan yang ada di kamarnya sangat berantakan dan kotor karena ulahnya semalam namun yang menjadi fokus perhatian Shaka adalah wajahnya yang terlihat dari pantulan kaca hias yang retak.
Tiba-tiba saja Shaka memegang dadanya yang berdetak tidak seirama, hati kecilnya seperti menghawatirkan sesuatu namun dia irinya sendiri tidak tahu apakah itu.
kaki jenjang Shaka pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena jam terus berjalan menunjukkan pukul 06.30 pagi di mana Iya harus berangkat ke sekolah.
Sekitar 15 menit kurang lebih Saka pun sudah selesai mandi dan kini sedang merapikan pakaian sekolahnya yang sudah terpasang di tubuhnya namun lagi-lagi hatinya seperti gelisah dan risau. namun dengan cepat Shaka menepis pikiran tersebut Lalu mengambil tas sekolah serta handphonenya dan berjalan keluar dari kamar.
Sampai di lantai bawah Shaka menghentikan kakinya di bawah anak tangga sambil melihat ke arah meja makan yang kosong tidak mendapati sang kakek berada di sana. seharusnya seperti biasa sang kakek sudah duduk di sana sambil meminum kopi dan membaca koran kebiasaan kakek tua itu.
Namun pagi ini begitu sunyi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan walaupun makanan sudah terhidang di meja makan tetapi tidak ada orang yang duduk di sana.
Sampai Sari yang kebetulan keluar dari dapur sambil membawa sebuah sepiring makanan pun terkejut melihat pemuda itu berdiri tidak jauh dari meja makan.
" Ke mana kakek kenapa tidak kelihatan?" pertanyaan tersebut muncul bebas dari bibir Saka kepada pembantunya itu.
Sedangkan Sari yang ditanya seperti itu Saka terdiam seketika tidak tahu harus menjawab apa.
" Kenapa diam, kemana kakak?" Tanya shaka dengan suara lebih tinggi hingga membuat sari terkejut.
" Maaf den kakek sudah pergi dari rumah ini sejak semalam den." Jawab sari dengan jujur tentang kepergian sang kakek namun Sari tidak memberitahukan kepada Saka jikalau kakek pergi bersama Naura yang semalam tiba-tiba saja kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.
Shaka yang mendengar ucapan dari pembantunya tersebut pun hanya bersikap biasa saja. namun dalam hatinya bertanya-tanya Apakah sang kakek marah karena dirinya semalam sampai pulang tanpa mengabari dirinya Padahal baru sampai di sini belum ada 24 jam namun sudah pergi lagi.
Setelah itu tanpa menyahuti ucapan dari Sari Shaka pun pergi meninggalkan rumah untuk berangkat ke sekolah dengan wajah datar.
Sedangkan Sari sendiri sejak tadi kakinya sudah bergetar hebat seakan dirinya ingin pingsan namun tetap ia tahan saat menjawab pertanyaan dari pemuda itu.
" Ya Allah gimana ini kalau Den Shaka tahu Kakek bawa pergi Mbak Naura apa yang harus Sari jawab.
"Sari!"
" Ibuku kok ngagetin Sari untungnya Sari nggak jantungan Bu." Kata sari dengan terkejut saat bu ijah menepuk pundaknya dari belakang.
" Lah kamu ngapain dari tadi, ibu panggilin kamu nggak dateng-dateng ternyata berdiri sini apa yang kamu lihatin." Tanya bu ijah dengan penasaran.
" Itu Bu. tadi den shaka tanya kakek ke mana, dari bingung jawabannya. trus sari jawab aja kalo Kakek udah pergi dari rumah sejak semalam." kata sari dengan polos.
"Oh gitu. tapi kamu nggak ada kasih tahu kan sama Den Saka kalau kakak pergi dari sini dengan membawa Mbak Naura. kamu jangan sampai keceplosan loh Sari sama Den Saka tentang apa yang telah terjadi semalam."
" Iya bu sari inget kok. tapi sari sedih gak bisa liat mbak naura lagi, entah sampai kapan bisa bertemu. tapi sari selalu berdoa semoga penyakit mbak naura di angka sama yang kuasa sampai bener benar sembuh."
" Apa lagi mbak naura sudah terbebas dari siksaan den Shaka." Sambung sari dengan menangis namun juga bahagia.
Begitu juga bu ijah yang sedih tidak bisa melihat gadis itu yang sudah ia anggap sebagai putri sendiri.
Namun dari itu semua pasti akan ada kejutan yang akan terjadi suatu saat nanti.
*
*
*
" Loh shaka katanya loe belum bisa sekolah, kok udah masuk aja." Kata rian saat melihat shaka keluar dari dalam mobil setelah sampai di sekolah.
" Iya tumben lo bro." Tambah rio dengan wajah cengengesan namun putra memukul bahu rio dengan cukup keras sampai membuat rio meringis kesakitan.
" Aww... Apaan sih lo main mukul bahu gue putra." Keluh rio meringis sambil mengeluh bahunya yang sakit.
Sedangkan tersangka nya hanya melengoskan wajah dengan datar seolah olah tidak melakukan apa apa.
Shaka hanya terdiam tampa menjawab pertanyaan dari rian maupun yang lain. wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun terlihat ada yang di pikirkan oleh pemuda itu.
....