NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Asisten Khusus Johan

Jennie mendorong dada Johan dengan kuat, "Tidak perlu! Aku tidak memerlukannya," tolaknya dengan wajah yang sudah memerah sempurna.

Johan menegakkan tubuhnya dan terkekeh, "Baiklah. Tapi jika kau berubah pikiran aku bisa membantumu merealisasikan tulisanmu," balasnya.

Jennie mendelikkan matanya, bukankah sebelum berangkat pria itu mengatakan kantornya bukan tempat bermain?

Saat dia akan membalas ucapan Johan, pintu kaca ruang kerja Johan di ketuk dengan keras dan tidak sabaran.

"Johan! Kau di dalam, kan?" ucap seorang wanita dari luar dengan cukup keras.

Kaca ruangan Johan memang sedang mode buram, hal itu selalu dia lakukan saat sedang rapat zoom penting atau sedang ada tamu datang.

Johan mendesah pelan dan merapikan kemejanya yang tidak berantakan sama sekali. "Masuk, Clarissa."

Pintu langsung terbuka dan masuklah seorang wanita yang tampak baru saja keluar dari majalah bisnis kelas atas.

Wanita bernama Clarissa itu mengenakan setelan blazer putih tanpa dalaman yang potongannya sangat rendah, dipadukan dengan rok span pendek dengan warna senada.

"Johan, sayang," panggil Clarissa saat melihat Johan, aroma parfum melatinya langsung menabrak aroma cendana dari Johan.

Wanita itu seolah tidak melihat keberadaan Jennie yang masih duduk kaku di sofa. "Aku sudah menunggu di lobi selama sepuluh menit, bukankah kita punya janji makan siang untuk membahas proyek resort di Bali?"

Jennie meremas tablet di pangkuannya. Sayang? Sejak kapan seorang klien memanggil seorang arsitek dengan sebutan sayang? batinnya.

Johan melirik jam tangannya, "Aku tidak lupa, tapi hari ini aku sedang ada tamu."

Clarissa akhirnya menoleh ke arah Jennie, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Tamu? Aku pikir dia anak magang yang menjadi asisten barumu."

Mendengar itu darah Jennie mendidih, asisten? Baiklah, jika Clarissa menyebutnya asisten maka dia akan benar-benar melakukan perannya.

"Saya Jennie, " ucap Jennie dengan nada bicara yang dibuat sopan namun tajam. "Saya adalah asisten khusus Pak Johan, khususnya untuk menjauhkan gangguan-gangguan tidak penting dalam hidupnya."

Johan menaikkan sebelah alisnya, tampak sangat terhibur melihat Jennie yang mendadak memasang taring.

"Begitu ya?" balas Clarissa dengan tawa kecil. "Kalau begitu asisten manis, bisakah kau ambilkan aku kopi? Aku butuh kafein sebelum membujuk bosmu ini untuk setuju dengan desain baruku nanti."

Johan menatap Jennie, "Jennie, tolong buatkan kopi untukku dan juga Clarissa, milikku tanpa gula," perintahnya dengan tatapan menantang.

Jennie keluar dan menuju ruang pantry, dia mengambil cangkir porselen dan menuangkan kopi ke dalamnya dengan gerakan kasar. "Makan siang bersama untuk membahas proyek? Cihhh!" gerutunya.

Setelah menyeduhnya dia meletakkan kedua cangkir tersebut di atas nampan. "Sekarang aku adalah asisten, dan aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik," monolognya dengan senyum miring menghiasi wajahnya.

Dia kembali ke ruangan Johan, wanita itu sudah duduk di tepi meja Johan sembil menyentuh lengan pria itu tanpa tahu malu.

"Aku pikir makan siang nanti lebih baik pesan ruangan privat, hanya kita berdua. Kau tahu jika banyak detail yang tidak bisa dikatakan di tempat ramai," ucap Clarissa sembari melirik Jennie dengan sinis.

Jennie melangkah mendekat dengan senyum paling manis yang dia miliki. "Ini kopinya, Mbak Clarissa. Hati-hati, ini sangat panas, sama panasnya dengan hati Mbak Clarissa."

Kemudian dia bergerak menuju sisi meja tempat Clarissa duduk, saat dia hendak meletakkan cangkir itu, Clarissa dengan sengaja mengibaskan tangannya ke arah Johan untuk menarik perhatian pria itu.

Sreet!

Dengan gerakan yang sangat terencana namun terlihat seperti kecelakaan murni, Jennie memiringkan nampannya. Cairan hitam pekat itu tumpah dan mengalir deras tepat di atas draft kontrak dan tas tangan bermerk milik Clarissa yang diletakkan di atas meja.

"ASTAGA!" jerit Clarissa dan melompat turun dari meja saat melihat tas mahal miliknya terkena kopi.

"Lihat apa yang dilakukan asisten bodohmu ini, Johan! Kontraknya hancur semua!" marahnya.

Jennie menatap Clarissa dengan penuh penyesalan yang terlihat palsu. "Maaf, Mbak. Maafkan saya, tadi Mbak tiba-tiba bergerak, jadinya tangan saya kesenggol. Aduh, dokumennya jadi kotor, maafkan saya Pak Johan!"

Johan hanya diam, dia menatap meja yang banjir dengan kopi lalu menatap Jennie yang sekarang sedang sibuk mengelap meja dengan tisu, namun justru membuat noda kopi semakin merata ke seluruh dokumen milik Clarissa.

Dia tidak marah, justru sebaliknya dia menggigit bibir dalamnya agar tidak tertawa melihat betapa "liar" nya Jennie.

"Sepertinya makan siang kita harus ditunda, Clar," ucap Johan dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

Clarissa mendengus geram, wajahnya merah padam. "Tidak profesional! Aku akan meminta timku mengirim ulang dokumennya. Aku pergi!"

Begitu pintu tertutup dengan dentuman keras, Jennie menghela napas lega. Dia melempar tisu yang kotor ke tempat sampah dengan perasaan puas. "Mampus," umpatnya pelan.

Johan berdiri dan mendekat ke arah Jennie hingga membuat wanita itu terdesak ke meja yang masih basah. "Asisten khusus ya?"

"Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan!" balas Jennie.

"Apa kau cemburu?"

Kedua mata Jennie melotot, "Mana ada! Aku hanya melakukan tugasku sebagai "Asisten"."

Johan tertawa rendah, dia mengambil tisu bersih lalu perlahan mengusap setetes noda kopi yang memerci di hidung Jennie.

"Lain kali jika kau tidak suka aku pergi makan siang dengan wanita lain, cukup katakan langsung. Tidak perlu sampai merusak dokumen triliunan rupiah," bisik pria itu lalu mengecup ujung hidung Jennie yang membuat wanita itu mematung di tempat.

Bersambung

1
qurro thul
beneran menang banyak ini Johan 🥴🥴🥴
qurro thul
jd👉👈
qurro thul
duh sayang 🥴🤣
qurro thul
sdh sangat berpengalaman sepertinya Johan ini dalam seluk beluk hati wabita🥴
qurro thul
knp d ijinkan ikut m kantor 🤣
qurro thul
pulang jen, kamar mu cm butuh brp langkah🥴
qurro thul
Johan menang banyak 🥴🥴
qurro thul
tenyata somplak juga tetangga 5012🤣
qurro thul
ini mulud TDK bs d kontrol 🫣🤣
qurro thul
membayangkan semalu apa ituh 🤣🤣🤣
qurro thul
narsis juga kah 🤣
qurro thul
dasar usil si johan
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!