"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Iih, bau apa ini?" Kiandra sedikit menjauh karena tidak tahan dengan bau pesing.
Sisil karena takut, tidak lagi merasa malu karena sudah pipis di celana. Para anak buah Kiandra menutup hidung.
Namun mereka berusaha untuk tidak tertawa mentertawakan Sisil. Mereka takut Kiandra marah jika mereka tertawa.
Kiandra meminta melepas ikatan tangan dan kakinya Sisil. Kemudian Kiandra meminta anak buahnya untuk memindahkan Sisil ke tempat lain. Namun masih di ruangan itu.
"Boss, kita apakan wanita itu?" tanya Louis.
"Tembak mati, kemudian cincang tubuhnya beberapa bagian untuk makanan hiu di laut," jawab Kiandra.
Sisil melotot mendengarnya. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana jika Kiandra benar-benar melakukannya?
"Tidak! Jangan!" Sisil tanpa sadar berteriak.
"Huh. Di sini aku yang berkuasa, jadi, terima saja nasib mu," ujar Kiandra.
Louis sudah mengeluarkan pistol. Sementara anak buahnya yang lain membawa alat-alat untuk memotong.
Sisil semakin ketakutan. Apalagi wajah-wajah mereka terlihat bengis seperti tanpa ampun.
Sekarang Sisil menyesal telah berurusan dengan Kiandra. Kalau saja dia tahu sejak awal. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Tunggu! Ini bagian ku," kata Kiandra. Louis dan yang lainnya pun mundur.
Dor ... Dor ... Dor. Tiga tembakan beruntun di dekat kaki Sisil. Tentu saja Sisil kaget dan semakin ketakutan.
"Ampun, ampun, ampun. Tolong jangan bunuh aku. Aku mohon, tolong jangan bunuh aku." Sisil memohon sambil menangis.
Kedua tangannya disatukan sebagai tanda permohonan maaf. Sisil bersimpuh memohon agar dilepaskan. Dan berjanji tidak akan menggangu Kiandra lagi.
"Tutup kembali matanya!" Perintah Kiandra.
Louis dengan cepat menutup mata Sisil. Kemudian Kiandra memukul tengkuk Sisil hingga pingsan.
"Kembalikan ke tempat asalnya. Oh tidak, biarkan dia kembali sendiri ke rumahnya. Kalian bawa dia dan letaknya di pinggir jalan," kata Kiandra.
Anak buah Kiandra pun menunduk hormat. Kemudian empat orang pun menggotong tubuh Sisil dan membawanya pergi.
"Boss, bagaimana dengan mereka?" tanya Louis.
"Itu terserah kalian," jawab Kiandra. Oh tidak, jangan bunuh mereka. Sebaiknya serahkan kepada pihak kepolisian," ucap Kiandra menambahkan.
Kiandra teringat pesan suaminya untuk tidak membunuh. Kiandra pun meminta Louis untuk menyerahkan mereka ke polisi.
Polisi juga sudah kenal dengan Kiandra dan klannya. Karena Kiandra dan anak buahnya sudah sering membantu polisi untuk menumpas kejahatan.
"Aku ingin pulang, selebihnya ku serahkan ke kalian," kata Kiandra.
"Siap Boss!" Anak buah Kiandra menunduk hormat kepada Kiandra.
Louis mengantar Kiandra hingga depan markas mereka. Kiandra melambaikan tangannya ketika motornya mulai bergerak perlahan dan kemudian melaju di jalanan.
Sedangkan anak buah Kiandra yang membawa Sisil pun menurunkan Sisil dipinggir jalan.
Mereka sengaja meletakkan Sisil di tempat yang banyak kendaraan lewat. Walaupun jalan ini cukup sepi, tapi kendaraan banyak yang melewati jalan itu.
"Wanita ini cukup menyusahkan," kata salah satu dari mereka.
"Sudah, jangan banyak bacot. Kerjakan saja perintah si boss," kata yang lainnya.
Setelah mereka meletakkan Sisil di pinggir jalan, mereka pun segera pergi dari situ. Mereka tidak perduli apa yang akan terjadi nantinya pada Sisil?
Yang penting, tugas mereka bisa diselesaikan dengan baik. Selebihnya mereka tidak perduli lagi dengan wanita itu.
Setengah jam kemudian, Sisil pun tersadar, perlahan dia membuka penutup matanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Di mana aku?" batinnya.
Sisil bangkit, lalu berjalan sempoyongan seperti orang linglung. Dia tidak tahu arah tujuannya.
Sebuah mobil lewat di dekatnya. Sisil tiba-tiba menjerit ketakutan. Sisil menjerit-jerit sambil memegangi kepalanya.
Tidak ada yang perduli dengan keadaan Sisil. Orang-orang mengira jika Sisil adalah wanita gila yang berkeliaran di jalanan.
Hingga ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Kemudian pemilik mobil itu pun turun. Yang ternyata adalah suaminya Sisil.
"Aaaaaaa... Jangan, jangan, jangan. Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku."
"Mama?" Bagaskara langsung memeluk Sisil. Namun Sisil malah memberontak seperti orang kesurupan.
Bagaskara pun menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta bantuan. Setengah jam kemudian, petugas rumah sakit pun datang.
Mereka memberikan obat penenang melalui suntikan. Hingga Sisil pun tidak sadarkan diri setelah diberi obat.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada mu, Ma?"
Bagaskara yang mendengar istrinya di culik langsung pergi ke kantor polisi untuk melapor. Namun, polisi mengatakan harus menunggu 24 jam.
Bagaskara yang tidak puas dengan pelayanan pihak kepolisian pun mencoba mencari sendiri istrinya. Namun, siapa sangka dia malah menemukan istri dalam keadaan seperti itu. Akhirnya Sisil harus di bawa ke rumah sakit.
Sementara Kiandra tidak kembali ke rumahnya. Melainkan mampir ke rumah Basuki.
Kiandra menekan bel pintu. Tidak berapa lama pelayan pun membuka pintu. Tanpa menunggu di persilakan untuk masuk, Kiandra sudah masuk dengan sendirinya.
"Kenapa kau kemari?" tanya Maura dengan nada ketus.
"Tidak ada, hanya ingin mengambil kembali rumah ini," jawab Kiandra tenang. Kemudian duduk di sofa ruang tamu itu.
"Tidak bisa! Enak aja mau merebut semuanya."
Kiandra dan Maura menoleh ke arah tangga. Ya, yang berkata seperti itu adalah Wilona. Dia tidak rela jika Kiandra menguasai rumah ini.
"Siapa kamu berbicara begitu? Kamu tidak berhak untuk angkat bicara," kata Kiandra.
"Kiandra!" Suara lantang dari sebelah pintu masuk. Ternyata Basuki yang baru pulang dari perusahaan.
"Oh, kebetulan sekali. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hak ku," kata Kiandra.
"Kiandra. Tidak cukupkah kamu membuat masalah? Perusahaan ku bangkrut, sekarang rumah ini pun mau kamu rebut," ujar Basuki.
Kiandra malah tertawa mendengarnya. Dia tidak merasa iba sama sekali dengan kebangkrutan perusahaan Basuki. Lagipula, perusahaan itu sudah diakuisisi oleh Dexter.
"Ralat Pa, sekarang perusahaan itu bukan lagi milikmu, tapi milik suamiku. Yang nantinya bakal diserahkan kepada ku. Oh ya Tuhan, betapa beruntungnya aku menerima pernikahan paksa ini," ucap Kiandra dramatis.
Wilona mengepalkan tangannya. "Seharusnya pernikahan itu adalah milikku. Kalau saja aku tahu sejak awal, pasti aku tidak akan menolaknya," batin Wilona.
Kiandra tersenyum melihat ekspresi wajah Wilona. Dia tahu, Wilona pasti menyesal telah menolak pernikahan itu.
"Kenapa? Menyesal sekarang? Ah, sepertinya Dewi keberuntungan memang berpihak padaku," kata Kiandra memanas-manasi ketiganya.
Wilona semakin geram karenanya. Begitu juga dengan Maura. Ingin rasanya dia menampar wajah Kiandra seperti dulu sewaktu Kiandra masih kecil.
"Huh, pulang saja deh. Kurang seru bermain-main dengan kalian," kata Kiandra.
Kiandra pun bangkit dari duduknya. Baru berjalan beberapa langkah, Maura mengambil vas bunga lalu memukulkannya ke kepala Kiandra.
Kiandra yang memiliki insting kuat pun langsung menghindar dengan cepat. Sambil kakinya menjegal kaki Maura.
"Aaaaaaa...!" Maura menjerit lalu tersungkur bersama vas bunga yang dipegangnya.
"Ops." Kiandra menurut mulutnya lalu tertawa kecil.
Kemudian Kiandra melangkah melewati Maura yang masih tersungkur di lantai. Maura kembali menjerit ketika Kiandra menginjak jari tangan Maura.