Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ancaman
Bian masih meronta-ronta membuat Saga jengah. "Kamu selalu lupa sama janji kamu, apa perlu Kakak buktikan kalau ancaman Kakak gak main-main?"
Bian mulai kehilangan tenaganya. Kesalnya berubah khawatir dan cemas bukan main saat teringat ancaman yang Saga katakan jika Bian menolaknya. "Jangan, please! Theo jangan sampai tahu tentang ini. Lo udah janji!"
"Terus kenapa kamu terus-terusan nolak?" Saga begitu puas melihat wajah Bian yang berubah panik.
"Gue harus gimana?! Masa gue harus diem aja dimes umin sama lo?"
"Iya. Kamu hanya perlu diem, Sayang. Turuti keinginan Kakak maka semuanya akan baik-baik saja. Paham?"
Dengan sangat terpaksa Bian hanya bisa diam sebagai tanda patuh.
"Lingkarkan tangan kamu di leher Kakak," titahnya.
Bian dengan wajah yang sangat tak nyaman, mulai mengikuti keinginan sang kakak tiri. Ia mengalungkan tangannya di tengkuk Saga. Saga sendiri merengkuh pinggang Bian dan membawanya menempel tanpa jarak pada tubuh Saga.
Perlahan Saga mendekatkan bibirnya lagi. Kali ini Bian diam dan pasrah. Ia tak ingin diancam lagi oleh Saga. Ia pun menutup matanya dan membiarkan Saga melakukan apa yang ia mau.
Bian membayangkan, Theo yang tengah berciuman dengannya. Dan ternyata ini menjadi lebih mudah. Bian pun larut dalam peraduan bibir itu. Rasa rindunya pada Theo yang sulit dihubungi ketika ia berada di Singapura, membuat Bian membuat sosok Theo menjadi fantasinya agar ia bisa berciuman dengan Saga dengan tanpa terpaksa.
'Maafin aku, Yang,' lirih Bian dalam hati. Ia merasa sangat bersalah pada Theo. Entah sampai kapan ia harus mengikuti keinginan Saga. Juga entah sejauh apa Saga akan menyentuhnya.
Bian benar-benar telah terperangkap.
Tangan Saga mulai menyentuh bulatan kenyal di dada Bian. Bian hanya bisa tetap membayangkan Theo yang sedang melakukannya. Sama sekali ia tak mau membuka matanya dan menjadi semakin merasa bersalah karena sebetulnya bukan Theo yang melakukannya, tapi Saga.
Beberapa kancing piyama yang Bian kenakan mulai dilepaskan oleh Saga. Dengan tak sabar tangannya menelusup masuk dan mengeluarkan benda yang sudah tak sabar ingin ia hisap.
"Enghh...." D sahn dari bibir Bian lolos begitu saja.
Saga tersenyum penuh kemenangan. "Enak? Kakak tahu kamu akan suka." Ia sangat puas karena wajah Bian mulai merasa keenakan dengan apa yang dilakukannya.
Nafas Bian mulai menderu. Pundaknya naik turun. Saga pun beralih dari satu bulatan, ke bulatan yang satunya lagi.
"Theo...." Bian meloloskan nama itu. Fantasinya semakin menampakkan wajah Theo di dalam benaknya. Ia pun meremas rambut Saga dengan gemas yang tengah asyik menghisap miliknya.
Saga mulai mengetahui apa yang Bian pikirkan. "Buka mata kamu," perintahnya. "Jangan bayangkan cowok kamu saat Kakak yang lagi sentuh kamu."
Bian mendorong Saga menjauh dengan kasarnya. Bian bertanya-tanya, kenapa Saga tahu ia membayangkan Theo saat saga menyentuhnya. Kemudian Bian mengambil kesempatan itu untuk menyudahi semuanya. Ia kembalikan piyamanya seperti semula. "Udah cukup. Sekarang pergi lo dari sini sebelum temen-temen gue balik!"
"Kita belum selesai, Bi."
Saga kesal karena apa yang tengah dinikmatinya harus selesai begitu saja. Ia mendekat pada Bian lagi. Namun dengan cepat Bian mendorong Saga menjauh, tak membiarkannya mendekat lagi.
"Udah cukup!" tegas Bian. "Gue gak mau lihat wajah lo. Pergi!"
Saga menyeringai mendapat pengusiran itu. Ia berpikir kenapa Bian masih bisa menolaknya seperti ini. Padahal baru saja ia tahu Bian sudah sangat trang sang oleh apa yang dilakukannya. Biasanya tidak ada perempuan mana pun yang mampu menolak sentuhan, bahkan sekedar ciumannya. Selama ini tak pernah ada, hanya Bian.
"Fine kalau gitu, kita masih punya waktu yang banyak sebelum ayah, ibu, mommy, dan daddy pulang dari honeymoon mereka."
"Dasar bener-bener cowok gak ada mralnya sama sekali! Kita tuh saudara sekarang, ngerti gak sih? Ini tuh salah! Lo juga guru gue di sekolah. Mana ada guru modelan lo yang bisa-bisanya ngelakuin hal kayak gini sama muridnya sendiri!" tegur Bian dengan emosinya.
"Pertama, bagi Kakak gak ada yang salah dengan kita melakukan ini. Kita gak punya hubungan drah, Bi. Coba kamu cari tahu, saudara tiri bahkan masih bisa nikah."
"Nikah?! Lo gak waras!" Bian merinding membayangkan itu terjadi padanya dengan cowok menyebalkan ini.
"Itu 'kan cuma perumpamaan aja. Kalau kita nikah pun masih bisa, kok."
"Gak! Gak akan pernah ya itu terjadi! Lagian gue masih SMA. Lo udah ngomongin nikah aja."
"Kakak juga belum mau nikah. Kakak belum puas berpetualang. Jadi kamu gak usah khawatir. Apa yang Kakak lakukan sama kamu adalah bagian dari petualangan Kakak aja," jujur Saga tanpa dosa.
Hati Bian mencelos. Brengsk sekali mulut Kakak tirinya ini?
"Dan apa kamu gak merasa apa yang kita lakukan ini adalah hal yang menyenangkan? Kita saudara tiri, tapi melakukan hal yang..." Saga sedikit berbisik, "panas. Apa kamu gak penasaran buat lakuin yang lebih dari ini?"
"Gue bisa gila kalau terus-terusan ngeladenin omongan lo. Pergi dari sini!" usir Bian dengan emosi yang memuncak akibat kata-kata Saga.
Akhirnya Saga membiarkan dirinya didorong Bian hingga keluar pintu. Ia merasa gemas sendiri. Adik tirinya ini menjadi semakin menarik saja. Kemudian dengan wajah galak, Bian membanting pintu tepat di depan wajah Saga.
Setelah Saga pergi, Bian memaksakan dirinya untuk tidur. Ia ingin melupakan sejenak kakak tirinya yang menyebalkan itu. Jika teringat apa yang harus ia lakukan dengan Saga akibat ancaman yang dikatakannya, Bian benar-benar marah setengah mati.
Akhirnya setelah merasakan kantuk menyerang kedua matanya, Bian pun tertidur. Pagi hari ia terbangun dengan ketiga sahabatnya sudah berada di tempat tidur. Rere dan Dinda sudah menggunakan pakaian tidur mereka dan tidur di kasur sebelah. Sedangkan Kay, yang berada di kasur yang sama dengannya, masih menggunakan pakaian yang ia gunakan tadi malam. Make up pun masih menempel di wajahnya. Bau alkohol tercium pekat darinya.
"Kay, lo bisa jerawatan. Cepetan cuci muka," ucap Bian sambil menggoyangkan sedikit pundak Kay.
"Kak Saga..." gumam Kay dalam keadaan tak sadar. "Ayo kita lakuin lagi..."
Kening Bian mengernyit. "Kak Saga? Saga siapa?"
...***...
Akhir pekan berlalu. Semua orang kembali ke sekolah hari itu. Sebelum menuju kelasnya, Bian sengaja lewat ke kelas Theo. Ia rindu sekali pada pacarnya itu. Pasalnya selama di Singapura kemarin, Theo benar-benar jarang membalas pesan dari Bian. Hal ini membuat Bian tak tenang sepanjang hari.
Bian celingukan melihat ke arah kelas Theo, namun batang hidung Theo yang mancung itu tak terlihat juga. Padahal bel masuk sebentar lagi berbunyi.
Akhirnya Bian memutuskan untuk pergi ke kelasnya saja. Tepat saat ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya, ponselnya berdering. Nama sang pacar muncul di layar. Bian pun segera menerima panggilan itu dengan perasaan riang dan juga lega.
"Halo, Yang? Kamu..."
Baru saja Bian menyapa, Theo sudah memotongnya. "Yang, ke luar gerbang sekarang. Aku di minimarket sebelah sekolah. Kamu ke sini sekarang. Cepetan keburu bel."
"Minimarket deket sekolah?" Bian langsung teringat minimarket yang memang berada tepat di samping sekolahnya. "Kenapa kamu minta aku ke sana? Kamu gak akan masuk? Kamu mau bolos?"
"Bukan aku yang bakalan bolos, tapi kita berdua. Cepet ya. Aku tunggu di sini," ujar Theo kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Tanpa pikir panjang, Bian pun berlari menuju gerbang sekolah. Bel masuk akan berbunyi tiga menit lagi. Sebelum itu ia harus sudah meninggalkan sekolah.