Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Lyra Sakit
Bab 18
Lyra Sakit
Pukul 4 sore Dika sudah berada di halaman rumah Lyra. 4 jam lebih awal dari kedatangan biasanya jika ia pulang ke kota.
Rumah tampak sepi dari luar. Bahkan gorden pun tak ada yang di sibak di tepian kusen jendela. Kemana Lyra? Pikiran Dika mulai jauh berekspetasi ke arah yang tidak-tidak. Dadanya bergemuruh, wajahnya mulai memerah dengan rahang yang mengerat membayangkan Lyra diam-diam sedang berselingkuh di dalam sana.
Dengan kasar dan tanpa mengucap salam seperti biasa, Dika membuka pintu rumah kontrakan Lyra. Keheningan yang di rasa ganjil membuat sorot matanya kian tajam dan panas, seakan-akan dapat membakar apa yang ia lihat saat itu juga. Dengan cepat langkahnya menuju ke kamar yang pintunya di tutup rapat. Tak bisa lagi menahan gejolak emosi, pintu itu di tendang padahal tidak terkunci.
BRAAKK!!
Pintu berdentum keras, menabrak dinding kamar seakan rumah tertimpa runtuhan batu besar. Lyra yang baru saja kembali tertidur di paksa bangun mendengar keributan itu. Kamarnya yang gelap tanpa pencahayaan, tiba-tiba menyala terang dari saklar lampu yang di tekan oleh Dika. Lyra mengerjap pelan kemudian menyipitkan matanya, ingin melihat siapa yang telah membuat keributan di rumahnya.
Lyra melihat Dika, ia berdiri di ambang pintu dengan bahu yang turun naik dengan sorot mata tajam memandangnya. Ia tidak tahu mengapa Dika memandang nya seperti itu, bahkan harus membuka pintu dengan kasarnya. Namun Ia berusaha untuk bangun dan bersandar pada dipan tempat tidurnya.
"Mas..." Panggil Lyra lemah, tetapi juga terdengar nada kekecewaan disana.
Berangsur-angsur kemarahan Dika mereda melihat keadaan Lyra yang lemah. Namun rasa kecewa karena Lyra mengabaikan teleponnya belum bisa Dika hilangkan selama belum mendapat penjelasan dari Lyra.
Dika berjalan mendekat, tetapi kemudian hanya berdiri diam sambil memandangi Lyra yang bersandar pada dipan. Masih tersirat keraguan di matanya. Ia ingin memastikan dengan jelas, apakah Lyra hanya berpura-pura atau benar-benar sedang tidak enak badan.
"Kenapa telepon ku nggak kau angkat?!" tanya Dika dengan nada ketus, wajahnya tampak marah, namun ada juga cemas sekaligus.
"Mas menelpon ku?" Lyra menengadahkan wajahnya perlahan, matanya terlihat lelah dan sedikit mengantuk saat balik bertanya. "Aku sakit," jawabnya kemudian dengan suara pelan dan lemah, tubuhnya tampak tidak berdaya saat masih bersandar pada dipan.
Dika menarik napas sejenak dan menghembusnya pelan. Kali ini amarahnya berganti kecemasan melihat wajah Lyra yang pucat. Dika duduk di tepian ranjang. Tangannya terangkat menyentuh dahi Lyra, panas.
"Sudah minum obat?"
Nada suara Dika yang tadinya ketus berubah melunak.
Lyra menggeleng pelan dan menjawab, "Aku nggak bisa bangun, kepala ku terasa berat."
"Kita ke dokter saja sekarang."
Tanpa menunggu persetujuan Lyra, Dika melangkah ke arah lemari pakaian dan membukanya dengan cepat. Ia mencari-cari di rak dalam dan menemukan cardigan yang pernah Lyra pakai. Dika mengambil cardigan berwarna cream dengan hati-hati. Lalu mendekat pada Lyra dan memakaikan cardigan itu pelan-pelan pada tubuhnya.
"Jangan sampai terkena angin lagi, nanti sakitnya tambah parah," ujarnya pelan sambil menyesuaikan bagian kerah cardigan.
Lyra hanya diam, matanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Perhatian yang tulus dari Dika seperti ini yang membuat hatinya terjebak. Sulit baginya untuk menolak kehangatan yang diberikan. Namun juga tidak bisa menerima dengan tenang, jika seandainya lelaki itu memang sudah memiliki istri. Seolah ada batu berat yang menyumbat dada, membuatnya sesak dan sulit untuk bernapas.
Perlahan dengan lembut Dika memapah Lyra untuk bangun. Lalu berjalan pelan keluar kamar menuju mobil yang mesinnya belum sepenuhnya dingin setelah perjalanan jauh.
-
-
-
"Ibu hanya kelelahan. Mungkin karena banyak pikiran dan juga karena makan yang tidak teratur. Saya resepkan vitamin dan penurun panas saja ya. Tidak apa-apa, tidak bahaya kok," kata sang dokter menjelaskan kepada Dika, sambil menuliskan resep di atas kertas.
Dika menghela nafas lega mendengarnya, meskipun hatinya masih tetap cemas karena Lyra masih terlihat lemah.
Setelah mendapatkan obat dan arahan dari dokter tentang pola makan serta istirahat yang cukup, Dika membawa Lyra keluar dengan hati-hati. ia membuka pintu mobil dan membantu Lyra masuk dengan perlahan. Setelah menjaganya duduk dengan nyaman, ia menekuk badan sedikit untuk melihat wajah Lyra yang masih pucat.
"Untuk beberapa hari ke depan, kamu istirahat saja ya. Jangan sampai mengerjakan pekerjaan rumah apalagi memasak. Kita beli makanan jadi saja dulu," ujarnya dengan nada yang lembut namun tegas.
Lyra hanya diam, pandangannya menatap jauh ke luar kaca tanpa memberikan respon apapun.
"Kamu pasti kepikiran Mas disana..." Dika menjeda sejenak, menatap wajah Lyra dengan tatapan penuh perhatian sambil menunggu ada sedikit gerakan atau suara dari bibirnya. Namun, ketika ia hanya mendapatkan keheningan, ia melanjutkan perlahan, "Mas khawatir sekali padahal. Bahkan langsung pulang tadi pagi karena kamu tidak mengangkat telepon Mas dari tadi malam."
Lyra menunduk.
Dika menghela napas yang cukup berat. Napas itu seolah membawa seluruh kekhawatiran yang belum bisa ia ucapkan dengan jelas. Lalu menutup pintu mobil dengan hati-hati dan berjalan ke sisi jok kemudi.
Dalam keheningan, mobil berjalan stabil. Lalu di perempatan jalan tak jauh dari kawasan mereka tinggal, Dika turun ke rumah makan dan membeli beberapa jenis lauk untuk mereka makan hari itu.
-
-
-
Di tempat berbeda, Novia masih terpaku menatap layar handphonenya. Sudah 7 jam lamanya, tapi masih belum ada notif yang menyampaikan pesan bahwa suaminya sudah tiba di seberang sana.
Rasa kecewa itu kian terasa. Ucapan Dika kini semakin memudarkan kepercayaannya. Janji yang mengatakan akan memberi kabar padanya begitu tiba, tinggalah janji tanpa kepastian. Pikiran buruk pun semakin mengusai Novia, bahwa Dika tak lagi seutuhnya miliknya.
Novia seorang wanita, dan firasat itu pasti lah ada. Apalagi begitu banyak kejanggalan dan perubahan Dika yang secara tidak langsung tapi masih bisa ia rasakan.
Novia menghela napas berat, bibirnya bergetar menahan air mata yang kembali mengembun di pelupuknya. Hatinya sulit menerima, jika benar disana Dika sedang mendua. Tapi ia juga tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan emosi, karena ada Ibra di tengah-tengah mereka.
"Triiing...! Triiing...!"
Suara handphone yang berdering di tangannya memaksa Novia untuk melihat nama di layar pipih itu. Alih-alih tulisan 'Suami ku' yang terpampang, muncul 'Kak Desi' yang tak ia duga.
Novia menghapus jejak air matanya dan menarik napas dengan cepat untuk menetralkan suaranya.
"Halo, Assalamualaikum Kak."
"Waalaikumsalam. Nov, Dika sudah berangkat?"
"Ya Kak, tadi pagi."
"Pagi? Tumben. Bisanya siang atau mendekati sore."
"Katanya ada pekerjaan yang mendesak. Jadi dia pulang pagi tadi. Tapi..."
Kalimat Novia menggantung.
"Tapi apa?"
Novia menunduk walau Desi tak bisa melihatnya. Kelopak matanya lagi-lagi menampung genangan air mata yang siap menetes kapan saja. Bibirnya bergetar pelan, dan napasnya terasa sesak kala ia berusaha menahan gejolak kekecewaan serta rasa sakit yang menusuk dada padahal ia bahkan belum memastikannya secara langsung.
"Aku mau kesana Kak. Aku mau lihat dengan mata kepalaku sendiri."
Bukannya menjawab Desi, Novia malah berkata ingin pergi ke rumah dinas Dika seperti pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu.
"Tunggu! Kakak segera kesana."
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra