NovelToon NovelToon
Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.

Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Ketigabelas

Acara pernikahan Dio dan Laras akhirnya tiba. Dio duduk berhadapan dengan ayahnya Laras. Secara lantang Dio mengucapkan janji pernikahan disaksikan beberapa pasang mata dan telinga. Dalam hitungan detik Dio pun resmi menjadi seorang suami.

Laras yang menyaksikan Dio berikrar dari layar monitor yang berada di kamarnya antara lega dan sedih. Beberapa bulan lalu dia memang yang mengejar Dio agar bersedia menjadi suaminya tetapi sekarang dirinya menyesalinya. Dio sangat membencinya karena berpikir dirinya yang membuat pria itu terjebak dalam pernikahan mendadak.

Malam itu, Laras memang mabuk. Ia sangat stres karena terus dipaksa menikah dengan pria yang bukan dicintainya. Orang tuanya tak pernah merestui hubungannya dengan Alex. Laras tak tahu jika Dio yang menjemputnya dan mengantarkannya pulang. Pagi harinya setelah Dio meninggalkan rumahnya, dirinya pun terbangun dan kedua orang tuanya mengatakan bahwa Dio siap menikahinya.

Selepas pengucapan janji pernikahan, Laras keluar menemui suami dan para tamu yang hadir. Ia didampingi para sahabatnya. Semua mata pun tertuju kepadanya dan memuji penampilan serta kecantikannya.

Dio yang melihat Laras tampak terkesima. Begitu cantik dan sempurna dimatanya. Jantungnya berdegup kencang tak seperti biasanya. "Kenapa aku jadi begini? Aku membencinya. Sangat membencinya. Jangan tergoda, Dio. Ayo, Dio jangan terpesona meskipun dirinya sangat cantik!" batinnya.

Laras sekarang berdiri dihadapannya Dio. Degup jantungnya juga tak karuan, ia begitu gugup. Bukan hanya terpesona dengan ketampanan pria yang seharian hanya memakai kaos dan celana jeans atau ponggol itu saja. Tetapi, karena ia kini menjadi istri dari pria yang tak menyukainya dan dia juga harus siap setiap hari bertemu dan melayaninya.

Laras meraih tangan Dio lalu mengecup punggung tangannya. Dio juga memberikan kecupan di pucuk kepala Laras. Aksi keduanya tentunya mendapatkan tepukan tangan dan jepretan kamera ponsel. Keduanya melakukannya bukan keinginan sendiri melainkan atas suruhan pria yang mendampingi prosesi janji pernikahan.

Laras dan Dio lalu duduk bersebelahan, keduanya kemudian menandatangani buku pernikahan yang sebagai bukti kuat kalau mereka secara sah hukum negara telah menjadi sepasang suami istri.

Setelah proses itu, Dio dan Laras bergandeng tangan berjalan pelan menuju panggung pelaminan. Di sana para keluarga, saudara dan teman dekat telah menunggu buat berswafoto.

"Kakak, selamat!!" Diana tersenyum lebar memeluk Dio. Ia begitu senang akhirnya kakaknya menikah.

"Ya, ya, terima kasih!" Dio melepaskan pelukan adiknya.

"Aku tidak sabar menunggu keponakan aku lahir!" ucap Diana asal membuat Dio melebarkan matanya.

"Memangnya kakak iparmu sudah hamil?" tanya Helen, sahabat Diana, dengan polosnya.

Tentunya pertanyaan itu membuat Laras menoleh ke arah suaminya dan membulatkan matanya.

"Astaga, kalian ini jangan menyebar fitnah!" Dio tersenyum nyengir sembari melirik ke kanan dan kirinya.

"Saat ini belum hamil, mungkin satu tahun lagi Kak Laras akan memberikan aku keponakan," kata Diana menjelaskan.

"Sudah, sudah, kalian turun sana. Masih banyak yang mengantri, gantian dengan lainnya!" usir Dio kepada adik dan temannya itu agar tak banyak berbicara sehingga membuat orang-orang jadi salah paham.

Setelah Diana dan temannya turun dari panggung pelaminan, Dio kemudian berkata kepada istrinya, "Jangan dengarkan omongan mereka."

Laras tersenyum singkat dan mengiyakan.

Teman-temannya Dio juga turut hadir. Mereka sempat tak yakin jika Dio melangsungkan acara pernikahan di hotel mewah. Mereka tahu jika Dio bukan orang berada.

"Wow, ini seperti mimpi!" celetuk Tegar, teman Dio, mengedarkan pandangannya. Ia belum pernah menghadiri acara pernikahan semewah dan semegah temannya itu.

"Aku tidak sangka kalau Dio menikahi anak orang kaya raya!" kata Metha juga memuji keberhasilan temannya.

"Lepas dari batu kerikil dapatnya batu berlian, ini suatu keberuntungan!" sahut Rio yang telah mendengar penyebab Dio dan Sindy putus.

"Biar tahu rasa si Sindy, siapa suruh dia berselingkuh," timpal Metha.

Mereka lalu menyantap hidangan yang telah disediakan. Mereka begitu semangat apalagi makanan dan minuman yang disediakan sangat banyak sehingga membuat bingung memilihnya.

"Aku yakin sebentar lagi Dio pasti perutnya buncit. Setiap hari makannya enak begini!" celetuk Tegar membuat teman-temannya mengiyakan dan tertawa kecil.

"Istrinya juga cantik, beruntung sekali dia mau dijodohkan!" sahut Metha sembari mengarahkan pandangannya ke arah panggung pelaminan.

Sejam berlalu, temannya Dio berpamitan kepada kedua pengantin dan kedua orang tuanya. Bahkan, beberapa teman perempuannya Dio memuji langsung kecantikan Laras dan keberuntungan Dio yang berhasil mendapatkan seorang bidadari.

"Tidak semua ucapan mereka itu benar di mataku!" bisik Dio ditelinga istrinya biar tak melayang dipuji.

Laras tak membalas, ia hanya tersenyum getir.

-

Acara telah selesai, Dio dan Laras kini berada di dalam kamar hotel. Dio merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena sangat lelah berdiri dan menyapa para tamu.

Laras sudah tak memakai gaun pengantin, ia melangkah ke kamar mandi membersihkan diri. Bukan hanya suaminya tetapi dirinya juga. Apalagi selama di pelaminan, Dio tidak pernah mengajaknya mengobrol dengan lembut membuat rasa capek jadi semakin berat.

Selang 20 menit kemudian, Laras keluar menggunakan handuk kimono dengan rambut basah terurai.

Penampilan Laras membuat Dio mengarahkan pandangannya kepada istrinya yang sangat menggoda.

Laras membalikkan badannya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu ia menurunkan handuk kimono yang dipakainya sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas di mata suaminya.

Dio yang sempat melihat memalingkan wajahnya. "Kamu sengaja, ya, mau menggodaku?" tudingnya.

Laras tak memperdulikannya, membuka lemari dan mengambil piyama tidurnya. Dengan cepat memakainya, ia juga takut jika Dio tergoda dan menyantapnya malam ini. Apalagi dirinya belum siap menikah dan mencintai suaminya.

"Apa kamu sudah selesai berpakaian?" tanya Dio tanpa menoleh ke arah istrinya.

"Sudah," jawab Laras dengan cepat.

"Aku juga mau mandi. Silahkan tidur duluan, aku nanti tidur di sofa saja!" kata Dio menatap istrinya.

"Aku pesan 'kan satu kamar lagi untukmu, ya!" Laras menawarkannya.

"Tidak perlu. Nanti apa yang akan dikatakan keluarga besarmu? Belum sehari menikah sudah pisah kamar," kata Dio lagi sembari melangkah menuju kamar mandi.

Selang beberapa menit, Dio keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya belum juga tertidur masih memainkan ponsel. Meraih bantal yang ada di samping istrinya lalu membawanya ke sofa.

Dio merebahkan tubuhnya di sofa yang hanya cukup buat tubuhnya seorang dan memejamkan matanya.

Laras belum bisa tidur, memilih membalas pesan dari beberapa temannya yang menyempatkan hadir maupun tidak. Diantara mereka bahkan menggoda Laras yang mendadak menikah dan tidur sekamar dengan pria asing. Ditengah kesibukannya itu, tiba-tiba ponselnya berdering meskipun tak terdengar suaranya. Laras sengaja mengecilkan suara ponselnya agar tidak mengganggu Dio yang tertidur.

Laras mendelikkan matanya kala melihat nama yang tertera di ponselnya. "Alex!" lirihnya.

Laras menoleh ke arah Dio yang memunggunginya. Laras lalu menjawab panggilan dari mantan kekasihnya itu karena yakin jika Dio telah terlelap. "Halo, ada apa? Kenapa kamu menelepon aku?" tanya Laras dengan suara pelan biar Dio tak terbangun.

"Aku merindukanmu," jawab Alex.

"Kita sudah putus dan aku telah menikah. Jadi, jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" Laras memberikan peringatan.

"Kamu hanya mencintaiku," kata Alex.

Laras menjauhi sedikit ponselnya dari telinganya lalu menghela nafas panjang dan kemudian membelakangi suaminya.

"Lupakan semua, Lex. Kamu akan hancur jika terus mengejarku!" ucap Laras lagi.

"Aku tidak peduli kehancuran, aku cuma mau kamu!"

"Jika ada waktu yang tepat, aku akan menghubungimu!" janji Laras.

"Kamu janji mau menemui aku 'kan?"

"Iya."

Dio belum tertidur meskipun matanya telah terpejam. Ia dapat mendengar semua pembicaraan istrinya dengan pria lain. Ia pun membuka matanya dan membalikkan badannya. "Kamu sedang bicara dengan siapa?"

1
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
Loh kok tamat thor?
Dew666
🍭💎
Dew666
💜💜💜
Dew666
🍡🪸💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!