seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERLAWANAN KAYLA
Pagi menyingsing dengan cahaya pucat yang menyusup lewat celah ventilasi udara, namun bagi Kayla, fajar kali ini terasa lebih dingin dari kematian. Di dalam sel yang kini terasa seperti peti mati kaca, Kayla meringkuk di sudut ruangan, memeluk jas hitam Aris yang masih menyisakan aroma parfum dan keringat pria itu. Namun, aroma yang tadinya memberikan ketenangan itu kini berubah menjadi bau pengkhianatan yang menyesakkan.
Di layar monitor yang mengelilinginya, wajah Aris terpampang nyata. Bukan lagi wajah pria yang merintih kesakitan saat disayat, melainkan wajah seorang penguasa yang dingin dan tak tersentuh.
"Aris... kenapa?" suara Kayla serak, nyaris habis karena tangisan histeris selama berjam-jam. "Kenapa kamu melakukan ini padaku?"
Di ruang kontrol yang mewah, Aris duduk dengan santai sembari memutar-mutar segelas wiski di tangannya. Ia menatap layar yang menampilkan wajah hancur Kayla dengan kepuasan yang aneh.
"Dunia ini adalah panggung sandiwara, Kayla," jawab Aris melalui sistem audio yang jernih. "Pria gendut yang kamu lihat sebelumnya hanyalah pion. Dia pikir dia yang mengendalikan permainan, padahal dia hanya menyediakan dana untuk obsesiku. Aku butuh seseorang yang benar-benar mencintaiku, menyerahkan segalanya padaku, sebelum aku menghancurkannya. Karena hanya dalam kehancuran itulah, kecantikan yang murni akan hilang.
Aris mematikan mikrofon sejenak. Ia harus membereskan "sampah" yang tertinggal di aula depan. Ia berjalan keluar dari ruang kontrol, menuruni tangga marmer menuju tempat dua mayat polisi tergeletak. Darah mereka telah mengering, membentuk genangan hitam di atas lantai putih.
Dengan kekuatan yang tak terduga, Aris menyeret satu per satu tubuh polisi itu menuju gudang bawah tanah yang terhubung dengan insinerator (mesin pembakar). Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Baginya, nyawa manusia hanyalah statistik yang perlu dihapus agar eksperimennya berjalan lancar.
Setelah tubuh-tubuh itu lenyap menjadi abu, Aris membersihkan tangannya dan kembali ke ruang makan. Ia melihat kursi tempat pria gendut itu tewas. Bau darah masih tertinggal, namun Aris menyukai bau itu. Ia duduk di sana, membuka laptop milik sang mantan rekan bisnisnya.
Ia melihat data pengiriman dana dari klien-klien gelap di luar negeri. Nilainya jutaan dolar. Semuanya kini mengalir ke rekening rahasianya. Aris bukan hanya seorang psikopat, dia adalah seorang jenius yang memanfaatkan kegilaan orang lain untuk membangun kerajaannya sendiri.
Namun, perhatiannya kembali teralihkan ke layar monitor. Kayla sedang melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Kayla tidak lagi menangis. Ia berdiri dengan kaki gemetar, matanya menatap tajam ke arah salah satu kamera pengintai. Ia mengambil pelat besi kecil dari alat perekam yang sempat ia sembunyikan di balik gaun putihnya—benda yang sama yang ia gunakan untuk mencoba menyelamatkan Aris dulu.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Aris?" suara Kayla terdengar tenang, namun penuh kebencian yang mendalam. "Kamu bilang kamu ingin melihat kehancuranku? Kamu tidak akan mendapatkannya."
Kayla mulai menggoreskan pelat besi itu ke lengannya sendiri, bukan untuk bunuh diri, melainkan untuk menuliskan sesuatu di dinding putih sel itu dengan darahnya sendiri. Sebuah kode, sebuah tanggal, dan sebuah nama yang membuat jantung Aris berhenti berdetak sesaat saat melihatnya melalui monitor.
"MAYA. 12 JANUARI."
Di ruang kontrol, Aris berdiri tegak, gelas wiskinya terjatuh dan pecah berkeping-keping. Wajahnya yang tadi tenang kini berubah pucat. "Bagaimana dia bisa tahu?" desis Aris.
Maya adalah satu-satunya kelemahan Aris, sebuah rahasia dari masa lalunya yang ia kubur sedalam mungkin. Ia mengira telah menghapus semua jejak tentang Maya, namun entah bagaimana, gadis yang ia anggap sebagai "domba lemah" ini memegang kunci yang bisa menghancurkannya.
Aris segera menekan tombol komunikasi. "Dari mana kamu tahu nama itu, Kayla?! Jawab aku!"
Kayla tersenyum pahit ke arah kamera. "Selama kita 'berkencan' semalam, kamu mengigau saat tertidur, Aris. Kamu menyebut namanya berkali-kali dengan nada ketakutan. Kamu pikir kamu adalah dewa yang memegang kendali? Kamu hanyalah seorang pengecut yang lari dari masa lalumu sendiri."
Situasi kini berbalik. Aris yang tadinya merasa di atas angin, kini merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia tahu bahwa jika Kayla mengetahui tentang Maya, maka ada kemungkinan pihak lain juga tahu. Ia harus segera bertindak.
Aris berlari menuju pintu sel. Ia tidak lagi ingin melihat Kayla dari balik layar; ia ingin menghadapinya secara langsung. Ia membawa sebuah jarum suntik berisi cairan penenang yang sangat kuat. Ia harus membungkam Kayla sebelum rahasia itu menyebar lebih jauh.
Namun, tepat saat Aris mencapai pintu sel dan membukanya, sebuah kejutan menantinya. Kayla tidak berada di sudut ruangan. Ruangan itu kosong. Hanya ada rantai yang terputus dan sebuah lubang di lantai—lubang yang seharusnya tidak ada di sana.
Ternyata, saat Aris sibuk membunuh pria gendut dan para polisi, Kayla telah menggunakan pemotong baut yang ia temukan sebelumnya untuk mengorek celah di lantai yang memang sudah rapuh akibat arus pendek yang dibuat Aris kemarin.
"Kayla!" teriak Aris bergema di ruangan kosong itu.
Tiba-tiba, lampu di seluruh gedung mati total. Suara sistem keamanan yang gagal berfungsi terdengar seperti jeritan panjang. Dari kegelapan lorong, Kayla muncul bukan sebagai korban, melainkan sebagai bayangan yang siap membalas dendam. Ia memegang pistol milik salah satu polisi yang ternyata berhasil ia ambil saat Aris sedang menyeret mayat mereka—sebuah detail kecil yang luput dari pengawasan Aris yang terlalu percaya diri.
"Sekarang," bisik Kayla dari balik kegelapan. "Mari kita lihat siapa yang akan hancur malam ini, Aris."
Di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela atas, Aris menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: ia meremehkan seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan.