Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Pelukan Ketenangan
Mobil Honda CR-V putih itu melaju membelah jalanan berliku di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Gedung-gedung pencakar langit Surabaya yang angkuh telah lama tertinggal di kaca spion, berganti dengan hamparan sawah hijau yang membentang luas dan deretan pohon jati yang meranggas di kanan-kiri jalan.
Alina Oktavia menyetir dengan santai. Kaca jendela mobilnya diturunkan separuh, membiarkan AC alami angin pegunungan yang sejuk masuk menggantikan udara buatan.
Sudah enam jam ia berkendara. Tubuhnya lelah, tapi jiwanya terasa seringan kapas.
Kemarin, saat ia mengajukan cuti seminggu kepada Wisnu, bosnya itu tidak bertanya macam-macam. Wisnu hanya menatapnya dengan pandangan teduh dan berkata, "Pergilah. Seorang prajurit butuh meletakkan pedangnya sesekali agar tidak tumpul. Kembalilah saat kamu sudah ingat siapa dirimu sebenarnya."
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Alina. Siapa dirinya sebenarnya? Apakah ia CEO bayangan yang kejam yang baru saja menghancurkan bisnis keluarga mantannya? Atau gadis desa sederhana yang merantau demi impian?
Mobil Alina mulai memasuki jalanan berbatu di sebuah desa kecil di kaki Gunung Lawu, Magetan. Aroma tanah basah sisa hujan semalam dan bau asap pembakaran kayu dari dapur-dapur penduduk menyambutnya. Aroma yang sangat spesifik. Aroma "rumah".
Dari kejauhan, Alina melihat sebuah rumah kayu sederhana berhalaman luas. Cat tembok pagarnya sudah mengelupas, dan gentengnya terlihat kusam dimakan lumut. Namun, bagi Alina, itu adalah istana terindah di dunia.
Di depan pagar, seorang gadis remaja berseragam pramuka sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Begitu melihat mobil asing yang mewah itu berhenti, gadis itu memicingkan mata.
Alina mematikan mesin, membuka pintu, dan turun. Ia tidak mengenakan blazer mahalnya. Ia hanya memakai kaos oblong putih, celana kulot kain, dan sandal jepit.
"Anita!" panggil Alina.
Gadis remaja itu terlonjak. Sapu lidinya terlempar ke tanah.
"Mbak Aliiiin!" jerit Anita histeris.
Gadis itu berlari kencang, menubruk tubuh kakaknya hingga Alina terhuyung ke belakang. Pelukan itu begitu erat, begitu penuh kerinduan, seolah Anita takut kakaknya akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.
"Ya ampun, Mbak! Sumpah, aku kira tamu nyasar! Mobilnya bagus banget!" cerocos Anita tanpa melepas pelukan. Ia mendongak, matanya berbinar-binar menatap kakaknya. "Mbak Alin kurusan, tapi makin cantik. Kayak artis Korea!"
Alina tertawa, mengacak-acak rambut adiknya yang bau matahari. "Kamu ini lebay. Bapak sama Ibu mana?"
"Di dalam! Buuu! Pakkk! Mbak Alin pulang bawa mobil gedee!" teriak Anita ke arah rumah.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Muncul sosok wanita paruh baya dengan daster batik yang warnanya sudah pudar, diikuti oleh seorang pria tua bertubuh kurus yang mengenakan kaos partai dan sarung.
"Ya Allah, Gusti... Nduk?" suara Ibunya bergetar.
Alina melepaskan pelukan Anita dan berjalan mendekati orang tuanya. Ia langsung bersimpuh di kaki mereka, mencium punggung tangan Bapak dan Ibunya yang kasar dan keriput tangan-tangan pekerja keras yang tidak pernah lelah berdoa untuknya.
"Assalamualaikum, Bu, Pak. Alina pulang," bisik Alina. Pertahanannya runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan di Surabaya, tumpah di halaman rumah sederhana itu. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan.
"Waalaikumsalam, Nduk," Bapak mengusap kepala Alina dengan lembut. Telapak tangannya yang kapalan terasa hangat di ubun-ubun Alina. "Alhamdulillah kamu selamat sampai rumah. Ayo berdiri, jangan di tanah, kotor."
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya kecil, beralaskan karpet plastik motif bunga. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang disusupi angin dingin dari celah-celahnya. Di sudut ruangan, ada bufet tua berisi piring-piring cantik yang tidak pernah dipakai.
Sangat kontras dengan apartemen mewah Alina di One Icon Residence. Namun anehnya, Alina merasa lebih nyaman duduk bersila di karpet plastik ini daripada di sofa kulit import-nya.
"Makan dulu, Nduk. Ibu sudah masak lodeh terong sama ikan asin. Sambalnya sambal tomat kesukaanmu," ujar Ibu sambil bergegas ke dapur.
Siang itu, Alina makan dengan lahap. Ia makan menggunakan tangan, mengangkat satu kakinya ke kursi kebiasaan masa kecilnya yang hilang saat menjadi wanita karir. Rasa sayur lodeh buatan Ibu benar-benar ajaib. Bumbunya sederhana, tidak pakai penyedap rasa mahal, tapi rasanya mampu menyembuhkan luka batin yang menganga.
"Enak, Nduk?" tanya Bapak yang duduk di seberangnya sambil melinting tembakau.
"Enak banget, Pak. Kalah restoran bintang lima di Surabaya," jawab Alina jujur, mulutnya penuh nasi.
Anita duduk di sampingnya, tidak henti-hentinya memandangi kakaknya. "Mbak, beneran itu mobil kantor? Keren banget. Teman-teman sekolahku pasti heboh kalau lihat."
"Bukan cuma mobil kantor, Nit. Itu hasil kerja keras Mbak," jawab Alina tersenyum. "Oh iya, sebentar."
Alina mencuci tangannya, lalu berlari ke mobil. Ia kembali dengan membawa sebuah tas jinjing dan sebuah kotak besar.
"Ini buat Anita," Alina menyerahkan kotak itu.
Mata Anita membelalak saat membuka bungkusnya. Sebuah laptop gaming spesifikasi tinggi keluaran terbaru. Harganya belasan juta rupiah.
"Mbak?! Serius?! Ini... ini mahal banget!" Anita menjerit tertahan, tangannya gemetar mengelus benda itu. "Laptopku yang lama aja belinya bekas, ini baru gres!"
"Buat belajar, ya. Jangan buat main game terus. Biar nanti kuliahnya pintar, bisa kerja enak kayak Mbak," pesan Alina lembut.
"Makasih, Mbak Alin! Makasih banget!" Anita memeluk kakaknya lagi, kali ini sambil menangis haru.
Kemudian Alina beralih pada Ibunya. Ia menyerahkan amplop tebal.
"Bu, ini buat pegangan Ibu sama Bapak. Terus besok, Alina mau panggil tukang buat benerin genteng yang bocor sama ganti lantai rumah jadi keramik. Biar Bapak nggak masuk angin terus kalau tidur di lantai semen."
Bapak dan Ibu saling berpandangan. Wajah mereka tampak khawatir.
"Nduk," Bapak meletakkan lintingan rokoknya. Suaranya berat dan serius. "Kamu kerja apa to di sana? Kok uangnya banyak sekali? Bapak nggak mau kamu aneh-aneh. Bapak lebih rela kita hidup begini daripada kamu dapat uang panas."
Pertanyaan itu menohok hati Alina. Uang panas? Tidak. Ini uang halal dari gajinya yang fantastis. Tapi cara mendapatkannya... dengan menghancurkan orang lain... apakah itu termasuk dosa?
Alina menarik napas, menatap mata Bapaknya lurus-lurus.
"Pak, Alina kerja di perusahaan tekstil terbesar di Jawa Timur. Alina jadi asisten kepercayaan pemiliknya. Ini uang halal, Pak. Hasil keringat Alina lembur siang malam, sampai lupa makan, sampai lupa pulang."
Alina tidak berbohong soal jabatannya. Ia hanya menyembunyikan bagian gelap tentang dendamnya.
"Alina cuma mau bahagiain Bapak sama Ibu. Alina nggak mau kita diremehkan orang lagi," tambah Alina.
Mendengar ketulusan di suara anaknya, Bapak mengangguk perlahan. "Ya sudah kalau begitu. Bapak percaya sama kamu. Kamu anak Bapak yang paling kuat."
Malam harinya, setelah makan malam dan sholat berjamaah, suasana rumah menjadi hening. Suara jangkrik dan kodok bersahutan di luar.
Alina duduk di teras depan, memandangi langit yang bertabur bintang pemandangan yang mustahil dilihat di Surabaya karena polusi cahaya.
Ia memeluk lututnya sendiri. Di keheningan ini, bayangan Rendy dan Sisca kembali muncul sekilas, tapi kali ini tidak disertai amarah yang meledak-ledak. Hanya rasa kasihan.
Di sini, di rumah reyot ini, ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran rupiah milik keluarga Santoso. Sisca mungkin punya rumah gedongan, tapi rumah itu dingin dan penuh kepalsuan. Sementara Alina, meski rumahnya bocor, ia punya tempat pulang yang tulus.
"Ternyata aku sudah menang sejak awal," gumam Alina pada angin malam. "Aku punya keluarga yang mencintaiku apa adanya, bukan karena hartaku."
Tiba-tiba, sebuah selimut hangat tersampir di bahunya. Ibu ikut duduk di sebelahnya membawa dua gelas teh manis panas.
"Kok belum tidur, Nduk? Mikirin apa?" tanya Ibu lembut.
Alina bersandar di bahu Ibunya, menghirup aroma minyak kayu putih yang khas.
"Nggak mikirin apa-apa, Bu. Cuma bersyukur bisa pulang," jawab Alina.
Ibu mengelus rambut Alina. Tangan kasarnya terasa begitu menenangkan.
"Nduk, Ibu itu ibumu. Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu kalau anak Ibu sedang menyembunyikan sesuatu."
Jantung Alina berdegup kencang. Apakah Ibu tahu?
"Matamu itu lho, Nduk. Ada sedihnya. Walaupun kamu ketawa, matamu kayak orang habis nangis lama sekali," bisik Ibu. "Ada apa? Putus cinta sama Nak Rendy ya?"
Alina tersenyum pahit. Insting seorang ibu memang tidak pernah salah, meski tidak sepenuhnya benar.
"Sudah lewat, Bu. Alina sudah nggak mikirin dia lagi," elak Alina.
"Ya sudah. Yang penting kamu sekarang sukses. Jodoh itu di tangan Gusti Allah. Nanti pasti diganti yang jauh lebih baik, yang lebih soleh, yang lebih kaya hati," doa Ibu.
"Aamiin, Bu."
Malam itu, Alina tidur di kamar lamanya. Di atas kasur kapuk yang agak keras, di dalam kelambu nyamuk yang berlubang sedikit. Tapi anehnya, itu adalah tidur ternyenyak yang pernah ia rasakan dalam enam bulan terakhir. Tanpa mimpi buruk, tanpa bayangan darah, tanpa rencana jahat.
Hanya ada Alina, gadis desa yang sedang mengisi ulang energinya sebelum kembali ke medan perang untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
Maafkan Author Karna Baru Up 🙏🤗
g sabar nih/Heart/