NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura yang asing

"Jadi," bisik Max dengan kerlingan mata yang penuh arti, "karena sekarang statusmu sudah resmi menjadi calon istriku, kurasa perdebatan soal kamar tadi sudah selesai, bukan? Kau akan tetap di sini malam ini."

Sophie terdiam sejenak, menatap Max dengan tatapan datar yang sangat kontras dengan keromantisan beberapa detik lalu. Ia melepaskan tangan Max dari pinggangnya, lalu merapikan pakaiannya dengan tenang.

"Sama sekali tidak, Maximilian," jawab Sophie tegas namun dengan nada geli. "Lamaran adalah janji, bukan surat izin tinggal satu kamar. Kita akan tetap tidur secara terpisah sampai hari pernikahan itu tiba. Jadi, ambil bantalmu dan silakan pilih kamar mana pun selain yang ini."

Wajah Max seketika berubah. Senyum kemenangannya luntur berganti dengan ekspresi kecewa yang sangat kentara, persis seperti anak kecil yang baru saja dilarang bermain mainan favoritnya. "Sophie, kau bercanda, kan? Aku baru saja memberikanmu berlian paling murni, memberikanmu mansion, dan aku hampir mati untukmu kemarin!"

"Dan aku sangat menghargainya, Tuan Hoffmann," Sophie menepuk pipi Max dengan lembut sambil tersenyum manis yang dibuat-buat. "Tapi prinsip tetaplah prinsip. Sekarang, lupakan keinginanmu untuk tidur di sini karena perutku sudah berbunyi. Aku lapar. Sangat lapar."

Max menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Sophie jika wanita itu sudah mengeluarkan mode "kepala batu"-nya. Meskipun kecewa, ia tidak bisa menahan rasa sayangnya melihat Sophie yang mulai kembali ceria dan menuntut makanan.

"Baiklah, Nona Adler. Kau menang lagi," gumam Max pasrah.

Ia merogoh ponsel dari saku celananya, menekan satu tombol cepat untuk menghubungi kepala pelayan mansion tersebut.

"Ini aku," ucap Max ke arah telepon, suaranya kembali berubah menjadi nada otoriter yang dingin namun ada sisa-sisa napas lelah di sana. "Siapkan makan malam terbaik sekarang juga di ruang makan utama. Pastikan semuanya segar dan hangat. Calon istriku sangat lapar. Cepat."

Max mematikan telepon, lalu menatap Sophie dengan tatapan memelas yang sengaja dibuat-buat. "Puas?“

Sophie tertawa geli melihat wajah Max yang ditekuk sedemikian rupa. CEO tangguh yang biasanya membuat para pesaing bisnis gemetar ketakutan, kini justru terlihat seperti pria yang baru saja kehilangan arah hidup hanya karena ditolak tidur sekamar.

Sophie melangkah mendekat, mengusap pipi Max yang masih memasang wajah merajuk. "Lihat dirimu," ejek Sophie dengan nada manja. "Wajahmu tidak cocok sekali jadi pria perajuk. Di mana Maximilian Hoffmann yang dingin dan ditakuti itu?"

Max hanya mendengus pelan, membuang muka meski ia tetap membiarkan tangan Sophie menyentuh kulitnya.

Melihat ekspresi Max yang benar-benar terlihat lesu, hati Sophie perlahan melunak. Ia menghela napas panjang, menatap mata Max yang kini menatapnya dengan pandangan penuh harapan yang terselubung. Sophie tahu, setelah semua ketegangan dan bahaya yang mereka lalui, Max mungkin hanya ingin merasakan kedekatan yang nyata untuk memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.

"Baiklah, baiklah," ujar Sophie akhirnya sambil menyerah. "Hanya untuk malam ini, Maximilian. Dan ingat, hanya untuk tidur. Kau tetap di sisi ranjangmu, dan aku di sisiku. Mengerti?"

Seketika itu juga, wajah mendung Max lenyap seolah tertiup angin. Sebuah senyum lebar—senyum yang paling tulus yang pernah Sophie lihat—terukir di bibirnya. Perubahan ekspresinya begitu cepat hingga membuat Sophie terbelalak.

"Tentu saja! Hanya tidur. Aku janji tidak akan melewati garis tengah," sahut Max cepat, matanya kembali berkilat penuh semangat.

Walaupun dalam hati kecilnya Max berharap Sophie akan langsung setuju untuk memindahkan seluruh barang-barangnya ke kamar itu secara permanen, ia tahu ia tidak boleh terlalu serakah. Bisa merasakan hembusan napas Sophie di sampingnya sepanjang malam dan memastikan wanita itu berada dalam jangkauan lengannya sudah lebih dari cukup untuk menenangkan jiwanya yang lelah.

Max merangkul pinggang Sophie dengan erat, seolah takut Sophie akan menarik kembali ucapannya. "Sekarang, karena masalah tempat tidur sudah selesai, ayo kita makan. Aku tidak ingin calon istriku pingsan karena kelaparan di malam pertama kita di rumah ini."

Sophie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Max yang berubah 180 derajat dalam hitungan detik. "Kau benar-benar licik, Max."

"Bukan licik, Sophie," bisik Max sambil menuntunnya menuruni tangga. "Hanya seorang pria yang tahu cara mendapatkan apa yang dia inginkan."

...****************...

Setelah sarapan yang tenang namun dipenuhi kerlingan mata penuh arti dari Max, keduanya segera berangkat menuju rumah sakit. Bagi Sophie, ini adalah hari yang paling ia tunggu: hari di mana ia bisa membawa ayahnya pulang ke tempat yang aman.

Sesampainya di rumah sakit, suasana sudah jauh lebih kondusif. Penjagaan ketat dari anak buah Max masih terlihat di setiap sudut koridor, namun ketegangan perang kemarin telah berganti dengan kesibukan medis yang teratur.

Max dan Sophie berdiri di ruang konsultasi, berhadapan dengan dokter spesialis yang menangani Hans sejak awal. Dokter tersebut membuka beberapa lembar hasil pemindaian terbaru dengan raut wajah yang cukup optimis.

"Kondisi Tuan Adler menunjukkan kemajuan yang luar biasa, mengingat trauma fisik yang dialaminya," dokter memulai penjelasannya. " Fungsi pernapasannya sudah jauh lebih stabil. Namun, karena beliau sempat terpapar asap tebal dan mengalami tekanan jantung yang hebat, pemulihannya tidak boleh terburu-buru."

Max mengangguk paham. "Aku sudah menyiapkan medical suite di rumah dengan peralatan lengkap. Apa yang harus kami perhatikan selama perawatannya di sana?"

Dokter menggeser sebuah daftar protokol medis ke arah mereka. "Pertama, manajemen luka. Perawat pribadi yang Anda sewa harus memastikan sterilisasi luka bahunya agar tidak terjadi infeksi sekunder. Kedua, rehabilitasi paru. Tuan Hans membutuhkan terapi pernapasan ringan setiap pagi untuk memulihkan kapasitas oksigennya."

Dokter menatap Sophie dengan lembut. "Dan yang paling penting adalah stabilitas emosional. Beliau sudah melewati trauma berat. Lingkungan yang tenang, udara segar, dan kehadiran orang-orang terdekat akan menjadi obat yang jauh lebih kuat daripada antibiotik mana pun."

"Kami sudah menyiapkan kamar yang menghadap langsung ke taman," sela Max, memastikan Sophie tetap tenang. "Semua kebutuhan oksigen dan alat bantu darurat sudah terpasang."

"Bagus dan satu hal lagi," tambah Dokter, "hindari beliau dari kabar buruk sementara waktu. Beliau butuh istirahat total dari dunia luar."

Sophie mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap detail di dalam kepalanya. Setelah sesi konsultasi berakhir, mereka melangkah menuju kamar Hans. Di sana, Hans sudah duduk di kursi roda, mengenakan pakaian rapi yang telah disiapkan. Wajahnya tampak lebih segar, meski guratan lelah masih ada.

"Sudah siap pulang, Ayah?" tanya Sophie lembut sambil memeluk bahu ayahnya.

Hans mengangguk lemah, tangannya yang kurus menepuk lembut jemari Sophie. "Bawa aku pergi dari sini, Nak. Aku sudah terlalu lama mencium aroma obat-obatan," bisiknya dengan senyum tipis.

Max mengambil alih kursi roda Hans, mendorongnya dengan hati-hati sementara Sophie berjalan di samping mereka. Namun, saat mereka baru saja melewati sebuah tikungan di lorong rumah sakit yang cukup ramai, seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi yang diturunkan rendah berjalan melewati mereka ke arah berlawanan.

Seketika, bulu kuduk Max berdiri. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan penuh intrik dan ancaman, ia memiliki insting tajam terhadap "aura" berbahaya. Pria itu tidak menabrak mereka, bahkan tidak melirik, namun aroma parfum kayu cendana yang sangat spesifik—aroma yang sama dengan yang tercium di kantor Richard kemarin—terhembus saat pria itu melintas.

Langkah Max terhenti seketika. Kursi roda Hans ikut berhenti mendadak. Max langsung memutar tubuhnya, matanya menyipit tajam menatap punggung pria misterius itu yang kian menjauh di antara kerumunan pengunjung rumah sakit. Ada sesuatu yang sangat akrab namun sangat mengancam dari cara pria itu berjalan.

"Max?" Sophie menyentuh lengan Max, wajahnya tampak cemas melihat reaksi tunangannya yang mendadak waspada. "Ada apa?“

Max masih terpaku selama beberapa detik, tangannya mengepal di pegangan kursi roda. Ia hampir saja mengejar pria itu, namun ia teringat bahwa Sophie dan Hans adalah prioritas utamanya saat ini. Mengejar pria itu berarti meninggalkan mereka tanpa perlindungan di tengah koridor publik.

Max menarik napas panjang, mencoba mengendurkan otot rahangnya yang menegang. Ia kembali menoleh ke arah Sophie dan memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke mata.

"Tidak ada apa-apa," jawab Max tenang, meski suaranya terdengar sedikit lebih berat. "Aku hanya merasa seperti melupakan sesuatu, tapi ternyata bukan hal penting. Ayo, kita lanjutkan."

Sophie menatap Max dengan tatapan tidak percaya, ia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Max. Namun, melihat Max kembali mendorong kursi roda ayahnya, ia memutuskan untuk tidak memperpanjang tanya.

Sepanjang jalan menuju mobil, pikiran Max melayang jauh. Pria itu bukan tentara bayaran Richard. Langkahnya terlalu anggun, terlalu tenang. Siapa dia? Dan kenapa dia ada di rumah sakit tempat Hans dirawat? Max teringat ucapan ayahnya soal Blackwood Holdings. Apakah pria tadi adalah utusan mereka?

Ketakutan baru mulai mengakar di hati Max. Ia menyadari bahwa memenjarakan Richard tidak membuat dunianya menjadi lebih tenang; justru sebaliknya, ia baru saja merobek tirai yang selama ini menyembunyikan predator yang jauh lebih besar.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!