Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: TOPENG DI BALIK KANVAS
Pameran seni sore itu sangat megah. Galeri yang dipenuhi lampu-lampu temaram dan lukisan abstrak kelas atas seharusnya membuat Alsya merasa tenang. Namun, meskipun Revaldi bersikap sangat manis—mengambilkan minum, menjelaskan makna lukisan, dan terus memujinya—ada sesuatu yang terasa hampa di hati Alsya.
"Loe suka lukisan ini, Sya?" tanya Revaldi sambil menunjuk sebuah kanvas besar bertema Kesepian. "Gue rasa ini mirip sama loe sebelum ketemu gue lagi. Tapi sekarang, gue bakal pastiin loe nggak akan pernah ngerasa sepi lagi."
Alsya hanya tersenyum paksa. "Makasih ya, Val. Makasih udah bawa gue ke sini."
Sementara itu, Samudera memacu motornya seperti orang kesetanan. Dia menelepon ponsel Alsya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Beruntung, dia teringat ucapan Revaldi di sekolah tadi tentang "pameran seni". Dengan instingnya, Samudera mendatangi galeri terbesar di pusat kota.
Di dalam galeri, Revaldi mulai menjalankan langkah terakhirnya. Dia menggiring Alsya ke area taman belakang galeri yang lebih privat.
"Sya, sebenernya ada alasan lain kenapa gue bawa loe ke sini," Revaldi menggenggam tangan Alsya. "Papa loe dan Papa gue udah bicara. Mereka mau kita tunangan setelah lulus nanti. Dan gue mau loe tahu kalau gue bakal dukung bakat lukis loe sepenuhnya, nggak kayak si berandalan itu yang cuma bikin loe susah."
Alsya terkejut. "Tunangan? Tapi Val, gue belum siap... dan Papa nggak bilang apa-apa soal ini."
"Papa loe bakal bilang malem ini. Gue cuma mau curi start biar loe nggak kaget," Revaldi mendekat, wajahnya mulai menunjukkan sisi posesifnya. "Loe harus nurut, Sya. Ini demi kebaikan keluarga kita."
Tepat saat itu, suara langkah kaki keras terdengar di lorong galeri.
"ALSYA!"
Samudera muncul dengan napas tersengal. Bajunya basah karena keringat dan sisa hujan. Satpam galeri mencoba menahannya di pintu masuk taman, tapi Samudera tidak peduli.
"Samudera? Ngapain loe ke sini?!" teriak Revaldi, wajah manisnya seketika berubah menjadi beringas.
"Sya, dengerin gue! Gue udah bebas!" teriak Samudera sambil meronta dari pegangan satpam. "Ayah gue nggak bakal bisa ancam siapa-siapa lagi! Gue udah beresin semuanya demi loe!"
Alsya berdiri mematung. "Maksud loe apa, Sam?"
"Gue bohong soal bengkel itu karena gue mau lindungin kakak gue dan pengobatan temen gue dari bokap gue sendiri! Tapi sekarang semuanya udah selesai! Eliza manfaatin itu buat bikin loe benci sama gue!"
Revaldi tertawa keras. "Loe denger itu, Sya? Dia cuma jago bikin drama. Jangan percaya sama cowok yang bahkan nggak berani jujur dari awal! Satpam, usir dia! Dia mengganggu tamu VIP!"
Namun, kali ini Alsya tidak langsung percaya pada Revaldi. Dia melihat luka di tangan Samudera—luka baru yang didapat saat Samudera memukul meja ayahnya tadi siang. Dia juga melihat ketulusan yang putus asa di mata Samudera.
"Tunggu, Val," ucap Alsya pelan. Dia melepaskan tangan Revaldi. "Kenapa loe panik banget pas Samudera dateng? Kalau loe beneran mau gue bahagia, loe harusnya biarin dia jelasin semuanya."
"Sya, dia itu cuma sampah! Loe mau hancurin masa depan loe demi dia?" Revaldi mulai kehilangan kendali, suaranya meninggi.
"Sampah yang loe maksud itu orang yang berani taruhan nyawa buat kebebasannya sendiri," sahut Samudera yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari satpam. Dia berjalan mendekat ke arah Alsya, menatapnya dengan sangat dalam. "Sya, gue mungkin emang penuh kekurangan. Tapi gue nggak pernah mau tunangin loe cuma buat bisnis keluarga. Gue mau loe karena loe adalah Alsya."
Revaldi yang merasa terhina mencoba melayangkan pukulan ke arah Samudera, tapi Samudera dengan sigap menghindar dan menahan tangan Revaldi.
"Cukup, Val. Topeng loe udah retak," desis Samudera.
Alsya menatap keduanya bergantian. Di satu sisi ada kemewahan dan kepatuhan pada orang tua, di sisi lain ada kejujuran yang menyakitkan tapi membebaskan.
Tiba-tiba, ponsel Revaldi berbunyi. Sebuah pesan suara dari Eliza terputar secara tidak sengaja karena ponselnya terhubung ke speaker bluetooth di area taman itu.
Suara Eliza: "Val, gawat! Samudera nemuin bokapnya. Gue denger Papa lagi marah besar karena rencana bisnisnya sama keluarga loe terancam batal kalau Samudera bongkar kasus penggelapan itu! Buruan bawa Alsya pergi sebelum Samudera sampai!"
Suasana menjadi sangat hening. Kebenaran akhirnya terungkap lewat mulut Eliza sendiri. Revaldi membeku, sementara Alsya menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Jadi bener... ini semua cuma soal bisnis Papa?" tanya Alsya lirih.
Semua rahasia akhirnya terbuka di depan mata Alsya!
Bersambung...