Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendirian Melawan Logika Satu Desa
Matahari Kulon Progo sedang berada di puncaknya, memanggang punggung bukit kapur itu tanpa ampun.
Panasnya bukan main. Udara terasa kering, berdebu, dan menyengat kulit.
Di atas hamparan tanah gersang yang dijuluki "Bukit Kematian" itu, sesosok gadis muda dengan caping bambu lebar tampak sibuk mondar-mandir.
Sekar Wening tidak sedang mencangkul sembarangan.
Di tangannya, dia memegang segulung tali rafia dan beberapa patok kayu. Matanya menyipit, bukan karena silau, melainkan sedang melakukan kalkulasi mental yang presisi.
Derajat kemiringan tiga puluh persen. Risiko erosi tanah permukaan: tinggi.
Otak Profesor Sekar bekerja cepat layaknya komputer super. Dia memindai kontur tanah yang tidak rata itu.
Bagi orang awam, bukit ini hanyalah tumpukan batu kapur yang tidak berguna. Tapi bagi seorang ahli bio-hayati, ini adalah tantangan struktur.
Tanah di sini miskin unsur hara karena lapisan topsoil-nya sudah lama hanyut terbawa hujan bertahun-tahun lalu. Yang tersisa hanyalah lapisan sub-soil yang padat dan liat.
"Pak Man, tolong patok di sebelah sana digeser ke kiri lima puluh senti," seru Sekar sambil menunjuk titik spesifik di kejauhan.
Pak Man, sopir setia yang kini merangkap sebagai asisten lapangan, menyeka keringat sebesar biji jagung di dahinya. Wajah tuanya tampak bingung, tapi dia tetap menurut.
"Di sini, Non?" tanya Pak Man sambil menancapkan kayu.
"Iya, Pak. Kita harus bikin alur melingkar mengikuti pinggang bukit. Jangan lurus dari atas ke bawah," instruksi Sekar sabar.
Sekar sedang menerapkan teknik terrasering kontur.
Jika dia mencangkul lurus dari atas ke bawah seperti kebiasaan petani desa di lahan datar, air hujan akan meluncur bebas dan menggerus sisa-sisa tanah yang ada.
Tapi dengan membuat undakan-undakan yang mengikuti garis kontur bukit, dia menciptakan "rem alamiah" untuk air.
"Nduk Sekar, sampeyan yakin ini bener caranya?"
Suara itu datang dari pinggir jalan setapak di bawah bukit.
Beberapa bapak-bapak petani senior desa sedang duduk berteduh di bawah pohon akasia, menonton tontonan "orang gila" yang sedang bekerja di tengah hari bolong.
Mereka memandang Sekar dengan tatapan kasihan bercampur geli.
"Tanah cadas begitu kok mau ditanami. Mending buat galian batu bata, Nduk!" seru salah satu dari mereka, diikuti tawa renyah teman-temannya.
"Iya, lagian itu bikin galengan kok miring-miring begitu? Tidak rapi blas! Harusnya lurus biar enak dipandang!" timpal yang lain.
Sekar hanya tersenyum tipis, sedikit mengangguk sopan ke arah mereka, lalu kembali fokus pada tali rafianya.
Dia tidak bisa menyalahkan mereka. Logika pertanian konvensional memang sering bertabrakan dengan prinsip konservasi lahan kritis.
Yang mereka anggap "rapi" adalah bencana ekologis bagi bukit ini.
"Biarkan saja, Pak Man. Nanti juga mereka paham," bisik Sekar ketika melihat Pak Man tampak emosi ingin membalas ejekan itu.
Setelah pola terasering terbentuk, Sekar memulai tahap kedua yang lebih aneh lagi di mata warga.
Dia tidak menyuruh Pak Man dan dua buruh harian lepas yang disewanya untuk membalik tanah.
Sebaliknya, dia menyuruh mereka membuat lubang-lubang kecil sedalam satu meter dengan jarak yang sangat rapat menggunakan linggis.
"Ini namanya lubang napas, Pak," jelas Sekar singkat.
Secara ilmiah, ini adalah teknik Biopori.
Tanah kapur di sini memiliki porositas yang sangat buruk. Air tidak bisa meresap, hanya lewat di permukaan.
Dengan membuat ribuan lubang vertikal yang diisi sampah organik dedaunan kering, Sekar sedang menciptakan "spons" raksasa di dalam perut bukit. Sampah itu akan membusuk, mengundang cacing tanah dan mikroba untuk datang, yang secara alami akan menggemburkan tanah dari dalam.
Aerasi tanah, batin Sekar puas melihat lubang-lubang itu mulai terbentuk.
Namun, atraksi utama yang membuat warga desa semakin yakin Sekar sudah gila adalah apa yang dilakukannya dengan tumpukan bambu apus yang baru datang sore harinya.
Sekar tidak menggunakan bambu itu untuk pagar.
Dia melubangi ruas-ruas bambu itu dengan paku kecil di titik-titik tertentu, lalu menyambungnya memanjang seperti ular naga yang melilit undakan bukit.
Bambu-bambu itu diletakkan tepat di samping lubang tanam.
"Oalah, Gusti... Lha kok malah bikin kandang tikus?" celetuk Bu Tejo, salah satu kroni Bibi Mirna yang sengaja lewat untuk memata-matai.
Bu Tejo berhenti, kipas tangannya berkibar kencang. "Heh, Sekar! Itu bambu buat apa ditaruh di tanah begitu? Buat saluran pembuangan air kencing?"
Sekar menegakkan punggungnya yang pegal. Keringat membasahi kaos lusuhnya, membuat punggungnya lengket.
Dia menatap instalasi bambu itu dengan bangga.
Itu adalah sistem irigasi tetes gravitasi (drip irrigation).
Teknologi kuno namun efektif untuk lahan kering. Air akan mengalir pelan di dalam bambu dan menetes perlahan tepat ke akar tanaman melalui lubang kecil, tanpa ada setetes pun yang terbuang menguap ke udara.
Efisien, hemat air, dan menjaga kelembapan tanah konstan.
"Buat nyiram tanaman, Bu Tejo," jawab Sekar ramah. "Biar airnya irit."
Bu Tejo mencibir. "Halah! Gaya-gayaan! Wong tanahnya kering kerontang begitu kok mikir irit. Disiram satu ember saja langsung hilang ditelan bumi!"
Sekar tidak mendebat. Dia tahu, menjelaskan prinsip kapilaritas tanah kepada Bu Tejo sama saja dengan mengajari ikan memanjat pohon.
Menjelang senja, sebuah truk tangki air pesanan Sekar datang.
Truk itu berhenti di puncak bukit, mengisi sebuah tandon air plastik raksasa berwarna oranye berkapasitas 5000 liter yang sudah disiapkan Sekar di titik tertinggi.
Warga yang penasaran semakin banyak berkumpul. Mereka ingin tahu, apa yang akan dilakukan gadis "pembawa sial" ini selanjutnya.
Sekar memanjat tangga tandon air itu.
Angin sore menerbangkan rambutnya yang dikuncir kuda. Dari ketinggian itu, dia bisa melihat wajah-wajah skeptis warga desa di bawah sana.
Mereka menunggu kegagalannya. Mereka menunggu tanaman yang akan ditanam Sekar mati layu dalam seminggu.
Sekar merogoh saku celananya.
Dia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil seukuran ibu jari. Botol bekas obat tetes mata yang sudah dicuci bersih.
Di dalamnya, terdapat cairan bening yang terlihat biasa saja.
Padahal, itu adalah air murni yang diambilnya langsung dari mata air di Ruang Spasial.
Konsentrat kehidupan.
Satu tetes air itu mengandung bio-stimulan yang mampu memanipulasi kecepatan pembelahan sel tanaman hingga ratusan kali lipat.
"Itu apa, Nduk?" teriak salah satu warga, matanya membelalak curiga. "Kemenyan cair ya?"
Suasana mendadak hening. Desas-desus bahwa Sekar menggunakan ilmu hitam memang santer terdengar.
Sekar tersenyum, mengangkat botol kecil itu tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihatnya tertimpa cahaya matahari sore yang keemasan.
"Bukan kemenyan, Pak, Bu," suara Sekar lantang, namun tenang.
"Ini adalah Formula Penyubur Rahasia. Ramuan pertanian modern yang saya racik sendiri."
Dia berbohong. Atau lebih tepatnya, menyederhanakan kebenaran yang tak mungkin diterima akal sehat mereka.
Tanpa ragu, Sekar membuka tutup botol itu.
Tangan kirinya memegang pinggiran tandon, tangan kanannya meneteskan isi botol itu ke dalam 5000 liter air biasa.
Tetes.
Satu tetes. Hanya satu tetes.
Cairan bening itu jatuh, memecah permukaan air di dalam tandon, menciptakan riak kecil yang segera menghilang.
Sekar segera menutup kembali botolnya dan memasukkannya ke saku.
"Lho? Cuma setetes?" Pak Man yang berdiri di bawah tangga melongo. "Nduk, apa kerasa khasiatnya? Itu airnya satu tandon lho."
Warga desa mulai tertawa lagi.
"Wah, beneran edan ini anak! Masak obat setetes buat air segunung!"
"Hahaha! Paling itu cuma air doa-doa dukun!"
"Sudah bubar, bubar! Nonton orang stress malah bikin lapar!"
Sekar turun dari tangga dengan tenang. Dia mengabaikan cemoohan itu.
Dalam hitungan bio-kimia Profesor Sekar, satu tetes air spiritual memiliki rasio pengenceran 1:1.000.000 untuk tetap efektif pada tanaman biasa di dunia nyata.
Jika dia menuangkan lebih banyak, tanaman di sini akan bermutasi menjadi raksasa dalam semalam, dan itu justru akan mengundang masalah besar. Dia butuh pertumbuhan yang cepat tapi masih masuk akal, masih bisa dinalar sebagai "keberhasilan pertanian unggul".
Sekar berjalan menuju keran utama yang terhubung ke jaringan pipa bambu.
Dia memutar keran itu perlahan.
Glek... srrrr....
Air dari tandon mulai mengalir turun, masuk ke dalam rongga-rongga bambu yang mengular di sepanjang bukit.
Terdengar suara tik... tik... tik... yang ritmis.
Air yang telah bercampur dengan "Formula Rahasia" itu mulai menetes keluar dari lubang-lubang kecil bambu, membasahi tanah kapur yang kering tepat di titik-titik tanam yang sudah disiapkan.
Tanah yang haus itu mendesis pelan saat bersentuhan dengan air.
Aroma petrichor, bau tanah basah, menguar tipis, bercampur dengan aroma manis yang sangat samar, nyaris tak tercium oleh hidung manusia biasa.
Tapi Sekar bisa menciumnya. Aroma energi kehidupan.
Sekar berjongkok di samping salah satu lubang tanam. Dia menyentuh tanah yang mulai basah itu.
"Minumlah," bisik Sekar pelan, seolah berbicara pada bayi. "Besok, kalian harus bangun dan mengejutkan dunia."