NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saatnya Jadi Dewasa

Ririn hanya termenung menatap rumah yang dulu dia sebut rumah. Catnya masih sama, pagar besinya masih berdecit pelan saat tertiup angin. Tapi rasanya sekarang sudah berbeda rumah itu kosong. Ririn menarik napasnya panjang, lalu dia bergegas masuk ke dalam mobil, di kursi depan sahabatnya Anggie sudah menunggu.

“Tenang, gue bakal ada buat lu,” kata Anggie sambil menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.

“Makasih ya, Gie… cuma lu…” Ririn terdiam sejenak, kalimatnya menggantung.

"yang nggak pergi saat kondisi gue lagi kayak gini,” sambungnya pelan.

Anggie melirik sekilas lalu tersenyum kecil. “Santai, lu bisa tinggal di apartemen gue dulu, sementara.”

Ririn mengangguk bibirnya terangkat tipis, meski matanya masih terlihat sembab. Di kepalanya berkelebat kenangan saat masih bersama mendiang mamah dan papahnya, saat itu hidup Ririn terasa aman. Dahulu dia nggak pernah mikirin uang, sekarang bahkan sepeser pun dia nggak punya.

Sesampainya di apartemen Anggie, Ririn berjalan pelan menenteng koper usang Anggie membantunya.

“Apartemen gue kecil, semoga lu betah ya,” kata Anggie sambil masuk ke dalam lift.

“Ya ampun, Gie. Lu udah mau nampung gue di sini, gue udah bersyukur banget,” jawab Ririn tulus, menatap sahabatnya penuh rasa terima kasih.

Malam itu, Ririn mencoba memejamkan mata. Tapi pikirannya terlalu ramai, wajah mamah dan papahnya muncul silih berganti.

Mah… pah… aku harus gimana? Kenapa ninggalin aku sendirian kayak gini…

Tanpa sadar, air matanya mengalir hingga tiba-tiba.

Tok… tok… tok…

Ririn terbangun.

“Rin, boleh gue masuk?” suara Anggie terdengar dari balik pintu.

“Iya, masuk aja,” sahut Ririn cepat, menyeka pipinya.

Krek…

Anggie masuk kedalam kamar itu dan langsung duduk di tepi ranjang. Dia memperhatikan Ririn sejenak, lalu menghela napas pelan.

“Lu belum tidur ya?”

Ririn menggeleng. “Belum bisa.”

Anggie terdiam sebentar, lalu tersenyum seolah mengingat sesuatu.

“Rin… waktu itu kan lu bilang pengen cari kerja,"

Ririn menatapnya. “Iya… tapi gue bahkan nggak tau harus mulai dari mana.”

“Nah, kebetulan Kakak gue kerja di perusahaan desain, terakhir gue denger dia lagi butuh asisten.”

Mata Ririn membesar. “Serius?”

“Iya, perusahaannya emang fokus di desain grafis sama branding, kakak gue bilang asistennya resign mendadak, gue langsung kepikiran lu.”

Ririn duduk, jantungnya berdetak lebih cepat. “Tapi… gue udah lama nggak kerja, Gie,takut nggak kepake.”

Anggie menepuk tangan Ririn. “Eh, jangan meremehkan diri sendiri portofolio lu bagus, dan ini kesempatan buat lu nanti gue kenalin langsung ke kakak gue ya,"

Ririn terdiam, lalu tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ada secercah harapan.

“Makasih, ya gie… gue nggak nyangka masih ada orang yang peduli sama gue.”

Anggie berdiri. “Udah, istirahat besok gue bantu siapin CV sama portofolio lu.”

Ririn mengangguk. “Iya.”

Saat Anggie melangkah keluar kamar, Ririn kembali berbaring kali ini matanya terpejam dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.

Besok paginya, Ririn ikut Anggie ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Bangunannya tinggi, didominasi kaca, terlihat sangat sibuk sejak pagi. Jantung Ririn berdebar sejak mereka turun dari mobil.

Di lobi, seorang perempuan berpenampilan rapi melambaikan tangan ke arah mereka.

“Itu kakak gue,” bisik Anggie.

Perempuan itu tersenyum ramah saat Anggie dan Ririn mendekat. “Hai, kamu Ririn ya? Aku Dewi, kakaknya Anggie.”

“Iya kak, aku Ririn temennya Anggie," jawab Ririn sedikit gugup.

Mereka lalu duduk di sebuah kafe kecil di lantai bawah kantor. Kak Dewi langsung bicara tanpa bertele-tele.

“Sebenarnya, posisi asisten buat aku udah ada,” katanya jujur menatap Anggie dan Ririn secara bergantian.

Ririn sempat terdiam dadanya terasa agak sesak, dia sedikit kecewa tapi dia berusaha tetap tersenyum.

“Tapi,” lanjut Kak Dewi, “bos aku justru lagi butuh asisten pribadi.”

Ririn mengangkat wajahnya. “Asisten pribadi?”

“Iya, lebih ke ngatur jadwal bos, nyatet ide-idenya, ngingetin meeting, hal-hal administratif gitu.”

Ririn sedikit terkejut. Pekerjaan itu jelas nggak ada hubungannya dengan latar belakangnya sebagai desain grafis dia menunduk, pikirannya berputar cepat.

Namu apa boleh buat dia butuh uang dan butuh kerja, sekarang bukan saatnya buat Ririn untuk pilih-pilih kerjaan.

“Jujur aja, Rin,” kata Kak Dewi lagi, “ini bukan kerjaan desain tapi bos aku orangnya perfeksionis. Butuh orang yang rapi, teliti, dan bisa dipercaya.”

Ririn menarik napas dalam. “Tapi… aku belum pernah jadi asisten, gimana, Kak?”

Kak Dewi tersenyum tipis. “Semua orang juga mulai dari nol.”

Anggie yang sejak tadi diam akhirnya menyela, “Lu bisa, Rin gue yakin”

Ririn mengepalkan tangannya pelan di atas paha. Dia mengingat malam kemarin, ingatan tentang orang tuanya, tentang rasa takut kehilangan segalanya.

“Aku mau coba, Kak,” ucapnya akhirnya, tampak yakin.

“Aku mau kerja apa aja.” kata Ririn lagi kali ini mantap.

Kak Dewi menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Oke, nanti aku kenalin kamu ke bos aku, kalau cocok kamu bisa mulai secepatnya.”

Ririn tersenyum lega kali ini lebih tulus. Meski belum tau seperti apa bosnya nanti, satu hal yang dia yakini ini adalah langkah pertamanya untuk bertahan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!