Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaji buta pertama
Sebuah hotel?
Bagas terkejut setelah tahu tempat tujuannya adalah sebuah hotel. Menurut admin, gadis bernama Rena memang berada di sana. Untuk menemuinya, mau tidak mau ia harus ke sana.
Apa jangan-jangan ...
Bagas abaikan pemikiran liarnya. Ia menenangkan dirinya sendiri: dia hanya ingin memastikan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tidak lebih.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi; pesan dari nomor tak dikenal. Profilnya sama persis dengan foto di aplikasi. Dari situlah ia mendapat alamat lengkap.
Di tengah jalan, ragu menerjang—mungkin saja modus penipuan. Tapi ia buang jauh-jauh pemikiran itu; Uang ayahnya telah berpindah tangan sejak semalam. Telanjur basah, pikirnya.
Mundur terasa seperti mengubur kesempatan untuk hidup normal. Pilihannya hanyalah melakukan semua yang bisa ia lakukan.
Saya sudah sampai.
Ketiknya untuk memberitahu. Tak lama, balasan langsung muncul.
Kamar nomor 13 ya, Kak.
Debaran jantungnya melonjak. Saat dirinya membayangkan akan bertemu seorang perempuan, namun langkahnya memburu kamar yang dimaksud.
Belum bertemu saja, ia sudah menyeka keringatnya berkali-kali. Ketika menemukan kamar yang dimaksud, langkahnya tersendat tepat di depan pintunya.
Ia mengambil nafas dalam-dalam. Menaikkan tudung jaket agar jarak pandangnya berkurang. Cara yang selalu berhasil membantu mengurangi rasa takutnya ketika menghadapi perempuan.
Setelah merasa siap, barulah ia mengetuk pintu itu.
Pintu terbuka perlahan. Di celah itu ia melihat gadis yang hanya ia lihat fotonya, kali ini dengan mata kepalanya sendiri. Namun, tangannya reflek menarik gagang pintu; kaget. Tubuhnya kaku. Keringat semakin tak terkendali.
Sosok di balik pintu lebih-lebih terkejutnya. Gadis itu mencoba menariknya; tak bergerak sama sekali. Ia mencoba menaikkan tenaganya, namun jelas kalah kuat.
"Kenapa ditutup?" Tanyanya keheranan sembari mengetuk pintu dari dalam.
Bagas bergumam tanpa suara. Reflek itu tak bisa dijelaskan. Ia menepuk keningnya sendiri. Setelah menenangkan diri, ia merogoh ponselnya, mencoba bertanya lewat pesan,
Maaf, apa tidak bisa di luar saja?
Pesan yang masuk ke ponselnya membuatnya tersenyum sinis.
Orang macam apa yang ingin melakukan "itu" di luar ruangan? Lagi-lagi ketemu orang aneh.
Maaf, Kak. Saya hanya bisa melakukannya di dalam ruangan.
Balas Rena dengan halus. Ia merasa ada yang salah dengan balasannya sendiri. Seharusnya tinggal bilang saja langsung karena orangnya ada di balik pintu. Ia sendiri heran mengapa malah membalas pesan barusan.
Merasa tak tahan dengan rentetan keanehan ini, ia pun langsung meneleponnya.
Bagas yang terkejut dengan bunyi ponselnya, mengangkatnya dengan ragu,
"Halo?" Suara lembut menetes ke telinganya.
"A-iya."
"Kakak kenapa? Gugup ya?" Terkanya.
"A-aku ... cuma kekurangan oksigen saja kok." Jawabnya, setengah mentertawakan keanehan dirinya.
Rena berusaha terkekeh kecil dengan candaan garing barusan. Ia tak kaget lagi. Bukan pertama kali ia mendapatkan pelanggan aneh. Ia paham betul. Bertemu dengan orang aneh adalah salah satu resiko dari pekerjaannya.
"Tenang saja, Kak. Aku akan buat kakak nyaman kok."
Kalimatnya barusan bermaksud menenangkan sekaligus menyimpan maksud mendalam yang tak akan dipahami oleh perjaka tulen seperti Bagas.
"Aku tunggu di dalam ya, Kak." Kalimat terakhir yang sedikit bernada manja itu, menutup panggilan mereka.
Bagas sadar, dirinya tak bisa terus menjadi pengecut. Ia mengambil napas panjang; mencoba membuka pintu dengan perlahan.
Ia mengintip dengan sebelah matanya—kosong. Sedikit bernapas lega. Langkahnya sengaja masuk setengah mengendap. Matanya menangkap sepasang paha mungil nan mulus di tepi ranjang. Tubuhnya kembali membeku.
"Kakak baru pertama kali ya?" Terka gadis yang sadar akan suara yang Bagas timbulkan.
"I-iya... maaf, aku bingung harus bagaimana." Jawabnya masih terbata.
"Santai saja, Kak." Suara gadis itu kembali menenangkan.
Rena telah menunggunya beberapa saat, namun sosoknya tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ia menyimpulkan kalau lelaki itu memang sangat gugup hingga membuatnya belum berani menunjukkan diri.
Padahal, skenario dalam kepalanya sudah tersedia. Ia bukan orang baru dalam pekerjaannya ini. Ia paham betul bagaimana menghadapi pelanggan yang pasif. Yaitu dengan bersikap agresif.
Karena ia tahu, pada akhirnya, laki-laki adalah predator. Ia hanya butuh sedikit stimulus saja agar membangkitkan sifat natural para predator itu.
"Terima kasih ya, sudah memilihku." Ucapnya, membuka obrolan.
Bagas masih mematung. Bukannya berjalan masuk, ia malah menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat dengan pandangan yang naik ke langit-langit.
"I-iya, sama-sama." Hanya itu kalimat yang terpikirkan olehnya.
"Kakak betulan tidak mau masuk ke dalam?"
"Maaf ya, aku butuh waktu."
Apa dia orang yang pemalu? Atau jangan-jangan dia perjaka?
"Kakak masih perjaka ya?" Tanpa keraguan, pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Bagas terkejut . Matanya mengerjap cepat. Tak pernah terpikir olehnya kalau pertanyaan semacam itu akan diajukan padanya.
"I-iya." Sahutnya dengan kebingungan.
"Berarti belum pernah pacaran?"
"Belum pernah."
"Hah? Serius? Berarti perjaka tulen dong?"
"Bisa dibilang begitu."
Oh begitu. Masuk akal jika sikapnya seperti ini.
"Kenapa tidak mencoba pacaran dengan seseorang?"
"Tidak ada orang yang aku suka. Walaupun ada, pasti tidak bisa."
"Pasti tidak bisa? Kenapa begitu?"
"Dengan alasan tertentu, aku tidak bisa."
"Apa alasannya?"
"Aku tidak bisa bilang."
"Kenapa?"
"Karena memalukan dan tidak masuk akal."
"Apa mungkin kakak pedofil? Atau bahkan ... gay?"
"Hah!? Tidak, tidak sampai sejauh itu. Justru kebalikannya."
"Kebalikan?" Semakin didengar, Rena malah semakin tidak mengerti.
"Pokoknya aku tidak bisa bilang."
"Memangnya kenapa? Takut disebarkan? Toh Kita tidak saling kenal."
"Memang, tapi bukan berarti aku bisa bilang kepadamu."
Rena mencubit dagu. Sebagai seseorang yang cukup lama bergelut dalam bidang ini, ia selalu bisa membuat nyaman orang menjumpainya karena hal itu memudahkan pekerjaannya.
Maka dari itu, ia tidak pernah gagal membangun kedekatan emosi dengan mereka. Kali ini pun, ia merasa harus melakukan hal yang sama.
"Bagaimana kalau aku juga memberitahu sebuah rahasiaku sebagai gantinya. Dengan begitu, kita berdua saling tahu rahasia masing-masing 'kan?"
Bagas terdiam sesaat, "asalkan kamu yang cerita duluan." Mulutnya berucap tanpa pikir panjang.
Bagas merasa kalau gadis itu tidak akan mungkin berani menceritakan rahasianya kepada orang yang baru ditemui beberapa menit yang lalu.
Kalaupun berani, tidak mungkin rahasia yang besar. Ia akan mendengarkannya terlebih dahulu untuk memastikan. Lalu bisa saja, ia membuat cerita yang mengada-ada.
"Baiklah."
Bagas menurunkan pinggulnya. Kini kepalanya ikut bersandar. Tangannya merangkul kedua lututnya; masang telinganya benar-benar.
"Sejujurnya teman-teman, keluarga bahkan orang tuaku tidak ada yang tahu soal pekerjaanku sekarang. Aku merahasiakannya dari mereka."
"Memangnya kenapa?" Tanya Bagas keheranan.
"Kenapa kamu malah bertanya? Aku 'kan seorang pelacur."
"HAH!? Yang benar?" Matanya melebar cepat.
"Hah!? Kenapa kamu malah kaget? Kamu yang menyewaku 'kan?"
"Kok bisa?"
"Harusnya itu pertanyaanku, tahu! Jadi kamu membayar lalu datang kemari tanpa tahu apa-apa?"
"I-iya."
"HAH!? Astaga!" Rena menepuk kening. "Bisa-bisanya ada orang sepertimu di dunia ini."
"Jadi love seeker itu ..." Bagas bingung mencari kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.
"Aplikasi mencari pasangan pemuas hasrat."
"Pantas saja aneh."
Semua hal yang membingungkannya seolah terjawab sekaligus.
"Kalau memang sudah curiga, kenapa tetap datang kemari?"
"Karena ... penasaran."
Rena menghela nafas. Mengembuskannya cukup panjang.
"Baiklah karena aku sudah memberitahu rahasiaku, sekarang giliranmu."
Bagas sebenarnya enggan. Tapi sebagai laki-laki, ia harus bersikap fair. Gadis itu telah memberitahu rahasianya, maka ia juga harus menepati kata-katanya.
Toh tidak kenal.
"Aku sebenarnya punya penyakit yang disebut ginofobia."
"Aku baru pertama kali mendengarnya, fobia dengan apa?"
"Pe ...," Bagas ragu untuk melanjutkan.
"Pe?"
"Perempuan."
"HAH!? Yang benar saja? Memangnya ada ya?"
"Ada, aku buktinya."
"Hmm begitu ... Pantas saja tingkahmu sangat tidak wajar."
"Makanya, aku ingin berubah."
Rena terdiam mendengar kalimatnya barusan. Berubah. Kata yang dulu ia dambakan, kini hanya sebatas kata manis di telinga yang tak berarti apa-apa.
"Pasti hidupmu sangat berat ya."
Rena bisa memahaminya. Tidak mungkin ada api tanpa asap. Tidak mungkin ada fobia terhadap lawan jenis yang ada sejak manusia lahir. Pasti dibalik itu, ada banyak hal yang sudah terjadi dengan lelaki itu.
"Kalau begitu, aku bisa membantumu sekarang."
"Membantu?" Tanya Bagas heran.
"Iya, kita langsung melakukannya saja. Siapa tahu, rasa takutmu berubah saat langsung merasakan sensasinya."
"Sensasi?"
"Making love."
Bagas melebarkan matanya sesaat. Tadinya ingin kaget, tapi mengingat lawan bicaranya, rasa kagetnya lenyap seketika.
"Tidak, tidak mungkin."
Rena memicingkan mata. Penolakannya serasa mencurigakan. Terlintas sebuah alasan yang masuk akal, namun ia ragu untuk bilang.
"Aku tahu kamu fobia, tapi apa separah itu? Masa sampai tidak bisa melihat perempuan? Atau jangan-jangan ...,"
Ia sengaja memberi jeda akan kalimatnya, mencari kalimat agar tak menyinggung lawan bicaranya itu,
"'barang'mu tidak bisa berdiri?"
Bagas terbelalak. Bagaimanapun juga, intuisi dari perempuan bernama Rena sangatlah tajam melebihi perkiraannya.
Inilah alasannya kenapa aku tidak mau cerita ke orang lain.
"Aku betul 'kan?" Tanya Rena seolah sedang mengintrogasinya.
"Aku tidak mau menjawab."
"Oh benar ternyata."
"Kesimpulan dari mana itu?"
"Mudah kok. Kalau salah, tinggal kamu sangkal saja 'kan?"
Bagas baru merasakan sebuah penyesalan. Ia merasa sehabis menginjak ranjau tanpa sengaja.
"Tetap saja, itu tidak membuktikan apa-apa."
"Kalau begitu, kita buktikan saja sekarang."
Rena berdiri dari tepian ranjang. Mulai melangkah,
"Kita saling telanjang saja, mudah bukan?" Lanjutnya dengan nada seolah hal itu adalah hal yang lumrah baginya.
"HAH? Tidak, tidak!"
Bagas buru-buru berdiri juga. Ia merasa obrolannya semakain liar. Sebelum semuanya berakhir ke arah yang salah, ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Ia melangkah dengan cepat ke arah pintu keluar. Di belakangnya ada Rena yang menatap kaget.
"Hei, tunggu!"
Bagas tak menggubris. Keinginannya untuk pergi tidak bisa diganggu gugat. Langkahnya semakin cepat. Manuvernya membuat tudung yang ia kenakan turun dengan sendirinya.
"Sebentar dulu! Kita belum melakukan apa-apa! Setidaknya lakukan sesuatu padaku, siapa tahu kamu bisa membaik."
Bagas membuka pintu. Keluar dari kamar. Berbalik untuk menutupnya.
"Tidak, tidak usah. Tenang saja, aku tidak akan meminta uangku kembali." Ucapnya sebelum pintu tertutup sempurna.
Lagipula Bagas sudah merasa lega. Baginya, bisa berbincang dengan perempuan panjang lebar adalah sebuah kemajuan besar.
"Tapi—"
"Terima kasih ya, Rena."
Pintu tertutup. Meninggalkan Rena yang tertegun di dalam.
Ia terkejut dengan yang matanya saksikan. Lelaki itu persis dengan lelaki yang pernah memantik amarahnya. Lelaki yang ia temui ketika di laboratorium tempo hari.
Bagaimana bisa?
Ternyata lelaki yang sedari tadi berbincang dengannya; yang memberikan gaji buta pertamanya adalah sosok yang sama.