Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: SERANGAN DI KANTOR
#
Mahira tidak bisa tidur sepanjang malam. Foto itu—foto Isabelle yang diambil sepuluh tahun lalu—terus berputar di kepalanya. Bagaimana mungkin? Bagaimana seseorang bisa tidak menua selama sepuluh tahun?
Pukul lima pagi dia menyerah. Bangkit dari tempat tidur. Mandi. Bersiap ke kantor lebih awal. Mungkin di sana dia bisa tenang. Mungkin dia bisa berpikir jernih.
Tapi begitu dia sampai di gedung Qalendra Group pukul enam pagi, dia tahu ada yang salah.
Lobby gelap. Sistem listrik mati total. Satpam berlarian panik dengan walkie-talkie di tangan.
"Ada apa?" Mahira menghentikan salah satu satpam yang dia kenal.
"Bu Mahira—" Pak Agus, satpam senior, terlihat pucat. "Ada masalah besar. Semua sistem komputer di kantor down sejak tadi malam. Dan—dan sepertinya ini bukan kerusakan biasa."
Jantung Mahira langsung berdegup keras. "Maksudnya?"
"IT bilang ini serangan. Hacker. Mereka masuk ke sistem kita dan—" Pak Agus menurunkan suaranya, "—mereka mencuri data."
Mahira langsung berlari ke lantai lima—lantai IT Department. Lift mati jadi dia naik tangga darurat dengan napas tersengal.
Ruang IT kacau. Kabel berserakan. Monitor menyala dengan kode-kode aneh. Tim IT duduk di depan komputer mereka masing-masing dengan wajah tegang.
"Situasinya bagaimana?" Mahira langsung bertanya pada Mas Budi, Kepala IT.
Mas Budi menoleh—matanya merah, jelas tidak tidur semalaman.
"Buruk, Bu. Ini serangan terkoordinasi. Mereka masuk lewat backdoor yang bahkan tidak kami sadari ada. Dan yang lebih parah—" dia menunjuk layar, "—mereka mengambil semua data keuangan perusahaan. Transaksi. Kontrak. Bahkan—" suaranya bergetar, "—bahkan dokumen rahasia dewan direksi."
Mahira tercekat. "Termasuk dokumen merger dengan Al-Hakim?"
"Termasuk."
Ini bencana.
"Bisa dilacak siapa pelakunya?"
"Kami sedang coba." Mas Budi kembali ke komputernya. "Tapi mereka pakai VPN berlapis. IP address-nya loncat-loncat dari berbagai negara. Sangat profesional."
Ponsel Mahira berdering. Papa.
"Mahira, kamu sudah tahu?"
"Sudah, Pa. Aku di ruang IT sekarang."
"Rapat darurat satu jam lagi. Semua direktur harus hadir. Ini—" suara Papa terdengar lelah, "—ini bisa menghancurkan reputasi kita kalau data itu bocor ke publik."
"Aku tahu, Pa."
Sambungan terputus.
Mahira menatap layar komputer terdekat. Kode-kode bergerak cepat—seperti bahasa asing yang tidak dia mengerti. Tapi ada satu hal yang dia mengerti: ini bukan serangan acak. Ini terencana. Ini personal.
Dan dia punya firasat buruk tentang siapa dalangnya.
***
Rapat darurat dimulai pukul delapan pagi. Semua direktur hadir—kecuali Damian yang "sedang di luar kota".
Papa membuka rapat dengan wajah serius.
"Kalian semua sudah tahu situasinya. Serangan hacker semalam mengakibatkan kebocoran data sensitif perusahaan. Tim IT sedang berusaha memulihkan sistem dan melacak pelaku. Tapi kita perlu bertindak cepat sebelum—"
Pintu ruang rapat terbuka. Mas Budi masuk tergesa-gesa dengan laptop di tangan.
"Pak Irfash, maaf mengganggu. Tapi ada sesuatu yang harus Bapak lihat. Sekarang."
Papa mengangguk. Mas Budi meletakkan laptopnya di meja dan memutar layar agar semua orang bisa melihat.
"Kami berhasil melacak sebagian jejak digital pelaku. Dan—" Mas Budi menelan ludah, "—jejak itu mengarah ke sini."
Di layar, alamat IP. Alamat yang terdaftar atas nama—
"Qalendra Group?" Raesha berdiri. "Maksudnya apa? Pelakunya dari dalam?"
"Bukan hanya dari dalam." Mas Budi mengklik beberapa kali—layar berubah menampilkan log aktivitas. "Serangan itu dilakukan dari komputer di ruang kerja Pak Damian. Pukul sebelas malam kemarin."
Ruangan hening.
Papa menatap layar dengan rahang mengeras. "Kamu yakin?"
"Seratus persen, Pak. Kami sudah cek berkali-kali. Komputer di ruang kerja Pak Damian jadi entry point utama serangan. Dan—" Mas Budi ragu sebentar, "—berdasarkan keystroke pattern, orang yang duduk di depan komputer itu punya akses penuh. Tahu semua password. Tahu di mana file sensitif disimpan."
"Orang dalam," simpul salah satu direktur dengan suara pelan.
Mahira melirik Raesha. Kakaknya menatap balik—dan mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan.
"Pa," Mahira bersuara, "kemarin malam aku dan Zarvan ke kantor. Untuk—" dia menarik napas, "—untuk mencari bukti tentang Paman Damian. Dan kami menemukan dokumen yang membuktikan dia berencana menggelapkan aset perusahaan."
Suasana rapat langsung tegang.
Papa menatap Mahira dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu bobol ruang kerja adikku sendiri?"
"Aku tidak bobol, Pa. Aku pakai kartu aksesku. Dan—dan aku lakukan itu karena aku curiga. Curiga yang ternyata benar."
"Di mana buktinya?"
Mahira mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto-foto dokumen yang dia ambil semalam. Perjanjian dengan Lavigne Consortium. Diagram ritual gelap. Transfer aset ilegal.
Papa mengambil ponsel itu. Membaca dengan teliti. Dan wajahnya berubah—dari marah jadi—kecewa.
"Damian—" bisiknya pelan. "Kenapa—"
"Karena dia bukan Paman Damian lagi, Pa." Mahira bersuara lirih. "Dia—dia Danial. Reinkarnasi Pangeran Danial yang dulu membantu Khalil membunuh Aisyara. Dan dia bersama Isabelle merencanakan sesuatu yang—yang berbahaya."
Direktur lain mulai berbisik-bisik. Ada yang menatap Mahira seperti dia gila. Ada yang menatap Papa menunggu reaksi.
Papa menutup matanya. Menarik napas panjang.
"Mas Budi," katanya akhirnya, "kamu bisa lacak ke mana data yang dicuri dikirim?"
"Sedang proses, Pak. Tapi sepertinya dikirim ke server luar negeri. Butuh waktu untuk—"
"Berapa lama?"
"Mungkin dua sampai tiga hari—"
"Kamu punya satu hari." Papa menatap Mas Budi dengan tegas. "Satu hari untuk temukan ke mana data itu pergi dan siapa yang terima. Gunakan semua resource yang kamu butuhkan. Bayar konsultan dari luar kalau perlu. Aku tidak peduli biayanya. Yang aku peduli adalah hasil."
"Siap, Pak."
Papa berdiri. "Rapat ditunda. Mahira, Raesha, ikut aku."
***
Di ruang kerja Papa, suasana mencekam. Papa berdiri membelakangi mereka—menatap jendela dengan tangan terlipat di belakang.
"Ceritakan semuanya," katanya tanpa berbalik. "Dari awal. Jangan ada yang disembunyikan."
Mahira menceritakan semuanya. Mimpi. Kutukan. Reinkarnasi. Pusaka. Isabelle. Dan rencana Damian untuk membajak ritual.
Papa mendengarkan tanpa interupsi. Hanya sesekali mengangguk. Saat Mahira selesai, Papa berbalik—dan untuk pertama kalinya, Mahira melihat ayahnya terlihat tua.
"Ibumu pernah cerita tentang ini," kata Papa pelan. "Tentang kutukan keluarga. Tentang reinkarnasi. Aku pikir itu hanya mitos. Cerita lama yang dilebih-lebihkan. Tapi—" dia menatap Mahira, "—tapi melihatmu sekarang—melihat matamu—aku tahu ini nyata. Aku tahu kamu bukan hanya Mahira. Kamu juga—"
"Aisyara," Mahira menyelesaikan. "Aku juga Aisyara, Pa. Dan aku harus menyelesaikan apa yang tiga ratus tahun lalu tidak selesai."
Papa duduk di kursinya. Tiba-tiba terlihat sangat lelah.
"Damian—adikku—" suaranya serak. "Aku tidak mau percaya dia bisa lakukan ini. Tapi buktinya—buktinya tidak bisa dibantah."
"Pa—" Raesha maju selangkah. "Kita harus bertindak. Sebelum dia—sebelum mereka—melakukan sesuatu yang lebih buruk."
"Aku tahu." Papa mengangguk. "Tapi kita harus hati-hati. Damian punya koneksi. Punya pengaruh. Kalau kita bergerak sembarangan—"
Ponsel Mahira berdering. Zarvan.
"Mahira, kalian di mana?"
"Di kantor. Kenapa—"
"Khaerul hilang."
Jantung Mahira berhenti sedetik.
"Apa?"
"Pagi ini dia bilang mau keluar sebentar—beli sarapan. Tapi sudah dua jam tidak kembali. Ponselnya mati. GPS terakhir menunjukkan dia di area Condet. Dekat—"
"Dekat reruntuhan istana," Mahira menyelesaikan dengan suara gemetar.
Ini jebakan. Ini pasti jebakan.
"Aku akan ke sana sekarang," kata Zarvan. "Tapi aku butuh—"
"Aku ikut." Mahira langsung berdiri. "Tunggu aku di—"
"TIDAK!" Papa berteriak—membuat Mahira tersentak. "Kamu tidak boleh pergi sendirian. Ini terlalu berbahaya. Kalau ini jebakan—kalau Damian dan Isabelle menunggu di sana—"
"Maka aku harus pergi." Mahira menatap Papa dengan mata berkaca-kaca tapi tegas. "Karena Khaerul di sana karena aku, Pa. Dia jadi target karena dia sepupuku. Karena dia terlibat dalam kutukan yang sama. Aku tidak bisa—aku tidak akan—membiarkan dia mati karena aku."
"Lalu aku harus kehilangan kamu?" Papa berdiri—suaranya bergetar. "Aku harus kehilangan putriku karena kutukan tiga ratus tahun yang seharusnya sudah berakhir?"
"Pa—" Mahira memeluk ayahnya. Merasakan tubuh Papa yang gemetar. "Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Aku punya tasbih. Aku punya Zarvan. Dan aku—aku punya tekad untuk menyelesaikan ini sekali untuk selamanya."
Papa memeluknya erat. Sangat erat.
"Kalau kamu kenapa-kenapa—" bisiknya parau, "—aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
"Aku tidak akan kenapa-kenapa, Pa. Percaya padaku."
***
Mahira, Raesha, dan Zarvan tiba di reruntuhan istana pukul sebelas siang. Tempat itu sepi. Terlalu sepi.
Tidak ada tanda-tanda Khaerul.
"Ini pasti jebakan," bisik Raesha sambil melihat sekeliling dengan waspada.
"Aku tahu." Mahira menggenggam tasbih di lehernya. Tasbih itu hangat—pertanda ada energi tidak baik di sekitar mereka. "Tapi kita tidak punya pilihan."
Mereka melangkah masuk ke area reruntuhan. Batu-batu tua. Tembok roboh. Tanaman liar yang tumbuh menutupi sisa-sisa kemegahan masa lalu.
Dan di tengah reruntuhan—di tempat yang dulu pernah jadi paviliun utama—ada seseorang terikat di pilar batu.
Khaerul.
"KHAERUL!" Mahira berlari—tapi Zarvan menahan tangannya.
"Tunggu. Ini terlalu mudah."
Tapi terlambat.
Dari balik reruntuhan, muncul sosok-sosok gelap. Lima. Sepuluh. Dua puluh. Pria-pria bertopeng hitam dengan mata yang kosong.
Dan di depan mereka semua—Isabelle. Dengan senyum mengerikan.
"Selamat datang," katanya dengan suara yang bergema. "Aku sudah menunggu."
***
**BERSAMBUNG KE BAB