Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum konspiratif
Rumah mulai dipenuhi cahaya lampu yang terasa hangat, menciptakan suasana yang damai dan santai setelah seharian beraktivitas.
Usai makan malam, Rama mengambil remote TV, duduk santai bersama ayah dan mbah ibunya. Menikmati waktu bersama, saat sedang tidak mengerjakan PR. Mereka menonton film favorit, tidak ada gangguan, hanya keheningan yang nyaman di setiap harinya.
"Ayah," panggilan Rama yang hanya dijawab singkat oleh Galih.
"Hmm."
"Mumpung besok hari libur, antar aku berziarah ke tempat mbah yang di desa ibu ya, yah?" ucap Rama tiba-tiba.
Niat baik Rama tidak mungkin Galih tolak. "Oke, jam berapa? mau pagi atau sore?" katanya.
"Emmm, pagi atau sore? Pagi saja ya, yah? Sekalian ajak ibu."
Galih tahu, permintaan Rama yang ini tidak mungkin ia turuti. Bagaimana bisa mereka akan pergi bertiga? "Kita berdua saja ya, Rama?" ucap Galih.
"Ya, sudahlah nggak apa." Ucap Rama dengan sedikit rasa kecewa, "besok aku mau curhat sama mbah ibu dan mbah kakung, aku mau minta pada mereka untuk membujuk ayah dan ibu agar sekali... saja, kita bisa pergi bertiga, biar aku bisa bilang sama teman-teman ku, kalau aku juga punya ayah dan ibu seperti mereka."
Bu Susi menahan tawa, "pikirkan ucapan Rama, Galih."
"Rama, mbah ibu sama mbah kakung itu nungguin doa mu, bukan curhatan mu. Kalau mau curhat sama ayah saja," balas Galih.
"Ayah susah dibujuk, makanya aku mau minta tolong pada mbah ibu dan mbah kakung buat bujuk ayah, biar mau sama bu Winda, atau yang lain juga nggak masalah. Ibu saja bisa bahagia dengan keluarga barunya, kenapa ayah tidak?"
"Benar apa kata anak mu, Galih. Ibu sangat setuju," kata bu Susi yang hanya dibalas diam oleh Galih.
"Hmm, ayah masih trauma ya, ayah? takut kecewa lagi, ya?" ucap Rama setelah beberapa saat ayahnya terdiam.
"Ibu nggak pernah bikin ayah kecewa, Rama. Ibu wanita baik, seperti yang kamu lihat selama ini." Kata Galih.
"Jadi, sebenarnya apa masalah kalian sampai harus berpisah? ayah selalu bilang kalau ibu baik, ibu juga bilang gitu, terus masalahnya apa?" pertanyaan Rama yang tak kunjung mendapat jawaban.
Senyum bu Susi menyusut saat mendengar pertanyaan Rama yang itu, bagaimana akan menjelaskan pada anak-anak tentang hal ini? "Itu karena ayah sama ibu mu tidak Jodoh, Rama."
"Iya, aku tahu. Semua orang tua pasti akan jawab seperti ini, mbah ibu. Kita anak-anak cuma ingin tahu apa penyebabnya, tapi orang tua tidak ada yang mau memberi tahu. Seperti ada yang ditutup-tutupi, apa susahnya sih cerita sama kita?" Kata Rama.
Galih hanya menatap ibu lalu ke anaknya secara bergantian, dengan satu siku menancap ke tangan yang dilipat di dadanya.
"Tuh kan, kelihatan banget kalau ayah memang menyembunyikan sesuatu. Kasih tahu saja kenapa sih, ayah?" sambung Rama lagi. "Mbah ibu... mbah ibu juga selalu diam saja, kenapa mbah ibu?" Rama selalu ngeyel, namun tak kunjung mendapat jawaban pasti.
"Mbah ibu ngantuk, Rama. Mbah ibu tidur dulu ya, besok harus bangun pagi," ucap bu Susi lalu pergi begitu saja. Bu Susi selalu merasa gelisah, harus memberitahu Rama, atau rahasia ini akan tersimpan entah sampai kapan.
"Ayah juga tidur dulu, besok kita harus bangun pagi."
"Yah, melarikan diri lagi." Gumam Rama setelah mbah ibu dan ayahnya pergi meninggalkannya sendiri.
Duduk sendiri di depan layar televisi, membuat Rama terpikir akan sesuatu. "Aha, aku kirim pesan pada Tya saja." Rama segera mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada Tya.
Sesaat telah berlalu, keduanya tersenyum penuh konspiratif menatap chat dalam layar ponsel masing-masing.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/