NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Hari berganti hari, Peno beraktifitas seperti biasanya, membantu bapaknya disawah dan mencari rumput buat pakan ikan bawal, begitu juga dengan teman temannya, si Eko malah sekarang ikut kursus menyetir dikota kecamatan bersama Maman.

Sedangkan Dimin masih asik bergelut dengan kolam bawalnya besama Peno.

Satu bulan berlalu, satu minggu yang lalu Peno mendapat surat panggilan dan pengutusan sebagai wakil dari kabupaten mengikuti turnamen catur ditingkat propinsi, ia akan berangkat bersama pak Supri dan pak Basuki sebagai official timnya besok pagi menggunakan mobil dinas dari kabupaten.

Hari ini jumat malam, dirumah Peno sudah ada pak Supri dan pak Basuki, juga teman teman Peno, Maman, Eko dan Dimin, mereka sedang asik ngobrol bersama bapaknya Peno juga.

"kamu sudah siap No, menghadapi turnamen yang lebih besar?" tanya pak Supri sambil menghisap rokoknya.

"ya siap pak, kan tinggal menjalankan bidak!" jawab Peno santai.

"ya iya sih tinggal menjalankan bidak, tapi kan harus ada strateginya No!" kata pak Basuki menambahi.

"kalau masalah strategi kan tinggal lihat lawannya nanti pak, yang penting selain siap menang juga harus siap kalah, he he he....!" jawab Peno cengengesan.

Obrolan pun bertambah seru karena mbah Patma juga datang bersama lik Wanto, lik Atin dan juga Tono, lik Atin dan Tono masuk kedalam rumah menemani mamaknya Peno dan juga Peni, mereka ngobrol didepan tv sambil lesehan.

"Ingat No, saat main catur jangan pernah terpancing emosimu dan singkirkan ego dan ambisimu jauh jauh, setiap langkah akan berdampak besar pada langkahmu selanjutnya, mainlah dengan sabar tapi juga harus pintar memanajemen waktu!" Ucap mbah Patma menasehati Peno sang cucu yang besok akan berangkat ke tingkat propinsi.

"Siap mbah, Peno akan selalu ingat nasehat mbah kakung!" Jawab Peno, ia menyimpan kata kata mbah Patma dalam ingatannya.

"Oooh, ternyata begitu ya mbah caranya main catur, aku malah baru paham!" Ucap pak.Supri, tanpa disadari ia juga sedang belajar pada mbah Patma.

"Ha ha ha ha!" Mbah patma malah tertawa ngakak mendengar ucapan pak Supri.

"Dengarkan ini kalian semua, aku hanya mengatakannya kali ini saja, seterusnya biar kalian yang menerapkannya dalam kehidupan sesuai dengan pemahaman kalian sendiri!" Ucap mbah Patma meminta semuanya mendengarkan apa yang akan ia ucapkan.

"Catur itu bukan tentang menang atau kalah, tapi cara pikiran menata kekacauan, setiap bidak adalah simbol kehendak, pion adalah kesabaran, kuda adalah intuisi, benteng adalah prinsip, dan ratu adalah kebebasan berfikir!" Mbah Patma menjeda ucapannya, ia mengambil gelas teh miliknya.

"Di atas papan kita diuji, apakah kita bermain dengan kesadaran atau hanya bereaksi pada gerak lawan, dalam catur seperti dalam hidup, yang menang bukan yang menundukan raja lawan, tapi yang menaklukan kekacauan dalam dirinya sendiri, seperti dalam kehidupan nyata kuncinya adalah keyakinan yang kuat!" Ucap mbah Patma lalu ia meminum tehnya lagi.

Malam semakin larut, jam dinding menunjuk angka sebelas, pak Supri dan pak Basuki berpamitan pulang, hari ini mereka mendapat pelajaran berharga dari mbah Patma.

teman teman Peno juga berpamitan pulang, mereka semua mendoakan Peno agar selamat dalam perjalanan dan tentunya semoga bisa menjadi juara.

"No, kamu nanti ditemani lilikmu mandi dikali, jam satu!" ucap mbah Patma saat beliau mau pamitan pulang.

"iya mbah siap!" jawab Peno menyanggupi perintah mbahnya, padahal jika tidak ditemani pun Peno akan berangkat juga mandi dikali.

Mbah Patma pulang bersama lik Atin yang menggendong Tono yang sudah tertidur, kini hanya tinggal Peno dan bapaknya serta lik Wanto duduk diteras menunggu waktu sampai jam satu untuk pergi mandi dikali.

Jam satu pun Peno berangkat sama lik Wanto kekali yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya, yang harus melewati jalan yang belum diaspal ditengah sawah yang begitu luas.

Dengan memggunakan penerangan senter yang dipegang satu satu Peno dan liliknya berjalan sambil ngobrol.

"beraeti nanti kamu nginep dihotel ya No?" tanya lik Wanto pada Peno yang berjalan disampingnya.

"katanya sih kaya gitu lik, aku juga ga tahu nanti disana gimana!" jawab Peno sambil mengarakan senternya fokus kejalan.

"lah iya, kita ini kan orang desa, mana tahu urusan kaya gitu, mending manut saja No, mau diajak kemana ya ikut!" kata lik Wanto.

"iya lik, hidup harus dibuat gampang, kalau ga tahu ya bertanya!" kata Peno menimpali ucapan lik Wanto.

Kini mereka berdua sudah sampai dikali besar, Peno segera membuka semua bajunya dan ia letakan diatas batu besar.

"doa dulu No, sebelum nyebur!" kata lik Wanto mengingatkan Peno.

"iya lik, lik Wanto ga mandi!?" jawab Peno.

"engga No, dingin, he he he......!" kata lik Wanto sambil nyengir.

Peno pun menceburkan dirinya ke air sungai yang lumayan dalam setelah berdoa sejenak.

"seger lik, sini!" ajak Peno pada liliknya.

"wis kamu saja No yang mandi, aku disini saja sambil ngudud!" jawab lik wanto sambil menyalakan rokoknya.

Hanya sepuluh menit Peno mandi, lalu ia naik dan segera memakai semua pakaiannya.

"sudah lik, pulang yuh!" ucap Peno mengajak liliknya pulang.

Berdua pulang menembus gelap dengan dua senter masing masing, lik Wanto langsung pamitan pulang setelah mereka sampai dideoan rumah Peno, sedangkan Peno langsung masuk kedalam rumah.

Niatnya memang ingin tidur, tapi ternyata matanya tak bisa dipejamkan, akhirnya Peno melangkah kedapur membuat kopi dan ia keluar kebelakang rumah, duduk digubuk panggung samping kolam ikannya.

Menikmati rokok dan kopi dipagi buta yang dingin ditepi kolam, Peno mencoba memikirkan ucapan bapaknya sebulan yang lalu dan ucapan mbahnya tadi malam, semua saling berhubungan.

"aku harus beli ponsel supaya mudah berkomunikasi dan juga untuk menambah wawasan!" gumamnya, sekarang ia baru tersadar bahwa masa depan harus dipikirkan dan diperjuangkan, seperti main catur, salah langkah sekecil apapun pengaruhnya sangat besar untuk langkah selanjutnya.

"aku harus pintar berbisnis kalau ingin memanjukan usaha budidaya ikan ini!" ujarnya lagi sambil meminum kopinya yang sudah mulai.dingin.

Waktu begitu terasa cepat baginya, sepertinya baru saja ia duduk menikmati kopi dan menghabiskan sebatang rokok adzan subuh sudah berkumandang, dalam hisapan rokoknya yang terakhir ia menghela nafas panjang, merasa berat sebentar lagi ia akan pergi meninggalkan desanya dan orang orang yang ia sayangi.

Ini pertama kalinya ia akan pergi jauh, karena sejak kecil ia dan keluarganya memang tak pernah kemana mana, pernah dulu pergi jauh saat masih sekolah dengan rombongan study tour kekota lain.

Peno masuk rumah mengambil sarungnya dan langsung pergi kemushola, selepas subuh ia pulang bersama mbah Patma yang ikut kerumahnya dan juga lik Wanto dengan membawa Tono.

"sarapan dulu No, sekalian sama mbah kakung sama lik Wanto juga!" ucap mamak yang sudah selesai memasak.

Semuanya pun sarapan bersama dengan lauk andalan telur dadar dan oseng kacang panjang.

Jam setengah tujuh mobil dinas kabupaten yang dikendarai oleh pak Supri datang menjemput, pak Supri dan pak Basuki turun sebentar untuk ikut berpamitan dengan keluarga Peno.

Dan akhirnya jam tujuh Peno berangkat menuju ibukota propinsi bersama pak Supri dan pak Basuki untuk mengikuti turnamen catur mewakili kabupatennya.

1
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!