Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Haram
Kulsum keluar dari kamar dengan langkah cepat menuju dapur. Di sana Anggika sedang berdiri di dekat meja, membantu merapikan piring.
Kulsum meletakkan beberapa lembar uang di atas meja dapur.
“Ini… buat bayar hutang kakakmu. Emak cicil dulu,” kata Kulsum dingin.
Anggika menatap uang itu lalu menggeleng pelan.
“Gak usah, Mak. Anggi gak mau.”
Kulsum langsung menatap tajam.
“Terima saja, jangan banyak drama, Gi.”
Anggika mengerutkan kening.
“Drama apa, Mak?”
“Kamu sengaja kan tadi mempermalukan Rendy di depan istrinya?” kata Kulsum dengan nada menuduh.
Anggika menarik napas dalam.
“Mak… Anggi cuma meminta hak Anggi. Itu uang Anggi yang dipinjam Mas Rendy.”
Kulsum mendecak kesal.
“Ya ini emak cicil! Tapi kamu malah menolak.”
Ia mendorong uang itu lebih dekat ke Anggika.
“Terus maumu apa sebenarnya?”
Anggika menatap uang itu sebentar lalu berkata pelan,
“Mak… hutangnya lima puluh juta.”
Kulsum menyilangkan tangan.
“Terus?”
“Kalau dicicil lima ratus ribu seperti ini… kapan lunasnya?” jawab Anggika jujur.
Kulsum langsung tersinggung.
“Sudah bagus emak mau mencicil!” bentaknya.
“Masih saja banyak menuntut!”
Anggika mulai merasa sakit hati.
“Anggi tidak menuntut, Mak. Anggi cuma—”
“Dasar anak haram! Gak tahu diri!” potong Kulsum dengan emosi.
Ucapan itu membuat Anggika membeku.
Wajahnya perlahan pucat.
“A… apa Mak bilang?” suara Anggika bergetar.
Kulsum langsung tersadar dengan ucapannya.
Dalam hatinya ia panik.
“Aduh… aku kelepasan,” batin Kulsum.
Namun di depan Anggika, wanita itu berusaha tetap terlihat biasa.
Anggika menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Tadi Mak bilang… Anggi anak haram?” suaranya lirih namun penuh luka.
Kulsum yang sudah terlanjur emosi akhirnya tidak menahan kata-katanya lagi. Ia menatap Anggika dengan wajah keras.
“Iya!” kata Kulsum tajam.
“Kamu itu anak haram… hasil selingkuh bapakmu dengan sahabatnya sendiri.”
Anggika langsung menggeleng kuat. Air matanya mulai menggenang.
“Gak mungkin, Mak…” suaranya bergetar.
“Bapak gak mungkin melakukan itu.”
Kulsum tersenyum sinis.
“Kenapa tidak mungkin?"
Anggika menatap ibunya penuh harap.
“Bapak orang baik, Mak. Anggi percaya sama bapak.”
Kulsum malah mendengus.
“Percaya?” katanya dingin.
“Kalau bukan begitu, kenapa kamu bisa ada di rumah ini?”
Anggika semakin bingung.
“Maksud Mak apa?”
Kulsum melipat tangan di dada.
“Kamu itu cuma pengganti.”
Anggika mengerutkan kening.
“Pengganti?”
Kulsum menatapnya tanpa rasa bersalah.
“Iya. Kamu ada di rumah ini untuk menggantikan anak ibu yang sudah meninggal.”
Ucapan itu seperti petir bagi Anggika.
“A… anak ibu yang meninggal?” gumam Anggika dengan suara lemah.
Kulsum melanjutkan dengan nada dingin.
“Anak yang ibu kandung sendiri sudah meninggal saat lahir.”
Anggika mundur selangkah, wajahnya pucat.
“Jadi… selama ini…”
Kulsum memotong dengan suara keras.
“Kamu bukan anak ibu!”
Air mata Anggika akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Mak… jangan bercanda seperti itu…” suaranya hampir tidak terdengar.
Kulsum menatapnya tajam.
“Ibu tidak sedang bercanda.”
Anggika menggeleng pelan, masih tidak percaya.
“Kalau Anggi bukan anak ibu… lalu Anggi ini siapa?” katanya dengan suara hancur.
Suara pertengkaran dari dapur akhirnya terdengar sampai ke ruang tamu. Mario dan Herry saling berpandangan, lalu segera berjalan cepat ke arah dapur.
Begitu sampai, mereka melihat Anggika berdiri dengan mata penuh air mata, sementara Kulsum masih terlihat marah.
“Ada apa ini?” tanya Herry dengan nada tegang.
Mario langsung menghampiri Anggi.
“Kamu kenapa nangis, Sayang?” katanya lembut sambil memegang bahu Anggika.
Dengan suara bergetar, Anggika menatap Herry.
“Pak… apa benar Anggi anak haram?” katanya pelan.
“Anak hasil selingkuh bapak dengan wanita lain?”
Herry langsung menggeleng kuat.
“Tidak! Kamu bukan anak haram.”
Ia mendekat dan menatap Anggika dengan serius.
“Kamu tetap anak bapak.”
Kulsum langsung menyela dengan nada sinis.
“Tuh kan! Benar dugaanku.”
Ia menatap Anggika dengan tatapan tajam.
“Bapakmu memang tukang selingkuh.”
Herry langsung menoleh dengan marah.
“Kulsum! Cukup!”
Ia lalu kembali menatap Anggika dengan lembut.
“Anggi, dengarkan bapak.”
Anggika menatapnya dengan mata merah.
“Kamu bukan anak hasil selingkuh.”
“Lalu siapa orang tua Anggi sebenarnya, Pak?”
tanya Anggika lirih.
Herry menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Kamu anak sahabat bapak.”
“Dia meninggal saat melahirkan kamu.”
Anggika terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.
“Waktu itu… anak bapak dan ibu juga meninggal saat lahir,” lanjut Herry dengan suara berat.
“Bapak tidak tega melihat kamu sendirian. Jadi bapak membawa kamu pulang… supaya ibu kamu tidak terlalu hancur karena kehilangan anak.”
Air mata Anggika jatuh semakin deras.
“Kalau begitu… ayah kandung Anggi dimana, Pak?” tanyanya pelan.
Sebelum Herry sempat menjawab, Kulsum sudah lebih dulu menyela dengan nada dingin.
“Siapa yang tahu?”
Ia mengangkat bahu.
“Mungkin saja ibumu itu wanita tidak benar. Bisa saja pelacur.”
“Bu Kulsum, cukup!” bentak Mario tiba-tiba.
Semua orang langsung terdiam.
Mario menatap Kulsum dengan wajah dingin.
“Jangan pernah lagi mengatakan Anggika anak haram.”
Kulsum mendengus sinis.
“Kenapa? Kamu malu mendengar kenyataannya, Rio?”
Mario menatapnya tajam.
“Yang saya lihat di sini bukan kenyataan. Tapi kebencian.”
Herry mencoba menenangkan suasana.
“Sudah, Sum. Biarkan aku saja yang menjelaskan semuanya pada Anggi.”
Kulsum langsung memotong dengan marah.
“Diam kamu, Mas!”
Ia menunjuk Herry dengan kesal.
“Dari dulu kamu selalu membela Anggika.”
“Bahkan sampai menomorduakan anak kita sendiri!”
Suasana dapur semakin tegang.
Mario yang sejak tadi menahan emosi akhirnya berbicara lagi. Kali ini suaranya sangat dingin.
“Pak…”
Ia menatap Herry sebentar, lalu beralih ke Kulsum.
“Setelah saya dan Anggi menikah nanti… tidak perlu lagi kalian menemui Anggi.”
Semua orang langsung menoleh padanya.
Mario melanjutkan dengan tenang namun tegas.
“Anggap saja lima puluh juta itu sebagai bayaran.”
Kulsum mengerutkan kening.
“Bayaran apa maksudmu?”
Mario menatapnya tanpa ekspresi.
“Bayaran karena Anggi selama ini numpang hidup di rumah kalian. Kalau kurang nanti Mario tambahin!”