Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pitulas(17)
Deru langkah kaki kuda yang berderap kencang menghancurkan kesunyian malam yang tadinya indah. Debu beterbangan di batas luar ladang, tepat di depan garis pagar listrik yang tak terlihat. Han Jia berdiri tenang, sementara Feng Shura sudah menghunus pedangnya, berdiri satu langkah di depan Han Jia sebuah insting perlindungan yang muncul begitu saja.
Sepuluh orang berkuda berhenti tepat di depan mereka. e dengan zirah perunggu dan bekas luka melintang di pipinya. Matanya berkilat serakah saat melihat hamparan Padi Baja yang bersinar biru di belakang Han Jia.
"Demi langit..." gumam si pemimpin pasukan. "Laporan itu benar. Ada harta karun yang tumbuh di tanah terkutuk ini! Gadis kecil, serahkan tanah ini dan semua tanaman bercahaya itu, maka aku akan membiarkanmu dan budakmu ini hidup."
Han Jia menaikkan sebelah alisnya. "Budak? Oh, kau maksud asisten kuli-ku ini?"
Shura menggeram rendah, tapi ia tetap fokus pada lawan. "Mereka adalah Tentara Bayaran Gagak Hitam, Han Jia. Mereka tidak kenal ampun. Biar aku yang menangani mereka."
"Jangan konyol, Shura. Kau baru saja pulih. Membuang energi kinetik untuk menebas sepuluh orang itu sangat tidak... emmm... tidak efisien!" Han Jia melangkah maju, melewati Shura.
"Hei, Tuan Muka Luka!" Han Jia berteriak pada si pemimpin. "Aku sarankan kau berbalik sekarang. Udara di sini sedang mengandung... emmm... mengandung unsur yang sangat tidak ramah pada hidung manusia!"
"Hah? Apa yang dibicarakan bocah gila ini?!" Si pemimpin tertawa terbahak-bahak. "Serbu! Ambil padinya! Bunuh pria itu dan bawa gadis itu sebagai tawanan!"
"Profesor, mereka memasuki zona degradasi taktis," suara Hera bergema di kepala Han Jia. "Haruskah kita aktifkan 'Kabut Pemutus Saraf' atau 'Kejutan Statis'?"
"Gunakan... emmm... gunakan 'Bubuk Tidur Bertekanan Tinggi'!" perintah Han Jia.
Han Jia melemparkan sebuah bola tanah liat kecil ke arah kuda-kuda yang sedang berlari itu. Shura menonton dengan bingung, "Apa yang bisa dilakukan bola mainan itu—"
BOOM!
Bukan ledakan api, melainkan ledakan awan gas berwarna kuning pekat yang menyebar dalam sekejap. Kuda-kuda itu tiba-tiba meringkik panik, lalu satu per satu kaki mereka lemas dan terjatuh. Para prajurit itu terpental dari pelana mereka.
"Apa ini?! Sihir macam apa ini?!" Si pemimpin terbatuk-batuk, mencoba berdiri namun merasa otot-ototnya seolah berubah menjadi jelly.
"Ini bukan sihir! Ini hanyalah reaksi... arggh! Maksudku, ini hanyalah asap yang membuat sarafmu malas bekerja!" Han Jia berjalan mendekat dengan santai.
Ia berhenti tepat di depan pagar tak terlihatnya. "Hera, berikan mereka sedikit... emmm... sedikit rasa pedas."
[Ding! Modul Pagar Listrik Qi: Mode Denyut Aktif!]
ZAPPP! CETARRR!
Tanpa menyentuh pagar pun, percikan listrik statis meloncat ke arah para prajurit yang sedang merangkak di tanah. Mereka berteriak-teriak sambil bergetar hebat, sementara rambut mereka berdiri tegak seperti landak.
Feng Shura hanya bisa melongo. Ia menatap pedangnya yang masih bersih dari darah, lalu menatap Han Jia yang sedang asyik mencatat sesuatu di buku kecilnya.
"Saraf motorik lumpuh dalam 4 detik... afinitas listrik pada logam zirah mereka mempercepat proses... emmm... proses bikin kaget," gumam Han Jia sambil menulis. "Hera, catat ini. Zirah perunggu adalah... emmm... pengantar rasa pedas yang sangat baik!"
"Dicatat, Profesor. Efisiensi pertahanan: 100%. Tidak ada korban jiwa, namun tingkat trauma subjek mencapai level maksimal," lapor Hera puas.
Shura mendekati Han Jia, ia menyimpan pedangnya dengan wajah yang sangat lesu. "Han Jia... sepertinya aku benar-benar tidak berguna di sini sebagai prajurit. Kau bisa menghancurkan satu pasukan hanya dengan melempar bola tanah dan tiang besi."
Han Jia menoleh, lalu menepuk bahu Shura yang bidang. "Jangan sedih, Shura. Kau tetap berguna. Siapa lagi yang akan mengubur... eh, maksudku, siapa lagi yang akan menyeret orang-orang pingsan ini keluar dari ladangku kalau bukan kau?"
Shura menghela napas panjang. "Jadi sekarang aku adalah petugas kebersihan jenazah pingsan?"
"Tepat sekali! Itu adalah promosi jabatan!" Han Jia tersenyum manis, senyuman yang membuat Shura merinding. "Cepat kerjakan! Aku harus mengecek apakah... emmm... apakah getaran dari kuda-kuda tadi merusak struktur akar Padi Baja-ku."
Han Jia kembali ke tengah ladangnya, membelakangi kerumunan tentara bayaran yang masih gemetaran di tanah. Ia menggerutu pelan, "Lain kali aku harus membuat gas yang lebih wangi. Bau gas saraf ini benar-benar merusak suasana estetik malam ini. Othor pasti akan protes lagi kalau aku bilang ini bau belerang..."
(heh!!! Han Jia sepertinya kau mulai berani pada ku mau kau ku jodohkan dengan pesuruh.... Eh maksudku asisten penelitian mu itu? Dasar profesor gila!!)