Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Emilia Maheswari
Dokter itu kembali melanjutkan, suaranya lebih rendah namun tegas.
“Benturan yang dialami pasien cukup parah, terutama di bagian perut,” ujarnya. “Kondisi janin dalam keadaan kritis.”
Mama Kania menahan napas. Jari-jarinya saling mencengkeram.
“Kami dihadapkan pada dua pilihan medis,” lanjut dokter itu. “Pilihan pertama, kami berusaha mempertahankan janin. Namun risikonya sangat besar bagi ibu. Nyawa pasien bisa terancam.”
Lorong itu terasa semakin sempit.
“Pilihan kedua,” dokter berhenti sejenak, menatap Mama Kania, “kami memprioritaskan keselamatan ibu. Janin harus diangkat, dan dengan kondisi saat ini, kami pastikan janin tidak akan selamat.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, dingin, tanpa emosi, namun menghantam keras.
Mama Kania menutup mulutnya, air mata langsung mengalir. Tubuhnya bergetar, kakinya hampir tak sanggup menopang. Jenar segera memegang lengannya agar tidak jatuh.
“Dok…” suara Mama Kania pecah. “Putri saya… bagaimana peluang hidupnya?”
“Jika kami memilih menyelamatkan ibu, peluang hidup pasien sangat besar,” jawab dokter jujur. “Namun jika kami mempertahankan janin, kami tidak bisa menjamin keselamatan ibunya dan mungkin janin itu sendiri, karena memang sangat kecil kemungkinan untuk selamat.”
Hening.
Tak ada suara selain napas yang tersengal dan detak jantung yang terasa di telinga.
“Keputusan harus segera diambil,” ujar dokter pelan. “Kami tidak punya banyak waktu.”
“Selamatkan anak saya, Dok. Tolong selamatkan janinnya,” ucap Adrian tegas.
Dokter itu mengernyit, jelas terkejut dengan keputusan yang baru saja keluar dari mulut pria itu.
Mama Kania tak kalah syok. Tatapannya langsung mengeras, dingin dan tajam mengarah pada Adrian.
“Selamatkan putri saya, Dok. Angkat saja janinnya,” tegas Mama Kania tanpa ragu. Bukan karena ia tak menyayangi calon cucunya, tetapi ia tak sanggup kehilangan dua nyawa sekaligus. Baginya, menyelamatkan Aulia adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal.
“Ma,” Adrian melangkah maju. “Saya yang berhak menentukan. Saya suaminya. Saya ayah dari anak itu. Dan saya memutuskan yang harus diselamatkan di sini adalah janin, bukan Aulia!”
Plak!
Plak!
Dua tamparan keras mendarat di pipi Adrian. Mama Kania bergerak cepat, wajahnya memerah, dadanya naik turun menahan amarah.
“Kamu mau putriku mati, iya?” suaranya bergetar, namun keras. “Kamu sudah menghancurkannya, Adrian. Kamu yang membuat semuanya seperti ini!”
Tangannya gemetar, matanya basah oleh air mata dan amarah yang bercampur.
“Secara tidak langsung, kamu yang membunuh anakmu sendiri!” pekiknya menggema di lorong. “Dan sekarang dengan entengnya kamu ingin putriku meninggal?”
Napasnya memburu, tubuhnya bergetar hebat.
“Kalau takdir bisa ditukar, dan kalau kematian bisa ditukar,” lanjutnya dengan suara parau, “aku akan menukar kamu menjadi tameng. Demi cucuku dan demi putriku selamat!”
Lorong rumah sakit itu membeku. Tak satu pun berani bersuara, sementara kebencian, penyesalan, dan kepanikan bercampur menjadi satu dalam detik-detik penentuan nasib Aulia.
“Pak, maaf saya menyela,” suara dokter itu terdengar tegas memotong ketegangan mertua dan menantu itu, nadanya dingin namun profesional. “Sekalipun janin yang dipertahankan, kami tidak bisa menjamin ia akan bertahan lebih lama.”
Adrian terdiam.
“Maka dari itu,” lanjut sang dokter dengan rahang mengeras, “demi keselamatan pasien, kami memutuskan untuk menyelamatkan ibunya.”
Kata memutuskan itu jatuh seperti palu hakim.
Dokter menatap Adrian sekilas tajam, tanpa simpati, lalu mengalihkan pandangannya pada Mama Kania. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan, tangisnya pecah, kedua tangannya menutup mulut menahan isak yang nyaris lolos.
“Mohon bersabar,” ucap dokter itu singkat, sebelum berbalik dan kembali masuk ke ruang IGD.
Pintu tertutup.
Lorong kembali sunyi, hanya menyisakan suara tangis Mama Kania dan langkah Adrian yang kaku, seolah seluruh dunia baru saja runtuh di hadapannya.
...----------------...
Di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat, lampu putih menyala terang. Dokter obgyn bersama tim medis bergerak cepat dan fokus. Operasi pengangkatan janin Aulia akhirnya dilakukan setelah keputusan itu diambil oleh pihak medis.
Di luar ruangan hanya tersisa Mama Kania dan Jenar. Lorong rumah sakit terasa dingin dengan bau antiseptik yang menusuk hidung. Suasana sunyi membuat dada terasa semakin sesak.
Adrian dan Arumi sudah tidak ada di sana. Keduanya pergi setelah diusir oleh Mama Kania. Adrian tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan. Baginya, Aulia bukan lagi hal yang penting. Yang dia inginkan hanyalah anak itu. Dan ketika dokter memutuskan bahwa Aulia yang harus diselamatkan, dia memilih pergi tanpa menunggu istrinya keluar dari ruang operasi.
Mama Kania berdiri di depan pintu dengan tangan saling menggenggam. Jemarinya dingin dan gemetar. Beberapa kali wanita paruh baya itu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Jenar di sampingnya menunduk, sesekali menghela napas panjang untuk menahan tangis.
Waktu berjalan sangat lambat. Jarum jam berdetak pelan seolah mengejek kegelisahan mereka. Dua perempuan beda generasi itu berdiri dalam diam, melantunkan doa lirih dengan harapan yang sama.
Mereka tidak lagi meminta keajaiban.
Mereka hanya ingin Aulia selamat.
.
.
“Janinnya telah meninggal.”
Kalimat itu terucap pelan setelah operasi dinyatakan selesai. Seorang suster keluar membawa sebuah boks kecil transparan. Di dalamnya terbaring bayi mungil yang sudah tak bernyawa. Tubuhnya utuh, sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Terlihat seperti sedang tertidur, hanya saja dadanya tidak lagi bergerak.
Beberapa suster lain mengiringi langkah itu. Bayi tersebut dibawa ke ruangan khusus untuk dibersihkan. Gerakan mereka lembut dan penuh kehati-hatian, seolah takut melukai sesuatu yang sebenarnya sudah tidak bisa merasakan apa pun lagi.
Jenar mengikuti dari belakang dengan langkah tertahan. Dadanya sesak, tenggorokannya kering. Saat bayi itu selesai dimandikan dan dibungkus kain bersih, Jenar mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar ketika mengambil beberapa foto. Bukan untuk kenangan, bukan pula untuk dibagikan.
Foto itu akan ia simpan.
Untuk Aulia.
Agar suatu hari nanti, ketika Aulia sudah cukup kuat membuka mata dan menghadapi kenyataan, ia bisa melihat bahwa anak itu pernah ada. Pernah hidup di dalam rahimnya. Pernah dicintai, meski tak sempat dipeluk.
☘️
☘️
Setelah selesai, bayi mungil itu diserahkan kepada pihak keluarga untuk nantinya dimakamkan. Mama Kania tak kuasa menahan tangis saat menatap putri kecil Aulia, bayi cantik yang bahkan tak sempat ia dengar suara tangisnya.
“Namanya Emilia Maheswari,” ucap Mama Kania tergugu. Suaranya bergetar saat kenangan itu menyeruak. Nama itu telah lama disiapkan Aulia, jauh sebelum hari ini, andai bayinya yang lahir perempuan.
Beberapa bulan lalu, Aulia menyebutkannya dengan mata berbinar. Emilia jika perempuan, Nathan jika laki-laki. Ia mengatakannya penuh harap, seolah masa depan sudah ada di genggamannya.
Kini, nama itu tetap ada. Disematkan pada seorang bayi yang hanya sempat hadir sebentar, lalu pergi tanpa pernah menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian