Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantarkan pesanan
Pagi itu langit Jakarta masih kelabu, tapi Kirana sudah semangat seperti ayam jago yang baru saja menang tarung. Jam tiga pagi belum genap berlalu, tapi dia sudah sibuk memasukkan nasi box ke dalam gerobak dorong—sebuah gerobak bekas yang kemarin dibeli dari tukang sayur pensiun, lalu dicat ulang warna kuning cerah dengan stiker tulisan “Dapur Kirana: Masakan Rumahan yang Bikin Kangen Mama”.
“Mama, aku boleh ikut antar?” Gio muncul dari balik tirai kain pemisah ruang tidur, matanya masih setengah terpejam, rambutnya acak-acakan kayak sarang burung.
Kirana nyengir. “Boleh! Tapi kamu harus jadi *navigator resmi*. Kalau salah kasih arah, kita bisa nyasar ke rumah Bu RT dan disuruh bayar denda karena gangguin ayam tetangga.”
Gio langsung salto kecil—atau paling tidak, usaha salto yang gagal dan berakhir dengan dia nyungsep di atas bantal. “Siap, Kapten Mama!”
***
Pesanan hari ini spesial: 60 porsi untuk acara pelatihan di sebuah co-working space dekat Senopati. Konsumennya bukan cuma karyawan kantoran biasa, tapi juga para freelancer, content creator, dan satu orang yang katanya “CEO startup yang baru dapat funding”. Kirana nggak tahu apa itu funding, tapi kalau artinya bisa pesan 60 porsi sekaligus, ya pasti uangnya banyak banget.
Di perjalanan, Gio duduk di atas tumpukan kotak nasi (dengan alas karton tebal, tentu saja), sambil megang peta digital di HP bekas pinjaman dari Bu Anita. “Belok kiri, Ma! Nanti ketemu warung bakso Pak Juki—itu landmark penting!” serunya seperti komandan kapal selam.
“Oke, Komandan Gio,” sahut Kirana sambil tertawa. “Tapi jangan lupa, kalau kita lewat depan toko es krim, kamu nggak boleh minta. Ini misi antar makanan, bukan misi manis-manis.”
“Kalau gitu… misi antar makanan plus bonus es krim kalau semua kotak sampai utuh?” negosiasi Gio dengan senyum polos.
Kirana pura-pura mikir keras. “Hmm… oke. Tapi kalau ada satu kotak yang tumpah, es krimnya jadi hak Mbak Sari.”
Gio langsung pegang erat-erat tali gerobak. “Aku jaga pakai jiwa raga, Ma!”
***
Sampai di lokasi, suasana co-working space itu ramai banget. Ada yang lagi live Instagram, ada yang debat soal UX design, ada juga yang tidur di sofa sambil headphone nyangkut di leher. Tapi begitu Kirana masuk sambil dorong gerobak, semua mata tertuju padanya—bukan karena penampilannya, tapi karena aroma opor ayam dan sambal terasi yang menyebar kayak sihir.
“Wah, Dapur Kirana datang!” seru seorang cewek berambut ungu sambil lompat dari kursinya. “Aku udah nungguin dari jam delapan tadi!”
Tim panitia langsung bergegas bantu angkut kotak-kotak itu ke meja prasmanan. Salah satu panitianya, cowok berkacamata tebal bernama Raka, langsung ambil satu kotak dan buka. Matanya langsung bersinar kayak lampu LED.
“Ini… ini enak banget, Mbak! Rasanya kayak masakan nenekku waktu aku kecil. Tapi lebih gurih dikit, dan sambalnya bikin mata berkaca-kaca—tapi pengen nambah terus!”
Kirana malu-malu. “Alhamdulillah… saya cuma masak pakai hati, sama takut kalau anak saya protes kalau rasanya nggak enak.”
“Anak Mbak? Mana?” tanya cewek berambut ungu sambil melongok ke belakang Kirana.
Gio langsung maju, sikap sempurna kayak pramuka. “Saya Gio, asisten potong bawang dan antar catering. Kalau mau request menu, silakan bilang ke saya. Tapi kalau minta kurangi pedas, saya harus konfirmasi dulu ke Mama—soalnya cabe itu jiwanya masakan.” ucapnya dengan logat anak kecil dan tidak begitu jelas ucapnya
Semua pada ketawa. Bahkan si CEO startup yang tadinya sibuk scrolling laptop langsung mendekat. “Ini catering langganan Bu Anita kan? Katanya masakannya beda dari yang lain. Sekarang aku percaya.”
Kirana tersenyum. “Terima kasih, Pak. Kalau suka, nanti saya kasih label ‘Menu Favorit CEO’ di daftar minggu depan.”
“Wah, iya dong! Biar investor pada penasaran,” jawab si CEO sambil tertawa.
***
Selesai antar, Kirana dan Gio duduk sebentar di bangku taman kecil di depan gedung. Gerobak sudah kosong, tinggal bau rempah yang masih nempel di udara. Gio mengeluarkan bekal roti dari tas—roti yang dibuat dari sisa adonan pisang goreng kemarin, ide iseng Kirana yang ternyata enak banget.
“Ma, tadi mereka bilang masakan Mama kayak masakan nenek,” kata Gio sambil mengunyah. “Padahal Mama masih muda, kan?”
Kirana geleng-geleng. “Masakan rumahan itu nggak soal umur, Nak. Soal rasa sayang. Nenek-nenek dulu masak buat cucunya, Mama masak buat kamu… dan buat orang-orang yang rindu masakan rumah.”
Gio manggut-manggut. “Berarti aku juga masak buat Mama nanti, ya? Aku mau bikin telur mata sapi bentuk hati.”
“Yang nggak gosong?” goda Kirana.
“Yang *extra love*, Ma!” balas Gio mantap.
***
Pulang ke ruko, Kirana baru sadar ada satu kotak yang tertinggal di dasar gerobak—kotak spesial untuk Bu Anita, isinya rendang sapi plus lontong kecil dan kerupuk udang. Untung nggak kecampur sama yang lain!
Dia langsung telePagi itu langit Jakarta masih kelabu, tapi Kirana sudah semangat seperti ayam jago yang baru saja menang tarung. Jam tiga pagi belum genap berlalu, tapi dia sudah sibuk memasukkan nasi box ke dalam gerobak dorong—sebuah gerobak bekas yang kemarin dibeli dari tukang sayur pensiun, lalu dicat ulang warna kuning cerah dengan stiker tulisan “Dapur Kirana: Masakan Rumahan yang Bikin Kangen Mama”.
“Mama, aku boleh ikut antar?” Gio muncul dari balik tirai kain pemisah ruang tidur, matanya masih setengah terpejam, rambutnya acak-acakan kayak sarang burung.
Kirana nyengir. “Boleh! Tapi kamu harus jadi *navigator resmi*. Kalau salah kasih arah, kita bisa nyasar ke rumah Bu RT dan disuruh bayar denda karena gangguin ayam tetangga.”
Gio langsung salto kecil—atau paling tidak, usaha salto yang gagal dan berakhir dengan dia nyungsep di atas bantal. “Siap, Kapten Mama!”
***
Pesanan hari ini spesial: 60 porsi untuk acara pelatihan di sebuah co-working space dekat Senopati. Konsumennya bukan cuma karyawan kantoran biasa, tapi juga para freelancer, content creator, dan satu orang yang katanya “CEO startup yang baru dapat funding”. Kirana nggak tahu apa itu funding, tapi kalau artinya bisa pesan 60 porsi sekaligus, ya pasti uangnya banyak banget.
Di perjalanan, Gio duduk di atas tumpukan kotak nasi (dengan alas karton tebal, tentu saja), sambil megang peta digital di HP bekas pinjaman dari Bu Anita. “Belok kiri, Ma! Nanti ketemu warung bakso Pak Juki—itu landmark penting!” serunya seperti komandan kapal selam.
“Oke, Komandan Gio,” sahut Kirana sambil tertawa. “Tapi jangan lupa, kalau kita lewat depan toko es krim, kamu nggak boleh minta. Ini misi antar makanan, bukan misi manis-manis.”
“Kalau gitu… misi antar makanan plus bonus es krim kalau semua kotak sampai utuh?” negosiasi Gio dengan senyum polos.
Kirana pura-pura mikir keras. “Hmm… oke. Tapi kalau ada satu kotak yang tumpah, es krimnya jadi hak Mbak Sari.”
Gio langsung pegang erat-erat tali gerobak. “Aku jaga pakai jiwa raga, Ma!”
***
Sampai di lokasi, suasana co-working space itu ramai banget. Ada yang lagi live Instagram, ada yang debat soal UX design, ada juga yang tidur di sofa sambil headphone nyangkut di leher. Tapi begitu Kirana masuk sambil dorong gerobak, semua mata tertuju padanya—bukan karena penampilannya, tapi karena aroma opor ayam dan sambal terasi yang menyebar kayak sihir.
“Wah, Dapur Kirana datang!” seru seorang cewek berambut ungu sambil lompat dari kursinya. “Aku udah nungguin dari jam delapan tadi!”
Tim panitia langsung bergegas bantu angkut kotak-kotak itu ke meja prasmanan. Salah satu panitianya, cowok berkacamata tebal bernama Raka, langsung ambil satu kotak dan buka. Matanya langsung bersinar kayak lampu LED.
“Ini… ini enak banget, Mbak! Rasanya kayak masakan nenekku waktu aku kecil. Tapi lebih gurih dikit, dan sambalnya bikin mata berkaca-kaca—tapi pengen nambah terus!”
Kirana malu-malu. “Alhamdulillah… saya cuma masak pakai hati, sama takut kalau anak saya protes kalau rasanya nggak enak.”
“Anak Mbak? Mana?” tanya cewek berambut ungu sambil melongok ke belakang Kirana.
Gio langsung maju, sikap sempurna kayak pramuka. “Saya Gio, asisten potong bawang dan navigator antar catering. Kalau mau request menu, silakan bilang ke saya. Tapi kalau minta kurangi pedas, saya harus konfirmasi dulu ke Mama—soalnya cabe itu jiwanya masakan.”
Semua pada ketawa. Bahkan si CEO startup yang tadinya sibuk scrolling laptop langsung mendekat. “Ini catering langganan Bu Anita kan? Katanya masakannya beda dari yang lain. Sekarang aku percaya.”
Kirana tersenyum. “Terima kasih, Pak. Kalau suka, nanti saya kasih label ‘Menu Favorit CEO’ di daftar minggu depan.”
“Wah, iya dong! Biar investor pada penasaran,” jawab si CEO sambil tertawa.
***
Selesai antar, Kirana dan Gio duduk sebentar di bangku taman kecil di depan gedung. Gerobak sudah kosong, tinggal bau rempah yang masih nempel di udara. Gio mengeluarkan bekal roti dari tas—roti yang dibuat dari sisa adonan pisang goreng kemarin, ide iseng Kirana yang ternyata enak banget.
“Ma, tadi mereka bilang masakan Mama kayak masakan nenek,” kata Gio sambil mengunyah. “Padahal Mama masih muda, kan?”
Kirana geleng-geleng. “Masakan rumahan itu nggak soal umur, Nak. Soal rasa sayang. Nenek-nenek dulu masak buat cucunya, Mama masak buat kamu… dan buat orang-orang yang rindu masakan rumah.”
Gio manggut-manggut. “Berarti aku juga masak buat Mama nanti, ya? Aku mau bikin telur mata sapi bentuk hati.”
“Yang nggak gosong?” goda Kirana.
“Yang *extra love*, Ma!” balas Gio mantap.
***
Pulang ke ruko, Kirana baru sadar ada satu kotak yang tertinggal di dasar gerobak—kotak spesial untuk Bu Anita, isinya rendang sapi plus lontong kecil dan kerupuk udang. Untung nggak kecampur sama yang lain!
Dia langsung telepon. “Bu, maaf banget! Kotak spesialnya ketinggalan. Saya anterin sekarang?”
“Ah, nggak usah repot, Kir. Aku malah seneng. Berarti aku punya alasan buat mampir ke Dapur Kirana sore ini,” jawab Bu Anita dengan nada riang. “Lagian, aku mau lihat rencana menu minggu depan. Katanya ada ‘Ayam Galak Rica-Rica’ versi mini? Gio yang kasih nama ya?”
“Iya, Bu. Dia juga usul ‘Telur Balado Marah-Marah’ karena katanya telurnya suka pecah pas dimasak.”
Bu Anita ketawa terbahak-bahak. “Kamu berdua itu tim kreatif paling lucu sedunia.”
***
Sore harinya, sambil menunggu kedatangan Bu Anita, Kirana mulai merapikan dapur. Mbak Sari dan Mbak Yuni sudah pulang, tapi meninggalkan catatan lucu di papan tulis:
#“Jangan lupa istirahat, Bos Kir! Kalau capek, kami siap jadi bodyguard + tukang kipas.”
Kirana tersenyum. Dulu, dia pikir hidupnya cuma akan jadi bayangan di rumah mertua—diam, tak terlihat, tak dihargai. Sekarang, dia punya tim, punya pelanggan yang nungguin masakannya, punya anak yang bangga bilang “Itu Mama aku, pemilik Dapur Kirana!”, dan punya mimpi yang makin besar tiap harinya.
Dan yang paling penting: dia punya rasa percaya diri yang dulu hilang, sekarang kembali—perlahan, hangat, dan legit seperti kuah opornya sendiri.
Jam lima sore, lampu ruko menyala. Bau daun jeruk dan serai masih menggantung di udara. Di pojok dapur, Gio sedang menggambar menu baru: “Nasi Kuning Semangat Pagi – Cocok buat yang males bangun tapi tetap harus kerja!”
Kirana mengelus kepala Gio, lalu berbisik pelan, “Besok, kita coba bikin dessert. Mungkin puding santan atau klepon. Gimana?”
Gio langsung melompat. “Klepon isi coklat, Ma! Biar surprise!”
Kirana tertawa. “Oke, Chef Gio. Tapi kalau meledak pas dikukus, kamu yang tanggung jawab.”
“Siap, Kapten Mama!”
Dan di tengah riuh Jakarta yang tak pernah berhenti, di ruko kecil itu, ada dapur yang hangat, penuh tawa, dan dipenuhi cinta