Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Hutang
Hujan deras banget malam itu. Bukan hujan biasa—hujan yang kayak langit lagi marah-marah, melempar air ke bumi sekuat tenaga. Di rumah kontrakan kumuh di pinggiran Bandung, tembok-temboknya sudah pada menghitam, cat udah mengelupas sana-sini kayak kulit yang kering kerontang. Atapnya bocor di tiga tempat. Lestari sudah hapal banget, ember yang mana buat nampung bocoran yang mana.
Lestari Putri—tujuh belas tahun, baru lulus SMA dua bulan lalu—duduk di sudut kamarnya yang sempit. Kamar? Lebih tepatnya gudang yang dipaksa jadi kamar. Lima meter kali tiga meter. Kasur tipis di lantai, lemari kayu yang pintunya miring sebelah, sama satu jendela kecil yang kacanya udah retak.
Dia lagi memeluk lututnya erat-erat, dagu ditaruh di lipatan tangan. Kuku-kukunya sudah pendek banget, kebiasaan gigit kuku kalau lagi stres. Rambutnya yang panjang sebahu sudah kusut, diikat sembarangan pakai karet gelang—iya, karet gelang buat mengikat plastik, bukan ikat rambut beneran.
Dari ruang tamu—atau lebih tepatnya ruangan yang cuma muat buat tiga orang, terdengar suara keras. Sebuah teriakan. Suara yang bikin bulu kuduk merinding.
"JUMADI KEHET, LO BAYAR HUTANG GUE KAPAN?!"
Pak Hendra. Rentenir yang udah jadi momok di kampung mereka. Suaranya itu loh... berat, serak, kayak orang yang setiap hari ngerokok sebungkus. Lestari bisa bayangin mukanya yang item legam, kumis tebal, mata melotot yang selalu bikin orang ciut.
"Pa—Pak Hendra, saya... saya mohon waktu. Seminggu lagi pasti—"
BRAK!
Suara meja dipukul keras. Lestari sampe loncat kaget. Jantungnya udah kayak mau copot.
"SEMINGGU LAGI SEMINGGU LAGI! UDAH BERAPA KALI LO BILANG GITU?! Udah setahun, Jumadi. SETAHUN! Lima puluh juta plus bunganya jadi tujuh puluh juta sekarang!"
Tujuh puluh juta. Angka yang nggak masuk akal buat keluarga kayak mereka. Ayahnya cuma buruh serabutan, kadang jadi kuli bangunan, kadang nganggur. Ibunya jualan gorengan di depan gang, sehari dapet seratus ribu aja udah syukur.
Lestari pengen nutup kuping. Pengen teriak suruh Pak Hendra pergi. Tapi dia cuma bisa diem, tubuhnya gemetar. Dia udah tau sih kenapa ayahnya hutang segede itu—judi. Togel online yang katanya bisa cepet kaya. Malah cepet bangkrut.
"Pak... rumah ini... ambil aja rumah ini..." Suara ibunya, Markonah, terdengar bergetar. Lestari bisa denger tangisannya yang ditahan.
Pak Hendra ketawa. Ketawanya sinis, ngeri. "Rumah kontrakan apaan yang mau gue ambil?! Ini bukan rumah lo, tolol! Ini rumah kontrak yang udah telat bayar tiga bulan!"
Hening sebentar. Cuma suara hujan yang makin kenceng.
Lestari beringsut ke pintu kamarnya. Pelan-pelan. Dia buka sedikit, cuma secelah, cuma buat bisa ngintip. Dari celah itu dia bisa liat ayahnya yang duduk di lantai, mukanya pucat, keringetan meskipun udaranya dingin. Ibunya berdiri di belakang, kedua tangan megang erat sarung yang melilit tubuhnya.
Pak Hendra berdiri, tangannya dilipat di dada. Di belakangnya ada dua orang—preman bayaran kali ya. Badannya gede-gede, mukanya datar tanpa ekspresi.
"Gue kasih lo pilihan, Jumadi." Pak Hendra mendekat, jongkok di depan ayahnya. "Besok jam sepuluh pagi, lo bayar lunas. Atau..."
Jeda.
Jeda yang bikin napas Lestari berhenti.
"Atau gue bakar rumah ini. Lo, istri lo, anak lo, gue bakar semua."
"TIDAK! Pak Hendra, jangan! Jangan anak saya!" Ibunya langsung berlutut, di kaki Pak Hendra.
Lestari merem. Nggak kuat liat ibunya kayak gitu. Nggak kuat.
"Bangun, Markonah. Lo nggak usah lebay." Pak Hendra nendang pelan kaki ibunya, menyingkirkan. "Gue nggak bakal bakar kalian... kalau Jumadi bisa kasih jaminan."
Ayahnya mengangkat kepala. Matanya... kosong. Seperti orang yang udah nggak punya harapan lagi. "Jaminan apa, Pak? Saya nggak punya apa-apa lagi..."
Pak Hendra nyengir. "Lo punya."
Dia nunjuk ke arah kamar Lestari.
Jantung Lestari berhenti seketika.
"Anak cewek lo yang cantik itu."
NGGAK.
Nggak nggak nggak.
Lestari mundur dari pintu, punggungnya nabrak lemari, bikin bunyi. Tangannya nutup mulut buat nahan jerit. Ini mimpi kan? Ini mimpi kan?
"A—anak saya?" Ayahnya tergagap.
"Iya. Gue punya kenalan, Dyon namanya. Saudara jauh gue. Kerja di pabrik tekstil, gajinya lumayan lah. Dia lagi nyari istri. Udah tiga puluh tahun lebih dikit, belum nikah juga. Kemarin dia minta tolong ke gue cariin."
"Pa—Pak Hendra... dia... dia masih—"
"Masih muda. Tujuh belas kan? Bagus, masih perawan pasti. Dyon suka yang muda-muda."
Lestari pengen muntah. Perutnya mual banget.
"Besok kalian nikah siri. Gue yang urus. Dyon setuju lunasi hutang lo, asal dapet istri. Tujuh puluh juta lunas. Beres."
"Tapi Pak... anak saya baru lulus SMA... dia... dia masih pengen kuliah..."
"KULIAH?!" Pak Hendra berdiri, suaranya menggelegar. "Lo hutang tujuh puluh juta, mikirin kuliah?! Negara konoha macam apa yang ngasih orang miskin kayak lo kuliah gratis?! Bangun, Jumadi! Lo hidup di mana?! Ini bukan dongeng!"
Negara konoha. Istilah yang sering disebut orang-orang kampung buat nyindir pemerintah yang katanya peduli rakyat kecil tapi kenyataannya... ya gitu deh. Kerja susah, pengangguran di mana-mana, korupsi merajalela. Lestari sendiri udah ngelamar kerja ke tujuh tempat—minimarket, kafe, toko baju—semua ditolak. Alasannya? Nggak punya pengalaman. Atau... nggak punya orang dalam. Atau... nggak punya uang buat nyogok.
Tujuh tempat. Semua nolak. Dan sekarang dia mau dijadikan... dijadikan apa? Tumbal?
"Pak Hendra... tolong... jangan anak saya..." Ibunya nangis, nangis keras, sampai suaranya serak.
"Lo mau mati kebakar? Ya udah gue bakar sekarang."
"NGGAK! NGGAK! Saya... saya akan... akan atur..." Ayahnya berdiri, gemetaran. Mukanya... mukanya nunjukin keputusan yang udah dibuat.
Keputusan yang bakal menghancurkan Lestari.
"Bagus. Besok jam sepuluh pagi. Gue datang sama Dyon. Siapin anaknya. Pake baju yang rapi. Jangan sampe ngecewain gue, Jumadi. Atau lo tau akibatnya."
Pak Hendra keluar, diikuti dua premannya. Pintu ditutup keras—BRAK—sampai bikin bingkai foto roboh dari dinding.
Hening.
Cuma suara hujan.
Dan suara tangis ibunya yang nggak bisa ditahan lagi.
Lestari masih di kamarnya, masih bersandar di lemari. Tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar. Dingin. Dingin banget. Kayak darahnya berhenti ngalir.
Dia denger langkah kaki ayahnya mendekat. Pintu kamarnya dibuka pelan.
"Lestari..."
Dia nggak mau liat. Nggak mau.
"Lestari, Bapak tau ini berat... tapi—"
"Jangan." Suaranya keluar, serak, putus-putus. "Jangan lanjutin, Pak."
"Nak, ini... ini satu-satunya jalan..."
"JALAN BUAT SIAPA?!" Lestari teriak, akhirnya ngangkat kepala, matanya merah, basah. "Jalan buat Bapak yang nggak bisa berhenti judi?! Jalan buat Bapak yang mau selamatin diri sendiri?!"
Ayahnya diem. Mukanya... bersalah. Tapi nggak cukup bersalah buat batalin keputusannya.
"Lo harus nurut, Tar. Ini... ini demi keluarga."
"Aku nggak mau."
"Lo HARUS."
"AKU NGGAK MAU, PAK! Aku baru tujuh belas tahun! Aku belum—"
PLAK!
Tamparan keras di pipi kirinya. Lestari terhuyung, jatuh, pantatnya nabrak lantai keras. Pipinya panas, perih, berasa kayak terbakar. Telinganya berdenging.
Ayahnya berdiri di depannya, tangannya masih terangkat, napasnya memburu. "Lo... lo harus nurut. Ini keputusan terakhir Bapak."
Ibunya datang, narik ayahnya menjauh. "Jumadi, jangan... jangan kayak gini... anaknya masih kecil..."
"Kecil tapi udah bisa dinikahi! Daripada kita mati semua!"
Mereka keluar, ninggalin Lestari sendirian di lantai kamar yang dingin.
Hujan makin deres.
Lestari pegang pipinya yang memar. Berasa bengkak. Berasa... hancur.
Air matanya jatuh. Satu. Dua. Terus nggak berhenti. Nangis dalam diam. Nangis sampai dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.
Dia menatap langit-langit kamar yang penuh rembesan air. Ada satu titik di sana, titik yang selalu dia pandangi kalau lagi sedih. Sekarang titik itu cuma jadi pengingat—dia terjebak. Nggak ada jalan keluar.
"Kenapa aku yang harus bayar kesalahan Bapak?"
Suaranya lirih. Cuma bisikan. Bisikan yang nggak dijawab siapa-siapa. Cuma angin dan hujan yang jadi saksi.
Takdirnya udah diputuskan.
Besok, jam sepuluh pagi, dia bakal jadi istri orang yang nggak pernah dia kenal.
Besok, hidupnya bakal berubah selamanya.
Dan nggak ada yang bisa dia lakuin buat nolak.
---
***
Lestari nggak tidur semalaman. Dia cuma duduk di sudut kamar, menatap kosong ke jendela yang gelap. Pikirannya kacau—pengen kabur, tapi mau kemana? Nggak punya uang, nggak punya saudara yang bisa nampung. Pengen nolak, tapi takut ayahnya dibakar hidup-hidup sama Pak Hendra.
Di luar, hujan mulai reda. Tapi di dalam dada Lestari, badai baru saja dimulai.
Besok pagi, dia akan bertemu Dyon Pradipta.
Laki-laki yang akan jadi penjara barunya.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁