Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSERET KE DALAM SATU MALAM
Aku juga sayang Ibu.
Kata itu meluncur pelan dari bibir Putra, sederhana, namun sarat makna—seolah menjadi penutup dari perasaan yang selama ini tersimpan. mungkin.
Salma masih mengingat jelas bagaimana Putra menatapnya saat mengucapkan kata sederhana itu—kata yang begitu singkat, namun entah bagaimana berhasil menancap kuat dan membuatnya sulit melupakan hingga sekarang.
Kata sayang itu terucap tak wajar. Bukan sayang dalam hubungan murid kepada guru, melainkan sayang yang lahir dari perasaan personal—hangat, jujur, dan diam-diam melampaui batas yang seharusnya.
Ketika Putra mengucapkannya dengan lantang tanpa ragu, wajahnya berubah semakin serius. Tak ada nada bercanda, tak ada senyum iseng, bahkan senyum tipis yang kali pertama Salma lihat—yang ada hanya keteguhan dan sebuah keberanian yang kuat.
Salma menghela napas panjang. Tidak. Lupakan. Ia milik Erwin. Hatinya seharusnya hanya untuk Erwin.
Apa yang ia pikirkan barusan sungguh keterlaluan—bodoh, tak pantas. Ia menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Mencintai muridnya sendiri? Tidak. Ia tak boleh tenggelam lebih jauh dalam perasaan yang salah arah.
Salma kemudian mematikan kran air dan keluar dari kamar mandi sambil mengikat piyama mandinya, lalu melangkah berjalan melangkah menuju kamarnya. Harum dan segar aroma sabun selepas mandi tak membuat lelah pikirannya memaksa untuk memikirkan kepada satu sosok yang sampai saat ini sulit untuk ia terima, Erwin.
Begitu tiba di meja rias, Salma tak langsung menuju lemari bajunya. Langkahnya tertahan. Pandangannya justru beralih ke arah sebuah lemari kaca di sudut ruangan. Di balik kaca bening itu tersusun rapi benda-benda yang tak ternilai harganya: album foto kenangan masa SMA dengan sampul yang mulai pudar, foto-foto lama yang merekam senyum polos dan tawa tanpa beban, surat-surat kecil yang pernah diselipkan di sela halaman, hingga beberapa cendera mata usang yang masih setia menyimpan cerita. Bukan soal mahal atau tidaknya, melainkan kenangan yang terkurung di sana—diam, namun hidup, dan perlahan mengikat hatinya kembali pada masa lalu.
Aku juga sayang, Ibu.
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya—jelas, utuh, dan begitu nyata. Ia tak pernah benar-benar mendengar seseorang mengucapkan perasaan dengan kejujuran setelanjang itu, tanpa ragu, tanpa basa-basi.
Sejak remaja, hidupnya terasa sepi dari sosok yang mampu membuatnya merasa berarti. Tak ada yang menjadi alasan baginya untuk berjuang lebih keras, bahkan sekadar memunculkan semangat belajar pun terasa sulit.
Begitu pula dengan Erwin. Kedekatan mereka berjalan datar, tanpa ungkapan cinta, tanpa percakapan yang menghangatkan hati. Semuanya mengalir begitu saja, hingga akhirnya mereka menikah—bukan karena permintaan Erwin, melainkan dorongan Mona. Bahkan tanggal pernikahan pun diputuskan tanpa getar perasaan yang berarti.
Hidupnya hambar, seperti hari-hari yang dilewati tanpa warna.
Namun sejak Putra mengucapkan kalimat itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Sebuah rasa yang tak pernah ia kenal sebelumnya perlahan tumbuh, mengisi ruang kosong yang selama ini dibiarkan hampa. Hatinya bergetar, seolah menemukan alasan untuk kembali merasa—sesuatu yang hangat, sederhana, namun begitu menakutkan untuk diakui.
Tok… tok… tok…
Ketukan di pintu itu datang mendadak, mengejutkannya. Bel rumah pun ikut berdentang lembut, menyusup di sela keheningan yang masih menggantung di udara.
"Itu Mas Erwin." Gumamnya.
Salma segera meletakkan kembali buku kenangan itu beserta semua benda yang sempat menyeret ingatannya ke masa lalu ke dalam lemari kaca. Tangannya bergerak cepat, menyusunnya kembali seperti semula, seolah ingin menutup rapat perasaan yang sempat terbuka.
Ia lalu keluar dari kamar, melangkah tergesa menuruni tangga menuju lantai bawah. Ruang makan, ruang tengah, hingga ruang tamu ia lewati nyaris tanpa menoleh, napasnya sedikit memburu. Begitu tiba di depan pintu, Salma buru-buru memutar kunci, hingga daun pintu pun terbuka lebar.
Salma terpaku kemudian...
Tubuhnya seolah membeku di ambang pintu. Matanya membulat, napasnya tertahan, jantungnya berdegup tak beraturan.
Ada rasa gugup yang tiba-tiba menyergap, bercampur keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan.
Bukan Erwin yang berdiri di hadapannya. Sosok itu hadir begitu tak terduga, membuat pikirannya seketika kosong, sementara perasaan asing—yang belum sempat ia beri nama—perlahan merambat, menguasai ruang di antara mereka.
"Pu-Putra..." Gumam Salma.
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa permisi, nyaris seperti refleks dari keterkejutannya sendiri. Sama seperti anak itu yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang, seolah tempat itu sudah dikenalnya.
Tanpa menunggu undangan, Putra menutup pintu dan menguncinya kembali, meninggalkan Salma masih berdiri kaku—bingung, gugup, dan tak sepenuhnya siap menghadapi kehadirannya.
"Pu-Putra, kamu ngapain ke rumah Ibu?" Tanya Salma tergagap.
Putra masih belum menjawab. Matanya yang sejak tadi terpaku pada wajah Salma kini beralih, menyapu seluruh tubuh Salma dari atas kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan pandangan datar yang penuh penilaian, tapi...
Salma tersentak. Ia baru tersadar saat pandangannya jatuh pada dirinya sendiri—masih berbalut piyama mandi. Napasnya tercekat. Ia lupa sama sekali belum mengganti pakaian, bahkan sekadar piyama tidur yang lebih pantas.
Kegugupannya kian menjadi, rasa malu membungkus dirinya tanpa ampun. Dalam sekejap, wibawa yang selama ini melekat sebagai seorang guru runtuh begitu saja, hancur di hadapan muridnya sendiri. Apalagi di hadapan murid laki-lakinya, Putra.
"Ka-Kamu tunggu di sini." Kata itu meluncur seketika dari rasa malu Salma. Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik dan melangkah cepat.
Namun belum sempat Salma sepenuhnya menghilang, Putra sudah lebih dulu mengejarnya. Tangannya terulur dan menahan lengan Salma, membuat langkah wanita itu terhenti mendadak.
Salma tersentak, tubuhnya menegang, apalagi jantungnya yang berdegup kencang kini semakin kacau oleh sentuhan yang tak seharusnya terjadi. "Ka-kamu mau apa?"
"Bu." Ucap Putra kemudian. "Aku kesini mau minta maaf soal tadi siang."
Salma menelan saliva. "Te-tentang apa?"
"Yang di kantin tadi, Bu. Aku gak seharusnya bilang jujur kalau aku sayang Ibu."
Salma membeku. Ia mencoba melepaskan ruas jemari Putra, namun ikatan itu enggan longgar, justru menahannya kuat.
Salma menelan saliva. Matanya kosong, pandangannya lurus tanpa benar-benar melihat apa pun. Ada gemetar halus yang merambat di tubuhnya, campuran takut, bingung, tapi di balik perasaan bersalah terhadap Erwin untuk tidak menerima tamu laki-laki manapun termasuk muridnya sendiri, ada geletar aneh merambat ke seluruh tubuhnya, dan itu baru ia rasakan kali pertama di malam ini. "Soal itu... lupakan." Kata Salma kemudian. "Hal wajar kalau guru maupun murid mengucapkan kata sayang untuk saling menghormati dan menghargai. Hany itu? Pulanglah sekarang juga. Ini sudah terlalu malam, Putra."
"Tapi, Bu..." Lirih Putra. Tanpa aba-aba, langkahnya mendekat kian rapat.
"Putra..." Gumam Salma, suaranya justru terdengar tak menolak saat dirinya bisa merasakan hembusan napas Putra yang hangat dan tergesa merambat ke leher jenjangnya.
"Perasaan sayang yang aku miliki ke Ibu bukan sekedar rasa sayang murid ke guru." Bisik Putra ke telinga Salma, hingga nyaris membuat tubuh wanita itu melonjak. "Tapi perasaan yang lebih jauh dari itu, Bu."
Suara lembut Putra membuat Salma kehilangan daya untuk menolak. Tangan laki-laki itu kini tak lagi sekadar menggenggam lengannya, dan ia membiarkannya—terdiam, bimbang, terperangkap di antara kesadaran dan perasaan yang kian sulit di kendalikan. Hingga akhirnya, laki-laki itu kini berhasil memeluk tubuh Salma.
"Aku sayang padamu." Bisik Putra sekali lagi. Kali ini lebih lembut, bahkan dengan kecupan di leher Salma.
Salma menggelinjang. "Putra..."
Putra tak berhenti. Kedua tangannya perlahan menyelinap masuk ke dalam piyama yang Salma kenakan. Tanpa menunggu respon Salma, ruas-ruas jemari kokohnya kini menjelajahi setiap lekuk tubuh Salma yang tak terbungkus.
"Putra, stop..." Lirih Salma, namun nadanya enggan menolak.
Sentuhan itu adalah kali pertama yang dirasakannya. Meskipun pernah bersama Erwin, namun rasanya hambar. Tak ada rasa yang benar-benar menyadarkannya akan sebuah kenyamanan, ketenangan, bahkan kebahagiaan yang begitu sulit ia dapatkan selama menjalani pernikahan ini.
Namun saat Putra datang, malam ini, tanpa undangan, Salma tak lagi bisa menolak. Anak laki-laki yang seharusnya ia bimbing dengan penuh moral dan keteladanan justru berdiri terlalu dekat, mengguncang batas yang selama ini ia jaga mati-matian.
Terlalu kuat untuk menolak ketika jemari Putra kini tengah memainkan sesuatu yang membuat tangan Salma bergerak, ikut membimbing anak itu menangkup dadanya yang hangat.
Salma memejamkan mata. Tubuhnya terasa lemas oleh sentuhan yang datang bertubi-tubi. Punggungnya tanpa sadar, bersandar pada Putra, seakan pasrah membiarkan anak itu menikmati kulit sensitifnya.
"Ah..." Desah Salma tanpa sadar. "Putra..."
"Biarkan aku memilikimu malam ini, sayang." Bisik Putra di telinga Salma. Di saat yang sama, ia mengecup leher wanita itu, bahkan cukup lama untuk dinamakan sebagai sebuah tanda.
"Putraaa.... ah, geli." Lirih Salma menggelinjang ketika ia merasakan bibir Putra menghisap lehernya lembut. Sementara, sesuatu lainnya bergerak di bawah perutnya.
"Ibu basah." Bisik Putra. "Nikmat... Bu?"
"Putra, Ibu..." Kalimat Salma menggantung di udara sambil menarik napas dalam-dalam. Ingin sekali ia menjerit, menolak, namun rasanya keliru jika ia harus melepaskannya sekarang.
"Apa Ibu ijinkan aku untuk membersihkan yang basah ini?" Tanya Putra dengan nada penuh permohonan. Sementara, jemarinya tak henti bergerak, bermain disana, di bawah perut Salma yang kini di jepit oleh kedua kaki wanita itu.
"Lakukan apa yang kamu..." Salma melenguh, tubuhnya lemas.
Sentuhan itu jarang sekali ia dapatkan. Jarang sekali ia jumpai dalam hidupnya, jarang sekali hadir sebagai sesuatu yang benar-benar ia sadari keberadaannya, ternyata rasanya lebih dari sekedar bahagia. Salma menarik napas panjang, membiarkan seluruh tubuhnya kini milik Putra malam ini.
Ya. Putra. Laki-laki yang kini bukan lagi anak kecil yang ia bimbing di kelas. Tapi sebaliknya.
Salma berbalik saat Putra dengan perlahan dan penuh kehati-hatian menuntun kemauannya. Dalam satu gerakan tangkas, Putra melepas tali piyama dan membuka kain itu seutuhnya hingga membiarkannya tergeletak di lantai.
"Cantik..." Ucap Putra dengan senyum puas, memandang Salma dari atas kepala hingga ujung kaki.
Wajah Salma sedikit merah, menahan malu yang tak lagi dapat ia cegah. "Putra, Ibu..."
Belum saja kalimat itu selesai, Putra berhasil mengecup bibir Salma. "Gak usah malu, sayang... biarkan aku menikmatinya." Ucapnya.
Salma sama sekali tak menolak. Ia bahkan tak lagi memikirkan bahwa malam ini ia telah benar-benar telah menghancurkan pernikahannya bersama Erwin. Pernikahan... ikatan suci yang harus ia jaga kini telah ia tumbalkan pada satu kenikmatan yang selama ini telah lama ia rindukan, ia inginkan!
"Putra..." Gumam Salma. Tubuhnya menggeliat di badan ranjang, keringat dingin mulai terasa membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan sesuatu yang basah di bawah perut itu kini merambat naik dan membawanya seakan terbang jauh ke langit yang paling tinggi.
"Ah...."
Lenguhan itu berhasil membuatnya membuka mata sepenuhnya. Salma kemudian terperanjat dari ranjang tidurnya, napasnya tersenggal, dadanya naik turun tak beraturan.
Sebuah kesadaran menghantamnya keras, penuh, mendesak untuk mengumpulkan semua kewarasannya.
Di samping itu, sorot mentari pagi menyambutnya dari sela gorden yang sedikit terbuka, jatuh lembut di lantai kamar. Sunyi. Tenang. Tak ada siapa pun di sana selain dirinya sendiri. Tak ada Putra...
Salma menatap dirinya di cermin depan—masih berbalut piyama mandi tanpa ada jejak apa pun selain wajah pucat dan mata yang tampak lelah.
Ia kemudian menoleh ke samping. Tak ada siapa pun di sana—hanya sebuah buku kenangan SMA yang tergeletak di sampingnya. Perlahan, kepingan pikirannya kembali tersusun. Ia ingat, malam itu ia ketiduran saat membuka satu per satu halaman buku merah muda tersebut, hingga kenangan-kenangan itu menyeretnya masuk ke dalam satu malam yang begitu memikat. Sebuah mimpi yang terasa begitu nyata, terlalu nyata... bersama Putra.
“Hanya mimpi… tapi rasanya…” Gumam Salma lirih, kalimatnya menggantung, seiring dadanya yang masih menyimpan sisa debar yang belum sepenuhnya reda. Frustasi!
****