seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN KAYLA YANG BARU DAN LOGO
Asap hitam yang membumbung tinggi ke langit malam menjadi saksi bisu hancurnya istana kaca tempat ia dipenjara. Kayla berdiri dengan tubuh gemetar, menatap api yang melahap sisa-sisa kehidupan yang ia kenal. Namun, di tengah rasa lega karena kebebasannya, sebuah rasa sesak yang tidak masuk akal menghantam dadanya.
Ia menangis. Bukan hanya karena trauma, tetapi karena ia menyadari bahwa meski Aris adalah iblis, pria itu adalah satu-satunya orang yang mengisi dunianya selama berbulan-bulan terakhir. Aris adalah penculiknya, penyiksanya, namun juga pria yang memberinya kehangatan semu di malam-malam yang dingin. Kompleksitas perasaan itu—Stockholm Syndrome yang berbaur dengan duka—membuat Kayla jatuh terduduk di atas tanah hutan yang lembap.
"Kenapa harus begini, Aris?" bisiknya di tengah isak tangis. Ia membenci pria itu, namun membayangkan Aris hancur menjadi abu di dalam sana memberikan lubang besar di hatinya.
Kayla tahu ia tidak bisa berlama-lama di sana. Organisasi atau rekan bisnis Adrian pasti akan datang untuk menyelidiki ledakan itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berjalan menembus kegelapan hutan, menjauh dari cahaya api. Ia hanya membawa satu hal: sebuah tas kecil berisi uang tunai darurat yang sempat ia sambar dari ruang kontrol sebelum kekacauan memuncak.
Ia melakukan perjalanan selama berhari-hari, berganti-ganti bus umum, menutupi wajahnya dengan syal, dan menggunakan nama samaran. Ia menghindari setiap cermin dan setiap monitor televisi yang mungkin menampilkan berita tentang ledakan rumah mewah itu. Ia tidak ingin tahu apakah polisi menemukan mayat Aris atau tidak. Baginya, Aris harus tetap mati agar ia bisa mencoba hidup.
Akhirnya, ia sampai di sebuah desa terpencil di kaki pegunungan, jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan jangkauan teknologi yang dulu mengurungnya. Tempat itu bernama Lembah Sunyi.
Di Lembah Sunyi, Kayla menyewa sebuah gubuk kayu kecil yang terletak di pinggir hutan, jauh dari pemukiman warga desa lainnya. Penduduk setempat mengenalnya sebagai "Rina", seorang janda muda yang pendiam dan penyendiri. Mereka tidak banyak bertanya, menghargai privasi wanita yang matanya selalu menyimpan kesedihan mendalam itu.
Bulan-bulan berlalu di pengasingan. Kehidupan Kayla kini sangat sederhana. Ia menanam sayuran di halaman belakang dan mengambil air dari mata air pegunungan. Setiap hari adalah perjuangan untuk melawan memori tentang tangan Aris yang posesif dan layar monitor yang mengawasinya.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia hindari: Perutnya yang semakin membesar.
Setiap kali janin itu bergerak, Kayla teringat pada wajah Aris. Garis rahangnya, tatapan matanya yang tajam—Kayla takut anak ini akan menjadi cerminan sempurna dari ayahnya.
"Kau tidak akan seperti dia," gumam Kayla sambil mengelus perutnya di depan perapian yang menyala. "Aku akan menjagamu agar tidak tersentuh oleh kegelapan itu."
Suatu sore, saat usia kehamilannya menginjak delapan bulan, Kayla duduk di teras gubuknya, menatap matahari terbenam. Ia merasa telah menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Suara angin di pepohonan menggantikan suara statis monitor. Aroma tanah basah menggantikan bau bahan kimia ruang bawah tanah.
Namun, kesedihan itu tetap ada. Terkadang, di tengah malam, ia terbangun karena merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan—perasaan posesif yang ditinggalkan Aris seolah telah menjadi hantu yang menghuni jiwanya. Ia masih sering terbangun sambil memanggil nama Aris, hanya untuk menyadari bahwa ia sendirian di atas tempat tidur kayu yang keras.
Ia menetap di sana dengan satu tujuan: melahirkan anak itu dalam kerahasiaan total. Ia tidak ingin dunia tahu tentang keberadaan darah daging Aris. Ia ingin memutus rantai kegilaan keluarga itu di sini, di kaki gunung yang sunyi ini.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Kayla selalu merasa bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia sering bertanya-tanya, apakah ledakan itu benar-benar cukup untuk membunuh pria sekuat Aris? Ataukah Aris sedang berada di suatu tempat, diam-diam kayla selalu memikirkan Aris.
Kayla kini hidup dalam ketenangan yang dihantui trauma. Janinnya akan segera lahir.
Hidup di Lembah Sunyi adalah upaya Kayla untuk menghapus jejak dan identitasnya, namun ia segera menyadari bahwa mengandung anak Aris berarti membawa "penjara" itu di dalam tubuhnya sendiri. Selama bulan-bulan kehamilan tersebut, rutinitas Kayla menjadi sebuah ritual bertahan hidup yang sunyi dan penuh kewaspadaan.
Pagi hari biasanya dimulai dengan rasa mual yang kini bercampur dengan kilas balik (flashback). Setiap kali ia merasa pusing, ingatannya terlempar kembali pada saat Aris menyuntikkan obat penenang ke lehernya. Ia sering kali mematung di depan wastafel, napasnya tersengal, meyakinkan diri bahwa ia tidak lagi berada di bawah tanah.
Untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, Kayla mulai belajar berbaur secara minimal dengan warga desa. Ia menukar uang tunai yang ia bawa dengan telur, susu, dan kain-kain bekas untuk menyiapkan pakaian bayi nanti. Ia bersikap sangat tertutup; jika ada warga yang bertanya tentang suaminya, Kayla hanya akan menunduk dan berkata, "Dia sudah tiada dalam sebuah kecelakaan," yang secara teknis bukanlah sebuah kebohongan.
Meskipun Aris sudah dianggap tewas, pengaruhnya tetap mendominasi alam bawah sadar Kayla. Sering kali saat sedang menjahit kain di bawah temaram lampu minyak, Kayla merasa bulu kuduknya berdiri. Sifat posesif Aris telah meninggalkan luka psikologis yang begitu dalam sehingga Kayla merasa "diawasi" oleh pepohonan di luar gubuknya.
Terkadang, ia merasa seolah-olah Aris sedang berdiri di sudut ruangan yang gelap, memperhatikannya dengan tatapan intens yang sama.
"Kau masih di sini, bukan?" bisiknya suatu malam pada kegelapan. Ia mulai bicara sendiri untuk mengusir kesunyian yang mencekam.
Kegilaan Aris seolah menurun pada Kayla dalam bentuk paranoid. Ia memasang bel kecil di setiap pintu dan jendela gubuk kayunya. Ia bahkan menanam tanaman berduri di bawah setiap celah masuk. Ia menjadi sangat posesif terhadap dirinya sendiri dan janinnya, persis seperti cara Aris menjaganya dulu.
Hubungan Kayla dengan janin di perutnya sangatlah rumit. Ada saat-saat di mana ia merasa sangat mencintai kehidupan kecil itu sebagai satu-satunya temannya di dunia ini. Namun, ada saat-saat lain, terutama saat janin itu menendang dengan kuat, Kayla merasa ketakutan. Tendangan itu terasa sangat agresif, mengingatkannya pada kekuatan Aris saat mencengkeram lengannya.
Ia sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk di tepi sungai dekat gubuknya, mengelus perutnya sambil membisikkan doa-doa yang kontradiktif.
"Jadilah anak yang baik... jangan jadikan matamu sedingin ayahnmu... jangan biarkan tanganmu sekasar tangan kakekmu."
Suatu hari, saat usia kehamilannya memasuki bulan kedelapan, Kayla menemukan sesuatu yang aneh. Di sebuah pohon besar tidak jauh dari gubuknya, ia menemukan sebuah simbol kecil yang terukir di batang pohon—sebuah lambang yang sangat mirip dengan logo perusahaan teknologi milik Adrian dan Aris.
Jantungnya hampir copot. Apakah itu hanya kebetulan? Ataukah itu tanda bahwa organisasi mereka sedang mencarinya? Sejak hari itu, Kayla tidak pernah lagi keluar rumah tanpa membawa pisau kecil yang ia sembunyikan di balik gaun longgarnya.
Ia mulai mengalami insomnia akut. Setiap suara ranting yang patah di luar rumah membuatnya terjaga sepanjang malam dengan napas tertahan. Ia merasa seolah-olah sedang menunggu sesuatu—atau seseorang—yang akan datang menjemputnya kembali ke dalam kegelapan.
Namun, perutnya yang semakin besar membatasi geraknya. Ia kini terjebak di gubuk itu, menunggu waktu yang akan ditentukan oleh alam, sambil terus berharap bahwa dinding-dinding kayu gubuknya cukup kuat untuk melindunginya dari hantu-hantu masa lalu yang seolah mulai mendekat.
Kayla kini hidup dalam ketakutan yang semakin memuncak di bulan-bulan terakhir kehamilannya.