NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Kelam Pak Sasongko

“Kamu sudah berani mengecewakan saya, Tasya. Saya akan membatalkan hasil seminar kamu hari ini.”

Ancaman itu muncul di layar ponselnya, lengkap dengan foto surat pengesahan asli yang membuat dada Tasya seketika terasa sesak.

Napasnya tertahan. Tubuhnya gemetar.

Masalah seolah tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya—hanya berganti bentuk, semakin kejam.

“Gue harus gimana sekarang?” suara Tasya nyaris tak terdengar. Wajahnya pucat, kepalanya masih berdenyut hebat.

“Dim… gimana ini?” Nina menoleh panik saat Dimas muncul dari kamar mandi dengan handuk tersampir di leher.

Dimas hanya menaikkan sudut bibirnya. Santai. Terlalu santai.

“Lo mending balik. Besok juga lo bakal tau hasilnya,” katanya ringan sambil menggantungkan handuk di balik pintu.

Mata Tasya langsung menyala marah.

“Bisa-bisanya lo ngusir gue setelah lo bikin masalah kayak gini!”

Dimas menoleh cepat. Rahangnya mengeras.

“Oh… jadi lo lebih milih dipake sama dia daripada ribet kayak sekarang?” nada suaranya naik tajam.

“Cukup!” Nina menyela cepat. “Ini bukan waktunya kalian ribut.”

Tanpa menunggu jawaban, Nina menarik tangan Tasya dan menyeretnya keluar dari kostan Dimas sebelum pertengkaran itu berubah jadi sesuatu yang lebih buruk.

Beberapa detik setelah mereka pergi, ponsel Dimas bergetar.

Nomor tak dikenal.

"Makin lama makin dekat sama Putri Adibrata. Kayaknya lo butuh kehangatan dari dia."

Dimas membaca sekilas, lalu tanpa ekspresi langsung memblokir nomor itu. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. Tangannya terasa nyeri—memar bekas perkelahian dengan Rahman di lift tadi malam. Ia menggenggamnya sebentar, lalu memejamkan mata.

Pagi hari.

Dimas sudah berdiri di depan kamar Tasya—satu jam penuh—dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangannya.

Derit pintu terdengar pelan.

Tasya muncul dengan wajah kusut, mengenakan baju tidur tipis. Begitu melihat Dimas, refleks ia menutup dadanya dengan kedua tangan.

“Brengsek! Lo ngapain di sini?!” pekiknya.

Dimas menatapnya datar.

“Buruan mandi. Pak Sasongko udah nungguin lo di kampus.”

Tanpa menunggu reaksi, Dimas langsung berbalik dan berjalan ke warung di depan kostan.

Meninggalkan Tasya dengan satu pertanyaan yang menggantung di kepalanya.

Satu jam berlalu.

Tasya akhirnya keluar dengan pakaian rapi, namun wajahnya jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pucat, tegang, dan nyaris tanpa ekspresi.

Dimas berjalan lebih dulu, memandu Tasya menuju ruang fakultas. Di sana, Pak Sasongko sudah menunggu dengan wajah kusut, duduk kaku di balik meja.

Langkah Tasya melambat. Bersama Dimas, ia akhirnya duduk di hadapan dosen itu.

“Jadi gimana, Pak,” suara Dimas terdengar tenang, tapi sorot matanya menantang, “masih mau ngebatalin seminar Tasya kemarin?”

Tasya langsung menoleh ke arahnya. Dadanya berdesir, namun bibirnya terkunci. Ia tahu, apa pun yang terjadi hari ini akan membawa konsekuensi besar.

Pak Sasongko menarik napas pendek.

“Saya akan mengeluarkan surat penelitian ke Desa Wanagiri,” katanya dingin. “Sesuai permintaan kamu kemarin.”

Ia mengeluarkan selembar kertas rekomendasi, lalu membubuhkan tanda tangan dengan gerakan kasar sebelum menyerahkannya ke arah Dimas.

Tasya terkesiap. Ancaman yang semalam menghantuinya mendadak runtuh begitu saja. Namun raut kesal di wajah Pak Sasongko tak bisa disembunyikan. Tatapannya beberapa kali menyambar sinis ke arah Tasya, seolah menyimpan dendam yang belum tuntas.

“Terima kasih banyak ya, Pak Dosen tercinta,” ucap Dimas dengan senyum tipis yang sarat ejekan.

Ia berdiri.

“Ayo, Sya.”

Namun baru selangkah menuju pintu, Dimas berhenti. Ia menoleh kembali.

“Satu lagi, Pak,” katanya ringan. “Pesan saya semalam masih inget, kan? Jangan sampai lupa.”

Ia tertawa kecil, lalu keluar tanpa menunggu jawaban.

Tasya masih terpaku. Ia tak sepenuhnya mengerti apa yang barusan terjadi, juga alasan Dimas membawanya ke sini. Ia hanya mengekor di belakang, pasrah—amarahnya yang biasanya meledak-ledak kini menguap entah ke mana.

“Dua hari lagi kita berangkat,” kata Dimas begitu mereka tiba di depan gedung fakultas. “Pastikan lembar kerja buat penelitian selanjutnya udah siap.”

Tasya menatapnya, bingung.

“Lo kenapa?” Dimas berhenti, menyadari Tasya tak kunjung menjawab.

“Soal tadi…,” Tasya menunjuk ke arah ruangan yang baru mereka tinggalkan.

“Gue nggak mau punya utang jasa sama siapa pun,” potong Dimas cepat. “Sekarang lo balik, siapin semuanya. Jangan sampe seminar lo ketunda lagi.”

Ia berbalik pergi.

“Dimas, tunggu!” Tasya mengejar, langkahnya dipercepat.

“Gue butuh penjelasan dari lo.”

“Urusan lo udah kelar,” jawab Dimas tanpa menoleh. “Sekarang fokus aja sama yang harus lo kerjain.”

Tasya tiba-tiba menarik tangannya.

“Gue butuh penjelasan!”

Dimas refleks menarik kembali lengannya. Raut wajahnya mengeras—rasa nyeri dari memar di tangannya tak bisa disembunyikan.

“Tangan lo,” gumam Tasya.

Ia menarik pergelangan tangan Dimas sebelum ia sempat menolak, menyeretnya ke bangku di samping koridor.

“Jangan sok kuat kalau dipegang aja masih meringis!” bentaknya.

Tasya langsung membuka tasnya, mengeluarkan minyak kayu putih, lalu mengoleskannya ke punggung tangan Dimas. Gerakannya perlahan, penuh perhatian.

Kali ini, Dimas diam.

Wanita keras kepala yang biasa membalasnya dengan amarah kini berubah menjadi sosok yang begitu lembut. Dadanya naik turun pelan saat jari-jari Tasya mengurut tangannya.

“Harusnya lo nggak perlu sejauh ini,” gumam Tasya.

“Gue nggak mau lo terjerat gara-gara keputusan bodoh yang lo ambil,” jawab Dimas lirih.

Ekspresi Tasya langsung mengeras.

“Lo terlalu polos buat ngerti semuanya, Sya,” lanjut Dimas cepat, seolah tak ingin memberinya waktu untuk membalas.

“Maksud lo?” suara Tasya menurun, kebingungan.

“Anggi,” kata Dimas menatapnya lurus. “Adik kelas gue. Anak ILKOM.”

Nama itu membuat Tasya terdiam.

“Dia korban Sasongko,” lanjut Dimas, rahangnya mengeras. “Dihujat satu fakultas karena hamil tanpa ayah. Padahal—”

Ia menarik napas dalam.

“Dia cuma pengen nilai sidangnya bagus. Datengin si bangsat itu sendirian. Dan lo tau apa?”

Nada suaranya bergetar.

“Nilai itu nggak pernah dia dapet. Yang ada, hidupnya hancur. Kandungannya makin besar, dan dia nyaris bunuh diri.”

Tasya membeku.

Isu yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik kampus kini berdiri nyata di hadapannya—terlalu nyata, dan terlalu kejam.

Tasya menunduk dalam-dalam. Ia tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika saat itu Dimas dan Nina tak datang menolongnya. Skenario terburuk itu berkelebat di kepalanya—dirinya terjebak, tak berdaya, menjadi pelampiasan nafsu Pak Sasongko.

“Rekaman itu nyebar di internet,” lanjut Dimas dengan suara menurun. Ia ikut menunduk. “Dan sampai sekarang, gue nggak pernah liat dia lagi… sampai—”

Ia terdiam sejenak, seolah menimbang berat kata-kata yang hendak keluar.

“Reyna,” ucapnya akhirnya. “Cewek yang meluk gue kemarin dan bikin lo marah nggak jelas. Dia cerita kalau Anggi—sepupunya—udah nggak ada lagi di dunia ini.”

Kata-kata itu menghantam Tasya tanpa ampun.

Pikirannya semakin kalut. Potongan peristiwa mulai menyatu. Wanita yang memeluk Dimas tempo hari bukanlah bayangan dari masa lalu yang romantis, melainkan sepupu dari adik kelas yang selama ini Dimas lindungi—perempuan yang tak pernah ia sakiti, meski sering kali Dimas harus mengorbankan dirinya sendiri.

Rasa sesak menggelayuti dada Tasya.

“Maaf… gu-gue—” suaranya nyaris tak terdengar.

Dimas menatapnya lama, lalu bertanya singkat, datar, namun tepat sasaran,

“Lo cemburu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!