Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN DARI SARANG SERIGALA
Suara deru mesin mobil yang mendekat bukan lagi sekadar peringatan; itu adalah genderang perang. Di dalam taman belakang panti jompo yang gersang itu, waktu seolah membeku bagi Alea. Dunianya baru saja meledak. Pengakuan pria tua di kursi roda itu—sosok yang menghancurkan hidupnya tiga puluh tahun lalu—masih berdenging di telinganya seperti frekuensi tinggi yang menyakitkan.
"Alea, kita harus pergi. Sekarang!" Baskara mencengkeram lengan Alea, namun gadis itu tetap bergeming, matanya terpaku pada sosok Yusuf yang kini menangis tersedu-sedu sambil menutup wajah dengan tangan yang gemetar.
"Dia... dia bilang remnya blong," gumam Alea, suaranya kosong. "Ibu... Ibu yang membayarnya? Selama ini?"
"Alea, sadarlah!" Baskara mengguncang bahu gadis itu. "Anak buah Sarah ada di depan. Jika mereka menemukanmu di sini, semuanya berakhir. Kau akan dikunci selamanya!"
Pernyataan itu akhirnya menembus kabut syok yang menyelimuti pikiran Alea. Ia menatap Baskara dengan tatapan yang hancur, namun ada kilatan amarah yang mulai menyulut di matanya yang basah. Baskara tidak menunggu jawaban lagi; ia menarik tangan Alea dan membawanya berlari menuju pintu belakang yang menuju ke arah gang sempit di samping bangunan panti.
Tepat saat mereka melewati lorong kecil itu, suara rem mobil yang berdecit keras terdengar dari arah gerbang utama. Tiga mobil SUV hitam—mobil operasional keamanan Mahardika Group—berhenti dengan formasi mengepung. Enam pria berpakaian safari gelap turun dengan gerakan taktis. Di tengah mereka, Sarah keluar dari mobil dengan keanggunan seorang predator. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan kedinginan yang mematikan.
"Cari mereka," perintah Sarah singkat. Suaranya yang tenang justru lebih mengerikan daripada teriakan. "Bawa Alea kembali padaku dengan selamat. Dan Baskara... bawa dia padaku, apa pun kondisinya."
Di dalam gang sempit yang berbau sampah dan uap panas pelabuhan, Baskara memacu langkahnya. Ia bisa mendengar suara langkah kaki berat yang mulai memasuki area panti. Ia tahu panti jompo ini adalah jalan buntu. Satu-satunya cara adalah mencapai mobilnya yang diparkir dua blok dari sana, tapi rute utama pasti sudah dijaga.
"Ikuti aku, jangan lepaskan tanganku," bisik Baskara.
Alea mengikuti dengan napas yang tersengal. Gaun mahalnya kini terkena noda debu, dan sepatu hak tingginya membuatnya kesulitan berlari di atas jalanan yang tidak rata. Namun, rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya. Setiap langkah yang ia ambil menjauh dari panti itu terasa seperti ia sedang merobek kulitnya sendiri—meninggalkan identitas sebagai "putri angkat kesayangan" dan masuk ke dalam realitas sebagai "korban yang selamat."
Mereka sampai di ujung gang yang berbatasan dengan pasar kaget yang ramai. Baskara sengaja memilih jalur ini; kerumunan adalah tempat terbaik untuk menghilang.
"Reno, aku butuh jalan keluar," ucap Baskara ke arah handsfree yang tersembunyi di kerah kemejanya.
"Bas, mereka sudah memblokir jalan arah utara. Jangan ke mobilmu, mereka sudah memasang pelacak di sana saat kau parkir tadi. Sial, Sarah benar-benar bergerak cepat," suara Reno terdengar panik namun tetap fokus. "Lari ke arah pelabuhan penyeberangan rakyat. Ada perahu motor yang sudah kusiapkan di dermaga tiga. Kuncinya ada di bawah tangki bensin. Pergi ke arah Kepulauan Seribu, aku punya gudang tua di sana untuk kalian bersembunyi."
"Diterima. Alea, lepaskan sepatumu," perintah Baskara tiba-tiba.
Alea mengerutkan kening. "Apa?"
"Lepaskan! Kau tidak bisa lari dengan itu!" Baskara berjongkok, dengan kasar namun efisien ia melepaskan sepatu hak tinggi Alea dan melemparnya ke tumpukan sampah. "Sekarang lari!"
Mereka berlari tanpa alas kaki di antara tumpukan sayur, pedagang ikan, dan hiruk-pikuk pembeli. Kaki Alea terasa perih saat menginjak kerikil dan aspal panas, namun ia terus berlari, didorong oleh ketakutan yang kini berubah menjadi insting bertahan hidup.
Di belakang mereka, anak buah Sarah mulai memecah kerumunan. Mereka berbadan besar dan mencolok, membuat orang-orang menyingkir dengan ketakutan.
"Di sana!" teriak salah satu pengejar sambil menunjuk ke arah punggung Baskara yang menghilang di balik truk bongkar muat.
Baskara menarik Alea masuk ke dalam gudang penyimpanan es yang gelap dan dingin. Uap putih menyelimuti pandangan mereka. Alea menggigil hebat, bukan hanya karena suhu yang turun drastis, tapi karena ia bisa melihat bayangan orang-orang Sarah melewati pintu gudang.
Baskara menekan tubuh Alea ke dinding es yang beku, menutup mulut gadis itu dengan tangannya. Wajah mereka begitu dekat hingga Baskara bisa merasakan air mata Alea yang jatuh ke punggung tangannya. Ia menatap mata Alea—mata yang kini kehilangan cahayanya.
Ada keheningan yang menyiksa selama beberapa detik. Suara langkah kaki pengejar terdengar di luar, mendekat, berhenti tepat di depan pintu, lalu menjauh seiring suara teriakan dari arah lain yang mengalihkan perhatian mereka.
Baskara melepaskan tangannya dari mulut Alea. Gadis itu terisak tanpa suara, tubuhnya merosot ke lantai gudang yang licin.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?" bisik Alea di sela isakannya. "Kau membiarkanku tinggal bersama wanita itu... kau membiarkanku memanggilnya Ibu... mencium tangannya setiap pagi... sementara dia adalah alasan orang tuaku terkubur di tanah!"
Baskara berjongkok di hadapannya, mengabaikan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. "Karena aku butuh bukti yang tidak bisa kau bantah, Alea. Jika aku memberitahumu tanpa membawa kau ke depan Yusuf, kau akan menganggapku sebagai penjahat yang mencoba memecah belah keluargamu. Aku harus membuatmu melihat sendiri darah yang ada di tangan Sarah."
"Dan sekarang? Apa sekarang kau senang melihatku hancur?" Alea mendongak, menatap Baskara dengan kemarahan yang meluap. "Kau menggunakan kebenaran ini untuk menghancurkannya, tapi kau tidak peduli bahwa kebenaran ini juga membunuhku!"
Baskara terdiam. Hatinya yang selama ini ia anggap sebagai benteng yang tak tertembus, kini terasa retak. Ia melihat kehancuran Alea dan ia menyadari satu hal: ia adalah arsitek dari penderitaan gadis ini saat ini. Ia memang menyelamatkannya dari kebohongan, tapi ia melakukannya dengan cara yang paling kejam.
"Aku tidak senang, Alea," jawab Baskara pelan, suaranya parau. "Tapi hidup dalam kebohongan adalah kematian yang tertunda. Aku ingin kau bangun, meski itu berarti kau harus merasa sakit."
Baskara berdiri dan mengulurkan tangannya. "Kita harus segera mencapai dermaga. Sarah tidak akan berhenti sampai dia membawamu pulang dan memastikan kau tetap bungkam."
Alea menatap tangan Baskara. Tangan yang membawanya masuk ke dalam ruang kerja rahasia, tangan yang menyelamatkannya dari kejaran anak buah Sarah, dan tangan yang baru saja merobek dunianya. Dengan keraguan yang masih membekas, ia meraih tangan itu dan berdiri.
Mereka keluar melalui pintu samping gudang es, berlari menuju dermaga kecil di mana perahu motor kayu bersandar di antara kapal-kapal nelayan. Baskara segera melompat ke atas perahu, menarik Alea masuk, dan menghidupkan mesinnya.
Tepat saat mesin menderu, sebuah mobil SUV hitam berhenti di bibir dermaga. Sarah keluar dari sana. Ia berdiri tegak di bawah terik matahari, matanya menatap langsung ke arah Baskara yang mulai menjauhkan perahu dari tepian.
Sarah tidak berteriak. Ia tidak menyuruh anak buahnya menembak. Ia hanya berdiri di sana, menatap Alea dengan tatapan yang sulit diartikan—seolah ia sedang melihat asetnya yang paling berharga sedang terbawa arus.
Alea berdiri di buritan perahu, menatap wanita yang selama dua puluh tahun ini ia anggap sebagai malaikat pelindung. Untuk pertama kalinya, Alea tidak melihat kehangatan di wajah Sarah. Ia hanya melihat seorang wanita yang dingin, tamak, dan tanpa jiwa.
"Kau bukan ibuku!" teriak Alea dengan sisa tenaganya, suaranya hilang ditelan suara ombak dan raungan mesin perahu.
Sarah tidak bereaksi. Ia hanya mengangkat ponselnya ke telinga, memberikan sebuah instruksi yang tidak bisa mereka dengar. Baskara tahu ini baru permulaan. Sarah memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan koneksi. Sedangkan ia hanya memiliki sebuah perahu tua, data di flash drive, dan seorang gadis yang kini hancur di hadapannya.
Saat perahu itu melaju membelah ombak menuju cakrawala yang kelabu, Baskara menatap Alea yang meringkuk di sudut perahu. Ia tahu, mulai detik ini, jalan kembali sudah tertutup. Mereka berdua adalah buronan di kerajaan yang seharusnya menjadi milik mereka. Dan di tengah laut yang luas itu, dendam Baskara mulai bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada benci: rasa tanggung jawab untuk menjaga satu-satunya nyawa yang tersisa dari tragedi Suryakencana.