NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STANDAR GANDA DAN UKURAN LUKA

Scarlett menyambar ponselnya yang tergeletak di nakas. Layar itu menyala terang, menampilkan rentetan panggilan tak terjawab yang semuanya berasal dari satu nama: Devan.

Pria itu seolah tidak mengenal lelah untuk mengusik ketenangannya belakangan ini. Scarlett menatap catatan di meja kopi tadi sekali lagi, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan tak acuh. Ia tidak punya tenaga untuk meladeni ego Devan malam ini; otaknya masih dipenuhi dengan barisan kode algoritma yang harus ia rombak total. Ia memilih melangkah ke kamar mandi, membiarkan air hangat membasuh kelelahan yang merantai tubuhnya.

Namun, dunia seolah tidak membiarkannya bernapas. Begitu ia keluar dengan rambut basah yang dibungkus handuk, ponselnya kembali bergetar hebat. Nama yang sama.

Scarlett menghela napas panjang. Ia tahu tabiat Devan; jika ia tidak mengangkatnya sekarang, pria itu mungkin akan muncul di depan pintunya dan menghancurkan waktu istirahatnya yang berharga. Dengan jari yang masih kaku, ia menekan tombol hijau.

"Sudah pulang?" Suara Devan merayap masuk ke telinganya, dingin, penuh otoritas, dan sarat akan tuntutan.

"Ya," jawab Scarlett pendek.

"Kamu lihat catatan yang kutinggalkan?"

"Lihat." Suara Scarlett datar, seolah ia sedang berbicara dengan operator layanan pelanggan, bukan suaminya.

Ketidakpedulian itu jelas menyulut api kecil di dada Devan. "Kalau lihat, kenapa tidak menelepon balik?"

"Sudah malam, Devan. Aku lelah," Scarlett melirik jam dinding yang hampir menyentuh angka satu pagi.

Devan tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti gesekan logam tajam. "Oh, jadi kamu sadar ini sudah malam? Baguslah kalau masih punya kesadaran. Apa menurutmu pantas seorang wanita pulang selarut ini sendirian?"

Pertanyaan itu menjadi pemantik bagi ledakan emosi yang sejak tadi Scarlett pendam. Bayangan tentang data proyeknya yang kini dipamerkan sebagai "karya genius" Vivian di bawah bendera Grup Laksmana membuat lidah Scarlett menjadi tajam.

"Tidak pantas?" Scarlett membalas dengan nada yang tak kalah dingin. "Lalu, jika dibandingkan denganmu yang sering tidak pulang semalaman demi wanita lain, mana yang lebih tidak pantas?"

Hening sejenak. Devan tertegun di seberang sana. Ini bukan Scarlett yang ia kenal—wanita yang biasanya menelan semua luka dalam diam dan membalas ketidakpeduliannya dengan senyum getir yang dipaksakan. Mendengar Scarlett berani menyerang balik dan mengungkit masa lalu, Devan justru merasakan desiran aneh di dadanya. Perlawanan Scarlett justru membuatnya merasa tertantang.

"Wanita yang berkeliaran tengah malam itu berbahaya," balas Devan akhirnya, suaranya kini lebih tenang namun tetap keras kepala. "Tapi aku laki-laki. Itu berbeda."

Scarlett nyaris mencibir. Berbeda? Standar ganda itu selalu menjadi tameng Devan untuk membenarkan segala pengkhianatannya. Namun, ia tidak ingin membuang energi untuk berdebat soal moralitas di tengah malam. Mereka akan segera bercerai; semua perdebatan ini hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang busuk.

"Jadi, apa tujuanmu menelepon? Langsung saja ke intinya," potong Scarlett.

Devan berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya. "Delapan hari lagi adalah ulang tahun Nenek yang ke-70. Ayah dan Ibu menyerahkan seluruh pengaturan acara padaku."

Scarlett terdiam. Ingatannya melayang ke pesta-pesta keluarga sebelumnya. Panggung di mana ia selalu menjadi figuran yang menyedihkan, berdiri di pojok ruangan sementara suaminya sibuk melindungi wanita lain. Ia teringat tatapan menghina para tamu, dan insiden memalukan saat ia terprovokasi hingga menyiram anggur ke wajah seorang model. Hari itu, ia dicap sebagai wanita kasar, dan ibu mertuanya, Violeta, menghakiminya habis-habisan.

Tapi ulang tahun Nenek Trisha kali ini berbeda. Ini adalah momen perpisahan terakhirnya dengan Keluarga Laksmana. Setelah surat cerai itu keluar, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di kediaman itu lagi. Ia ingin hadir, demi satu-satunya orang yang pernah memberinya kehangatan di rumah dingin itu.

"Aku mengerti," ucap Scarlett, suaranya melembut namun penuh sarkasme yang dalam. "Kamu akan membawa Vivian sebagai pendampingmu, kan? Jangan khawatir, aku tidak akan membuat keributan. Aku akan datang sebagai 'istri pajangan' yang patuh untuk terakhir kalinya."

Ia mengira Devan akan merasa puas, namun jawaban itu justru membuat alis Devan bertaut. Ada rasa tidak nyaman mendengar Scarlett menyebut dirinya sendiri sebagai pajangan.

"Scarlett, berhenti menjadikan Vivian sebagai musuh imajinermu," desis Devan.

Musuh imajiner? Scarlett tersenyum miris. Vivian telah mencuri hasil kerja kerasnya, dan Devan justru menyebutnya imajinasi. Scarlett memilih untuk mengakhiri percakapan ini.

"Terserah kamu saja," balas Scarlett singkat.

"Besok aku sudah membuat janji dengan desainer," tambah Devan cepat, seolah takut Scarlett akan mematikan telepon. "Kamu harus pulang ke rumah utama. Dia perlu mengukur badanmu untuk membuat gaun pesta."

Scarlett tidak ingin bertemu Devan, apalagi menghabiskan waktu berjam-jam di bawah pengawasan pria itu. Tanpa ragu, ia langsung menyebutkan angka-angka ukuran tubuhnya dengan presisi yang mengejutkan.

"Kamu tidak perlu repot. Catat saja: lingkar dada 85, pinggang 62, panggul 90. Aku sedang sibuk di kantor, jangan suruh aku pulang hanya untuk hal sepele ini."

Devan terdiam di ujung sana. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia akhirnya bersuara, nadanya terdengar sedikit aneh, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin dengan ukuranmu? Kamu bahkan tidak menimbang badan dalam sebulan terakhir."

"Aku mengenal tubuhku sendiri lebih baik daripada kamu mengenalku, Devan," jawab Scarlett dingin, lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak sebelum Devan sempat membalas.

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!