NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:34.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.10

Matahari telah terbenam sepenuhnya ketika Shen Yu digiring menuju tempat tinggal barunya. Bukan paviliun indah di atas awan seperti yang dibayangkan banyak orang, melainkan deretan gubuk kayu panjang yang lembap di kaki bukit belakang, yang dikenal sebagai Asrama Kayu Hitam.

Ini adalah tempat bagi murid luar dengan bakat terendah. Bau keringat, kaki yang tak dicuci, dan jamur menyambut hidung Shen Yu begitu ia melangkah masuk ke Kamar Nomor 7.

Di dalam ruangan sempit itu, terdapat sepuluh dipan kayu yang berjejalan. Delapan pasang mata menatap Shen Yu dan seorang murid baru lainnya dengan tatapan menilai, seperti serigala menatap domba baru.

"Hei, Daging Segar," suara berat terdengar dari dipan paling ujung, satu-satunya dipan yang memiliki kasur empuk dan selimut sutra curian.

Seorang pemuda bertubuh besar dengan bekas luka di pipi bangkit duduk. Ini adalah Gou San, penguasa kecil di Kamar 7, murid tingkat Pemurnian Qi Tahap 2 yang sudah tiga tahun gagal naik pangkat dan melampiaskan frustrasinya pada junior.

"Kau tahu aturannya?" Gou San menyeringai, memamerkan gigi kuningnya. "Biaya sewa tempat tidur. Satu Batu Roh per bulan. Bayar sekarang, atau tidur di kandang babi di luar."

Murid baru di sebelah Shen Yu gemetar ketakutan. "Ta-tapi Kakak, kami baru saja masuk... kami belum dapat jatah bulanan..."

Plak!

Gou San menampar murid itu hingga terpental menabrak dinding. "Kalau tidak punya Batu Roh, serahkan pil, uang perak, atau makananmu! Jangan buat aku mengulanginya!"

Shen Yu berdiri diam di dekat pintu. Tangannya meraba saku tempat tiga Batu Roh nya tersimpan. Memberikannya sekarang berarti kehilangan modal untuk berlatih. Tapi melawannya sekarang, di depan semua orang saat ia lelah, adalah tindakan bodoh.

Gou San beralih menatap Shen Yu. "Kau. Kau yang tadi masuk dengan wajah sombong. Mana upetiku?"

Shen Yu menunduk, memasang wajah ketakutan yang meyakinkan. "Kakak... saya... saya berasal dari desa miskin. Saya tidak punya apa-apa selain baju di badan ini."

Gou San mendengus, lalu meludah ke dekat kaki Shen Yu. Ia memindai Shen Yu dengan Indra spiritualnya yang kasar. Hanya Qi Tahap 1 yang lemah. Tidak ada ancaman.

"Cih. Sampah miskin lagi," gerutu Gou San. "Malam ini kau boleh tidur di lantai. Besok, kau harus mencucikan semua baju kami di sini selama sebulan sebagai ganti upeti. Mengerti?!"

"Mengerti, Kakak. Terima kasih atas kemurahan hati Kakak," jawab Shen Yu dengan suara gemetar yang dibuat-buat.

Para penghuni kamar lain tertawa meremehkan. Bagi mereka, Shen Yu hanyalah pengecut lain yang mudah diinjak.

Shen Yu meletakkan buntelan barangnya di sudut ruangan yang gelap dan kotor. Ia duduk memeluk lutut, membiarkan tawa mereka mereda hingga satu per satu tertidur pulas.

Di dalam kegelapan, mata Shen Yu terbuka. Tidak ada rasa takut di sana, hanya dingin yang mematikan.

Tunggu saja, batinnya.

Lewat tengah malam, ketika suara dengkuran memenuhi asrama, Shen Yu bangkit tanpa suara. Ia menyelinap keluar jendela belakang menuju hutan bambu di perbatasan area murid luar.

Ia butuh kekuatan.

Di tengah kerimbunan bambu yang sunyi, Shen Yu membuka gulungan Tinju Penghancur Batu. Ia membaca instruksinya di bawah sinar bulan.

"Kumpulkan Qi di kepalan tangan, ledakkan saat kontak fisik. Seperti palu menghantam paku."

Shen Yu mulai berlatih.

Hia!

Ia memukul batang bambu tebal.

Brak!

Bambu itu retak, tapi tangan Shen Yu terasa sakit bukan main. Kulit buku jarinya lecet. Qi-nya terasa tersendat di pergelangan tangan, tidak mengalir lancar.

"Teknik sampah," umpatnya. "Pantas saja harganya murah. Aliran energinya kasar dan merusak diri sendiri."

Saat itulah, Giok Retak di dadanya bergetar hangat.

Shen Yu merasakan sensasi tarikan di kesadarannya. Tiba-tiba, di dalam benaknya, ia melihat siluet manusia cahaya sedang memperagakan gerakan Tinju Penghancur Batu.

Namun, siluet itu melakukan gerakan yang sedikit berbeda. Siku lebih rendah, putaran pinggang lebih tajam, dan jalur aliran Qi di dalam tubuhnya... itu sama sekali berbeda!

Giok itu tidak memberinya teknik baru. Giok itu memperbaiki teknik cacat yang dipelajari Shen Yu.

Shen Yu terpana. Ia segera meniru gerakan siluet itu.

Ia menarik napas, membiarkan Qi mengalir bukan lurus menabrak seperti banjir, tapi berputar spiral.

Tinju Penghancur Batu — Versi Sempurna.

Shen Yu memukul batang bambu yang sama. Kali ini, tidak ada suara Brak! yang keras. Hanya suara Tuf! yang tumpul.

Batang bambu itu tidak retak di luar. Namun, saat Shen Yu menarik tangannya, batang bambu itu perlahan layu, lalu ambruk. Bagian dalamnya telah hancur menjadi serbuk, sementara kulit luarnya masih utuh.

"Ini bukan lagi menghancurkan batu..." gumam Shen Yu, menatap tangannya dengan takjub. "Ini menghancurkan organ dalam."

Kekuatan serangannya meningkat tiga kali lipat. Dan yang terpenting ini adalah serangan sunyi. Mematikan dan tersembunyi.

Sebuah rencana jahat terbentuk di kepalanya.

Shen Yu kembali ke asrama menjelang fajar, saat langit masih gelap gulita.

Semua orang masih tidur, termasuk Gou San yang mendengkur keras dengan mulut terbuka, kakinya yang bau menjuntai keluar dari selimut.

Shen Yu mengendap-endap mendekati dipan Gou San. Ia tidak berniat membunuh itu akan mengundang penyelidikan sekte. Ia hanya perlu memberi pesan.

Ia melihat sebuah guci air minum di meja samping tempat tidur Gou San.

Shen Yu mengeluarkan kantong kecil berisi bubuk gatal dari tanaman Jelatang Api yang sempat ia ambil di hutan tadi. Ia tidak mencampurnya ke air.

Sebaliknya, ia mengoleskan bubuk itu tipis-tipis di tepi dalam celana dalam Gou San yang terjemur di sandaran kursi. Lalu, Shen Yu menatap lutut kanan Gou San yang terbuka.

Ia menyalurkan Qi spiral barunya ke ujung jari telunjuk.

Teknik Jari Penghancur (Modifikasi dari Tinju).

Dengan gerakan secepat kilat, Shen Yu menotok titik meridian di lutut Gou San.

Tuk.

Sangat pelan. Gou San hanya melenguh sedikit dalam tidurnya, mengira digigit serangga, lalu berbalik badan.

Shen Yu tersenyum dingin. Serangannya barusan tidak mematahkan tulang, tapi menghancurkan simpul saraf di dalam lutut. Gou San tidak akan merasakannya sekarang. Tapi begitu ia bangun dan mencoba menumpu berat badan... kakinya akan lumpuh total selama setidaknya satu bulan, dan rasa sakitnya akan seperti ditusuk ribuan jarum setiap kali bergerak.

Ditambah dengan bubuk gatal di area pribadinya... Gou San akan mengalami neraka dunia.

Shen Yu kembali ke sudut ruangannya, berbaring di lantai keras, dan menutup mata.

Pagi harinya, Asrama Kayu Hitam dibangunkan oleh teriakan yang memilukan.

"AAAAKH! KAKIKU! SELANGKANGANKU! PANAS!"

Gou San berguling-guling di lantai, memegangi lututnya yang bengkak merah tanpa sebab yang jelas, sambil menggaruk area selangkangannya dengan panik seperti orang gila.

Murid-murid lain menatap ngeri dan bingung. "Kak Gou? Ada apa?!"

"Kakiku mati rasa! Siapa?! Siapa yang melakukan ini?!" teriak Gou San, matanya liar mencari pelaku.

Matanya tertuju pada Shen Yu yang sedang duduk di pojok, tampak baru bangun tidur dengan wajah polos dan bingung, mengucek mata.

"Ada apa, Kakak Senior?" tanya Shen Yu dengan suara yang terdengar sangat tulus. "Apakah Kakak mimpi buruk?"

Gou San mengerang, tidak bisa menuduh siapa-siapa. Tidak ada bukti, tidak ada jejak pemukulan. Ia hanya bisa meraung saat rasa sakit saraf itu menyerangnya lagi.

Hari itu, Gou San dibawa ke balai pengobatan dan dinyatakan menderita "Penyumbatan Qi mendadak dan Alergi Parah". Kekuasaannya di Kamar 7 runtuh dalam semalam.

Dan di pojok ruangan, sambil melipat selimutnya, Shen Yu menyeringai tipis. Tidak ada yang melihatnya.

Dia telah belajar pelajaran pertamanya di sekte: Jangan menggigit jika kau bisa meracuni.

1
༄⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😈👿😈Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡🤬😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👻👻👻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👿😈👿Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😁😁😁Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄🙄🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🥹🥹🥹Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!