NovelToon NovelToon
Status Janda, Rekening Miliaran

Status Janda, Rekening Miliaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: yance 2631

Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syukuran

Adrian bahagia mendengar pernyataan Davina istrinya, kemudian berusaha memulainya lagi ketika saat mandi..

"Mas, udah dulu sayang malam aja.. nanti mas capek, Mas belum makan kan?" bisik Davina. Adrian mengangguk, ia tahu perhatian istrinya itu untuk kebaikan staminanya.

Selesai mandi dan berganti pakaian santai mereka pun berjalan ke ruang makan, Adrian tampak makan begitu lahap karena energinya tadi sudah terkuras habis, hampir lebih dari 17 tusuk sate kambing dan sop kambing Adrian habiskan karena lapar..

"Mas, pelan-pelan makannya.. "ujar Davina tersenyum melihat suaminya makan dengan lahapnya, "iya sayang.. ," ujar Adrian sambil tersenyum manis.

"Vin, gimana tadi Mas menurut kamu?" tanya Adrian tiba-tiba yang membuat wajah Davina berubah menjadi pink.

"Ayo dong bilang.. nggak usah malu sayang, next kalau kamu pengen bilang aja ya, mas pasti kasih kok ya" ujar Adrian, sambil merapikan sendok makannya.

"Mas Adrian hebat.. ,strong pisan!" ujar Davina jujur. "Ooh ya?, really? Makasih ya sayang.." ujar Adrian sambil mencium pipi istrinya singkat.

Terdengar suara motor matic di luar, ternyata Kevin baru pulang mengantar pacarnya, "Assalamualaikum.. "sapa Kevin.

"Waalaikumsalam.. "balas Adrian dan Davina bersamaan. "Udah pulang kamu Vin?" tanya Davina, "iya teh.. "ujar Kevin sambil memperhatikan wajah kakaknya.

Davina merasa diperhatikan oleh adiknya, "kenapa kamu Vin?" tanya Davina.

"Hehehe .. ,teteh udah keramas aja" ledek Kevin adiknya. Davina hanya tersenyum menanggapi candaan adiknya itu. Kevin pun berjalan menuju kamarnya.

Adrian lalu menghampiri istrinya,

"Vin.. apa abis ini kita ke rumah aku aja ya, maksudnya malam ini tidur di sana?" ujar Adrian.

"Mas, kata orang-orang tua jawa jaman dulu.. pengantin laki-laki itu minimal harus 3 harian di rumah mertuanya" ujar Davina santai.

"Ooh gitu, aku yang asli ada darah jawa tengah malah baru tahu" ujar Adrian tersenyum. "Mm, iya nggak apa-apa sayang sekarang kan jadi tahu mas.." ujar Davina.

Tak lama orang tua Davina datang, lalu menghampiri putrinya dan Adrian.. "Kalian berdua di sini dulu ya sampai 3 hari, besok kerja atau ambil cuti?" tanya bu Elis.

"Kita masih cuti mah.." ujar Davina dan Adrian bersamaan, lalu terdengar adzan magrib. Davina dan Adrian kembali ke kamar dan melaksanakan sholat magrib berjamaah.

POV HANIN KIRANA

Saat ini aku merasa lega, karena rencanaku untuk membangun pabrik sendiri menemui titik terang, tanah yang aku beli di kawasan sekitar Cicalengka pinggiran kota Bandung sudah lunas,

Sore ini aku juga berencana mengadakan syukuran kecil di ruko tempat usahaku, beberapa pedagang gerobak yang biasanya berjualan dekat ruko aku panggil.. mulai dari penjual bakso, mie ayam, siomay, baso tahu batagor, es cendol, es cincau hingga pedagang makanan tradisional, tidak lupa juga aku memesan nasi tumpeng ukuran large, setelah ba'da isya nanti aku akan mengadakan pengajian di ruko.

Makanan, jajanan yang aku siapkan ini memang sengaja aku biarkan berasa di dalam area parkir ruko sehingga bila ada yang memesan mereka bisa memilih dan itu semuanya aku gratiskan untuk mereka makan..

Aku juga mengundang Sita, dan dia rencananya akan datang sepulang kerja nanti.

Ba'da isya tampak sudah banyak orang di ruko tempat usahaku ini, beberapa customer pun ikut aku undang yang kebetulan mereka datang termasuk juga pemulung, tukang parkir.. dari kejauhan aku melihat Sita berjalan dengan seorang laki-laki yang tidak asing bagiku, seperti aku pernah kenal sebelumnya,

"Mbak Hanin.. "sapa Sita,

"Eh Sita yuk silahkan.. sama siapa kesini?, sendiri?" tanyaku. "Mm, eh ini sama teman mbak" ujar Sita. Aku pun mengangguk.

Laki-laki yang bersama Sita tadi tampak duduk di ujung dekat pintu lobby ruko.. dia seperti mencuri-curi pandang melihat aku, entah apa yang dipikirkannya, aku tidak menanggapinya.

Pembukaan acara pengajian sudah selesai, kemudian pak Ustadz tampak memberikan tausiahnya dengan tema 'bersyukur' lalu setelah selesai pak ustadz dan aku memotong tumpeng bersama.. lalu kami membagikan sedekah kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu yang juga aku undang di acara ini.

"Mbak, bagus ya ada acara syukuran nikmat seperti ini.. semoga usaha mbak ke depan semakin sukses, lancar" ujar Sita.

"Aamiin.. terima kasih Sita" ujarku tersenyum, tadinya aku ingin memberitahu Sita bahwa Adrian dan Davina sudah sah menjadi suami-istri tapi niat itu aku urungkan.. karena soal itu sebenarnya juga bukan urusanku.

"Mbak Sita, mau pulang sekarang?" tanya laki-laki yang bersama Sita dari awal. Sita hanya menggelengkan kepalanya. "Nanti mas, aku masih betah di sini," ujar Sita.

"Oh ya mbak, kenalin ini mas Bimo temanku" ujar Sita, aku pun tersenyum tidak bersalaman dengan teman Sita itu. Bimo pun tersenyum, akhirnya aku ingat kalau laki-laki ini adalah ipar mas Adrian, suami Astrid.. tapi kok kenapa dia bisa dengan santainya berduaan dengan Sita, Bimo seperti memperhatikanku sesaat.

"Mm, mbak kayaknya kita pernah ketemu deh.. tapi di mana ya?" ujar Bimo.

"Ooh iya, bener mas.. sepertinya begitu, tapi aku lupa juga kapan ya?" ujarku pura-pura tidak mengenalnya.

"Maaf, apa .. mbak ini mantan istri Adrian?' tanya Bimo. "Betul mas, saya pernah menjadi istrinya" ujarku santai. Sita tampak terkejut..

"Loh, kok mas Bimo tahu mbak Hanin mantan istri mas Adrian?" tanya Sita kepo, wajahnya berubah. "iya tahu dong.. karena.. mm karena.. ahh sudahlah lupakan aja ya mbak Hanin, bukan begitu?" ujar Bimo mulai gugup. Aku pun hanya mengangguk.

"Bimo ini, kayaknya melakukan kebodohan yang sama dengan Sita buktinya dia gugup" gumamku dalam hati.

Menjelang malam, jam 22:00 Sita dan Bimo berpamitan untuk pulang. "Hati-hati ya Sita, jaga diri baik baik" pesanku.

"Mm, iya mbak.. terima kasih" ujar Sita, sambil memelukku. Mereka pun pergi, aku dan Amel pun kembali menuju rumah untuk beristirahat.

 ------

Hari pun berganti pagi, setelah sarapan aku dan Amel pergi ke ruko sekitar jam 10 pagi..

Tiba di ruko tempat usahaku aku kaget, karena Bimo sudah ada di lobby seperti menungguku datang..

"Pagi dek Hanin, maaf ya ganggu pagi-pagi," ujar Bimo. "Ya, ada yang perlu di bahas?" tanyaku, Bimo mengangguk.

"Silahkan duduk mas.. "ujarku.

"Sebelumnya aku minta maaf ya dek Hanin, waktu aku masih berumah tangga dengan Astrid aku jarang sekali menyapa kamu, dan aku juga ikutan jutek sama kamu, "ujar Bimo.

"Nggak apa apa mas.. yang sudah ya sudah, lupakan aku juga nggak terlalu ingat kok" ujarku santai.

"Ada yang harus aku sampaikan, ini tentang Astrid" ujar Bimo. Bimo lalu bercerita masalah rumah tangganya, hingga Alvin putranya di titipkan di Jogja dengan orang tuanya.

"Dek, aku sekarang ini menyukai Sita.. aku akan menceraikan Astrid, yang menurutku sudah keterlaluan" ujar Bimo.

Aku hanya mengangguk, tanpa memberitahu jika Sita mantan tunangan Adrian. Aku juga nggak ingin terlalu mencampuri urusan mereka.

"Dek Hanin, apakah bisa mencabut laporan atas kasus bu Hemas dan Astrid?" tanya Bimo. Aku pun menggelengkan kepala.

"Maaf ya mas, aku nggak akan mencabut laporan soal mereka, bukan karena aku balas dendam ya, tapi memang mereka pantas di beri pelajaran dan itu akan buat merek sadar" ujarku tegas.

Bimo pun mengangguk.

"Ya sudah dek Hanin, terima kasih mau terima aku pagi-pagi begini" ujar Bimo, "iya mas sama-sama" ujarku sambil mengantar mas Bimo yang langsung pamit.

Setelah selesai aku pergi ke lantai 2 untuk mengontrol penjualan produk di 4 e-Commerce yang sedang berjalan.

Pagi ini juga, tampak Adrian dan Davina masih ada di ranjang mereka, "Gimana tadi malam sayang.. kamu puas nggak?" tanya Adrian sambil mencium lembut pipi istrinya. Davina pun tersipu malu.

"Mas hebat, jagoan deh memuaskan istri.. aku sampai kewalahan loh mas," ujar Davina sambil tangannya mulai mengusap 'milik' Adrian yang berdiri karena udara pagi yang dingin, lalu merapatkan tubuhnya lagi ke tubuh Adrian.

Adrian hanya diam, tersenyum melihat sikap istrinya itu.

"Vin, aku juga bahagia sekali.. mm.. kalau kamu mau lagi bilang ya, jangan malu.. aku suamimu sekarang, ngerti sayang?" ujar Adrian sambil menggigit lembut dua gunung kembar yang masih mulus milik Davina.

Davina pun tersenyum, kegelian.

"Sudah hampir jam 10 mas, ayo kita mandi.." ujar Davina, Adrian pun mengangguk. Mereka lalu mandi bersama.

Setelah selesai mereka berdua pun turun ke lantai 1 rumah, di bawah tampak papa dan mama Davina sedang duduk santai di ruang tengah.

"Pagi Mah, Pah.. "sapa Davina.

"Pagi sayang.. sini.." ujar papa Davina tersenyum lebar. Davina pun menghampiri orang tuanya.

Adrian hanya tersenyum.

"Sarapan dulu ya, mm.. telat bangun ya?" ujar mama Davina, bu Elis. " iya nih mah.. "ujar Davina sedikit malu. "ya nggak apa-apa nak, pengantin baru memang gitu.. jangan di tahan-tahan ya biar mama cepet punya cucu," ujar bu Elis sambil tersenyum bahagia.

"Mama kan udah punya cucu dari kak Lia" ujar Davina sambil sarapan.

1
Dwi Agustina
Bagus Nin👍biar kapok👍👍👍
Dwi Agustina
Segala sesuatu yg berawal dr kebohongan akan menuai hasil yg tdk baik😁
Dwi Agustina
Amit2 ada y perempuan kyk Sita😅
Dwi Agustina
Semangat Hanin💪semangat othor💪🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!