Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam adalah diterima
Pagi itu, suasana di kantor pusat mendadak mencekam. Kehadiran mobil Bentley hitam milik Pak Darmawan di lobi utama membuat para staf berdiri tegak dengan wajah pucat. Tanpa menyapa siapa pun, pria tua itu melangkah lebar menuju ruangan Elang, tongkat kayunya menghantam lantai marmer dengan irama yang mengintimidasi.
Brak!
Pintu ruang kerja Elang terbuka paksa. Pak Darmawan masuk dengan mata berkilat marah, sementara Bu Sofia mengekori dengan raut wajah cemas yang dibalut dengan elegan.
“Elang! Apa maksud dari kekacauan ini?!” Pak Darmawan melempar sebuah koran bisnis ke meja Elang. Di sana, headline mengenai ‘ketidakstabilan internal di perusahaan Elang terpampang nyata'. “Lebih dari tiga puluh miliar raib, dan kamu masih duduk santai di sini?!”
Elang berdiri dengan tenang, meski dadanya bergemuruh. “Saya sedang memprosesnya. Tim audit sudah menemukan jejaknya, semua mengarah pada satu orang.”
“Hendra, kan?! Aku sudah dengar dari orang-orang audit!” Pak Darmawan memotong kasar. “Dia itu orang kepercayaanku! Beraninya dia mengkhianati orang yang memberinya makan!”
“Kita perlu menginvestigasi lebih dalam. Ada yang aneh dari bukti-bukti itu,” sela Elang berusaha memberikan penjelasan.
“Aneh apanya?! Bukti sudah di depan mata, rekeningnya penuh dengan uang haram, dan kamu masih mau membela dia?” Pak Darmawan mengantamkan tongkatnya ke meja kerja Elang. “Dengar Elang! Aku tidak peduli dengan sentimenmu. Aku sudah bicara dengan kepolisian, mereka akan menjemput Hendra jam dua siang ini.”
Elang tersentak. “Tapi, Yah… itu terlalu cepat! Kalau kita menyerahkannya sekarang tanpa tahu siapa di belakangnya, kita tidak akan mendapatkan uang itu kembali.”
“Aku tidak butuh uang itu kembali! Yang aku butuhkan hanya kepercayaan pasar kembali,” teriak Pak Darmawan. “Jika Hendra di penjara sekarang, dunia akan tahu kalau kita tegas. Jika kamu menunda-nunda, orang akan berpikir kamu juga terlibat atau kamu terlalu lemah untuk memimpin.”
Bu Sofie melangkah maju, menyentuh bahu Elang dengan jari-jarinya yang dingin. “Elang, dengarkan Ayahmu! Sejak kematian Mentari, kamu membiarkan emosi mengambil alih, fokusmu hilang. Ayahmu hanya ingin menyelamatkan apa yang tersisa dari nama besar kita.”
Di sudut ruangan, Aditya berdiri dengan wajah tertunduk, menunjukkan ekspresi sedih. “Om, maafkan saya tidak bisa menjaga Pak Hendra. Saya betul-betul merasa gagal sebagai sebagai salah satu orang kepercayaan Elang.”
Pak Darmawan menatap Aditya, lalu kembali menunjuk wajah Elang. “Lihat sepupumu ini! Dia lebih peduli pada perusahaan daripada CEO-nya sendiri. Aku memberimu pilihan Elang. Tanda tangani surat penyerahan bukti ini ke polisi, atau aku akan menggunakan hak perogatif-ku sebagai pemilik saham mayoritas untuk menonaktifkanmu hari ini juga.”
Elang menatap surat di depannya, tangannya mengepal kuat. Ia merasa sedang digiring ke sebuah lubang yang gelap. Jika ia menandatanganinya, Hendra hancur, dan ia mungkin kehilangan kunci untuk menemukan pelaku yang sebenarnya. Namun jika tidak, ia akan kehilangan kekuasaan untuk menyelidiki kasus ini sama sekali.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Elang meraih pena. Ia membubuhkan tanda tangan di atas materai dengan gurat yang tajam.
“Bagus,” ucap Pak Darmawan, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas. Ia menyambar surat itu. “Biarkan polisi yang mengurus sisanya. Dan kamu Elang, berishkan wajahmu! Jangan tunjukkan ekspresi kalah seperti itu di depan karyawan. Kamu seorang CEO, bukan kepala bagian yang amatir.”
Setelah orang tuanya keluar dengan langkah penuh kemenangan, diikuti Aditya yang sempat memberikan tatapan ‘simpati’ terakhir, Elang jatuh terduduk di kursinya. Ia memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut.
************
Elang tiba di rumah saat senja mulai berwarna ungu kemerahan. Alih-alih masuk lewat pintu utama, ia berdiri lama di taman samping, memperhatikan Nura yang sedang menemani Kanara mewarnai di halaman belakang.
Nura terlihat sangat tekun, sesekali mengusap rambut Kanara dan membisikkan sesuatu yang membuat anak itu tersenyum tipis. Pemandangan itu sangat kontras dengan kejadian yang baru saja ia alami di kantor.
Elang melangkah mendekat. Nura yang menyadari kehadiran Elang segera berdiri, wajahnya kembali dipasangi ‘topeng’ profesional yang kaku.
“Selamat sore, Pak. Bapak pulang lebih awal,” ucap Nura sambil sedikit menunduk.
Elang tidak menjawab. Ia terus melangkah, mengambil tangan Nura dan menggenggamnya erat.
“Pak, apa yang Bapak la–”
“Tolong, Ra, aku mohon jangan seperti ini,” potong Elang, suaranya parau.
“Saya yang minta tolong agar Bapak melepaskan tangan saya,” ucap Nura tegas, menatap lurus ke dalam mata Elang.
Mereka terdiam sejenak, lalu Elang dengan perlahan melepaskan tangan Nura.
“Saya permisi ke dalam, Pak,” ujarnya sebelum berbalik dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah.
“Ayah…?” panggil Kanara dengan kepala mendongkak menatap Elang.
Elang beralih pada Kanara, memberikan senyuman hangat, lalu mencium pucuk kepalanya. “Kanara lagi gambar apa?” ucap Elang seraya duduk di samping putrinya.
“Hewan laut. Kak Nura yang ajarin.”
“Bagus.”
“Kak Nura… marah sama Ayah?” tanya Kanara tiba-tiba tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk menggores warna di atas kertas.
Mata Elang membesar mendengar pertanyaan putrinya. Ia tidak tahu kalau Kanara bisa merasakan perubahan sikap Nura padanya. “Nggak, Sayang. Kak Nura cuma ingin Ayah jadi anak disiplin aja,” jawab Elang asal.
Ia membelai rambut Kanara, mencoba mencari kedamaian dalam diri gadis kecil itu. Tapi, pikirannya tertinggal di dalam rumah, pada Nura yang barusan menatapnya penuh ketegasan.
“Ayah sedih?” Kanara meletakkan krayon birunya, lalu menyentuh pipi Elang.
“Sedikit,” Elang memejamkan mata, merasakan tangan mungil itu. “Tapi, kan ada Kanara di sini.”
Setelah menemani Kanara menyelesaikan gambarnya. Elang membimbing putrinya masuk ke dalam. Suasana terasa sunyi, hanya ada suara denting piring dari arah dapur. Elang tahu itu Nura yang sedang menyiapkan makan malam bersama Bu Yati.
Elang memutuskan untuk naik ke ruang kerjanya di lantai dua. Ia akan memberikan Nura ruang.
************
Setelah makan malam, Nura menelungkup di atas ranjang, bahunya berguncang. Ia menekan wajahnya dalam-dalam ke bantal agar isakannya tidak pecah, tidak ingin suaranya terdengar keluar. Ia sudah terlalu ahli dalam satu hal; menyembunyikan diri.
Wajah Elang yang hancur dan suaranya yang parau terus terngiang di telinganya, “Tolong, Ra. Aku mohon jangan seperti ini.” Kata-kata itu menghujam jantungnya, meninggalkan luka yang lebih perih dari penolakan manapun. Belum lagi sepanjang malam malam, tatapan Elang tidak putus padanya.
Nura tahu ia sudah kalah. Ia jatuh cinta pada pria itu. Ia tidak lagi melihat Elang sebagai orang tua pasien tempatnya bekerja, melainkan sebagai seorang pria yang sedang berjuang sendirian demi putrinya. Tiap kali Elang menatapnya penuh duka, separuh jiwa Nura ingin merengkuhnya, membalut luka itu dengan cinta baru, dan menjadi tempat Elang untuk pulang dengan tenang.
Namun, perkataan Bu Sofia hari itu, menghantamnya dengan keras. “Jaga batasanmu. Kamu hanya seorang perkerja.”
Kalimat itu menyeretnya kembali ke realitas pahit yang telah mengakar sejak Nura kecil. Ia adalah sisa dari sebuah tragedi, seorang anak yang kehadirannya justru dianggap sebagai beban memalukan bagi ibunya sendiri.
Ingatannya ditarik paksa pada peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan adiknya. Hingga detik ini, suara lonceng adalah melodi kematian baginya. Dentang itu terus berdenging di telinganya saat ia dipaksa menyaksikan orang-orang yang ia cintai meregang nyawa di depan mata.
Trauma itu tidak hanya menghancurkan mental Nura, tapi juga melumpuhkan ibunya. Namun, alih-alih saling menguatkan, sang ibu yang tidak sanggup menanggung beban duka dan trauma itu akhirnya memilih untuk membuang Nura ke panti asuhan.
Kehidupan setelah itu adalah rangkaian perpindahan. Dari satu panti ke panti lain, dari satu keluarga asuh ke keluarga asuh lainnya. Tiap kali ia mulai merasa nyaman, ia harus pergi lagi. Dari sanalah, ia belajar satu pelajaran berharga, jangan pernah merasa penting. Jangan berisik agar tidak mengganggu, jangan merepotkan agar tidak dibuang.
Ia belajar bahwa kehadirannya di dalam hidup orang lain hanyalah sementara. Diam berarti aman. Menjaga jarak berarti tidak akan merasa kehilangan saat nanti ia harus pergi lagi.
Itulah alasan Nura membangun tembok yang begitu tinggi untuk Elang. Ia sudah terlalu sering terluka karena ditinggalkan, mencintai Elang berarti ia sedang memberikan kesempatan pada dunia untuk menghancurkannya sekali lagi.
Sambil meremas sprei, Nura berbisik dalam hati, “Aku nggak boleh ada di sana, Pak. Aku harus tahu diri.”
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍