Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Rencana Dimulai
Tujuh hari menuju Bulan Merah dimulai dengan kesunyian yang ekstrem di Paviliun Teratai. Lin Yue memutuskan untuk mengunci diri. Tidak ada lagi suara hantaman samsak atau teriakan latihan yang menggelegar. Hanya ada aroma kayu cendana yang tipis dan deru napas yang teratur.
Lin Yue duduk bersila di tengah ruangan yang gelap. Ia menjalani diet air—hanya mengonsumsi air mineral dan sari tanaman herbal pahit yang diberikan Han Shuo. Tubuhnya memberontak. Sel-sel lemaknya menjerit meminta asupan, dan kepalanya berdenyut hebat akibat detoksifikasi ekstrem.
"Fokus, Tiara. Ring-mu sekarang adalah seluruh istana ini," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menekan rasa lapar yang melilit.
Dalam meditasi ini, ia tidak hanya diam. Ia melatih "visualisasi bertarung". Dalam pikirannya, ia sedang menghadapi sepuluh pembunuh bayaran sekaligus, namun kali ini gerakannya dalam bayangan itu jauh lebih cepat, lebih ramping, dan lebih mematikan. Setiap kali jantungnya berdegup kencang karena rasa lapar, ia memaksanya untuk melambat kembali melalui kontrol napas.
Di luar paviliun, Mei Mei menjalankan perannya sebagai agen ganda dengan ketakutan yang luar biasa. Ia menghadap Selir Ning di Paviliun Anggrek.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Selir Ning sambil mengikir kukunya. Wajahnya tampak sedikit pucat sejak kejadian di hutan; lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi disembunyikan oleh bedak tebal.
"Lapor, Nyonya... Permaisuri tampaknya sudah gila. Dia mengunci diri dan tidak makan apa pun. Hamba mendengar dia hanya bicara sendiri dalam kegelapan. Tubuhnya... tubuhnya menyusut dengan cara yang tidak wajar," lapor Mei Mei sesuai skenario yang diberikan Lin Yue.
Selir Ning tertawa, suara tawa yang terdengar nyaris histeris. "Bagus! Biarkan dia kelaparan sampai mati. Dia pasti ketakutan karena tahu ajalnya sudah dekat. Terus pantau dia. Jangan sampai dia keluar dari kamar itu sampai malam Bulan Merah tiba."
Tanpa disadari Selir Ning, saat ia merasa menang, Lin Yue sebenarnya sedang melepaskan lapisan terakhir dari "beban"-nya.
***
Memasuki hari kelima, pintu kamar Lin Yue terbuka sedikit. Xiao Xiao yang masuk membawa air bersih hampir menjatuhkan wadah peraknya. Di sana, berdiri seorang wanita yang nyaris tidak dikenali. Lin Yue tidak lagi memiliki lipatan lemak yang menggantung di lehernya. Meskipun masih terlihat berisi, tubuhnya kini menyerupai seorang petarung kelas berat yang solid dan berotot. Tulang pipinya tajam, dan matanya berkilat dengan kecerdasan yang predatoris.
"Yang Mulia... Anda... Anda terlihat sangat cantik," bisik Xiao Xiao takjub.
Lin Yue melihat bayangannya di cermin perunggu. Beratnya mungkin sudah turun sekitar tiga puluh hingga empat puluh kilogram dalam waktu singkat akibat latihan gila dan diet ekstrem ini. "Cantik bukan tujuanku, Xiao Xiao. Kekuatan adalah tujuannya."
Tiba-tiba, Han Shuo muncul dari langit-langit, mendarat tanpa suara seperti helai daun. Ia terpaku sesaat melihat perubahan Lin Yue. Aura kewanitaan Lin Yue yang kuat mulai menyatu dengan ketangguhan seorang prajurit.
"Kau siap?" tanya Han Shuo, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Lin Yue mengambil belati peraknya, memutarnya di sela jari dengan kecepatan yang mengagumkan. "Aku bisa mendengar detak jantung pengawal di luar gerbang dari sini, Han Shuo. Indraku tidak pernah setajam ini."
Han Shuo mendekat, menyerahkan sebuah peta kulit kecil. "Ini adalah denah aula perjamuan malam Bulan Merah. Long Wei akan duduk di sana, dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Selir Ning telah menyiapkan anggur beracun yang disebut 'Lidah Ular'. Efeknya adalah kelumpuhan instan sebelum jantung berhenti."
"Dan rencana kita?"
"Kita akan menukar cawannya saat tarian pedang dimulai. Aku yang akan menari, dan kau... kau akan menjadi 'kejutan' yang muncul dari balik tirai," Han Shuo menatap mata Lin Yue. "Namun, ada satu hal yang tidak kau tahu. Long Wei memiliki seorang guru bela diri rahasia dari negeri Barat. Dia menggunakan teknik yang tidak biasa."
Lin Yue tersenyum lebar, senyum pertamanya yang benar-benar tulus sejak transmigrasi. "Teknik tidak biasa? Itu spesialisasiku. Aku ingin tahu apakah teknik Baratnya bisa menahan knockout punch dariku."
Han Shuo terdiam, lalu secara impulsif, ia meletakkan tangannya di bahu Lin Yue. "Jangan mati, Lin Yue. Jika kau mati, aku akan kehilangan satu-satunya alasan untuk tetap menjadi manusia di istana ini."
Lin Yue menatap tangan Han Shuo, lalu menatap matanya. "Aku tidak berencana mati sebelum melihat kepala kaisar palsu itu menggelinding di lantai."
Malam semakin larut. Di langit, bulan mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Seluruh istana sedang bersiap untuk perayaan, tanpa menyadari bahwa di sebuah paviliun yang terisolasi, seorang monster cantik telah lahir kembali dan siap melahap siapa saja yang pernah menghinanya.
Dua hari lagi. Malam Bulan Merah akan menjadi saksi, apakah mawar yang berduri ini akan mekar di atas tumpukan mayat musuhnya.
***
Happy Reading
Mohon Dukungan untuk
Like
Komen
Subscribe
Ikuti Penulis
Terimakasih🤗
🧐