Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Notif penting
Keheningan malam Arkan terusik oleh getar ponsel di atas nakas. Nama Zavier berkedip di layar. Begitu panggilan diangkat, suara berat Zavier itu langsung menyambar tanpa basa-basi.
📱“Kau di mana?” tanya Zavier to the point.
📱“Di rumah. Ada apa?” jawab Arkan singkat sambil mengeringkan sisa air di wajahnya dengan handuk kecil.
📱“Aku ingin bertemu. Ada hal sangat penting yang harus kubicarakan mengenai ibu tiri Maya,” suara Zavier terdengar lebih serius dari biasanya.
📱Arkan terdiam sejenak, rahangnya mengeras. “Baiklah, kirimkan saja alamatnya.”
Klik. Sambungan terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk berisi koordinat lokasi pertemuan. Tanpa membuang waktu, Arkan melempar piyamanya ke ranjang dan menyambar kaos kasual serta jaket hitam. Ia bergerak gesit, langkah kakinya sengaja diperhalus agar tidak menimbulkan kebisingan di dalam rumah yang mulai terlelap.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong, melewati pintu kamar Maya yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Maya sebenarnya sedang menyusui Leon dalam remang lampu tidur dan sempat menangkap bayangan Arkan yang melintas terburu-buru.
Baru saja Arkan menyentuh gagang pintu utama dan hendak membukanya, sebuah suara lembut namun penuh tanda tanya menghentikan gerakannya.
“Mau ke mana, Kak?”
Arkan tersentak. Ia memutar tubuh dan mendapati Maya sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya. Gadis itu masih mengenakan piyama tipis, wajahnya tampak cemas di bawah redupnya lampu ruang tamu.
“May? Kenapa belum tidur?” Arkan mencoba menetralkan kegugupannya.
“Leon baru saja terlelap,” jawab Maya pelan, matanya menatap jaket yang dikenakan Arkan. “Ini sudah hampir tengah malam, Kak. Kenapa rapi sekali? Apa ada urusan mendadak di rumah sakit?”
Arkan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, mengelus lembut puncak kepala Maya, yang kini mulai menjadi kebiasannya.
“May, sudah malam. Sebaiknya kau tidur lebih dulu, ya?” ucap Arkan dengan nada suara rendah.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Maya untuk bertanya lebih jauh, Arkan segera berbalik. “Aku akan pulang secepat mungkin,” pamitnya singkat sebelum melangkah keluar dan menutup pintu utama dengan rapat.
Maya hanya terpaku di tempatnya. Ia perlahan mendekati pintu, mengintip dari balik celah jendela, memperhatikan lampu belakang mobil Pajero Arkan yang perlahan menjauh dan menghilang di kegelapan gerbang. Arkan terlihat sangat terburu-buru, seolah ada sesuatu yang sangat mendesak dan berbahaya yang sedang menantinya.
“Aku harap Kak Arkan tidak kenapa-kenapa,” gumam Maya. Ia merapatkan piyamanya, akhirnya kembali ke lantai atas untuk menemani Leon.
**
Pajero Arkan menderu kencang, meninggalkan gemerlap pusat kota dan membelah kegelapan pinggiran kota yang sunyi. Tak lama kemudian, mobil itu melambat dan berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi yang berkarat. Tempat itu adalah gudang penyimpanan mobil tua yang terbengkalai.
Sebuah celah kecil di gerbang bergeser. Sepasang mata mengintip waspada, memastikan siapa yang datang. Setelah mengenali Arkan, penjaga itu segera membuka pintu gerbang yang mengeluarkan suara derit memilukan, tanda engselnya sudah dimakan usia.
Mobil Arkan meluncur masuk, mengikuti instruksi anak buah Zavier yang mengendarai motor trail tanpa plat nomor. Motor itu memimpin jalan menuju bangunan paling ujung yang tampak paling rapuh.
Arkan menghentikan mobilnya, lalu turun dengan tatapan waspada.
“Mari, lewat sini, Dokter,” ucap anak buah Zavier dingin. Ia menuntun Arkan menuju dinding beton yang ditumbuhi lumut tebal dan lembap. Anak buah itu menekan sebuah tombol tersembunyi yang tersamar sempurna di balik lumut tersebut.
Clank!
Suara mekanisme berat berdentum pelan. Pintu baja tersembunyi bergeser perlahan, menampilkan lorong remang dengan lampu neon yang berkedip-kedip tak beraturan.
Arkan mengikuti anak buah tersebut memasuki lorong lembap, lalu menuruni tangga besi melingkar yang berkarat, membawa mereka jauh ke bawah tanah.
Saat pintu baja terakhir terbuka, Arkan terpaku. Ruangan di depannya begitu luas, dingin, dan menakjubkan, seperti berada di dalam gua modern yang artistic dan aesthetic. Di sudut ruangan beberapa anak buah bertubuh tegap berdiri, dan di tengah ruangan, Zavier duduk santai sendirian, sibuk mengupas kacang kulit sambil menggoyangkan kepala menikmati music DJ beat cepat yang dentumannya mengguncang dada.
“Arkan! Akhirnya sampai juga kau,” sambut Zavier dengan seringai khasnya. Ia berdiri dan merangkul pundak Arkan dengan akrab. Menatap Arkan lekat-lekat sebelum melontarkan pertanyaan aneh. “Arkan, di tengah kekacauan hidupmu ini…jujur saja, apa kau suka bernyanyi?”
Arkan menggelengkan kepala, menolak basa-basi Zavier. “Tidak. Aku ke sini bukan untuk bersenang-senang. Aku ingin mendengar informasi yang kau punya,” sahut Arkan dingin.
Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah sofa panjang yang tampak sangat empuk. Zavier duduk di ujung sofa, lalu menekan tombol pada remote control. Music DJ yang menghentak keras seketika mati, disusul layar monitor raksasa di hadapan mereka yang meredup gelap. Suasana mendadak hening dan tegang. Arkan mendudukkan dirinya di ujung sofa lainnya, tubuhnya sedikit menegang.
“Aku yakin, kau pasti sudah mengetahui sebagian tentang Shiti, ibu tiri Maya itu,” ucap Zavier pelan, matanya fokus pada sebotol Heineken 0.0 yang ia tuangkan perlahan ke dalam gelas kristal kecil.
Arkan menarik napas panjang, menahan rahangnya agar tidak mengatup terlalu keras. “Wanita itu… bahkan tidak layak disebut sebagai manusia, apalagi dipanggil ibu,” sahut Arkan, wajahnya mengeras menahan emosi yang meluap.
“Minumlah dulu. Tenangkan dirimu sebelum aku bicara lebih jauh,” ucap Zavier datar, menggeser gelas kecil tersebut ke hadapan Arkan.
Arkan menatap gelas itu sejenak. “Maaf, aku tidak biasa minum minuman seperti ini.”
“Tenang, ini bebas alkohol,” tegas Zavier.
Arkan menarik napas panjang sekali lagi. Kepalanya benar-benar suntuk dan lelah. Akhirnya, ia meraih gelas itu dan menenggaknya dalam satu tegukan cepat.
Zavier mengambil tablet di atas meja, jari-jarinya lincah membuka sebuah berkas galeri foto. Ia memutar tablet itu ke arah Arkan, menampilkan sebuah foto seorang pria yang berdiri angkuh di depan Shiti. Pria itu berkulit putih dengan rambut rapi, namun posisinya membelakangi kamera.
“Ada apa dengan foto ini?” tanya Arkan penasaran, matanya menyipit menatap layar.
“Dia adalah Mr. X,” bisik Zavier, suaranya berubah menjadi lebih berat dan berbahaya. “Pemilik sah tempat hiburan paling elit di seluruh Indonesia ini, sekaligus dalang di balik penampungan semua jenis barang haram. Dan di sampingnya…” Zavier menunjuk sosok wanita di foto itu, “adalah Shiti. Wanita itu ternyata sudah cukup lama bekerja untuk mereka.”
“Jelaskan!” desis Arkan, menatap foto itu dengan tatapan membunuh. “Apa hubungannya semua ini denganku? Aku hanya memintamu untuk memberi pelajaran pada Shiti, dan para pria yang pernah—”
Kalimat Arkan menggantung. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya di atas paha mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa jijik bercampur aduk di dadanya.
“—dan habisi seluruh pria yang pernah tidur dengan Maya!” sambung Arkan dengan suara penuh penekanan.
Zavier memetik jemarinya keras, membuat bunyi krak yang nyaring di ruangan sunyi itu. “Nah! Itulah alasanku menyuruhmu datang kemari, Arkan. Karena pelaku utama yang merenggut kesucian Maya—”
Zavier menggantung ucapannya. Matanya perlahan berubah menjadi merah, napasnya memburu naik turun menahan amarah yang luar biasa.
“— dan pria ini jugalah yang telah menghabisi seluruh pria yang pernah meniduri Maya! Dia merasa miliknya telah diganggu!”
Perkataan itu bagaikan petir yang menyambar tubuh Arkan. Bola mata Arkan membulat sempurna, menatap Zavier tak percaya. Detik berikutnya, keterkejutan itu berubah menjadi amarah yang meledak-ledak. Arkan berdiri dengan sentakan keras, membuat sofa panjang itu terdorong ke belakang.
“Apa maksudmu?! Dan kenapa Mr. X bisa meniduri Maya? Padahal yang aku tahu, Maya di*jual oleh Shiti ke—“ ucapan Arkan menggantung, tenggorokannya tercekat oleh campuran rasa marah dan bingung yang luar biasa.
“Diam, Arkan! Tenangkan dirimu!” teriak Zavier memotong cepat. Napas Zavier memburu, dadanya naik turun berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang meledak-ledak. Mengetahui fakta sebenarnya mengenai gadis yang diam-diam ia sukai diperlakukan seperti binat*ang oleh iblis membuat Zavier hampir kehilangan kendali.
Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar deru napas berat kedua pria tersebut yang berusaha keras menenangkan pikiran mereka yang kacau.
Setelah dirasa cukup tenang, Zavier meletakkan tabletnya kembali ke atas meja dengan tangan yang masih gemetar.
“Menurut informasi yang aku kumpulkan selama ini,” Zavier memulai penjelasannya dengan suara yang berat, “Mr. X itu adalah pewaris tunggal dari seorang pria berdarah asing. Papanya adalah mafia besar pemilik jenis barang haram yang memiliki banyak cabang, termasuk di Indonesia.”
Zavier mengambil jeda, menatap lurus ke mata Arkan. “Papanya dulu jatuh cinta dengan wanita desa, mereka menikah, lalu memiliki anak, yaitu Mr. X. Saat Mr. X berumur 10 tahun, ibunya meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bunga, tempat kelahiran ibunya. Sedangkan Mr. X, ia dibawa keliling dunia dan diajarkan bagaimana caranya bertahan hidup dan bagaimana cara menjalankan bisnis haram mereka.”
“Saat Mr. X berusia 17 tahun, ia memutuskan untuk mengambil alih dan menjalankan bisnis haram itu di Indonesia. Untuk membantu putranya mengelola bisnis agar berjalan lancar, Shiti, sebagai seorang pelayan yang terkenal pandai merayu pelanggan di tunjuk oleh papa Mr. X untuk menjadi salah satu penyalur utama yang akan membantunya menjalankan bisnis.”
Arkan mendengarkan setiap patah kata dengan geram, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. Napasnya memburu menahan murka yang siap meledak kapan saja. Sementara itu, Zavier terus memaparkan informasi hasil penyelidikan anak buahnya dengan nada suara yang tertahan.
“Saat itu, ayah Maya baru saja jatuh sakit keras. Shiti terus mengeluh pada Mr. X soal biaya dan ketidaksanggupannya mengurus suami baru dan anak tirinya. Mr. X yang selalu mendengarkan mulai tertarik dengan cerita tentang Maya,” Zavier menundukkan kepalanya, suaranya mengecil dan bergetar menahan amarah yang sama. “Akhirnya…Mr. X yang saat itu masih remaja memberi upah cukup besar pada Shiti, lalu…meniduri Maya dengan paksa. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama karena kepolosan dan keindahan Maya.”
Krak!
Arkan mengeratkan kepalannya hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar. Ia merasa mual mendengar kekejian tersebut.
“Setelah merenggut segalanya dari Maya, Mr. X mendapatkan tugas untuk mengambil barang baru di Vietnam dan harus meninggalkan Maya selama berbulan-bulan,” lanjut Zavier. “Selama masa itu pula, Shiti yang haus akan uang menjajalkan Maya seperti kacang kepada pria mana saja yang ia temui di tempat ia bekerja.”
Zavier menatap Arkan lekat. “Tapi, setelah Mr. X pulang dan mengetahui semuanya, Shiti diberi hukuman. Namun bukan penjara, melainkan diasingkan untuk bekerja lebih keras di tempat hiburan malam di luar kota. Seperti yang kau ketahui sebelumnya, Shiti bekerja di sana bukan karena keinginannya, melainkan tugas dari Mr. X untuk menyalurkan barang haram jenis baru kepada pelanggan.”
“Dan selama Shiti di sana, Mr. X menghabisi seluruh pria yang pernah meniduri Maya sehabis-habisnya,” pungkas Zavier.
Zavier mengambil tabletnya kembali, lalu membuka galeri. Ia menunjukkan beberapa foto yang sangat mengerikan, foto-foto jasad pria yang dihabisi tanpa ampun, tubuh mereka hancur mengenaskan.
Arkan menggenggam erat tangannya hingga gemetar, rahangnya bergerak-gerak menahan muntah dan amarah. Ia menatap Zavier dengan tatapan tajam.
“Lalu?” tanya Arkan menggantung, menunggu jawaban Zavier tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Zavier kemudian menggeser tabletnya, menampilkan sebuah foto di mana Maya sedang duduk bersama dengan seorang murid pria.
...❌ Bersambung ❌...