Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D-Day Concert
Matahari hampir sepenuhnya tenggelam, dan suasana apartemen terasa sangat tenang, ketika Sena di dalam kamarnya justru sedang dilanda gusar. Kamar yang biasanya dia jaga tetap rapi, kini terlihat seperti habis dilanda badai dahsyat. Baju-baju dan berpasang sepatu berserakan di lantai, memenuhi hampir semua tempat setelah Sena melemparkan mereka asal--merasa tidak puas untuk menjadikannya pilihan.
Sebetulnya, tidak ada alasan yang benar-benar masuk akal untuk membuat Sena jadi segelisah ini. Toh, bukan dia yang akan tampil di atas panggung malam ini. Tapi entah kenapa, Sena ingin tampil sempurna untuk datang ke konser Andy. Ada dorongan untuk tampil berbeda, tampil lebih memesona.
Dengan ragu, Sena memungut satu rok dari lantai. Dia tidak ingat pernah memakai rok itu sebelumnya, sebab biasanya dia memang lebih sering mengenakan celana. Dibwanya rok tadi ke depan cermin, coba dia kenakan. Rok itu berwarna beige tua, panjangnya sampai sedikit di atas mata kaki, dan memiliki belahan cukup tinggi hingga hampir menyentuh paha.
"Hmmm..." Dia menimbang. Kemudian, rok tadi disisihkan sebentar dan dia berjalan ke depan lemari. Matanya mencari atasan yang akan cocok dipadukan dengan rok tadi. Dalam keadaan lemari yang sudah berantakan, Sena menemukan sepotong button-up cropped top warna hitam yang sedikit mencuat keluar. Dia mengambilnya, langsung bisa memutuskan untuk mengenakannya. Sekarang, tinggal mencari sepatu yang cocok.
Karena top dan rok yang dipilihnya cukup simpel, Sena butuh sesuatu yang lebih mencolok agar penampilannya tidak terkesan membosankan. Pilihannya jatuh pada sepasang boots warna hitam, dan segera membawanya ke depan cermin. Ia lalu mengenakan top, rok dan boots itu, kemudian memeriksa seluruh penampilannya di depan cermin besar itu.
"Sempurna!" serunya puas.
Selanjutnya, Sena duduk di meja rias. Seperti biasa, dia tidak ingin memulaskan make up yang terlalu berlebihan. Dia pulaskan rangkaian make up setipis dan sesimpel mungkin, hanya saat bagian lipstik saja dia memilih warna yang lebih gelap dari biasanya. Itu dilakukan agar tetap cocok dengan outfit yang dikenakannya.
Beres bersiap, Sena menyambar tas tangan hitam dari lemari, kemudian turun ke lantai bawah.
Di bawah, tepatnya di meja makan, Hana sedang fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya. Suara langkah Sena membuatnya berhenti dan mendongak, tatapan terpaku sejenak pada penamilan Sena, lalu mengacungkan jempol diiringi senyum puas.
"Kau terlihat memesona," pujinya sungguh-sungguh.
Sena duduk di depannya, wajah dibalut senyum. "Ada lebih dari 120.000 orang di sana yang tampil lebih all out daripada aku," balasnya.
"God," sahut Hana. "Aku lupa kapasitasnya sebanyak itu."
"Ya, kan? Siapa sangka aku bisa jadi satu dari 120.000 orang itu malam ini."
Hana bertopang dagu, memandang Sena lekat, sudut bibirnya terangkat lebih tinggi. "Dan akan jadi satu-satunya yang menarik perhatian Andy."
Sena terkekeh. "Hanya jika dia bisa menemukanku di tengah lautan manusia," sanggahnya.
"Tentu bisa. Itulah kekuatan cinta," kata Hana, matanya mengerling genit.
Kepala Sena bergerak ke kanan dan ke kiri. Setelah perkumpulan dengan teman-teman mereka di sini, delapan hari lalu, Hana jadi lebih ngegas menggodanya tentang Andy. Seakan dukungan dari teman-teman mereka menjadi bahan bakar bagi Hana, membuatnya semakin bersemangat.
"Aku akan pulang larut, tidak perlu ditunggu," ucap Sena, sambil bangkit. Ponselnya baru saja berdenting, masuk pesan dari Joana yang memberitahu ia sudah ada di lobi.
Hana mengangguk, kepalanya mengikuti pergerakan Sena. "Selamat bersenang-senang, ya."
"Terima kasih."
Sena pergi meninggalkan unit, turun ke lobi. Joana melongokkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka, tersenyum lebar, dan tangannya melambai.
"Kau cantik sekali!" pujinya, ketika Sena sudah duduk di sampingnya.
Sena hanya tersenyum. Dia balik memperhatikan penampilan Joana. Gadis itu mengenakan rompi hitam tanpa lengan dan celana bahan panjang, keduanya warna hitam. Rambutnya dicepol tinggi, beberapa perhiasan tampil mempercantik penampilannya.
"Lihatlah dirimu sendiri," balasnya. "Betapa cantiknya kau hari ini, Jo. Aku bersumpah Jeremy tidak akan punya kesempatan untuk berkedip barang sekali."
Joana tertawa mendengar pujian yang terkesan dilebih-lebihkan itu. Tapi karena ini adalah Sena, ia tahu gadis itu hanya mencoba mengekspresikan pendapatnya dengan sebaik mungkin.
Sebelum melajukan mobilnya, Joana meraih sesuatu dari jok belakang dan memberikannya pada Sena. "Dari Andy," katanya.
Sena menerimanya dengan alis berkerut. Ada sticky notes berwarna hijau mentereng yang tertempel di bagian atas box yang baru diterimanya itu.
Kurasa kau belum punya, jadi aku berikan satu untukmu.
Jangan lupa dinyalakan. Kau harus jadi bagian dari blue ocean malam ini
Have fun! Mari bertemu secepatnya.
Dari pesan yang Andy tuliskan, Sena bisa langsung tahu kalau barang yang pria itu titipkan pada Joana adalah official lightstick Elements. Dan melihat box-nya, ini adalah versi terbaru.
"Kita tidak mungkin datang ke konser tanpa lightstick, tidak akan seru," kata Joana. Dia menepuk tasnya dan melanjutkan, "Punyaku ada di sini."
"Benar sekali," sahut Sena, tertawa pelan.
Joana memberitahu bahwa lightstick itu belum termasuk baterai, tapi ia sudah menyiapkan beberapa baterai cadangan di tasnya, dan meminta Sena untuk mengambilnya selagi ia mulai menyetir. Dengan Sena mencoba memasang baterai ke lightstick dan Joana fokus menyetir, perjalanan mereka dimulai.
***********
Berkat tiket khusus yang diberikan langsung oleh member Elements, Sena bersama Joana dan Mia bisa masuk ke stadion lebih cepat daripada penonton lain yang harus melewati serangkaian pemeriksaan lebih ketat. Dari tempat duduknya, Sena memperhatikan orang-orang yang datang berbondong-bondong dan menyadari betapa beragamnya mereka. Berbagai kewarganegaraan, usia, gender, gaya busana... beragam rupa ada di sana. Namun, di antara keberagaman itu, ada satu hal yang sama: mereka datang untuk bersenang-senang.
Beralih dari arah pintu masuk, Sena mengitarkan pandangannya ke barisan bangku di belakangnya. Matanya memindai dari bangku ujung ke ujung yang lain, hanya untuk dibuat terhenyak saat menemukan sebuah pemandangan yang hampir sulit dipercaya.
"Guys,,," bisiknya, kepalanya terkunci ke belakang, membuat Mia dan Joana serempak ikut menoleh.
"Apa?" tanya keduanya, hampir bersamaan.
"Itu ... Glorys ... mereka ada di sana." Sena setengah berbisik. Glorys adalah salah satu girl grup di bawah naungan perusahaan yang sama dengan Elements. Sudah menjadi hal lumrah bagi sesama anggota perusahaan untuk hadir ke konser satu sama lain. Sena juga sudah memahami hal itu. Hanya saja, dia tidak menyangka empat gadis cantik itu duduk tepat di belakangnya.
"Gila ... kita beruntung sekali," bisik Joana, Sena dan Mia langsung mengangguk.
Selain Glorys, mereka juga menemukan beberapa artis lain baik dari perusahaan yang sama ataupun lintas-perusahaan hadir di konser malam itu. Hampir semuanya ada di area yang sama, membuat mereka bertiga seperti ikut masuk ke dalam circle para selebriti.
Sena membalikkan badannya lagi, menatap ke arah panggung saat lampu perlahan meredup dan tergantikan dengan cahaya lightstick. Para fans berteriak penuh semangat, menyambut idol kesayangan mereka untuk tampil di panggung dalam waktu kurang dari satu menit ke depan.
Begitu konser akhirnya dimulai, mata Sena nyaris tidak berkedip. Sama halnya dengan para fans yang hadir, dia juga turut berteriak heboh saat satu persatu wajah member Elements muncul di layar besar. Suaranya bahkan terdengar jauh lebih keras saat giliran Andy tiba. Jantungnya berdegup keras, sensasi asing yang akhirnya membuatnya paham kenapa orang-orang suka sekali datang ke konser idola mereka, lagi dan lagi. Rasanya campur aduk. Senang, sedih, terharu, bangga. Tumpah ruah menjadi satu di dalam rongga dada.
Dari konser-konser sebelumnya, Sena sudah tahu lagu apa yang akan dibawakan sebagai opening untuk konser malam ini. Namun, fakta itu ternyata tidak cukup untuk membuatnya bersiap. Mungkin karena masih mencoba membiasakan diri dengan perasaan asing yang menyelimuti hatinya, Sena jadi sedikit kehilangan fokus atas keadaan sekitar. Sehingga saat kembang api menyembur serempak dari atas panggung, menembus atas terbuka stadion, dia tersentak.
"Tuhan! Kenapa tidak memberi aba-aba dulu?" serunya, tenggelam di antara riuh suara fans dari segala penjuru stadion.
"Justru di sinilah letak serunya, guys," goda Joana. Dibanding Mia ataupun Sena, dia memang yang paling pro dalam urusan perkonseran.
Ketiganya tertawa, kemudian dengan cepat mengembalikan atensi ke arah panggung. Harus Sena akui bahwa semua member Elements tampak keren malam ini. Mereka semua menampilkan yang terbaik, bukan hanya sebagai bentuk profesionalisme, tetapi juga perwujudan tekad mereka untuk tidak mengecewakan fans. Akan tetapi, tidak bisa bohong juga, di antara banyaknya penampilan keren para member, tatapannya tetap tidak bisa lepas dari sosok Andy.
Pertengahan konser, setelah membawakan beberapa lagu, masuklah sesi ment. Masing-masing member memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian memberikan kata-kata untuk para fans--yang sebagian besar sudah disiapkan dan dilatih berulang-ulang kali. Sena mendengarkan ment mereka dengan saksama. Ketika ada sesuatu yang terdengar lucu, ia bersama para fans pun tertawa. Ada momen-momen di mana mereka merengek manja, menggoda member yang sedang kebagian waktu untuk ment. Ada juga momen di mana Yushi dengan kepala berpaling, menarik ujung kausnya sampai perut kotak-kotaknya terpampang di layar besar. Seisi stadion bergemuruh, dan Sena tak kuasa menahan tawa atas reaksi para fans yang didominasi kaum hawa.
Lalu, saat tiba giliran Dohyun yang bicara, dia mewakili yang lain menyapa tamu undangan di bagian tribun. Kamera otomatis menyorot ke atas, untuk menemukan sosok-sosok yang sedang disapa oleh Dohyun. Dan saat itulah, Sena menemukan dirinya turut muncul di layar besar. Sang kameramen jelas hendak menyorot empat member Glorys, tapi karena mereka duduk di belakang Sena, maka bukan hal aneh jika wajahnhya ikut tersorot.
Sena tidak tahu harus bereaksi bagaimana karena terlalu kaget, jadi dia hanya tersenyum malu-malu sambil menunggu layar besar di panggung berhenti menampilkan wajahnya.
"God," ringisnya pelan, kala menemukan Andy dan Jeremy--juga Logan--yang berdiri agak menjauh dari tengah panggung, tampak tertawa cekikikan. Trio kwek-kwek itu memang suka asyik dengan dunia mereka sendiri ketika sedang sesi ment begini. Banyak hal bisa mereka jadikan gunjingan, bahan tertawaan, dan juga materi untuk meledek Andy. Dan yang kali ini, Sena tahu mereka sedang menertawakan dirinya yang muncul di layar besar.
"Mohon dimaklumi, mereka hanya anak-anak yang mencoba bersenang-senang di tengah melakukan pekerjaan," bisik Joana, seakan ikut menangkap peristiwa membagongkan yang Sena lihat.
Ment itu tidak jadi akhir, justru awal dari pertunjukan sesungguhnya. Karena setelah sesi ment selesai, Elements kembali tampil dengan energi yang jauh lebih menggila.
Bersambung....