Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Farhan yang baru saja pulang dari luar mendengar isakan Mawar ketika dia memasuki rumah, bergegas Farhan mencari sumber suara itu.
"Ya Allah Mawar, apa yang terjadi?" Farhan begitu kaget ketika dia mendapati adik nya sedang menangis dengan keadaan yang sangat berantakan.
Baju di tubuh Mawar tampak sobek di beberapa sisi, lengan nya yang terluka dan mengeluarkan darah segar.
Sementara bu Munah masih berdiri dengan nafas yang memburu dan tangan nya masih memegang rotan yang dia gunakan untuk memukuli Mawar.
"Ibu, apa yang sudah ibu lakukan?" Tanya Farhan pada ibu nya.
"Tanyakan pada Mawar, apa yang sudah dia lakukan pada Indah!" Jawab Bu Munah dengan wajah yang masih di penuhi dengan kemarahan.
"Indah, apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Farhan dengan tatapan tajam pada adik bungsu nya itu.
"Aku tidak melakukan apa - apa kak, tapi Mawar memukul ku tanpa ku tahu apa kesalahan ku!" Indah berkata dengan suara bergetar.
Karena takut dengan tatapan Farhan, Indah merapat kan tubuh nya ke tubuh bu Munah.
"Mawar tidak mungkin memukuli mu, pasti kau yang memukuli nya!" Farhan tidak percaya dengan apa yang Indah katakan.
Selama ini Farhan melihat dengan kepala nya sendiri bagai mana sikap Indah terhadap Mawar, Farhan sadar adik nya yang satu ini mempunyai sifat yang sangat licik.
"Ibu, aku takut bu!" Bisik Indah sambil merapat kan tubuh nya pada sang ibu.
"Mawar memang pantas di hukum, sudah lah Farhan kau jangan membela nya lagi. Mawar memang anak yang tidak berguna!" Ujar bu Munah.
"Ibu, tidak seharus nya ibu memperlakukan Mawar seperti ini. Ibu sangat kejam, binatang saja menyayangi anak nya dan akan melakukan apa saja untuk anak nya, tapi kenapa ibu begitu membenci Mawar!" Farhan berkata sambil menitik kan air mata melihat keadaan Mawar.
Bu Munah terpaku di tempat nya mendengar ucapan Farhan, seketika rotan yang masih ada di tangan nya terjatuh seketika.
Farhan membimbing Mawar ke kamar nya, Farhan dengan telaten membersih kan luka -luka yang ada di tubuh Mawar.
"Mawar, katakan pada ku sebenar nya apa yang terjadi?" Tanya Farhan setelah dia membersih kan semua luka di tubuh Mawar.
Mawar lalu menjelaskan kronologis kejadian yang membuat nya harus di hukum oleh sang ibu.
"Kak, apakah aku bukan anak kandung ibu?" Tanya Mawar pada Farhan dengan air mata berlinang.
"Kau anak kandung ibu dan ayah dek!" Jawab Farhan.
"Kalau aku akan kandung nya, kenapa ibu membedakan antara aku dan Indah?" Tanya Mawar lagi dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir.
Farhan terdiam dan dia tidak mampu menjawab pertanyaan dari Mawar. Seingat Farhan Mawar memang anak kandung ibu dan ayah nya, sma seperti diri nya dan juga Indah.
Farhan masih ingat saat Mawar lahir dan kedua orang tua nya sangat senang, mereka berdua di manja kan oleh orang tua nya. Tapi semua nak berubah setelah kelahiran Indah, sikap sang ibu terhadap Mawar langsung berubah total setelah kehadiran Indah.
"Kamu istirahat di kamar saja ya!" Farhan berkata pada Mawar.
"Tapi aku belum masak untuk makan malam kak, ibu bisa marah lagi kalau aku tidak memasak!"Ujar Mawar lagi.
"Kamu tidak perlu masak, jika Indah dan ibu mau makan biar kan mereka masak sendiri. Jika ibu marah pada mu malam ini, biar kan aku yang menghadapi nya!" Farhan berkata pada Mawar.
"Terima kasih kak!" Jawab Mawar.
Mawar bersyukur memiliki kakak seperti Farhan yang begitu perhatian dengan diri nya. Sifat Farhan sama seperti almarhum ayah nya, sama - sama baik. Tapi ada satu perbedaan antara Farhan dan ayah nya, Farhan memiliki sifat yang cenderung keras sedang kan ayah nya memilik sikap yang lembut.
Farhan segera pergi ke dapur dia memasak sebutir telur untuk Mawar, Farhan membawa nasi dan lauk untuk Mawar ke dalam kamar nya.
"Mawar, makan lah dulu. Setelah ini kamu harus minum obat agar luka mu segera sembuh!" Farhan mengingat kan sang adik.
Karena tidak ingin membuat Farhan tersinggung akhir nya Mawar makan sedikit, dia hanya mampu menelan nasi sebanyak 2 sendok. Tenggorokan nya terasa pahit, sepahit hidup nya.
"Istirahat lah, jika kau butuh sesuatu kakak ada di luar!" Farhan berkata sambil pergi meninggal kan Mawar di kamar nya.
Setelah Farhan pergi, seketika air mata yang sempat di tahan Mawar agar tidak terjatuh kembali menganak sungai.
Mawar merasakan sakit yang melebihi rasa sakit karena luka di tubuh nya, rasa sakit itu berasal dari seonggok daging yang ada di dalam dada nya. Rasa sakit hati atas semua perlakuan sang ibu dan adik pada diri nya.
"Apa guna nya aku hidup di dunia ini jika memang aku tidak di ingin kan!" Guman Mawar sambil memeluk lutut nya.
"Kenapa ibu membiarkan aku tetap hidup di duni ini, kenapa dia tidak membunuh ku saja ketika aku baru lahir ke dunia ini?" Mawar bertanya pada diri nya sendiri.
Mawar yang merasa putus asa karena dia begitu di benci oleh ibu nya, akhir nya memutuskan untuk mengambil jalan pintas.
"Mungkin lebih baik aku mati saja, mungkin dengan begitu ibu akan bahagia!" Batin Mawar di dalam hati.
Mawar yang sudah putus asa berniat untuk bunuh diri, dia tidak ingin menderita lebih lama lagi. Mawar menunggu hingga hari larut malam dan semua orang sudah tertidur.
Tepat jam 12 malam, Mawar berjalan mengendap - endap keluar dari kamar nya. Di lihat nya sang kakak sudah tertidur pulas di kamar nya, tampak dari pintu kamar nya yang terbuka lebar.
Begitu pula dengan bu Munah dan Indah, sejak pak Harto meninggal dunia Indah tidur bersama ibu nya di kamar milik sang ibu.
"Maaf kan aku kak Farhan, ibu, aku ingin menyusul bapak saja. Dengan begitu ibu akan bahagia, anak tidak berguna ini tidak akan menjadi beban mu lagi!" Batin Mawar sambil menghapus air mata nya yang masih mengalir dengan deras nya.
Mawar pergi ke dapur, dia mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membunuh diri nya sendiri. Hasutan iblis membuat Mawar lupa diri, Mawar ingin segera meninggal kan kenangan pahit nya di dunia ini.
Sudah cukup lama, tapi Mawar tidak menemukan apa yang dia cari. Tapi seketika Mawar langsung tersenyum senang setelah dia menemukan sesuatu yang dia cari.
Mawar meraih sebuah botol yang berisi cairan racun serangga, Mawar membuka botol itu dan bersiap menenggak isi nya. Tapi sebelum hal itu terjadi, Farhan muncul dari arah ruang tengah dan lansung merebut botol itu dari tangan Mawar. Setelah dia mendapat kan botol itu, Farhan langsung menuang kan semua isi nya ke tanah.