NovelToon NovelToon
IKATAN SUCI YANG TERNODA

IKATAN SUCI YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Mengubah Takdir / Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / Romansa pedesaan
Popularitas:805.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Niatnya mulia, ingin membantu perekonomian keluarga, meringankan beban suami dalam mencari nafkah.

Namum, Sriana tak menyangka jika kepergiannya mengais rezeki hingga ke negeri orang, meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil – bukan berbuah manis, melainkan dimanfaatkan sedemikian rupa.

Sriana merasa diperlakukan bak Sapi perah. Uang dikuras, fisik tak diperhatikan, keluhnya diabaikan, protesnya dicap sebagai istri pembangkang, diamnya dianggap wanita kekanakan.

Sampai suatu ketika, Sriana mendapati hal menyakitkan layaknya ditikam belati tepat di ulu hati, ternyata ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isyt : 33

“Wes ta mbak Sri. Ndak usah terlalu sungkan! Nggak semua yang terlihat jelek di media sosial maupun publik itu aslinya buruk. Asal kita tidak mengganggu jatah beras orang, maupun merusuhui kehidupan mereka – ya trabas saja. Jika sudah yakin dengan apa yang hendak dilakukan, segera laksanakan! Jangan pikirkan lagi kemungkinan ini itu, malah buat niat dan nyali ciut.” Eka mengarahkan ponsel ke replika menara Eiffel.

“Mbak, pean jalan ke depan sana, jangan melihat kebelakang. Mau tak videoin seolah-olah dirimu tersesat terus ketemu pangeran Kodok,” ucapnya asal.

“Bisa serius sedikit ndak kamu, Ka! Aku nanya beneran ini. Rasanya kayak jadi orang jahat yang memanfaatkan kebaikan orang tulus, baik.” Sri masih bergeming, berdiri di sebuah taman luas yang ada replika menara Eiffel, di Macau.

Ya, hari ini Sriana liburan bersama Eka ke wilayah yang memiliki julukan ‘Las Vegas of Asia’. Mereka pergi ke Macau, demi menciptakan drama agar menyempurnakan skenario gagasan dari pemikiran bersama.

“Terima kasih kamu tetap jadi orang baik ke orang yang tepat, Mbak. Masih melibatkan hati nurani, ndak kurang ajar yang sudah dibantu malah memanfatkan.” Eka memeluk samping bahu Sriana. “Aku ikhlas menolongmu. Bahkan diriku yang mengajukan diri dijadikan bahan percobaan … ha ha ha.”

Sriana membalas pelukan itu, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih ya anak baik. Dalam sujudku, selalu tak sematkan namamu. Semoga kamu menemukan bahagia tanpa harus bermandikan air mata. Cukup yang sudah-sudah memeluk lara, semoga kedepannya tinggal mendekap bahagia.”

“Aamiin.” Eka terharu, mengusap sudut mata yang basah. Ada kalanya dia rapuh, butuh sandaran nyata tidak sekadar bercengkrama dengan sang Al-khaliq.

Hidup di perantauan, memiliki keluarga egois yang tahunya uang, uang, dan uang – hampir membuat Eka gila. Dari yang pribadi paling peduli menjadi abai. Dulu dia selalu menjaga setiap perasaan, bertutur hati-hati agar tidak menyakiti. Sekarang semua kebalikannya – lisannya hanya akan mengucapkan sesuai fakta.

“Semoga nanti aku bisa sukses. Punya usaha, bangun rumah gedong, terus kalau kamu pengen pensiun, bingung mau pulang kemana – tinggal saja dengan kami. Jadi, Septian dan Ambar punya tante baik hati, bak malaikat tak bersayap.”

Eka terkekeh, air matanya jatuh. Ia relai pelukan mereka. “Tak inget loh, nanti bakalan aku tagih.”

“Ayo sana nggaya, Mbak. Biar tak videoin sama foto.” Dia dorong pelan punggung Sriana.

“Aku ndak bisa bergaya, bingung mau pose gimana, Ka.” Sri sudah melangkah, tapi berbalik lagi.

“Tegakkan punggungmu, terus jalan santai. Tanganmu pegang tali tas, pas naik undakan tangga paling atas – muter sampai rok mu mengembang, Mbak,” titahnya. Satu tangan sibuk megang ponsel, satunya lagi mengatur handphone yang ditaruh di tripod otomatis.

Sriana menurut, berusaha senatural mungkin. Dia membayangkan tengah pergi bertamasya bersama kedua buah hatinya – senyuman terbit, sorot mata melembut. Setiap langkah kaki terasa ringan, lalu dia berputar pelan seraya tersenyum lebar sampai kedua lesung pipinya terlihat sempurna.

“Wihhh … wes cocok jadi model dirimu, Mbak!” Eka memekik kegirangan, dia puas akan hasil video maupun jepretan kameranya.

Bagaikan kawula muda, Sriana berlari menuju sahabatnya. Ingin melihat hasil barusan, dia terlihat senang sebab melebihi ekspektasi.

Lalu secara bergantian mereka berfoto, ada juga bersamaan. Bukan hanya di satu lokasi, tetapi banyak tempat bagus.

Setelah puas, lelah, kedua wanita beda usia, terlihat seperti kakak beradik itu – membeli siomay, teh hangat demi menghangatkan perut.

Kini mereka duduk di sebuah taman bersih, sepi pengunjung.

“Udah tak pilihin yang bagus, Mbak. Coba lihat, barusan ku kirim, wajahmu pun tak stiker yang video tadi.” Eka meniup kepulan uap teh dalam gelas kertas.

Sriana tersenyum, matanya menyipit memandang lekat satu persatu foto dan video yang dikirim oleh Eka. “Menurutmu mana yang cocok dijadikan foto profil dan sampul, Ka?”

“Eka mengambil ponsel dalam genggaman Sriana. “Yang ngadap melihat replika menara jam Big Ben (Elizabeth Tower) ini cocoknya buat foto sampul. Terus satu lagi dirimu duduk di bangku sambil lihat menara Eiffel, bagus dijadikan foto profil.”

“Wajahku ndak kelihatan jelas ‘kan, Ka? Takutnya nanti di zoom, terus ketahuan kalau jerawatku mulai hampir sembuh total,” ada rasa cemas dihatinya.

Sekarang kulit wajah Sriana sudah jauh lebih baik kondisinya, tinggal memulihkan bekas jerawat yang baru saja mengering, kulit mati terkelupas.

Sahabatnya pun mencoba melakukan zoom, hasilnya seperti keinginan dia. “Ndak kok, Mbak. Malah blur kalau di perbesar.”

“Sama video tadi di posting sekalian, biar kepanasan anaknya nenek Tapasya itu,” usulnya dengan senyum jahil.

“Sekarang atau nanti saja, Ka?” tanyanya sedikit ragu.

“Tahun depan, Mbak. Ya sekarang lah, mumpung sinyalnya kuat disini ndak kayak kena gempa hilang timbul.”

Melihat keraguan sang sahabat, kembali dirinya menyeletuk. “Kamu itu cuma mau posting loh, bukannya pergi jihad ke medan perang. Kalau ditunda-tunda malah nanti timingnya ndak tepat lagi.

“Bismillah.” Sriana mengganti foto profil yang sebelumnya pemandangan desa Danur Rejo, lalu foto sampul dari gambar air terjun menjadi potret dirinya.

Kemudian memposting video reels, tanpa caption, diberi alunan musik mengalun lembut.

Eka juga melakukan hal sama, dia sudah tidak lagi menggembok laman media sosialnya, sekarang diubah menjadi mode profesional. Dalam beberapa hari, pengikutnya membludak.

Eka termasuk pintar menarik minat orang untuk mengikuti akun media sosialnya. Dia sering masuk di konten beberapa temannya yang memiliki pengikut puluhan ribu, lalu namanya di tag. Dari situlah jumlah followersnya naik pesat, terutama para kaum Adam.

Foto-foto mereka di posting, khusus bersama Sriana – dipilih yang tidak memperlihatkan jelas wajahnya. Bisa saja beralasan menggunakan efek filter, tapi Eka termasuk pribadi yang hati-hati. Mencegah kemungkinan buruk terjadi, sedia payung sebelum hujan.

“Jembut memang Jahit iki. Belum ada setengah jam mbak Sri ganti foto profil dan sampul, langsung di like. Aku mengirim pertemanan sudah hampir dua mingguan ndak ada digubris. Kayaknya memang harus menempuh jalur sesat ini!” Eka mencebik, dia melihat siapa saja yang menyukai postingan sahabatnya. Di sana terselip satu nama lelaki, Zahid Bagas.

Sriana terpingkal-pingkal. Sahabatnya memang luar biasa sekali.

“Wih mbak Sri … banyak banget yang komen, apalagi like. Tak baca boleh, Mbak?” Mata Eka membulat, bisa saja langsung melakukan, tapi dia tahu adab.

“Silahkan. Itu kebanyakan teman SMA ku, aku sudah lama banget ndak ada posting foto. Makanya mereka pada nanya kabar.” Sriana membaca beberapa komentar dari teman perempuan. Mengabaikan para pria mencoba menggoda dengan cara memuji.

Ting.

Sebuah pesan di messenger menarik perhatiannya ....

.

.

Bersambung.

1
Y.S Meliana
wokeh sipp 😎 ayo mbak wuwul kasih saran yg bener
Y.S Meliana
aku aamiin kan y mbak wuwul 😅
Aprisya
idih kepedean kamu gung
Y.S Meliana
ga kebalik tah gung 😤😤😤
laki² sampah, mokondo 😤
Y.S Meliana
najis bgt uweeek mual perut ku 😤
mudahlia
🤣🤣🤣🤣aduh skit perut aq sampe'an
mudahlia
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/mngilango ae kowe lan
Y.S Meliana
walaaah, Terah asu yg dtng 🤨🤨
Y.S Meliana
alamaaaaak blng aja itu noda lipstik buat kenang kenangan, temen bobo smntra 🤣
Y.S Meliana
selain bisa bahasa kolbu, mas zahid jg bs jd cenayang y 🤣
Y.S Meliana
aaaaiiiiih 🤣🤣🤣
mudahlia
🤣🤣klian udah kyak tarzan heboh dewe
Y.S Meliana
astaghfirullah 🤣🤣🤣 anak TK? unyu² bgt donk 😅
~Ni Inda~
Bisa gila ini si Triana
Klw Triana gila...lha siapa yg membiayai hdp Ibu & mertuanya 🤔
Dahlah
..ngapain pula aku yg repot mikirinnya 🤣🤣🤣
mudahlia
🤣🤣🤣
Y.S Meliana
salah'y di mata dia mbak, liat kamu terlalu cantik 🤣
mudahlia
pancan wulan gk kenek di senggol
Y.S Meliana
y allah maaaas, jgn gt ah... mbak ana bingung tuh jadi'y 😅
~Ni Inda~
Woey Jumi...comblangin noh dua manusia yg gengsinya setinggi Burj Khalifa
Yg satu merasa gak pantes
Satunya lagi merasa takut ditinggalin lagi tp ga brani jujur
Y.S Meliana
sopo iki sing takon? mas zahid kah 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!