Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Saya juga tidak bahagia...
“Di mana Alyssa?” tanya Lita sambil menoleh ke kanan dan kiri, jelas menunggu sosok calon menantunya muncul.
“Dia sedang salat, Ma. Mama tahu tidak, Kak Alyssa sangat rajin beribadah. Kakak beruntung punya calon istri seperti dia,” puji Bela penuh kekaguman.
“Alah paling juga cari muka,” sahut Brayen ketus tanpa menoleh sedikit pun.
Di kepalanya, semua yang dilakukan Alyssa tak lebih dari sandiwara murahan untuk merebut simpati keluarganya sama seperti para wanita yang ia temui.
“Kakak salah paham,” Bela menggeleng kuat.
“Kak Alyssa tidak seperti itu. Bagaimana bisa kakak mengatakan semua itu padahal kakak tidak tau siapa kak Alyssa, dia wanita baik kak, bahkan sebelum tahu status keluarga kita. Dia dengan senang hati membantuku.”
“Percuma kamu membelanya, Bela,” potong Lita dengan nada getir.
“Bagi kakakmu, sebaik apa pun Alyssa, tidak akan pernah cukup. Yang baik hanya Maudy… wanita yang sudah jelas-jelas meninggalkannya. Benar kan, Brayen?”
Brayen terdiam. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi. Sepertinya ia tersinggung dengan apa yang ibunya katakan.
berbeda dengan kakaknya Bela justru terkikik pelan, seolah menikmati sindiran yang lita berikan.
Tak lama, seorang wanita berjalan mendekat dari ujung lorong. Senyum manisnya terukir jelas, lesung pipinya tampak ketika ia tersenyum sopan.
“Itu Kak Alyssa,” bisik Bela girang.
Lita langsung tersenyum hangat menyambut kedatangan menantunya itu, namun Brayen justru memalingkan wajah, menatap jendela seolah tak ingin tahu tentangnya.
“Maaf membuat Tante menunggu,” ucap Alyssa lembut.
“Tidak, Tante baru saja sampai,” jawab Lita sambil melirik tajam ke arah Brayen.
Wajah putranya masih sama dingin bagaikan es di kutub Utara.
Helaan nafas terdengar dari hidung Lita ia tidak tau sampai kapan anaknya akan seperti itu.
“Alyssa, ini Brayen, calon suamimu.”
“Alyssa,” ucap Alyssa sambil mengulurkan tangan, namun....
Tak ada balasan.
Hening.
Brayen sama sekali tidak bergerak. Tatapannya tetap lurus ke depan seolah tidak peduli dengan apa yang Alyssa lakukan.
“Brayen,” panggil Lita pelan namun mengandung peringatan.
Tetap tidak digubris.
Melihat itu Alyssa pun langsung menarik kembali tangannya dengan senyum canggung.
“Tidak apa-apa, Tante. Saya mengerti.”
Hati Lita terasa perih melihat sikap putranya.
“Oh ya… bagaimana keadaan ibu kamu?” tanya Lita mengalihkan suasana. Dalam hati ia berharap Alyssa tidak tersinggung, meskipun ia tidak yakin dengan itu.
Mendengar ibunya disebutkan senyum Alyssa memudar.
“Beliau belum siuman sampai sekarang, Tante,” lirihnya. Matanya berkaca-kaca, menahan kesedihan yang menyesakkan dada.
“Yang sabar ya, Nak,” ucap Lita mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Alyssa perlahan.
Alyssa hanya mengangguk pilu, sabar... Kata itu terdengar sulit untuknya namun ia harus menguatkan hatinya meskipun ia tidak tau apakah ia sanggup untuk sabar.
“Bolehkah Tante menjenguk ibumu?”
“Silakan, Tante. Beliau ada di dalam.”
“Ayo Bela,” bisik Lita menarik putrinya.
Mau tidak mau bela mengikuti ibunya. Setelah jauh dari Alyssa barulah ia mengeluarkan protesnya.
“Kenapa sih Ma?”
"kenapa apanya?" tanya Lita tidak paham.
"kenapa mama menarik ku, aku kan belum selesai mengobrol dengan kak Alyssa."
“Dasar kamu ini… Sungguh tidak peka." Kening bela berkerut dalam.
"Mama sengaja meninggalkan mereka berdua, agar mereka bisa semakin dekat.”
“Oh…” Bela mengangguk paham.
"Tapi apa kak Brayen mau mengobrol dengan kak Alyssa melihat sikapnya sepertinya susah."
"Entahlah mama juga tidak tau, berhasil atau tidak yang penting mama sudah berusaha." ucap Lita sebelum membawa anaknya masuk ke kamar, meninggalkan Brayen dan Alyssa berdua di lorong.
Sunyi kembali menyelimuti. Alyssa menatap hujan yang mulai turun di balik kaca, sementara Brayen masih enggan menoleh.
“Apa kamu senang?” tiba-tiba Brayen bersuara.
Alyssa yang sibuk memikirkan ibunya pun menoleh bingung tidak mengerti apa maksud dari perkataan laki laki dihadapannya itu.
“Maksud Anda?”
Brayen terkekeh sinis.
“Tidak usah berpura-pura. Di sini hanya ada kita. Buka saja topengmu dan tunjukkan wajah Aslimu!"
“Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, tapi satu hal yang kamu harus tau aku bahwa tidak pernah memakai topeng apa pun.”
Brayen akhirnya menatapnya, sorot matanya tajam penuh kecurigaan.
“ Itu hanya Alibimu saja, sebenarnya aku sudah tau kalau kamu sangat senang, Karena sebentar lagi menikah denganku dan menjadi menantu keluarga kaya.”
Alyssa terdiam. Kata-kata itu menusuk harga dirinya, matanya kembali berkaca kaca bukan karena sedih melainkan sakit hati atas tudingan Brayen yang tidak berdasar.
“Jika Anda berpikir seperti itu,” ucap Alyssa lirih namun tegas.
“berarti Anda benar-benar tidak mengenal saya.”
Brayen mendengus. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi rodanya, kedua lengannya terlipat di dada, seolah sedang mengadili seseorang yang dianggapnya penuh kepalsuan.
“Kenal?” ia terkekeh tanpa tawa. “Aku tidak butuh mengenalmu. Bagiku tidak ada perempuan baik didunia ini selain ibu, adik dan istriku... Semua perempuan sama. Begitu tahu aku siapa, keluargaku siapa, kalian semua mendadak menjadi seperti malaikat.”
Alyssa menelan ludah. Dadanya terasa sesak, namun ia memaksa suaranya tetap stabil.
“Saya tidak pernah meminta ini, Tuan Brayen. Saya bahkan tidak tahu apa pun tentang keluarga Anda bahkan saat pertama kali saya bertemu dengan Tante Lita dan Bela.”
“Jangan memanggil namaku dengan nada polos seperti itu,” potong Brayen kasar.
“Kamu tahu tidak, aku sudah muak melihat perempuan yang pura-pura peduli lalu berharap imbalan. Kamu pikir aku bodoh?”
“Tidak,” jawab Alyssa pelan.
“Anda sangat berpendidikan jadi bagaimana mungkin Anda bodoh, tapi Anda juga tidak adil menilai semua orang seperti itu.”
Kata-kata itu membuat Brayen terdiam sesaat. Rahangnya mengeras menahan amarah, ia tidak terima karena Alyssa berani mengomentari sikapnya.
“Jangan mengomentari ku, kamu tidak berhak.” ucapnya rendah berbahaya.
Alyssa menghela napas panjang. Tangannya gemetar menahan perasaan yang selama ini ia pendam.
“Saya tau Sikap anda yang seperti ini karena anda masih mencintai istri anda, saya mengerti dan saya tidak pernah berniat menggantikan siapa pun,” katanya sambil menatap lantai.
“Saya hanya ingin ibu saya sembuh. Itu saja.”
Ia menahan tangis, namun air mata tetap jatuh.
“Kalau menikah dengan Anda adalah harga yang harus saya bayar demi melihat ibu saya tersenyum lagi, maka saya akan melakukannya. Tapi bukan berarti saya bahagia.”
Hujan di luar semakin deras, menambah dingin di antara mereka.
Brayen mematung. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ada sesuatu yang bergetar di dadanya entah itu kemarahan atau rasa bersalah yang enggan ia akui.