NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Membandingkan Dengan Mantan

Dengan teman seusianya saja Keisya tidak mudah berbaur, apalagi dengan perkumpulan orang-orang yang jauh lebih dewasa darinya. Dia seperti anak hilang di tengah sekumpulan manusia.

Matanya melirik Bastian yang sedang terlibat perbincangan dengan yang lain. Lalu dia menunduk, dimana ada tangannya yang di genggam Bastian berada di atas pangkuannya.

Genggaman itu sudah bertaut sejak mereka tiba, dan masih bertahan hingga sekarang.

Dia kembali bertanya tanya, fungsinya selain menjadi 'pasangan pura-pura' Bastian, apa?

Keisya hanya duduk, sesekali makan dan minum, itu pun harus mendapatkan persetujuan lebih dulu dari Bastian.

Untuk yang satu itu dia tidak keberatan. Takut kejadian malam itu kembali terulang. Dan juga dia ingat pesan Papa-nya.

Keisya menggerakkan tangannya. membuat Bastian langsung menoleh ke arahnya.

"Ada apa?" Bastian bertanya dengan lembut.

Keisya sempat melirik sekitar, lalu mendekatkan wajahnya sebelum menjawab "Mau ke toilet" bisiknya.

"Mau apa?"

Keisya menyerit heran. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Orang menggunakan toilet memang untuk apa selain buang air?

Polos sekali pola pikir gadis itu.

"Harus banget aku jawab?" dia masih bisa mengendalikan suaranya. tapi tidak dengan ekspresi wajahnya. Kekesalan tergambar jelas dari caranya berbicara.

Bastian terkekeh kecil. "Baiklah. Ayo saya antar"

Bastian hampir berdiri, namun Keisya menahannya. "Ga perlu di anter, aku bisa sendiri. Aku cuma mau minta izin, bukan minta anter"

"Tidak bisa" tolaknya mentah mentah.

"Ish. Ya udah" Bastian pikir Keisya akan setuju dengan ucapannya. Tapi ternyata, "Kalau gitu aku mau pulang aja" dia merajuk.

Bastian tidak memiliki pilihan lain selain mengizinkan gadis itu pergi sendiri. "Ada pelayan di depan, kamu minta antar sampai depan toilet. Tidak ada lagi penolakan" tegasnya pada kalimat terakhir.

Bukan hanya Bastian yang pasrah, Keisya pun memilih setuju dengan permintaan tersebut. Lagipula ini jauh lebih baik jika dibanding dengan pria itu sendiri yang mengekorinya.

Sangat memalukan, dan canggung tentunya.

Setelah selesai dengan hajatnya, Keisya keluar dari bilik toilet. Di depan cermin wastafel ada orang lain yang sedang memperbaiki riasannya.

Keisya mengambil posisi di sampingnya, lalu mencuci kedua tangannya.

Tidak ada obrolan atau sapaan, karena dia tidak mengenal wanita itu. Keisya tetap menunduk, tak sedikitpun melihat orang di sebelahnya.

Tanpa tahu jika wanita itu justru tengah memperhatikannya sejak dia keluar dari pantulan cermin.

"Kamu kelihatannya masih sangat muda" suara itu membuat Keisya mendongak. Mereka bertatapan lewat cermin untuk pertama kalinya.

Saat itu Keisya ingat, sepertinya wanita ini salah satu orang yang mengikuti acara reuni. Entah itu hanya pasangan yang menemani atau memang satu angkatan dengan Bastian.

"Aku?" Keisya memastikan jika dirinya lah yang di ajak bicara. Namun setelah ingat hanya ada mereka berdua disana, Keisya sadar, kepadanya lah pertanyaan itu ditujukan.

Wanita bergincu merah itu tersenyum. "Siapa nama kamu?"

"Keisya" jawabnya ramah.

"Nama yang cantik, sama seperti orangnya"

Keisya tersenyum mendapatkan pujian tersebut. Tapi dia merasa kalimat ini hanya sebuah pembuka dari pembicaraan sesungguhnya yang ingin wanita ini sampaikan.

Perasaannya cukup tidak nyaman.

Dia takut diberikan pertanyaan yang sulit untuknya menjawab. Apalagi tidak ada Bastian disini, yang sebelumnya mewakili dirinya dalam menjawab semua rentetan pertanyaan dari orang orang yang hadir.

"Kamu pasangan sungguhan Bastian?" pertanyaan lain terlontar, sekaligus membenarkan tebakannya.

Keisya mengangguk.

Sudah sejauh ini, tidak mungkin dia menyangkal. Bastian pun sudah memperkenalkannya sebagai pasangannya pada semua orang.

"Tidak menyangka selera Bastian menurun"

Nada suaranya sangat tidak enak di dengar. Meskipun tidak secara langsung, namun wanita itu seperti mengatakan jika dirinya sangat tidak layak dengan selera Bastian sebelumnya.

Perempuan itu tertawa kecil, "Maaf yah. bukan bermaksud seperti itu. Hanya saja jika di bandingkan dengan mantan istrinya dulu, kamu masih kalah jauh"

Setelahnya dia menutup mulutnya, berlagak keceplosan dengan ekspresi kagetnya yang dibuat buat, "Oh atau kamu belum tahu mantan istrinya Bastian yah? Atau justru kamu bahkan belum tahu kalau Bastian sudah pernah menikah?"

Ok, wanita ini benar-benar sedang mencari masalah dengannya. Keisya tak akan tinggal diam. Harga dirinya di pertaruhkan di sini.

Dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman manis. "Sepertinya tante salah paham"

Ekspresi wanita itu berubah drastis. Kata tante yang disematkan Keisya, membuatnya terkesan sangat tua. Meskipun benar, tapi perawatan yang dilakukannya sangat mahal. Penampilannya pun tidak kalah dengan wanita muda di luaran sana.

Bahkan menurutnya tidak jauh berbeda dengan remaja di depannya saat ini.

"Aku tahu banyak tentang dia. Perceraiannya, kedua anaknya, Haikal dan David" dia menjeda, lalu menambahkan "Bukan cuma itu saja, Bastian juga sangat dekat sama Papa aku" suaranya tenang, namun begitu menohok sampai membuat wanita itu terdiam.

Mungkin tidak menyangka jika hubungannya dengan Bastian terdengar sangat nyata.

"Aku memang belum pernah ketemu langsung sama mantan istrinya, Bastian juga ga pernah membahas hal itu. Katanya mantan itu cuma bagian dari masalalu, ga lebih" Dia menekankan dua kata terakhirnya.

"Tapi kalau soal penampilan, aku yakin bisa bersaing. Apalagi dari segi usia, aku jauh lebih unggul. Jadi tante ga perlu khawatir soal hubungan aku sama Bastian. Karena itu sama sekali bukan urusan tante"

Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya setelah mengatakan semua itu. Apalagi melihat ekspresinya yang tampak kesal dan langsung pergi meninggalkannya sendiri.

Keisya berdecih menatap pintu, "Dasar kompor. Ga bakal berkah hidup lo kalo begitu terus" umpatnya, seolah wanita itu masih ada di depannya.

Keisya kembali mencuci tangannya, dan memperbaiki tatanan rambutnya. Matanya melihat penampilannya sendiri sambil memiringkan badanya ke kanan dan ke kiri.

"Cantik begini, malah di banding bandingin"

Namu. dalam hatinya dia tetap penasaran, seperti apa rupa mantan istri Bastian? Apakah benar secantik itu?

Apakah lebih cantik darinya?

Dia segera menggelengkan kepala dengan cepat, menyingkirkan pikiran konyolnya yang justru ikut membandingkan diri sendiri dengan orang yang belum ia temui.

Dalam perjalanan pulang, Keisya tanpa sadar lebih banyak diam. Pikirannya entah berada di mana. Sampai Bastian yang ada di sampingnya mulai kesal dengan tingkah gadisnya yang sangat hobi melamun itu.

"Mau kamu yang cerita, atau saya yang mencari tahu sendiri?"

Keisya menoleh, "Maksudnya?"

"Saya tidak bodoh. Setelah kamu kembali dari toilet, kamu jadi lebih banyak diam. Ada apa?" Sebenarnya sebelumnya pun Keisya tidak banyak bicara. Tapi perasaanya sangat kuat, ada yang berbeda dari gadis itu.

"Tapi aku gapapa. Mungkin cuma kekenyangan, terus jadinya ngantuk"

Bastian mengangguk, "Wanita yang keluar setelah kamu, pasti dia orangnya kan?"

Keisya terdiam, bingung harus merespon apa. Sejujurnya bukan sepenuhnya karena ucapan menyindir wanita itu juga yang membuatnya seperti ini, tapi karena rasa penasarannya saja.

"Kamu masih tidak mau bicara?"

"Atau harus tanya langsung sama wanita tadi?"

Keisya menggelengkan kepalanya, "Jangan" bisa gawat jika wanita itu melebih lebihkan apa yang barusan terjadi. Apalagi dia sudah membandingkan dirinya sendiri dengan mantan istri Bastian.

Jadi, demi menghindari masalah berlarut larut, sekaligus menjelaskan maksudnya melakukan itu, Keisya pun menceritakan semuanya, tanpa ada yang di tutup tutupi.

"Aku cuma kepancing emosi aja, bukan bermaksud membandingkan. Om jangan marah yah"

Tapi dari apa yang dia lihat, Bastian sekarang sepertinya tengah marah. Apakah benar karena Bastian belum bisa move on dari mantannya, dan tidak terima dengan apa yang dia katakan?

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!