NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial / Pengganti / Komedi
Popularitas:105k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Agenda Pertama

"Guru."

"Apa?" Kang Guru Harjo mengangkat wajah.

"Agenda pertama kapan?"

Kang Guru Harjo memeriksa kertas di tangannya.

"Lusa. Rapat dengan para demang soal pajak tanah."

Arjo mengangguk, wajahnya berubah serius.

"Kalau begitu, saya akan belajar tentang perpajakan sekarang." Ia duduk kembali, membuka buku tentang peraturan pajak oleh pemerintah Kolonial.

Kang Guru Harjo memandangnya sejenak, ada sesuatu di matanya yang mungkin bisa disebut... bangga.

Lalu ia duduk di hadapan Arjo, membuka buku yang tadi sempat terabaikan.

"Kau juga harus belajar ini, tata cara rapat dengan para demang menurut adat kadipaten..."

Dan malam yang sudah larut itu menjadi semakin panjang.

Tapi di dalam pendopo, dua sosok masih terjaga—satu mengajar, satu belajar. Mempersiapkan diri untuk agenda yang akan datang.

\~\~\~

Lusa datang terlalu cepat. Dua hari terasa seperti dua jam.

Arjo tenggelam dalam pelajaran dengan Kang Guru Harjo—membaca, menghafalkan, menyempurnakan gestur dan cara bicara.

Dan sekarang, waktunya tiba.

Fajar baru menyingsing ketika Arjo berjalan menyusuri lorong padepokan bersama Kang Guru Harjo dan Nyi Seger. Udara pagi masih dingin, embun menggantung di dedaunan, kabut tipis melayang di permukaan tanah.

Langkah mereka membawa Arjo ke bagian padepokan yang jarang ia kunjungi—deretan pavilion di sisi selatan, tersembunyi di balik rumpun bambu kuning. Di antara pavilion-pavilion sederhana untuk para tamu, satu bangunan berdiri lebih megah dari yang lain.

Pavilion khusus untuk Bupati kalau beliau berkunjung ke padepokan. Dan sekarang, pavilion itu juga menjadi fasilitas untuk Arjo.

Arjo menatap bangunan itu. Atap joglo dengan ukiran halus. Tiang-tiang kayu jati yang dipernis mengkilap. Lantai marmer yang dingin dan bersih. Tempat tidur dengan kasur tebal dan selimut sutra. Meja rias dengan cermin besar berukir emas.

Terlalu mewah.

Selama lima tahun ini, Arjo hampir jarang sekali menginjakkan kaki ke sini. Ia lebih memilih tidur di barak biasa dengan teman-teman seperguruannya; dipan kayu sederhana, kasur tipis, selimut kain biasa. Sama seperti yang lain. Tidak ada perbedaan.

Satu-satunya waktu ia menggunakan pavilion ini adalah saat harus berlatih menjadi bupati; berpakaian, berjalan, duduk dengan cara ningrat. Itupun tidak sampai menginap.

"Duduk." Nyi Seger menunjuk kursi di depan meja rias. "Kita tidak punya banyak waktu."

Arjo menurut. Ia duduk menghadap cermin besar, memandang wajahnya sendiri yang masih kusut karena baru bangun tidur, mandi air dingin tak cukup menghilangkan kantuk.

Nyi Seger meletakkan kotak kayu besar di atas meja—kotak yang selalu ia bawa saat ada misi penyamaran. Kotak yang berisi alat-alat rahasia untuk mengubah wajah seseorang menjadi orang lain.

Klek.

Tutup kotak terbuka.

Bau aneh langsung menyergap hidung Arjo—campuran lilin lebah, minyak kelapa, bubuk tanah liat, dan entah ramuan apa lagi yang hanya Nyi Seger yang tahu. Bau yang tidak pernah bisa ia sukai meski sudah menciumnya puluhan kali.

Di dalam kotak, tersusun rapi kaleng-kaleng bundar dari berbagai ukuran. Kuas-kuas dari bulu kambing dan bulu ayam. Potongan-potongan kain tipis. Botol-botol kecil berisi cairan berwarna-warni. Pensil-pensil dari arang. Bedak dari tepung beras yang sudah dicampur pewarna alami.

Peralatan Nyi Seger untuk membuat wajah berbeda.

Arjo menghela napas panjang.

"Di mana-mana orang dirias agar terlihat muda." Ia menggerutu. "Aku malah dirias agar terlihat tua."

Kang Guru Harjo yang sedang memeriksa perlengkapan dan senjata Arjo di sudut ruangan terkekeh pelan.

"Ndoro Gusti Bupati lima belas tahun lebih tua darimu." Nyi Seger mengambil salah satu kaleng, membukanya, mencelupkan kuas ke dalam pasta kecokelatan di dalamnya. "Mau tidak mau, kau harus tampak seusianya. Sekarang diam dan jangan banyak bergerak."

Arjo menutup mulut.

Tapi jantungnya berdebar semakin kencang.

Tempo hari, tugas pertamanya sebagai bayangan bupati hanya mengawasi pembangunan jalur kereta api dari dalam kereta. Duduk, melihat dari jauh, mengangguk-angguk pada para mandor yang membungkuk hormat. Tidak perlu bicara banyak. Tidak perlu berinteraksi langsung.

Tapi sekarang?

Rapat dengan para demang. Duduk di pendopo agung kadipaten. Dikelilingi pejabat-pejabat yang mengenal Soedarsono sejak lahir, harus mendengarkan laporan, menanggapi, memberi keputusan.

"Guru." Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan. "Bagaimana kalau mereka mengenali saya? Menyadari saya bukan Ndoro Gusti Bupati?"

Kang Guru Harjo berhenti memeriksa pistol di tangannya, menoleh.

"Kau bangsawan tertinggi di kadipaten." Suaranya tenang, meyakinkan. "Orang-orang yang lebih rendah derajatnya tidak akan berani mengangkat wajah sejajar denganmu, kecuali dalam kondisi tertentu. Mereka akan menunduk. Melihat pun tidak akan lama-lama."

"Tapi kalau ada yang curiga—"

"Kau sudah berlatih bertahun-tahun, Arjo." Kang Guru Harjo meletakkan pistol yang sudah diperiksa, mengambil keris dari kotaknya. "Cara bicara, cara duduk, cara mengangguk, semuanya sudah kau kuasai. Lagipula, Ki Atmojo—pengawal pribadi Ndoro Gusti Bupati akan mendampingimu. Dia akan selalu di belakangmu, membisikkan arahan kalau kau bingung. Kau tinggal mengikuti."

Arjo menelan ludah.

"Tugasmu hari ini sederhana." Kang Guru Harjo melanjutkan. "Duduk di kursi bupati. Mendengarkan laporan dari para demang. Sesekali mengangguk dengan wibawa. Tidak perlu bicara banyak—Ndoro Gusti Bupati memang dikenal pendiam dan penuh pertimbangan."

Ia merogoh saku beskap-nya, mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi.

"Ini catatan dari Ndoro Gusti Bupati sendiri. Apa saja yang harus kau setujui, apa saja yang harus kau tolak, apa saja yang harus kau tunda untuk dibahas lagi. Semua sudah tertulis di sini. Kau tinggal mengikuti."

Arjo menerima kertas itu dengan bahu merosot.

"Jangan khawatir." Kang Guru Harjo menepuk bahunya. "Ini bukan pertarungan. Hanya rapat. Yang paling berbahaya mungkin cuma bosan dan mengantuk mendengarkan demang tua mengeluh soal pajak."

“Di Kadipaten banyak perempuan cantik, Jo,” ujar Nyi Seger sambil terus melaburi wajah Arjo dengan pasta kecokelatan. “Kau tidak akan bosan. Istri Ndoro Gusti bupati saja cantik-cantik.”

Arjo berdecak lidah. “Itu kan istri Ndoro Gusti Bupati, bukan istri saya.”

Nyi Seger tertawa. “Sabar. Nanti ada waktunya Ndoro Gusti Bupati akan mencarikan jodoh untukmu. Nanti, setelah kau benar-benar bisa menjadi bupati yang bijaksana.”

Arjo menghela napas panjang. Rasanya tidak nyaman tidak menjadi diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi.

Arjo malas membahas tentang jodoh, rasanya mustahil mendapatkan istri di situasi yang sedang sulit seperti ini. Ia mengalihkan pandangan ke jam sambil bertanya.

“Kang Guru, nanti bagaimana?”

"Ndoro Gusti Bupati akan keluar dari kadipaten pagi ini." Kang Guru Harjo menjelaskan sambil menyusun senjata-senjata Arjo di atas meja. "Beliau akan naik kereta ke kantor asisten residen sebentar, setelah itu kereta akan kembali ke kadipaten. Di persimpangan jalur kecil di dekat hutan, kereta akan berhenti sebentar. Di sana, kalian akan bertukar posisi. Kau masuk ke kereta sebagai bupati, beliau turun dan pergi dengan kuda biasa, akan mencari istrinya yang hilang. Kereta akan membawamu ke pendopo agung kadipaten untuk rapat."

1
Y. Haryadi
lanjut
Ulfa Riady
wuiiih keren kangmas arjo argumennya,😍😍😍
Andina Jahanara
next kak 👍
Lannifa Dariyah
di sini udh mendem ndoro crita nya
Hayisa Aaroon: nanti ngepasin sama Keti dulu, yang sana ketinggalan jauh waktunya.
total 1 replies
lilyrose
terkesima to kmu agnes 😂 rugi kowe yen arjo mbo tolakk😂
Ario Umbaran
Ini kl arjo jd Bupati jaman skrng sdh tak dukung nyapress, cerdas, tas tes, sat set, kendel, dan bela rakyat..
Ricis
Nah lho, emng keren Bupati satu ini. lain dari yg lain, dia bkn bupati yg dpat jabatan dgn mudah, tapi dgn bentukan+gemblengan yg luar biasa. siap2 kagum kau Agnes 😃
lely niurlaely
cerita ka author ga pernah gagal..alur ga bosenin dan tdk bertele tele, kerreen pokoknya
yue yah
Ojo seuzon jo.kw lo Yo luweh cerdik
Kustri
☕sik Jo!
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
Fetri Diani
Jos gandos ndoro bupati Aryo... 👍
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
arjo di didik keras mkne lebih oandai arjondr soedarsono yg memelih patuh sm kanjng ndoro gusti kusumawati

yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu
Giyatmini
arjo, pemimpin yg sebenarnya...
pandai merangkai kata
Albina
👍👍👍👍 arjo
Teh Qurrotha
pesona Arjo keluar,Agnes terkesima
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
agnes menyuarakan pemberontak itu
Ricis
lanjut versi Agnes mode jujurnya
Muchamad Ikbal
ndoro Arjo cinta buta. Sll ja mau masuk permainan Agnes.😐🙆‍♀️
Ario Umbaran
Agnes mau dirudapaksa edward, tp melawan dan bunuh edward, gak semudah itu bunuh perwira kl dalam posisi siap
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
sebernarnya ada apa
bisa lasih flash back nya ndoro 🤭🤣🤣
aq kok penasaran deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!