Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Gema suara Siska di telepon semalam masih terngiang-ngiang di sudut-sudut ruangan apartemen, seperti polusi yang tidak bisa dibersihkan oleh pemurni udara secanggih apa pun.
Pagi yang seharusnya diisi dengan persiapan keberangkatan menuju Singapura justru berubah menjadi medan tempur emosional yang jauh lebih destruktif daripada sabotase digital mana pun.
Nabila berdiri di dapur, tangannya gemetar saat memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Rencana hebat yang ia susun semalam - tentang menjadi "intelijen" dan merekam Siska - ternyata jauh lebih sulit dijalankan secara emosional daripada secara logika.
Bayangan suaminya berada di satu ranjang presidential suite dengan wanita yang pernah membunuh janinnya sendiri adalah racun yang mulai menggerogoti kewarasan Nabila.
Arga keluar dari kamar dengan koper yang sudah terkunci. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa. "Nabila, aku harus berangkat ke bandara sekarang. Sopir kantor sudah di bawah."
Nabila berbalik, matanya merah karena kurang tidur. "Jangan pergi, Arga."
Langkah Arga terhenti. "Apa? Tapi semalam kita sudah sepakat. Kau sendiri yang bilang ini satu-satunya cara untuk menjatuhkannya."
"Itu semalam, Arga! Semalam aku bicara sebagai pengacara yang haus akan bukti. Tapi pagi ini, aku bicara sebagai seorang istri!" Nabila meletakkan cangkirnya dengan keras hingga airnya memercik ke meja. "Aku tidak sanggup, Mas. Aku tidak sanggup membayangkan kau masuk ke kamar itu, menghirup aroma parfumnya selama tiga hari, dan berpura-pura tunduk padanya. Bagaimana jika kau goyah? Bagaimana jika sejarah sepuluh tahun itu terulang kembali?"
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. "Nabila, tolong... jangan sekarang. Aku sudah menguatkan hatiku semalaman. Jika aku membatalkan ini sekarang, Siska akan langsung menjalankan ancamannya. Dia akan melaporkan penggelapan dana itu hari ini juga!"
"Maka biarkan dia melaporkannya!" teriak Nabila. Suaranya pecah, emosi yang ia tahan selama berminggu-minggu akhirnya meledak. "Aku lebih baik membelamu di pengadilan sebagai tersangka daripada harus membiarkan suamiku menyerahkan dirinya pada wanita iblis itu! Kau bilang kau muak padanya, tapi kenapa kau selalu memilih untuk mengikuti permainannya?"
"Karena aku mencoba menyelamatkan hidup kita, Nabila!" Arga membalas dengan nada yang tak kalah tinggi. "Kau pikir gampang bagiku? Setiap kali aku menatap wajahnya, aku teringat bayi yang hilang itu! Setiap kali dia menyentuhku, aku merasa ingin muntah! Tapi kalau aku berhenti sekarang, Pak Roy akan hancur. Pak Roy sangat percaya padanya, Nabila. Jika aku tiba-tiba menyerang Siska tanpa bukti yang tak terbantahkan, Pak Roy akan menganggap aku yang mencoba memfitnah istrinya demi jabatan!"
Nabila tertawa pahit, air mata mengalir di pipinya. "Pak Roy, Pak Roy, dan Pak Roy. Kau selalu memikirkan perasaan orang tua itu, tapi kau tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku setiap kali kau berbohong padaku! Kau menyimpan rahasia tentang dia selama bertahun-tahun, Arga. Kepercayaanku padamu sudah retak, dan perjalanan ke Singapura ini akan menghancurkannya berkeping-keping."
Arga terdiam. Kata-kata 'kepercayaanku sudah retak' terasa seperti pisau yang menghujam jantungnya. Ia mendekati Nabila, mencoba memegang bahunya, namun Nabila menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, Arga. Simpan sentuhanmu untuk 'tugas negosiasimu' di Singapura," ucap Nabila dengan nada yang penuh kebencian yang asing bagi Arga.
"Nabila, demi Tuhan, ini tugas intelijen. Aku membawa perekam itu!"
"Lalu apa? Kau akan merekam suara desahannya saat dia mencoba menggodamu? Kau akan merekam bagaimana kau tidak berdaya melawannya?" Nabila berjalan menuju pintu kamar dan membantingnya.
Arga berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Ia melihat jam dinding. Waktu terus berjalan. Ia terjepit dalam dilema yang mengerikan. Jika ia tetap tinggal, Siska akan menghancurkan karier dan nama baiknya hari ini. Jika ia pergi, ia mungkin akan pulang ke apartemen yang kosong.
Arga mengetuk pintu kamar dengan pelan. "Nabila... aku harus pergi. Ini bukan untuk jabatanku. Ini untuk membungkam dia selamanya agar dia tidak bisa lagi meneror kita. Aku mencintaimu, lebih dari hidupku sendiri."
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Hanya keheningan yang dingin.
Dengan berat hati, Arga menarik kopernya keluar dari apartemen. Setiap langkah menjauh dari pintu itu terasa seperti kehilangan satu bagian dari jiwanya. Di dalam mobil menuju bandara, Arga menatap ponselnya. Tidak ada pesan perpisahan dari Nabila.
Sementara itu, di dalam kamar, Nabila duduk bersimpuh di balik pintu yang terkunci. Ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa gagal. Sebagai pengacara, ia gagal menjaga logikanya tetap di atas emosi. Sebagai istri, ia merasa kehilangan suaminya sebelum suaminya benar-benar pergi.
Nabila berdiri dan menghapus air matanya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa hanya diam meratapi nasib. Jika Arga memutuskan untuk masuk ke lubang singa, maka ia harus memastikan singa itu tidak bisa menggigit.
Nabila meraih tasnya dan kunci mobilnya. Ia tidak pergi ke kantor hukumnya. Ia pergi ke sebuah kafe remang-remang di pinggiran Jakarta untuk menemui informannya, seorang mantan staf IT Airborne yang dipecat secara tidak hormat oleh Siska bulan lalu.
"Kau punya data itu?" tanya Nabila tanpa basa-basi saat sampai di meja kafe.
Pria itu, yang tampak gelisah, menyodorkan sebuah flashdisk. "Ini adalah rekaman CCTV dari ruang server saat file proyek Sudirman dihapus. Memang menggunakan akun Pak Arga, tapi di rekaman ini terlihat jelas... itu Siska yang masuk ke ruangan tersebut di luar jam kerja."
Nabila mencengkeram flashdisk itu. "Terima kasih, Bayu. Ini sangat berharga."
"Hati-hati, Bu Nabila. Siska Roy bukan orang sembarangan. Dia punya orang di mana-mana," peringat pria itu.
~
Sore harinya, Arga sudah mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ia tidak disambut oleh asisten, melainkan oleh Siska sendiri yang sudah menunggunya dengan mobil limosin mewah.
Siska mengenakan kacamata hitam besar dan pakaian santai namun sangat mahal. Ia langsung merangkul lengan Arga saat pria itu keluar dari gerbang kedatangan.
"Kau datang juga akhirnya, Arga-ku," bisik Siska, mencium pipi Arga di depan kerumunan orang. "Aku tahu kau pria yang logis. Kau tahu mana yang lebih penting, masa depanmu atau kemarahan istrimu."
Arga melepaskan rangkulan Siska dengan sopan namun tegas. "Aku di sini untuk urusan bisnis, Siska. Jangan lupakan itu."
"Tentu saja. Bisnis... dan kesenangan," Siska tertawa merdu.
Di dalam mobil menuju hotel, Arga mengirimkan pesan singkat terakhir kepada Nabila. "Aku sudah sampai. Aku merindukanmu. Percayalah padaku."
Pesan itu terkirim, namun hanya berstatus centang satu. Nabila telah mematikan ponselnya.
Malam itu di Jakarta, Nabila duduk sendirian di meja makan yang gelap, menatap jam tangan "A & S" yang masih ada di sana. Ia merasa hubungan mereka telah mendingin sampai ke titik beku. Ia mulai meragukan apakah kejujuran Arga semalam sudah mencakup semuanya. Bagaimana jika ada hal lain yang belum dikatakan Arga?
Ketidakpastian itu adalah teror mental yang paling berhasil dilakukan Siska. Tanpa harus berada di sana, Siska telah berhasil membuat Nabila dan Arga saling menyakiti.
Arga sampai di Marina Bay Sands. Siska benar, itu adalah presidential suite dengan pemandangan balkon yang langsung menghadap ke pelabuhan. Dan yang paling mengerikan, hanya ada satu kamar tidur utama yang sangat luas.
"Siska, aku tidak akan tidur di sini. Aku akan memesan kamar lain," tegas Arga saat asisten hotel pergi.
Siska melepaskan sepatu hak tingginya dan berjalan bertelanjang kaki di atas karpet tebal menuju Arga. "Coba saja. Semua hotel di area ini sudah penuh karena ada konferensi internasional. Dan jangan lupa, Arga... tagihan kamar ini ada di bawah pengawasan auditku. Jika kau memesan kamar lain, aku akan menganggapnya sebagai penggunaan dana perusahaan yang tidak sah."
Siska mendekat, aroma parfum lili-nya menyesak di ruangan tertutup itu. "Hanya tiga malam, Arga. Apa kau sebegitu takutnya pada dirimu sendiri? Atau kau takut kau akan kembali mencintaiku jika kita berada di bawah satu selimut?"
Arga mengepalkan tangannya di dalam saku jas, menyentuh pulpen perekam yang diberikan Nabila. Ia harus bertahan. Ia harus mendapatkan pengakuan dari mulut Siska malam ini juga.
"Aku tidak takut padamu, Siska. Aku hanya merasa muak," jawab Arga dingin.
Arga berdiri kaku di balkon hotel mewah Singapura menatap kegelapan laut, sementara di Jakarta, Nabila tertidur di sofa dengan air mata yang mengering, memegang bukti kejahatan Siska di tangannya.
Hubungan mereka berada di titik nadir, dipisahkan oleh jarak dan dinding kecurigaan yang semakin menebal.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰