Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Malam pertama di Singapura berlalu seperti mimpi buruk yang panjang bagi Arga. Meskipun ia berhasil menghindar dari satu ranjang dengan Siska dengan cara terjaga sepanjang malam di kursi balkon, tekanan psikologis yang ia rasakan sudah mencapai puncaknya. Paginya, udara Singapura yang cerah tidak mampu menghalau mendung di wajah Arga.
Siska keluar dari kamar tidur utama dengan jubah mandi sutra, tampak segar seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ia menatap Arga yang masih mengenakan kemeja kusutnya.
"Kau terlihat mengerikan, Arga. Padahal hari ini kita ada pertemuan dengan investor dari Temasek," ucap Siska sambil menuang kopi. "Mandilah. Ada kejutan kecil yang menunggumu di email kantor."
Arga segera membuka laptopnya. Firasatnya buruk. Benar saja, sebuah notifikasi dari Departemen Audit Internal Airborne Group masuk dengan label 'URGENT & CONFIDENTIAL'.
Arga membuka lampiran dokumen tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana tertera laporan pengadaan material untuk proyek superblock Sudirman tahap dua. Ada selisih dana sebesar 1,5 miliar rupiah yang ditransfer ke sebuah rekening vendor fiktif.
Yang membuat Arga lemas adalah nama otorisasi di balik transaksi itu. Arga Malhotra, lengkap dengan tanda tangan digital yang sah.
"Ini... ini tidak mungkin," gumam Arga. "Aku tidak pernah menandatangani pengadaan vendor ini. Vendor 'Mitra Jaya Abadi' ini bahkan tidak ada dalam daftar rekanan kita!"
Siska berjalan mendekat, bersandar di bahu Arga sambil melihat layar laptop. Aroma parfumnya yang manis terasa mencekik. "Oh, itu terlihat sangat buruk, Arga. Korupsi dana proyek? Di bawah pengawasan Pak Roy yang sangat benci ketidakjujuran? Kau tahu apa sanksinya, kan?"
"Kau yang melakukannya, Siska! Kau memanipulasi akses akunku!" Arga berdiri dan membalikkan tubuh menghadap Siska dengan mata menyala.
Siska mengangkat bahu dengan santai. "Siapa yang akan percaya? Jejak digitalnya menunjukkan kau melakukannya dari komputer pribadimu minggu lalu saat lembur. Dan tebak apa? Rekening penampung dana itu terdaftar atas nama seorang pria di Kalimantan yang memiliki nama belakang yang sama dengan ibumu. Sangat rapi, bukan?"
Arga mengepalkan tinju. Siska telah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dia tidak hanya menginginkan Arga secara fisik, tapi dia ingin memegang leher Arga secara hukum. Dengan bukti ini, Siska bisa menjebloskan Arga ke penjara kapan saja ia mau.
"Apa maumu sekarang?" tanya Arga, suaranya parau.
"Acara di Singapura ini hanya formalitas, Arga. Pak Roy meneleponku tadi pagi, dia ingin audit ini segera diproses. Tapi aku bilang padanya aku akan memeriksanya sendiri terlebih dahulu," Siska mengelus dada Arga dengan gerakan lambat. "Kita akan kembali ke Jakarta sore ini dengan jet pribadi. Tapi kita tidak akan ke kantor. Kita akan ke apartemen pribadiku di Senopati. Kita akan membahas 'solusi' untuk masalah korupsimu ini di sana. Sendiri. Tanpa gangguan istrimu."
~
Sementara itu di Jakarta, Nabila masih berjuang dengan kecurigaannya. Ia berada di kantor hukumnya, mencoba fokus pada berkas klien, namun pikirannya terus melayang ke Singapura. Ia telah mencoba mengirim pesan berkali-kali, namun Arga hanya membalas singkat, seolah-olah sedang diawasi.
Tiba-tiba, seorang rekan kerjanya di firma hukum masuk. "Nabila, kau harus lihat ini. Ada kabar burung di kalangan auditor korporat. Katanya ada 'orang kuat' di Airborne Group yang sedang dibidik karena penggelapan dana proyek Sudirman."
Wajah Nabila memucat. "Siapa?"
"Namanya belum keluar secara resmi, tapi desas-desusnya mengarah pada Manajer Operasional mereka. Arga, kan?"
Nabila merasakan dunianya berputar. Ia segera menyadari bahwa ini adalah serangan lanjutan dari Siska. Siska tidak hanya ingin merusak kepercayaan Nabila secara personal melalui isu perselingkuhan, tapi juga ingin menghancurkan reputasi Arga secara profesional agar Nabila merasa malu memiliki suami seperti Arga.
Nabila meraih ponselnya, mencoba menelepon Arga lagi. Masuk, tapi tidak diangkat.
"Mas, tolong angkat..." bisiknya putus asa.
Nabila segera mengemasi barang-barangnya. Ia teringat flashdisk yang diberikan Bayu kemarin tentang rekaman CCTV ruang server. Jika Siska bermain dengan angka, maka Nabila harus bermain dengan bukti fisik.
Ia meluncur menuju kantor pusat Airborne, namun di tengah jalan, ia melihat mobil jet pribadi milik perusahaan melintas dari arah bandara menuju kawasan Senopati.
Instingnya sebagai istri dan pengacara berteriak. Arga sudah kembali, tapi dia tidak pulang ke rumah.
~
Arga turun dari mobil di basemen apartemen mewah milik Siska. Ia merasa seperti terpidana mati yang berjalan menuju tiang gantungan. Siska berjalan di sampingnya dengan penuh kemenangan, tangannya menggandeng lengan Arga seolah mereka adalah pasangan bahagia.
"Jangan pasang wajah seperti itu, Arga. Anggap saja ini negosiasi bisnis yang paling penting dalam hidupmu," ucap Siska saat mereka masuk ke dalam lift pribadi yang langsung menuju unit penthouse.
Unit apartemen itu sangat luas, didominasi warna putih dan kaca. Siska langsung menuju bar mini dan menuangkan dua gelas whisky.
"Minumlah. Kau butuh ini sebelum kita melihat dokumen 'pembebasanmu'," Siska menyodorkan gelas ke arah Arga.
Arga mengabaikan minuman itu. "Tunjukkan padaku bagaimana kau akan menghapus jejak itu, Siska. Lalu aku akan pergi."
Siska tertawa, suara tawanya bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekati Arga, perlahan-lahan mulai membuka kancing blazer kerjanya.
"Kau selalu terburu-buru. Kau tahu, Arga... dokumen itu ada di laptopku. Dan kata sandinya hanya aku yang tahu. Aku bisa menghapusnya sekarang, atau aku bisa menekan tombol 'kirim' ke dewan komisaris dan kepolisian."
Siska kini berdiri sangat dekat, napasnya terasa di leher Arga. "Pilihannya sederhana. Menjadi milikku malam ini, melupakan Nabila, dan kembali menjadi Arga-ku yang dulu... atau hancur selamanya."
Arga mundur selangkah. "Aku lebih baik dipenjara daripada harus menyentuhmu lagi, Siska."
"Benarkah?" Siska tersenyum licik. "Bagaimana dengan ibumu? Rekening penampung itu atas nama kerabatmu di Kalimantan. Jika ini meledak, bukan hanya kau yang masuk penjara, tapi seluruh keluargamu akan terseret karena dianggap menerima aliran dana korupsi. Apa Nabila sanggup membela kalian semua sekaligus?"
Arga terdiam. Siska telah memikirkan semuanya. Dia menyerang titik terlemah Arga - yaitu keluarganya.
~
Di luar apartemen, Nabila berdiri dengan napas memburu. Ia berhasil melacak keberadaan Arga melalui GPS ponsel yang diam-diam ia aktifkan di ponsel suaminya sebelum berangkat ke Singapura. Ia berdiri di depan pintu unit Siska, tangannya gemetar memegang ponsel yang sudah siap merekam suara.
Namun, sebelum ia sempat mengetuk, ia mendengar suara Siska dari dalam yang cukup keras melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat sempurna.
"...Nabila tidak akan pernah mengerti pengorbanan yang kau lakukan, Arga. Dia akan menganggapmu kotor karena kasus korupsi ini. Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu. Bukankah adil? Aku yang menghancurkan, aku juga yang menyelamatkan. Itu adalah hak istimewa seorang pemilik."
Nabila membeku. Ia merekam kalimat itu. Kalimat itu adalah pengakuan secara tidak langsung bahwa Siska yang melakukan sabotase keuangan tersebut.
Di dalam, Arga hampir meledak amarahnya. Ia melihat laptop Siska terbuka di atas meja. Dengan gerakan cepat, Arga mencoba meraih laptop itu, namun Siska lebih cepat. Ia mendorong Arga ke sofa dan menindihnya.
"Jangan coba-coba, Arga! Kau tidak akan bisa menang dariku di sini!" desis Siska.
Tepat pada saat itu, pintu apartemen terbuka dengan paksa. Nabila berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena marah, namun matanya memancarkan kecerdasan yang tajam.
"Dia memang tidak bisa menang darimu di sini, Siska," suara Nabila memecah ketegangan. "Tapi di pengadilan, kata-katamu baru saja menjadi bukti utama."
Siska segera bangkit dari tubuh Arga, merapikan bajunya dengan wajah kaget yang hanya bertahan sedetik sebelum kembali menjadi dingin. "Nabila? Beraninya kau masuk ke properti pribadiku!"
Arga berdiri, terengah-engah, menatap Nabila dengan rasa syukur sekaligus bersalah. "Nabila... aku..."
Nabila berjalan mendekat, tidak menatap Arga, tapi menatap lurus ke arah Siska. Ia mengangkat ponselnya yang masih dalam mode merekam. "Penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi data elektronik, dan pemerasan. Kau baru saja melengkapi berkas gugatanku, Bu Siska Roy."
Siska tertawa meremehkan. "Rekaman suara tidak akan cukup untuk menjatuhkanku. Aku punya tim pengacara terbaik di negeri ini."
"Tapi kau tidak punya integritas," balas Nabila. "Dan Pak Roy? Bagaimana reaksinya jika dia tahu istrinya yang tercinta menggunakan apartemen pribadi ini untuk menjebak karyawannya sendiri dengan tuduhan korupsi palsu?"
Wajah Siska sedikit menegang saat nama Pak Roy disebut. Itulah satu-satunya kelemahannya, kekuasaan yang ia miliki berasal dari suaminya.
"Arga, ayo pulang," ucap Nabila tegas, menarik tangan suaminya.
Arga mengikuti Nabila tanpa ragu. Saat mereka berjalan keluar, Siska berteriak dari dalam. "Pergilah! Tapi ingat, Arga! Laporan korupsi itu sudah masuk ke sistem! Kau tetap akan hancur besok pagi!"
~
Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Arga mencoba memegang tangan Nabila, namun Nabila tetap fokus pada kemudi.
"Nabila, maafkan aku. Aku terpaksa ke sana karena dia mengancam akan menyeret ibuku ke kasus ini," ucap Arga lirih.
"Aku tahu, Mas. Aku mendengar semuanya," jawab Nabila pendek. "Tapi kau harus paham satu hal. Mulai detik ini, kita tidak boleh lagi bermain dengan aturan dia. Dia menggunakan 'korupsi kecil' ini untuk memancingmu. Besok, aku akan membawa bukti CCTV ruang server dan rekaman suara tadi ke Pak Roy."
"Tapi Pak Roy sangat mencintainya, Nabila. Dia tidak akan percaya begitu saja."
Nabila menoleh sekilas, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Maka kita harus membuat dia tidak punya pilihan selain percaya. Kita akan membongkar semuanya, Mas. Semuanya."
Kini mobil mereka menjauh dari apartemen mewah itu, sementara Siska berdiri di balkonnya, menatap lampu kota dengan kemarahan yang meluap. Sabotase keuangan ini ternyata menjadi bumerang yang justru menyatukan kembali Arga dan Nabila dalam misi yang sama.
Namun, mereka belum tahu bahwa Siska masih memiliki satu kartu terakhir yang belum ia keluarkan, sebuah fitnah yang lebih kejam dari sekadar uang.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰