Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 | KESADARAN BARU
Denver menarik turun dasinya bertepatan dengan lift yang bergerak naik dengan halus. Ia kemudian melemaskan kepala dan memijat tengkuknya pelan, merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Sekilas, ia melirik jam tangannya, mengesah lelah setelahnya. Hampir tengah malam. Sepertinya ia harus segera mandi agar bisa langsung tidur.
Promosi film memang sangat melelahkan. Ia harus banyak bicara, berinteraksi dengan para penggemar, pun harus selalu memasang senyum. Bagian ini terasa jauh lebih berat daripada proses syutingnya sendiri. Tenaga Denver seperti diserap habis oleh orang-orang yang berkerumun sambil berseru-seru dengan teramat bersemangat itu.
Tiba di lantai dua puluh, pintu lift terbuka. Denver berjalan gontai keluar dengan jas yang sudah dilepas. Lorong menuju apartemennya terasa begitu sunyi dan dingin. Satu-satunya tetangga Denver di lantai itu sepertinya masih belum kembali sejak seminggu yang lalu, entah sedang liburan atau sudah mati—Denver tidak peduli.
Ia berjalan lurus dan sedikit berbelok untuk sampai ke pintu apartemennya. Gerakan tangan Denver yang ingin mengambil kartu akses apartemen terhenti ketika ia menemukan seorang perempuan berjongkok sambil menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan tepat di depan pintu apartemennya.
Denver menaikkan alisnya, sedikit memiringkan kepalanya sebelum memanggil pelan, “Allura?”
Yang dipanggil segera mengangkat wajah hingga Denver bisa melihat mata wanita itu yang masih sedikit sembap. Namun saat melihatnya, Allura langsung tersenyum tipis.
“Kau pulang …. Maaf mengagetkanmu dengan tiba-tiba datang ke sini.” Suara Allura terdengar parau.
Meskipun Allura sedang tersenyum sekarang, Denver bisa melihat kesedihan dalam matanya. Wanita itu pasti baru menangis—lagi.
Denver menempelkan kartu akses ke card reader, membuka pintu, lantas menoleh ke arah Allura. “Mau masuk?”
Sambil menunduk, Allura mengangguk pelan. Ia bangkit berdiri bersamaan dengan Denver yang menggeser tubuhnya ke samping, menahan pintu untuk Allura.
“Terima kasih.” Allura melangkah melewati pintu, langsung disuguhkan dengan ruangan luas bernuansa putih.
Apartemen Denver memang terlihat lebih kosong dari yang seharusnya. Di ruang tamu hanya ada meja rendah dengan dua sofa panjang melengkung berwarna abu-abu pucat. Di hamparan dinding putih pun hanya ada dua lukisan: lukisan abstrak yang sekelebat membayang topeng penghuni pulau kuno, dan lukisan pohon jacaranda dengan bunga ungunya yang mekar memesona. Selebihnya hanya ada meja panjang untuk meletakkan figura dan satu rak buku di pojok ruangan.
“Mau kamomil?” tanya Denver setelah Allura duduk di sofa.
Allura menyeka hidungnya yang sedikit memerah sejenak, mengangguk pelan. “Kalau kau tidak keberatan.”
Meletakkan jasnya pada punggung sofa, Denver melangkah ke dapur untuk membuatkan teh. Ia menyempatkan untuk melirik Allura sebelum berlalu dari sana, menghela napas samar. Penampilan wanita itu kacau. Kemewahan yang ditawarkan kediaman Meridian sepertinya tidak membuatnya hidup nyaman dan tenang.
Tidak sampai lima menit Denver sudah kembali membawa secangkir teh kamomil dengan uap mengepul hangat, meletakkannya di depan Allura.
“Minumlah. Sepertinya kau butuh menenangkan diri.”
“Terima kasih.” Allura mengangkat cangkir, menyesapnya perlahan. Ketika kembali meletakkan cangkir, ia menjatuhkan pandangannya ke lantai dengan wajah muram. “Kau pasti muak sekali melihatku begini. Tapi hanya tempat ini yang terpikir olehku saat ingin melarikan diri, Denver ….”
Denver menempatkan diri di samping Allura, bersedekap seraya menatap lukisan jacaranda di depan sana. “Menangislah sesukamu. Aku tidak akan melihat.”
Genap di ujung kalimatnya, isakan samar mulai menelusup telinga Denver. Lewat sudut matanya, Denver mendapati bahu Allura yang bergetar seiring tangan wanita itu yang menutup wajah. Tidak butuh waktu lama hingga isakan itu semakin jelas.
Perlahan, Denver menutup matanya. Ia masih bergeming, membiarkan Allura menumpahkan air matanya sebanyak yang ia mau. Meskipun tubuhnya lelah luar biasa, Denver bertahan untuk tidak terlelap, pun tidak ingin sedikit pun mendesak Allura untuk segera angkat kaki dari apartemennya.
Hampir sepuluh puluh menit, tangis Allura mulai mereda, menyisakan suara sesenggukan pelan. Denver kembali membuka kelopak matanya, masih dalam posisi yang sama, tidak beranjak barang satu senti pun.
Ia kemudian meraih tisu di meja, menarik beberapa lembar, dan mengangsurkannya kepada Allura.
“Terima kasih.” Allura mulai menyeka air matanya, pun hidungnya yang memerah. Meskipun suaranya masih terbata, ia memaksakan diri untuk menoleh pada Denver. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, ucapan terima kasih rasanya tidak cukup untuk menggambarkan rasa syukurku.”
Denver melirik Allura yang tengah menyesap tehnya dalam gerak keanggunan seorang bangsawan meskipun kemungkinan wanita itu tidak lagi menyadarinya. Allura sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk mempelajari etiket dan gestur seorang aristokrat, mengerahkan segalanya agar ia bisa dipandang setara oleh keluarganya dan orang-orang selevel keluarga Sanders. Namun, hingga sekarang Denver masih melihat Allura kecil yang tengah berusaha melampaui segala batasan, dan tidak ada seorang pun yang peduli. Karena bagi mereka, tidak ada ‘Sanders’ dan ‘Meridian’ yang pantas tersemat di belakang nama gadis panti tanpa asal-usul yang jelas itu.
Declan Sanders, sang politisi ulung, mengangkat anak Allura dari panti asuhan miskin di pinggir kota yang baru terkena banjir bandang hanya untuk mendulang nama, menarik simpati masyarakat. Allura tidak pernah diperlakukan sebagaimana seorang anak di keluarga Sanders, sejak awal tiada seorang pun di keluarga itu yang menganggap Allura pantas duduk di meja makan yang sama dengan mereka. Posisi Allura praktis disetarakan dengan pelayan yang harus pandai berlakon jika ada kamera yang menyala.
“Selama ini aku tidak pernah mengatakan apa pun karena merasa tidak berhak, tapi melihatmu seperti ini, kurasa kau harus berhenti. Keluarlah dari kediaman Meridian, putuskan hubunganmu dengan keluarga Sanders, dan jalani hidup yang kau mau.” Tanpa kemauan Denver, intonasinya sedikit menekan.
Allura menunduk, terlihat mengambil napas pelan beberapa kali. Di detik ketiga, dia berucap lirih, “Tidak bisa … ah, bukannya tidak bisa, tapi tidak mungkin. Aku sudah berjalan, berlari, bahkan merangkak sejauh ini. Mana mungkin aku melepaskan segalanya begitu saja.”
Denver masih setia menatapnya dari samping. “Kekayaan? Kehormatan? Itu yang kau inginkan sehingga kau berusaha keras agar diterima mereka?”
Allura menekuk bibirnya, pipinya mengeras. “Aku benci menjadi miskin dan direndahkan semua orang. Kau tahu, bagi orang miskin sepertiku, kecantikan adalah kutukan. Aku benci ketika kepala panti menyentuh lenganku sambil tersenyum menjijikkan. Aku benci ketika para donatur panti menurunkan pandangannya pada tempat-tempat tertentu di tubuhku dan berbisik menawarkan harga kepada kepala panti. Aku juga benci mendapatkan tatapan dan bisikan mencemooh dari anak-anak panti lain seolah aku perempuan penghibur rendahan—” Suara Allura mendadak tercekat di ujungnya. Ia tampak berusaha mengendalikan diri sebelum melanjutkan, “Hanya dengan menjadi anggota keluarga Meridian dan Sanders, orang-orang akan memperlakukanku selayaknya perempuan terhormat.”
Kehidupan macam itu tidak pernah tergambar utuh dalam benak Denver karena ia tidak pernah mengalaminya sendiri. Namun, melihat betapa kemarahan yang tergambar dalam roman Allura, Denver tahu jika ia tidak bisa mendesak lebih jauh. Allura punya pemikirannya sendiri, dan Denver sama sekali tidak punya hak selain menghormati keputusannya.
“Meskipun aku berkata begini, sejujurnya ada kalanya aku benar-benar ingin berhenti. Mencoba menyesuaikan diri dengan mereka benar-benar terasa mencekik, aku tidak bisa bernapas. Tapi, kalau aku keluar dari rumah besar itu, menanggalkan ‘Meridian’ yang tersemat sebagai nama belakangku, meninggalkan keluarga Sanders yang telah memberiku hak atas tubuhku sendiri, setelah itu aku harus pergi ke mana?”
Denver tidak mampu mengatakan apa pun lagi. Batasannya hanya sampai pada mendengarkan keluh kesah wanita itu.
Tiba-tiba Allura menoleh ke arah Denver, tersenyum lembut. “Kau mendengarkanku dengan baik lagi. Terima kasih. Tidak ada yang lebih melegakan dari ini.” Ia lantas memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. “Aku ingin membicarakan sesuatu saat kita bertemu terakhir kali, namun rasa-rasanya masih canggung dan aneh. Seharusnya … seharusnya Summer sudah bebas dari penjara sejak beberapa bulan yang lalu, bukan?”
Denver terkesiap, yang buru-buru ia tutupi dengan berdeham kecil. “Ya.”
“Dia sudah menemuimu?”
“Tidak—belum.” Denver menahan diri untuk tidak berdeham lagi.
Allura sedikit memutar tubuhnya sehingga ia sepenuhnya menghadap Denver. Selarik kekhawatiran membayang di wajahnya. “Dia … tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan?”
Ini seharusnya saat yang tepat bagi Denver untuk menyalahkan Allura atas tindakan ceroboh wanita itu hingga Summer melihat jejak darah Gabriel di gaunnya, menjadi jangkar utama perempuan itu untuk membangun narasi akurat tentang apa yang terjadi malam itu. Namun, pada akhirnya kejadian itu sudah tertinggal di belakang, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya, Denver terlanjur terjepit dalam situasi sulit.
Dengan berat hari, Denver menggeleng singkat. “Sejauh ini aman.”
“Aku tahu tidak seharusnya aku mengatakan ini, tapi aku sangat lega … atas kebebasannya, dan atas separuh beban yang seperti luruh dari pundakku.” Allura menepuk-nepuk dadanya sembari mengembuskan napas panjang.
Denver menatap dinding penuh ironi.
“Satu lagi, sesuatu yang sudah lama aku pikirkan,” kata Allura, mata hijau zaitunnya menyorot teduh. “Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau tidak pernah meminta apa pun dariku bahkan setelah kau membebaskanku dari kasus pembunuhan itu.”
Kerjapan Denver melambat. Dalam kelengangan yang sejenak tercipta, perkataan Allura memantul-mantul di pikirannya.
“Padahal kau bisa mengancamku dengan menggunakan itu, menyuruhku melakukan apa pun. Itu kesempatan yang sempurna kalau kau ingin mengendalikanku sepenuhnya. Tapi, hingga akhir kau memilih tidak melakukan apa pun terhadapku dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi. Kenapa?”
Bohong kalau Denver tidak pernah terpikir pertanyaan serupa. Sejak ia bertemu Allura di sebuah pesta setelah sebelumnya mendengar selentingan kabar di media mengenai pengangkatan anak oleh Declan Sanders, ia terpikat oleh keelokan wajah Allura dan perangai lembutnya. Tapi, siapa yang tidak? Nyaris semua teman Denver juga tertarik pada Allura, kecantikannya sering menjadi topik menarik dalam obrolan mereka. Seharusnya, setelah menyelamatkan perempuan itu dari jerat hukum, Denver bisa menggenggam takdir Allura, memperlakukan perempuan itu semaunya.
Anehnya, setelah Summer dipenjara, Denver justru merasa dilemparkan ke sebuah ruangan luas serbaputih, di mana kehampaan menyelimutinya. Ada sesuatu yang terasa tidak benar, tapi ia juga tidak tahu apa itu. Mungkin rasa bersalah, mungkin juga rasa benci, takut, dan marah. Yang pasti setelah itu, Denver sama sekali tidak merasa bebas bahkan setelah Summer tidak ada lagi untuk mengganggunya.
“Waktu itu kau sempat menunjukkan beberapa tanda tertarik denganku, jadi kupikir kau akan meminta berkencan denganku atau setidaknya menjadikanku teman tidurmu. Tapi, kau bahkan tidak pernah meminta bertemu denganku, aku yang selalu datang padamu seperti ini. Saat kau pertama kali meminta bertemu denganku beberapa waktu yang lalu, jujur aku terkejut, namun sekaligus senang.”
Ah, pertemuan itu. Denver tidak mungkin bilang jika ia terpaksa melakukannya atas suruhan Summer. Entahlah, ia hanya merasa tidak memiliki alasan untuk menemui Allura, tapi juga tidak menolak dan mengusir ketika wanita itu mendatanginya seperti saat ini.
“Denver ….”
Panggilan lembut yang serasa membelai telinga itu membuat Denver kembali menoleh, menemukan Allura yang sedikit mengangkat wajah untuk mempertemukan tatapan mereka.
“Apa … apa boleh aku mengharapkan sesuatu darimu?” tanya Allura dengan ekspresi ragu.
Alis Denver mengerut tipis. “Misalnya seperti apa?”
Allura membasahi bibir, jemarinya bertaut dengan gugup. “Aku tahu ini kedengarannya akan lancang dan tidak tahu diri. Tapi jika suatu saat nanti aku memutuskan untuk pergi dari kediaman Meridian, apa kau … apa kau mungkin mau menerimaku?”
Detik di mana keheningan mengendapkan pertanyaan Allura, sebentuk kesadaran mengemuka di kepala Denver, membuatnya terhenyak.
Selama ini ia tidak pernah tertarik secara sungguh-sungguh pada Allura. Saat itu, Denver hanya menganggapnya seperti sebuah trofi yang bisa ia pamerkan kepada teman-temannya jika ia berhasil menaklukkannya. Jika ia bisa salah menafsirkan perasaannya sendiri, lantas bagaimana dengan Summer?
Apa rasa hampa yang mengganggu itu adalah sebuah perasaan … kehilangan?
...****...