NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Suapan Manis dan Rahasia Pahit

Keheningan di ruang perawat yang sunyi itu terasa sangat mencekik.

Seolah-olah oksigen di sana telah habis disedot oleh rahasia besar yang baru saja terungkap.

Inisial A, A, dan A di kertas kusam itu terus berputar-putar di otak Alana bagai sekawanan lebah liar.

"Arina, Aristi... dan siapa satu lagi? Kenapa wajahnya bisa identik sekali dengan Mama Raden?" Alana membatin kacau.

Ia meremas kertas itu sampai kusut dengan tangan yang gemetar hebat, mencoba meredam ketakutan yang menjalar.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dengan sentakan pelan. Alana tersentak kaget.

"Lho, Sayang, masih di sini ternyata? Aku pikir kamu sudah pergi ke kantin duluan," suara berat milik Raden membuyarkan lamunan.

Raden berdiri di ambang pintu tanpa mengenakan jas putih kebanggaannya.

Ia tampak jauh lebih tampan dengan kemeja biru tua yang kedua lengannya digulung hingga siku.

Senyumannya yang manis langsung mengembang, seolah kehadirannya adalah obat paling ampuh bagi kegelisahan Alana.

"Ra-raden...? Kamu... sudah selesai operan ternyata?" tanya Alana terbata-bata.

Ia mencoba menyembunyikan kertas kusut itu ke dalam saku seragamnya dengan gerakan kikuk.

"Sudah. Apa semua pekerjaanmu sudah beres? Kalau sudah, ayo ke kantin. Perutku sudah lapar sekali," ucap Raden terkekeh.

Tanpa menunggu jawaban, Raden langsung menggenggam erat tangan Alana secara posesif.

Ia seolah tidak ingin membiarkan Alana hilang dari pandangannya meski hanya sedetik.

Raden menuntunnya keluar, melintasi pintu ruangan perawat yang tadi terasa begitu menyesakkan.

Begitu mereka berjalan di koridor rumah sakit yang panjangnya sudah seperti mulut tetangga kalau lagi bergosip, suasana mendadak riuh.

Langkah kaki mereka yang berjalan beriringan menarik perhatian siapa saja.

Raden berjalan penuh percaya diri, sengaja memperlambat langkahnya seolah ingin mengumumkan bahwa Alana adalah miliknya.

"Lihat tuh, Dokter Raden makin nempel kayak perangko sama Alana. Duh, bikin iri!" bisik seorang suster di persimpangan koridor.

Alana menundukkan wajahnya yang memerah padam. Namun, di meja administrasi, ia melihat Suster Mia berdiri di sana.

Tatapan Mia penuh api cemburu; tangannya meremas pulpen begitu kuat sampai buku catatan di depannya lecek kayak cucian kotor.

Alana menarik napas panjang, mencoba mengabaikan tatapan tajam itu dan fokus pada genggaman hangat Raden.

Tak terasa, mereka sampai di kantin yang dipenuhi aroma makanan menggugah selera.

Raden dengan gerakan gentleman langsung menarikkan kursi untuk Alana.

"Ayo duduk di sini, Sayang. Tunggu sebentar, aku pesan makanan dulu. Jangan kangen ya," bisik Raden lembut.

Ia mengusap kepala Alana dengan sayang sebelum melangkah menuju stan makanan.

Bu Atun—pemilik kantin yang legendaris—langsung menyambut Raden dengan cengiran lebar yang sedikit tengil.

"Walah! Dokter Raden toh! Biasanya pesan bungkus, sekarang mau berdesak-desakan di sini? Oh... ada pemandangan indahnya toh," goda Bu Atun.

Raden tertawa renyah. "Dua porsi nasi campur spesial ya, Bu. Jangan lupa banyakin dagingnya."

"Tunangan saya harus makan yang banyak agar tidak kurus karena terlalu rajin bekerja," lanjut Raden.

"Siap, Dok! Tenang saja, buat calon pengantin mah Ibu kasih double porsinya. Biar kuat pas naik pelaminan!" sahut Bu Atun kencang.

Beberapa perawat di meja sebelah tertawa cekikikan. Wajah Alana semakin panas seperti wajan di atas kompor.

Setelah pesanan selesai, Raden kembali ke meja dan duduk tepat di samping Alana.

Dengan telaten, ia memotongkan daging dan menyuapkan sesendok nasi ke arah Alana di depan semua penonton kantin.

"Ayo Sayang, buka mulutnya. Jangan melamun terus. Tadi dengar kan kata Bu Atun? Harus makan banyak," goda Raden memuja.

Alana menerima suapan itu di bawah belasan pasang mata yang iri. Rasanya manis, tapi ada rasa pahit yang tertinggal karena rahasia di sakunya.

Setelah makan siang penuh drama romantis itu, Raden kembali menggandeng tangan Alana menuju lift.

Mereka menuju ruangan pribadi Dokter Raden. "Ikut aku ke ruanganku sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," bisik Raden.

Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan terkunci, suara bising rumah sakit seketika lenyap.

Raden melonggarkan dasinya dan berbalik menatap Alana dengan tatapan hangat, hendak memeluk pinggang kekasihnya.

"Akhirnya... kita bisa berduaan tanpa pelototan mata suster-suster genit itu," bisik Raden terkekeh.

"Kamu tadi mau bicara apa, Sayang? Mau minta jadwal liburan atau melanjutkan kemesraan yang di mobil tadi?"

Raden terus menggoda, wajahnya mendekat seolah ingin mencuri satu kecupan. Namun, Alana justru melangkah mundur dengan wajah pucat.

Suasana romantis itu seketika buyar. "Raden, please... kali ini aku sangat serius. Ini bukan soal kemesraan," suara Alana bergetar.

Raden menaikkan satu alisnya. "Oke, sekarang kamu mulai menakutiku. Ada apa? Pasien bermasalah atau Suster Mia berulah lagi?"

Alana menggeleng pelan. "Ini berkaitan dengan kejadian kemarin. Mungkin juga soal masa lalu, Raden. Soal ibuku... dan mamamu."

"Mamaku? Apa hubungannya, Sayang? Mereka bahkan tidak saling mengenal," tanya Raden dengan nada bingung namun tulus.

"Itulah yang mengganggu pikiranku. Sampai akhirnya semalam aku menemukan bukti ini," ucap Alana merogoh saku dengan tangan gemetar.

Alana memegang foto itu erat sebelum memberikannya. "Apa mamamu pernah bercerita soal sahabat bernama Arina?"

Raden tampak berpikir keras. "Arina? Nama itu... rasanya asing bagiku. Aku hanya mendengar saat kamu memberitahuku nama ibumu."

"Mama tidak pernah bercerita soal teman masa lalunya. Kamu tahu kan kalau mamaku sangat tertutup?" lanjut Raden.

"Kalau begitu, kamu harus lihat sendiri foto ini sekarang." Alana meletakkan foto usang itu di bawah lampu meja yang terang.

"Di foto ini ada ibuku Arina, mamamu Aristi, dan satu wanita lagi yang wajahnya sangat mirip dengan mamamu."

"Dan di balik foto ini terdapat tulisan tentang janji berdarah, Raden. Jika mereka tidak mengenal, mengapa mereka bisa ada di satu bingkai?"

Raden tertegun. Ia membungkuk, menatap lekat-lekat dua wajah wanita identik di foto itu seolah tidak percaya.

Keheningan yang sangat dingin tiba-tiba menyergap ruangan itu.

Raden tidak mengatakan apa pun, namun rahangnya mengeras dan jemarinya yang menyentuh meja mulai memutih karena tekanan kuat.

****

Catatan Penulis:

Baper karena disuapi Dokter Raden, eh langsung jantungan lihat foto rahasia! 😱

Kira-kira siapa wanita ketiga yang wajahnya mirip Mama Raden itu? Tulis teori kalian di bawah ya!

Jangan lupa Like dan Bintang 5 agar Alana makin kuat bongkar misteri ini! ⭐⭐⭐⭐⭐

1
panjul man09
semakin kesini semakin tidak masuk akal , padahal dalam lingkup rumah sakit , thor , direktur yg tidak pernah kenal dekat alana main serobot aja, kejauhan ,direktur ke suster , kalo dokter ke suster itu biasa ada hubungan /Grimace/
panjul man09
kenapa pesannya tidak lewat w.a saja , aneh
panjul man09
yg mana lebih tinggi jabatannya dr Raden atau direktur rumah sakit ?
panjul man09
ternyata alana menyukai perlakuan Raden terhadapnya /Proud/
panjul man09
disini , alana terlihat oon dan tidak bisa berpikir , banyak yg terlihat tidak masuk akal , bikin sedikit jengkel bacanya
panjul man09
nikahi saja alana biar raden bisa memiliki alana seutuhnya , daripada nanti alana kabur !
Elifia Latupeirissa
seru... lanjutkan
Elifia Latupeirissa
👍👍👍
Saya Bapak
bagus banget ceritanya
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!