Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Perawatan dalam Diam
Aku terbangun dengan rasa sakit yang tersisa di belakang mataku, tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan kepanikan semalam. Rasa lemas dan kantuk karena obat penenang masih membebani tubuhku.
Aku menoleh. Di sofa chesterfield di sudut kamar, Arvino sedang duduk. Pakaian kerjanya sudah rapi, tetapi dia belum memakai jasnya. Dia memegang tablet, membaca berkas pekerjaan, tapi aku tahu dia tidak fokus.
Keheningan di antara kami terasa tebal, dipenuhi dengan sisa amarah dan rasa bersalah yang tak terucap.
Arvino merasakan pandanganku. Dia meletakkan tabletnya dan menatapku, matanya dingin dan lelah.
"Sudah bangun? Pagi," sapanya, nadanya profesional, tanpa kehangatan.
"Pagi, Kak," balasku, suara serak.
"Aku sudah meminta Mbok Nah menyiapkan bubur dan obatmu. Aku juga sudah memberitahu Mama kalau kau harus istirahat total hari ini. Jangan coba-coba keluar kamar sebelum jam makan siang," perintah Arvino.
Dia berdiri, berjalan ke arah meja dan mengambil dua butir obat—satu untuk sakit kepala, satu lagi vitamin. Dia meletakkannya di nakas.
"Minum ini. Aku sudah meresepkannya," ujarnya. "Jika kau tidak segera sembuh, Papa akan mengambil Lili. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Di balik perhatiannya, ada ancaman. Dia merawatku bukan karena cinta, tapi karena kontrak dan ancaman dari Papa. Dia adalah sipir penjara yang memastikan narapidananya tidak mati sebelum waktunya.
Aku mengangguk lemah. "Terima kasih, Kak."
"Jangan berterima kasih. Lakukan saja tugasmu untuk segera sembuh," Arvino berbalik dan mulai mengenakan jas kerjanya.
Tepat saat ia mengancingi jasnya, dari luar kamar terdengar suara batuk bayi yang samar, tapi cukup menarik perhatian Arvino. Batuk itu berulang, ringan namun persisten.
Arvino langsung berubah. Ekspresi dinginnya hilang, digantikan oleh kepanikan.
"Lili?" bisiknya. Dia bergegas keluar.
Aku mencoba bangun, tetapi kepalaku masih pusing. Tidak peduli dengan sakitku, aku memaksa diri turun dari ranjang. Aku meraih stetoskop yang selalu kubawa di tas kerjaku.
Aku mengikuti Arvino ke kamar Lili.
Arvino sudah berdiri di sana, memeluk Lili dengan panik. Sus Rini berdiri dengan wajah khawatir. Lili tampak rewel, hidungnya berair, dan batuknya ringan.
"Ada apa, Sus? Kenapa dia batuk? Kalian membiarkannya kedinginan?!" tuntut Arvino, suaranya naik.
"Maaf Tuan, tadi Lili sedikit rewel, saya buka sedikit jendelanya sebentar," jawab Sus Rini gemetar.
"Bukan salah Sus Rini," potongku, melangkah maju. "Musim pancaroba, wajar bayi kena flu ringan."
Aku mengambil alih Lili dari pelukan Arvino. Kali ini Arvino tidak menolak. Dia terlalu takut.
Aku menggendong Lili dan menempelkan stetoskop di dada mungilnya. Batuknya memang ringan, bukan batuk berat yang mengindikasikan infeksi paru-paru. Hanya flu biasa.
"Suhu badannya normal, Kak. Ronki di paru-parunya bersih," kataku, menganalisis. "Batuknya kering, kemungkinan tenggorokannya gatal karena lendir."
Aku menoleh pada Arvino. "Berikan cairan yang cukup. Hangatkan kamarnya sedikit, tapi jangan terlalu panas. Dan aku akan meresepkan saline drops untuk hidungnya."
Aku meletakkan Lili di ranjangnya, lalu menuliskan beberapa resep sederhana di kertas. Sepanjang proses itu, Arvino hanya berdiri diam, mengawasiku. Dia melihat tangan dokterku yang cekatan, analisisku yang cepat, dan ketenangan yang kupancarkan di tengah kepanikan orang lain. Dia melihat kompetensi yang tak terbantahkan.
"Kenapa kau tidak bilang pada Papa kalau Lili sakit?" tanya Arvino, nadanya aneh, seperti marah karena aku begitu profesional.
"Karena ini bukan penyakit serius yang membutuhkan campur tangan Papa. Ini bisa ditangani di rumah," jawabku sambil menyerahkan resep itu pada Sus Rini. "Sus, segera tebus ini, dan pastikan Lili banyak minum."
Arvino mendekatiku. "Kau yakin ini hanya flu biasa?"
"Aku dokter, Kak," jawabku, menatapnya lurus. "Aku tidak akan main-main dengan kesehatan Lili. Bahkan jika Kakak membenciku, aku tidak akan mengorbankan keponakanku."
Arvino mundur selangkah, pipinya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa malu. Aku telah membuktikan diri. Tidak hanya aku sanggup merawat Lili, tetapi aku juga lebih tenang dan kompeten dalam situasi krisis kecil ini daripada dia.
"Terima kasih," kata Arvino, suaranya sangat dingin, seolah mengucapkan kata itu adalah racun bagi lidahnya. "Kau bisa kembali ke kamarmu. Sus Rini, pastikan Aluna makan dan minum obatnya. Jika dia sakit lagi, aku akan menyalahkanmu."
Arvino pergi tanpa menoleh lagi.
Aku kembali ke kamar utama, duduk di tepi ranjang. Aku tahu dia tidak tulus. Dia hanya berterima kasih pada dokter yang baru saja menyelamatkan kepanikannya.
Namun, momen itu meninggalkan jejak. Aku telah melihat sekilas kerentanan Arvino—ketakutannya yang absolut terhadap kehilangan Lili. Dan dia telah melihat sekilas Aluna yang sebenarnya: Aluna yang tidak mementingkan diri sendiri, Aluna yang brilian, dan Aluna yang mencintai Lili lebih dari dirinya sendiri.
Aku yakin, saat Arvino duduk di kantornya hari ini, ia tidak hanya memikirkan rapat direksi. Ia juga memikirkan, apakah ia telah menyiksa wanita yang sebenarnya bisa menjadi sekutu terbaiknya. Rasa bersalah telah ditanamkan, kini tinggal menunggu kapan bibit itu akan tumbuh.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️