NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 20: KEPUTUSAN MENYAKITKAN

Minggu pagi. Dyon nggak tidur semalaman. Mata merah, bengkak. Kepala pusing. Tapi dia harus ketemu Andra. Harus cerita. Harus... minta maaf.

Jam tujuh pagi, Dyon jalan ke rumah Andra—rumah kecil di kampung sebelah, dinding papan, atap seng bocor di sana-sini. Di depan rumah, Pak Darmo—bapaknya Andra—lagi bersihin becaknya. Becak tua, cat merah udah pudar, ada karat di sana-sini.

"Pagi, Pak," sapa Dyon pelan.

Pak Darmo nengok—senyum lebar. "Eh, Dyon! Pagi! Nyari Andra? Dia lagi di dalem."

"Iya, Pak. Makasih."

Dyon masuk—rumah sempit, cuma ada satu ruangan. Kasur tipis di pojok, kompor minyak tanah di sudut, jemuran baju di dalam gara-gara nggak ada teras.

Andra lagi duduk di kasur—lagi makan nasi sama telor ceplok. Lihat Dyon, dia langsung senyum.

"Eh, Yon! Jarang-jarang lo ke sini pagi-pagi. Ada apa?" tanya Andra sambil ngunyah.

Dyon diem—nggak tau harus mulai dari mana. Tangannya ngepal erat.

Andra nyadar. "Eh... lo kenapa? Muka lo... lo nangis?"

"Dra..." suara Dyon serak. "Gue... gue harus cerita sesuatu."

Andra taruh piring. Berdiri. "Duduk dulu. Cerita pelan-pelan."

Mereka duduk di kasur—bersebelahan. Dyon cerita—semuanya. Soal ancaman cowok suruhan Pak Hendra. Soal ancaman ke bapaknya Andra. Soal pilihan yang... yang nggak mungkin.

Selesai cerita, Dyon nunduk—nggak berani ngeliatin Andra.

Hening.

Lama.

Terus... Andra ketawa.

Dyon nengok—bingung. "Lo... lo ketawa? Gue cerita serius, Dra!"

"Gue tau lo serius," Andra senyum—tapi matanya berkaca-kaca. "Tapi lo... lo pikir gue bakal nyuruh lo ninggalin Ismi gara-gara ancaman kayak gitu?"

"Tapi... tapi bapak lo—"

"Bapak gue... bapak gue orang kuat, Yon," Andra potong. Suaranya gemetar. "Dia... dia udah narik becak puluhan tahun. Dia udah biasa sama preman. Biasa diusir. Biasa dipukulin. Tapi... dia tetep bertahan. Karena dia punya gue sama emak. Dia nggak akan nyerah gampang."

"Tapi kalau mereka beneran usir dia—"

"Terus kenapa?!" Andra teriak—tiba-tiba. Matanya merah. "Lo pikir gue bakal seneng kalau lo ninggalin Ismi gara-gara gue?! Lo pikir gue bakal bisa tidur nyenyak tau sahabat gue menderita gara-gara gue?!"

Dyon terdiam.

Andra pegang bahu Dyon—erat. "Dengerin gue, Yon. Lo... lo sahabat terbaik gue. Satu-satunya sahabat yang pernah nganggap gue manusia. Yang nggak natap gue kayak sampah gara-gara bapak gue tukang becak. Lo... lo yang selalu ada buat gue. Dan sekarang... sekarang giliran gue yang ada buat lo."

Air mata Andra jatuh—deras. "Jadi... jadi jangan pikirin gue. Pikirin lo. Pikirin Ismi. Lo... lo mencintai dia kan? Terus kenapa... kenapa lo harus lepas dia?"

"Karena gue nggak bisa egois!" Dyon teriak—air matanya ikutan jatuh. "Gue nggak bisa bahagia kalau kebahagiaan gue... bikin orang lain menderita! Apalagi lo, Dra! Lo... lo sahabat gue! Keluarga lo... keluarga lo cuma punya becak itu! Kalau... kalau bapak lo nggak bisa kerja, kalian... kalian gimana?!"

"TERUS LO GIMANA?!" Andra balas teriak. Mukanya basah penuh air mata. "Lo... lo udah menderita seumur hidup, Yon! Orang tua lo meninggal! Lo tidur di gubuk! Lo kerja kayak budak! Dan sekarang... sekarang lo akhirnya nemuin kebahagiaan, nemuin cinta, nemuin Ismi... dan lo... LO MAU LEPAS DIA?! GARA-GARA GUE?!"

Mereka berdua nangis—keras, lepas. Kayak anak kecil.

"Maafin gue, Dra..." Dyon terisak. "Maafin gue... gue... gue nggak tau harus gimana..."

Andra peluk Dyon—erat. "Lo nggak salah apa-apa, bodoh. Yang salah... yang salah dunia ini. Dunia yang... yang kejam sama orang-orang kayak kita."

Mereka peluk lama—nangis bareng. Dua sahabat yang... yang terluka terlalu dalam.

 

Sore hari. Dyon balik ke gubuk dengan keputusan yang... yang menghancurkan.

Dia duduk di kasur—pegang hape butut. Layar retak. Tapi masih bisa dipake.

Buka chat Ismi—yang terakhir seminggu lalu, sebelum hapenya diambil orang tuanya.

Jari gemetar di atas keyboard.

Mulai ngetik.

**"Ismi..."**

Hapus.

Ngetik lagi.

**"Maafkan aku."**

Hapus lagi.

Nangis—keras. Kepala ditaruh di lutut yang dipeluk.

"Kenapa... kenapa hidup sekejam ini?" bisiknya ke kegelapan gubuk. "Kenapa... kenapa aku nggak boleh bahagia? Apa... apa salah aku?"

Nggak ada yang jawab.

Cuma bunyi tikus. Cuma angin dingin.

Dia angkat kepala. Ngelap air mata kasar. Napas dalam—meskipun rusuknya masih sakit.

Ngetik lagi—kali ini nggak dihapus.

**"Ismi, maafkan aku. Aku tau aku janji bakal bertahan bareng kamu. Aku tau kita udah sumpah. Tapi... aku nggak bisa egois. Aku nggak bisa bahagia kalau orang yang aku sayang harus menderita gara-gara aku."**

Jari berhenti. Air mata netes ke layar hape.

Lanjut ngetik.

**"Aku... aku harus menjauh dari kamu. Sementara waktu. Sampai aku bisa jadi orang yang lebih baik. Orang yang... yang punya kekuatan buat lindungin kamu. Buat lindungin semua orang yang aku sayang."**

Napas putus-putus.

**"Aku janji... aku janji akan kembali. Kalau aku udah jadi orang yang layak. Orang yang... yang bisa berdiri di samping kamu dengan kepala tegak. Orang yang nggak takut lagi."**

Air mata makin deras.

**"Tunggu aku, Ismi. Kumohon... tunggu aku."**

**"Aku mencintaimu. Selamanya."**

**"- Dyon"**

Jari di atas tombol kirim—gemetar parah.

*Kalau aku kirim ini... semuanya berubah. Ismi... Ismi bakal sakit. Bakal nangis. Bakal...*

Tapi dia nggak punya pilihan.

Ini... ini satu-satunya cara.

Tekan tombol kirim.

Sent.

Pesan terkirim.

Dyon taruh hape—jatuh ke kasur. Nangis—keras, lepas, kayak dunia runtuh.

"MAAFIN AKU, ISMI!" teriaknya ke langit-langit seng yang berkarat. "MAAFIN AKU! AKU... AKU NGGAK KUAT! AKU... AKU PENGECUT!"

Tangan ngepal—pukul kasur berkali-kali. "KENAPA?! KENAPA AKU HARUS MILIH?! KENAPA... KENAPA NGGAK ADA JALAN LAIN?!"

Nggak ada jawaban.

Cuma tangisannya sendiri yang ngegema.

 

Sementara itu, di rumah mewah keluarga Anisah...

Ismi lagi dikurung di kamar—lagi. Hapenya udah diambil lagi setelah kemarin ketahuan kabur.

Tapi... dia punya cara.

Laptop. Laptop yang nggak diambil gara-gara orang tuanya pikir dia cuma dipake buat sekolah.

Ismi buka laptop—login ke akun chat lewat browser.

Ada notif. Pesan baru. Dari Dyon.

Jantung berdegup cepat—excited. Dia buka.

Baca.

Baris pertama.

Baris kedua.

Baris ketiga.

Mata melebar.

Tangan gemetar.

"Nggak... nggak... nggak..." bisiknya—suara pecah.

Baca sampai habis.

Pesan terakhir: **"Tunggu aku, Ismi. Kumohon... tunggu aku."**

Laptop jatuh dari pangkuan—bunyi gedebuk keras.

Ismi terdiam—mata kosong. Mulut terbuka tapi nggak ada suara keluar.

Terus...

Tangis.

Tangis keras—histeris. Kayak orang kehilangan segalanya.

"DYOOOOON!" teriakannya nyaring—sampe orang tuanya di bawah denger.

Ibu Sarah naik—cepat. Buka pintu kamar. "Ismi! Ada apa—"

Ismi nggak jawab. Cuma nangis—guling-guling di lantai, tangan ngepal rambut sendiri, teriak-teriak nggak jelas.

"KENAPA?! KENAPA DIA NINGGALIN AKU?! KENAPA?!"

Ibu Sarah bingung—nggak ngerti. "Ismi, tenanglah—"

"JANGAN SENTUH AKU!" Ismi teriak—nolak pelukan ibunya. "INI... INI SALAH KALIAN! KALIAN... KALIAN YANG BIKIN INI SEMUA! KALIAN YANG... YANG HANCURIN SEGALANYA!"

Ibu Sarah terdiam—shock.

Ismi merangkak ke laptop—baca pesan Dyon lagi. Air matanya netes ke keyboard.

"Dyon... kumohon..." bisiknya—suara hancur total. "Jangan... jangan tinggalin aku... kumohon..."

Tapi pesan udah terkirim.

Keputusan udah diambil.

Dan jarak... jarak mulai memisahkan mereka.

 

Malam itu, di dua tempat berbeda...

Dyon di gubuk—nangis sambil peluk foto orang tuanya.

Ismi di kamar mewah—nangis sambil peluk laptop yang masih nampang pesan Dyon.

Dua orang yang saling mencintai.

Tapi terpisah.

Bukan karena mereka nggak cukup kuat.

Tapi karena dunia... terlalu kejam.

*Kadang cinta bukan soal bersama.*

*Tapi soal melepaskan untuk sementara waktu demi kebaikan yang lebih besar.*

Tapi... apakah ada jaminan mereka akan bertemu lagi?

Apakah... "sementara waktu" itu nggak akan jadi selamanya?

Nggak ada yang tau.

Yang pasti...

Malam itu.

Dua hati... hancur.

 

**BERSAMBUNG**

**** *Aku pikir ini keputusan terbaik. Tapi aku nggak tau... keputusan ini akan jadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Penyesalan yang... nggak akan pernah bisa diperbaiki.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!