"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambar Kena Batunya
Candira Anandini nama yang indah pemberian almarhum kedua orang tuanya. Yang artinya Perempuan yang bersinar atau cantik seperti bulan dan membawa kebahagiaan atau berita sukacita.
Meskipun mempunyai kekurangan pada pendengarannya, tapi Dira punya otak cemerlang. Tidak mustahil jika berhasil mendirikan perusahaannya sendiri meskipun tidak besar, tapi penghasilannya cukup untuk makan.
Seharusnya Agung dan keluarganya bersyukur, karena Dira hidup mereka terangkat. Tapi keserakahan membuat mereka lalai, jika sesuatu di dunia sudah ada takaran sesuai porsi masing-masing takdir hidup dari Tuhan.
Sekarang setelah Dira murka karena perselingkuhan yang dilakukannya, bukannya bertaubat. Justru Agung membuat Dira berada di titik jenuh paling rendah.
Tinggal seminggu atau tujuh hari lagi sidang perdana perceraian dilaksanakan. Dan hari ini, Dira sudah mendapatkan kata TALAK yang mempermudah urusan, setelah berkas perceraian yang dulu pernah Agung tanda tangani.
"Terima kasih ya Mas Agung atas kata TALAKnya, sebenarnya tak akan ada banyak drama jika sedari awal kamu langsung menceraikanku."
"Jika alasan kalian berselingkuh karena anak, seharusnya kalian bicara jujur. Bukan hanya kalian yang mau punya anak, aku pun sama. Dan satu hal yang terpenting, aku sama sekali tidak MANDUL. Aku subur dan akan langsung hamil kalau yang membuahi sel telurku juga subur." Ucap Dira.
"KAMU MEMANG MANDUL." Teriak Agung.
"Benarkah? Sebaiknya kamu minta ijin Polisi untuk ke Rumah Sakit. Tes kesuburanmu dan yang satu lagi tes DNA kandungan Dara. Kamu tidak buta Mas Agung, perut orang hamil 3 bulan gak akan sebesar 5 bulan. Jadi, patut dipertanyakan kejujuran Dara. Atau memang kalian berdua sudah berselingkuh lebih dari 3 bulan. Tapi aku sudah tidak peduli lagi, karena kita akan bercerai. Dan untuk Ibu Arumi, seluruh barang milik Ibu dan Ambar sudah aku kirim ke rumah baru kalian di Perumahan itu. Jangan lupa setiap bulan bayar, supaya tidak diusir pihak bank. Dan jangan bermimpi jadi CEO untuk membiayai gundik." Ucap Dira.
Suasana di Kantor Polisi usai Dira bicara panjang lebar menjadi dingin, kaku dan tentunya menakutkan. Seandainya pun ada Agung yang bekerja lalu membayar kredit rumah, itu pun masih harus hidup serba pas-pasan untuk mereka. Lantas bagaimana Ibu Arumi bisa membayarnya jika dia tidak berpenghasilan, apalagi harus membiayai kuliah Ambar.
Ya, Ibu Arumi dan Agung tahunya Ambar masih tetap kuliah. Dia tidak pulang tiga hari mungkin karena ada tugas kuliah. Yang sebenarnya justru Ambar sedang bersenang-senang dengan suami orang.
"Apa yang harus Ibu lakukan? Ini semua karena Dira tidak bisa bersyukur dengan kehadiran Dara." Ibu Arumi mulai tidak waras.
Di rumahnya, Dira bernafas lega. Karena hari ini dia akan meninggalkan rumah yang penuh kenangan. Rumah yang dia bangun dengan hasil kerja keras sebelum menikah. Rumah yang diimpikan sebagai tempat pulang yang hangat bersama suami tercinta dan anak-anak mereka. Keluarga besar yang menyambutnya dengan suka cita ketika lelah bekerja.
Tapi semua hanya sekedar fatamorgana, Dira hanya bisa pasrah sekarang. Karena harus kembali hidup sendirian, tidak ada keluarga apalagi cinta. Perusahaan pun akan serah terima dengan pemilik baru esok hari. Sementara menunggu jadwal sidang perceraiannya, Dira akan tinggal di hotel. Dan saat nanti sudah ketok palu, dia tinggal pergi saja.
Semua aset sudah beralih menjadi uang di tabungan serta depositonya. Mobil yang lama sudah Dira jual, sekarang diganti dengan mobil yang punya bagasi besar untuk menampung barang-barangnya ketika pindahan.
Ya, Dira berencana berkelana keliling Pulau Jawa dengan mengendarai mobil. Sambil mencari tempat tinggal baru, yang jauh dari jangkauan Agung.
Dira tidak hanya memberi pelajaran pada Agung, Dara, Ibu Arumi. Tapi Ambar pun sedang menunggu giliran hancur karena berani menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan Dira.
Dira meminta seorang detektif melacak nomor ponsel Wisnu dan Istri Tuan Wardhana untuk memberikan kejutan. Meskipun harus melanggar batas privasi, Dira sudah tidak peduli lagi.
Yang Dira pedulikan sekarang hanya bagaimana membuat hancur semua orang yang sudah membuat hatinya remuk.
"Siap-siap Ambar, kamu akan hidup jadi gelandangan." Gumam Dira.
Lalu dengan bantuan orang IT, Dira membuat sebuah akun anonim yang tidak mudah untuk dilacak. Dira mengirimkan foto dan video kedekatan Ambar dengan Tuan Wardhana.
Dira juga menyertakan alamat Apartemen yang dibeli dengan nama Ambar. Supaya Wisnu dan Mamanya bisa menangkap basah Ambar yang sedang berbagi peluh dengan Tuan Wardhana.
"Tidak mungkin... tidak mungkin Ambar seperti itu." Ucap Wisnu syok. Tapi tak ayal dia tetap menuju alamat yang dikirim padanya.
Sama seperti Istri Tuan Wardhana, perempuan tua itu tidak terkejut. Pasalnya suaminya memang terkenal cassanova, hanya saja sudah lama sembuh. Tidak tahu jika justru sekarang memelihara gadis muda sebagai selingkuhannya.
"Kesempatan yang aku berikan habis, sudah saatnya kamu kembali ke asalmu Wardhana." Ucap Nyonya Wardhana.
Wisnu dan Mamanya datang di Apartemen di waktu yang bersamaan. Karena sesuai petunjuk yang dikirim oleh nomer pribadi akun anonim.
"Loh Wisnu... Kok kamu di sini juga?" Tanya Nyonya Wardhana.
"Iya Ma, karena aku dapat kiriman video dari nomer tidak dikenal tentang kelakuan Papa dan seorang gadis muda yang sebenarnya ingin aku jadikan seorang Istri. Tapi ternyata dia hanyalah JALANG."
"Jadi kamu kenal wanita itu? Astaga dunia sudah mau kiamat. Ada pria muda yang mencintai, justru lebih memilih pria beristri. Ayo kita tangkap basah mereka. Kamu tidak keberatan kan jika setelah ini Mama menceraikan Papamu dan memenjarakan dia serta JALANGnya dengan pasal perselingkuhan dan perzinaan?" Suara Nyonya Wardhana terdengar ragu.
"Mama... Lakukan yang membuat Mama merasakan lega dan juga bahagia. Aku tak apa, mungkin Ambar memang bukan jodohku." Jawab Wisnu.
Nyonya Wardhana menelpon pengacara keluarga dan juga polisi sebelum bertindak. Dia ingin saat pintu Apartemen itu dibuka, maka bukti langsung nampak di depan semua orang. Jadi mempermudah untuk mengajukan perceraian.
Ting
Tong
Suara bel dibunyikan oleh seorang berseragam Housekeeping Apartemen. Tanpa curiga, Tuan Wardhana yang hanya memakai boxer membukakan pintu.
"Siapa yang datang, Om?" Tanya Ambar masih menggunakan lingerie tipis mengikuti Tuan Wardhana dari belakang.
"Sepertinya petugas kebersihan, biarkan saja. Lagian kamu malas kalau disuruh bersih-bersih." Ucap Tuan Wardhana.
Pintu terbuka, dan betapa terkejutnya Tuan Wardhana dan Ambar saat di hadapannya ada lima orang yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Wah... Ternyata Papa lembur gali lubang di sini." Ucap Wisnu tersenyum kecut melihat penampilan Ambar.
"Pak Polisi tangkap kedua pezina ini, jangan biarkan mereka bebas bernafas setelah melukai banyak hati."
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂