Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Sesuatu yang jarang ditunjukan
Aula SMK Pamasta pagi ini bertransformasi menjadi pusat inovasi yang padat. Udara di dalam ruangan besar itu terasa lebih hangat dari biasanya, dipenuhi oleh deru kipas pendingin dari puluhan perangkat keras dan aroma khas sirkuit elektronik yang memanas. Pameran Teknologi Tahunan adalah ajang pembuktian bagi siswa kejuruan, dan bagi jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), ini adalah panggung utama mereka.
Aku berjalan melintasi barisan stan dengan langkah tenang. Sebagai siswa Akuntansi, lingkungan ini terasa sangat asing. Jika di kelasku segalanya tentang keteraturan angka dan dokumen, di sini segalanya tentang konektivitas, logika biner, dan transmisi data. Aku mencari stan kelas 10 TKJ 2, tempat di mana Vema dan Nadin seharusnya berada.
Di sudut aula yang cukup luas, aku melihat mereka. Sebuah papan nama bertuliskan "Mini Data Center & Network Topology Implementation" berdiri dengan gagah. Nadin tampak sibuk di depan sebuah monitor besar, jemarinya bergerak cepat melakukan pengecekan baris kode. Sementara itu, Vema berdiri di depan sebuah rak besi kecil yang berisi susunan perangkat elektronik yang tampak rumit.
Vema mengenakan seragam praktikum jurusannya—kemeja kerja berwarna abu-abu gelap dengan aksen biru. Ia sedang menjelaskan sesuatu kepada beberapa guru penguji. Cara ia berdiri, cara ia menunjuk ke arah kabel-kabel berwarna-warni itu, memancarkan kepercayaan diri yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tampak sangat menguasai dunianya.
Begitu para penguji berlalu, aku melangkah mendekat.
"Penjelasan yang sangat meyakinkan, Vem," sapaku.
Vema menoleh dan tersenyum tipis, tampak sedikit
lega melihatku. "Sarendra. Akhirnya kamu datang. Kupikir kamu akan terjebak di laboratorium akuntansi untuk menghitung laporan di aplikasi MYOB."
"Aku tidak ingin melewatkan pameran ini," jawabku sambil berdiri di depan perangkat yang ia jaga. "Jadi, apa sebenarnya yang sedang kalian pamerkan di sini? Terlihat jauh lebih kompleks daripada sekadar menyambungkan kabel ke internet."
Vema melangkah maju, mendekati rak besi tersebut. Matanya berbinar saat ia mulai menjelaskan. "Ini adalah simulasi jaringan High Availability Cluster. Intinya, kami membangun sistem server yang tidak boleh mati. Jika satu jalur terputus, jalur lain akan mengambil alih secara otomatis dalam hitungan milidetik."
Ia menunjuk ke sebuah perangkat kotak pipih dengan banyak lampu indikator hijau yang berkedip. "Ini adalah Core Switch. Di sini kami melakukan konfigurasi VLAN atau Virtual Local Area Network. Kami membagi jalur komunikasi agar data administrasi sekolah, data guru, dan data siswa tidak saling tumpang tindih dalam satu jalur fisik. Ini krusial untuk keamanan data."
Aku mendengarkan dengan saksama. Cara Vema menjelaskan tidaklah terburu-buru; ia menggunakan terminologi teknis namun menyampaikannya dengan logika yang sangat teratur.
"Lihat kabel kuning tipis ini?" tanyanya sambil menunjuk kabel serat optik yang melingkar rapi. "Ini adalah Fiber Optic. Berbeda dengan kabel tembaga biasa, data di sini dikirimkan melalui pulsa cahaya. Kecepatannya jauh lebih tinggi dan tidak terpengaruh oleh gangguan elektromagnetik. Kami menggunakannya untuk menghubungkan antar-gedung di simulasi ini."
Vema kemudian beralih ke sebuah layar monitor yang menampilkan grafik lalu lintas data yang bergerak naik-turun. "Nadin yang mengurus bagian sistem operasinya. Kami menggunakan Linux Server untuk menjalankan layanan Web dan Database. Kami mengimplementasikan Firewall yang cukup ketat di sini untuk mencegah akses yang tidak sah."
Aku tertegun sejenak. Selama ini, aku mengenal Vema sebagai sosok yang tangguh secara emosional karena tragedi yang kami lalui. Namun, melihatnya di sini, menjelaskan detail teknis tentang latensi data, topologi jaringan, dan enkripsi keamanan, membuatku menyadari satu hal: Vema adalah seorang pemikir yang sangat presisi.
"Kamu terlihat sangat mengagumi sistem ini, atau sedang bingung dengan istilah-istilahnya?" tanya Vema sambil sedikit memiringkan kepalanya, memperhatikanku.
"Jujur, keduanya," jawabku dengan senyum kecil. "Aku kagum dengan bagaimana kamu memahami struktur serumit ini. Dalam akuntansi, kami memastikan setiap rupiah terlacak dengan benar. Di sini, kamu memastikan setiap bit data sampai ke tujuannya tanpa kesalahan. Logikanya hampir sama, tapi mediumnya sangat berbeda."
Vema tampak tersenyum mendengar perbandinganku. "Itu benar, Dra. Jika sistem ini gagal, maka seluruh informasi akan terhenti. Sama seperti jika neraca lajurmu tidak seimbang, maka laporan keuangan akan menjadi tidak valid. Kami menjaga 'keseimbangan' di sini melalui kabel dan baris perintah."
"Aku benar-benar terkesan, Vem," kataku tulus. "Melihatmu di sini, aku menyadari bahwa kamu bukan hanya sekadar bertahan di kelas TKJ. Kamu benar-benar memimpin di sana."
Vema menunduk sedikit, pipinya menunjukkan rona merah samar yang nyaris tak terlihat di bawah lampu aula yang terang. "Terima kasih, Dra. Itu berarti banyak bagiku. Terutama karena kamu adalah orang yang menghargai ketelitian."
Nadin tiba-tiba menyahut dari balik monitornya tanpa menoleh, "Jangan hanya berdiri di sana dan saling memuji, Sarendra. Cobalah tes sistem kami. Klik tombol di tablet itu, dan lihat seberapa cepat server cadangan kami mengambil alih saat aku memutus kabel utamanya."
Aku mengikuti instruksi Nadin. Begitu kabel utama dicabut, layar monitor menunjukkan sedikit guncangan pada grafik, namun dalam waktu kurang dari satu detik, sistem kembali berjalan normal. Efisiensi itu sungguh luar biasa.
Kami menghabiskan waktu sekitar lima belas menit membicarakan teknis perangkat tersebut sebelum akhirnya suasana aula menjadi semakin padat oleh pengunjung dari luar sekolah.
"Sepertinya kamu akan sangat sibuk hari ini," ucapku saat melihat rombongan pengunjung baru mendekati stan mereka.
"Begitulah. Tapi aku senang kamu datang," kata Vema. Ia merapikan sedikit kerah kemeja praktikumnya. "Sampai jumpa di depan gerbang saat pulang nanti?"
"Tentu," jawabku.
Aku berjalan meninggalkan stan TKJ dengan perasaan baru yang memenuhi dadaku. Kekagumanku pada Vema telah naik ke level yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar gadis yang berbagi rahasia gelap denganku di bawah payung hujan. Ia adalah seorang teknisi muda yang cerdas, yang memiliki masa depan cerah di balik jemarinya yang terampil merangkai jaringan.
Saat aku kembali ke gedung Akuntansi untuk melanjutkan pelajaran, pikiranku masih tertuju pada kabel serat optik dan jalur cahaya yang dijelaskan Vema. Aku menyadari bahwa hubungan kami pun seperti jaringan yang ia bangun: memiliki jalur utama dan jalur cadangan, diperkuat oleh kejujuran, dan kini, sedang bertransmisi dengan frekuensi yang sangat stabil.
Duniaku dan dunia Vema mungkin berbeda jurusan, namun di bawah atap SMK Pamasta ini, kami sedang membangun arsitektur masa depan yang jauh lebih kokoh dari sistem mana pun.
...****************...
Kegiatan Pameran Teknologi di aula sekolah berakhir tepat saat matahari mulai condong ke ufuk barat. Riuh rendah suara siswa yang membereskan stan masing-masing menjadi latar suara saat aku menunggu Vema di dekat gerbang utama. Tak lama kemudian, sosoknya muncul dengan tas punggung yang tampak berat—mungkin berisi beberapa perangkat praktikum yang harus ia simpan kembali.
Kami melangkah keluar dari area sekolah, berjalan beriringan menyusuri trotoar yang mulai teduh oleh bayangan pepohonan mahoni. Percakapan kami awalnya hanya berkisar pada kesuksesan pameran tadi, hingga sebuah suara mesin motor yang mendekat memecah konsentrasi kami.
Seorang siswa laki-laki dengan seragam praktikum yang sama dengan Vema memperlambat laju motornya tepat di samping kami.
"Vem! Pulang duluan ya! Konfigurasi servermu tadi keren banget!" teriak siswa itu sambil membuka kaca helmnya sebentar.
Aku memperhatikan reaksi Vema. Ia tampak tersentak kecil, seolah kehadiran teman sekelasnya itu adalah sebuah interupsi yang tidak terduga. Ia mengangkat tangannya sedikit, memberikan lambaian yang sangat kaku.
"I-iya, hati-hati," jawab Vema dengan suara yang sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin motor. Senyumnya tampak dipaksakan, dan matanya tidak benar-benar menatap lawan bicaranya.
Begitu motor itu melesat menjauh, Vema segera menundukkan kepala, merapikan tali tasnya dengan gerakan yang menunjukkan kegelisahan. Ada sebuah perubahan drastis dalam gesturnya; jika saat menjelaskan teknologi tadi ia tampak begitu berwibawa, kini ia kembali menjadi sosok yang sangat tertutup, seolah sedang mencoba mengecilkan keberadaannya di ruang publik.
Aku tidak langsung bertanya. Sebagai seseorang yang terbiasa mengamati anomali, aku mencatat hal ini dalam benakku. Mengapa seorang gadis yang begitu cerdas dan vokal di bidang teknis tampak begitu kesulitan dalam interaksi sosial yang paling sederhana dengan teman sekelasnya sendiri? Aku menyadari ada sebuah lapisan kehidupan Vema di kelas 10 TKJ 2 yang belum kuketahui.
Aku harus bicara dengan Nadin nanti, pikirku. Sebagai teman dekat sekaligus rekan satu kelas Vema, Nadin pasti memiliki perspektif yang lebih mendalam mengenai dinamika sosial Vema di tengah dominasi siswa laki-laki di jurusannya
Kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang sedikit berbeda dari biasanya. Saat sampai di depan rumah Vema, suasana terasa lebih hangat. Di teras depan, Bapak sedang duduk di kursi rotan, mengenakan sarung dan kaus putih santai. Sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa kedamaian benar-benar telah kembali ke rumah ini.
"Baru pulang, Nak?" sapa Bapak saat kami sampai di depan pagar.
"Iya, Pak. Tadi ada pameran teknologi di aula," Vema menjawab sambil membuka pagar, suaranya sudah kembali normal meskipun masih ada sisa-sisa kelelahan.
Aku membungkuk hormat saat memasuki halaman. "Sore, Pak."
"Sore, Sarendra. Mari, duduk dulu sebentar. Jangan buru-buru pulang," ajak Bapak dengan nada ramah yang tulus.
Aku pun duduk di kursi kayu panjang di seberang Bapak, sementara Vema masuk ke dalam untuk meletakkan tas dan mungkin membantu Ibunya di dapur.
"Bagaimana pamerannya? Bapak dengar dari Vema, jurusannya membuat simulasi server yang cukup rumit," tanya Bapak memulai percakapan.
"Luar biasa, Pak. Vema menjelaskan semuanya dengan sangat detail. Saya sendiri yang dari jurusan Akuntansi merasa sangat kagum melihat bagaimana ia menguasai bidang tersebut. Ia benar-benar berbakat di sana," jawabku sejujur mungkin.
Bapak tersenyum, ada binar kebanggaan yang tidak tertutupi di matanya. "Vema itu memang anak yang tekun, Sarendra. Sejak kecil dia lebih suka membongkar benda-benda elektronik daripada bermain di luar. Saya hanya berharap, kecerdasannya bisa membawanya ke tempat yang lebih baik daripada apa yang pernah saya dan Ibunya alami."
Kami berbincang tentang banyak hal—tentang harapan Bapak terhadap masa depan Vema, tentang rencanaku setelah lulus nanti, hingga hal-hal ringan mengenai perkembangan sekolah. Bapak kini bercerita dengan gaya bahasa yang lebih terbuka, seolah beban berat yang dulu mengunci mulutnya telah hilang sepenuhnya.
Tak lama kemudian, Vema keluar membawa tiga gelas teh hangat. Kami menikmatinya bersama di bawah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Suasana terasa sangat tenang, sebuah manifestasi dari kehidupan normal yang pernah kami perjuangkan dengan taruhan nyawa.
Tepat saat Bapak hendak melanjutkan ceritanya tentang masa muda beliau, suara adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid di ujung gang.
Suaranya yang menggema di udara senja menjadi sebuah tanda alami bahwa waktuku di sini telah habis untuk hari ini.
Aku segera meletakkan gelas teh yang sudah kosong dan berdiri. "Sudah masuk waktu Maghrib, Pak. Saya rasa saya harus segera pulang."
"Oh, iya. Memang sudah waktunya," jawab Bapak sambil ikut berdiri. "Terima kasih sudah mengantar Vema pulang, Sarendra. Dan terima kasih juga sudah selalu menjadi teman yang baik untuknya."
Vema berjalan bersamaku menuju pagar. "Hati-hati di jalan, Dra. Maaf ya, obrolan dengan Bapak tadi jadi cukup lama."
"Tidak apa-apa, Vem. Aku justru senang bisa bicara banyak dengan Bapakmu," kataku sambil tersenyum. Namun, sebelum aku melangkah pergi, aku menatapnya sejenak. "Vem, jika ada sesuatu yang mengganggumu di sekolah... kamu tahu kamu bisa bicara padaku, kan?"
Vema tampak sedikit terkejut, namun kemudian ia hanya mengangguk pelan. "Aku tahu. Sampai jumpa besok, Dra."
Aku melangkah pulang dengan sejuta tanya yang tersisa di kepalaku. Sapaan kaku temannya tadi terus terngiang. Ada sebuah misteri lain, yang mungkin bukan tentang hantu atau kutukan, melainkan tentang bagaimana Vema memposisikan dirinya di tengah lingkungan sekolahnya. Dan aku tahu, besok aku harus mencari Nadin untuk mendapatkan jawaban atas teka-teki ini.
ada apa dgn vema
lanjuuut...