NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Jebakan

Ketukan di pintu kamarku terdengar ringan dan berirama. Tok-tok-tok-tok.

Itu bukan ketukan tegas Ciarán. Bukan ketukan ragu pelayan. Itu ketukan seseorang yang tahu dia pemilik tempat ini.

Aku sedang duduk di dekat jendela, membaca buku sejarah yang dipinjamkan Mr. Abernathy atau lebih tepatnya, menatap halaman yang sama selama dua jam tanpa menyerap satu kata pun.

"Masuk," kataku, menutup buku.

Pintu terbuka.

Dan di sana, berdiri Isabella Vane.

Alis saya terangkat refleks. Ini adalah pertama kalinya dalam dua minggu aku tinggal di sini, Isabella sudi menginjakkan kakinya di dekat kamarku. Biasanya, dia menghindariku seperti aku membawa wabah kolera.

Tapi hari ini berbeda.

Isabella tersenyum. Senyum yang lebar, manis, dan memamerkan deretan gigi putih yang sempurna. Dia mengenakan gaun musim panas motif floral berwarna pastel yang membuatnya terlihat seperti bidadari taman.

"Hai, Elara," sapanya riang. Suaranya terdengar seperti sirup—manis, kental, dan memuakkan.

"Isabella," balasku hati-hati, tidak membalas senyumnya. "Ada apa? Apa aku salah memegang garpu lagi saat sarapan tadi?"

Isabella tertawa kecil, suara tawa yang dilatih untuk terdengar renyah. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, matanya sekilas menyapu gaun tidurku dengan tatapan menilai, sebelum kembali menatap wajahku.

"Oh, jangan konyol. Itu kan masa lalu," katanya, mengibaskan tangan seolah menghapus insiden makan malam itu. "Aku datang ke sini dengan misi perdamaian."

"Perdamaian?" ulangku skeptis.

"Ya. Teman-temanku akan datang sore ini untuk high tea di taman belakang. Cuacanya sedang sempurna. Dan aku berpikir... kenapa tidak mengajak sepupu-sepupuku bergabung?"

Dia menekankan kata 'sepupu' dengan nada yang sulit diartikan.

Jebakan.

Alarm di kepalaku berbunyi nyaring. Isabella Vane tidak melakukan amal. Dia tidak mengajak orang luar masuk ke lingkaran sosialnya kecuali dia butuh audiens, atau korban.

"Terima kasih tawarannya," tolakku sopan tapi tegas. "Tapi aku dan Lily harus belajar. Mr. Abernathy memberi banyak PR."

"Oh, ayolah! Belajar terus membuat wajahmu keriput," Isabella maju selangkah, meraih tanganku. Kulitnya halus dan dingin. "Lagipula, Lily sudah setuju."

"Apa?"

Tepat saat itu, Lily muncul di ambang pintu di belakang Isabella. Wajah adikku berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. Dia sudah mengenakan gaun kuning favoritnya, gaun yang dulu dihina Isabella sebagai 'norak'.

"Kak Elara! Ayo ikut!" seru Lily antusias. "Kak Bella bilang akan ada kue macaron dan strawberry tart! Dan teman-temannya mau kenalan sama kita!"

Aku menatap Lily dengan pandangan memperingatkan. Jangan bodoh, Lily. Dia bukan temanmu.

"Lily," kataku pelan. "Kita punya tugas—"

"Ah, lihat kalian! Manis sekali!"

Suara ketiga memotong perdebatanku. Eleanor Vane muncul di lorong, berjalan anggun dengan setelan santai. Dia berhenti di pintu, menatap kami bertiga dengan wajah terharu, tangannya menangkup di dada.

"Aku senang sekali melihat kalian akhirnya berbaur," kata Eleanor, matanya berkaca-kaca. "Inilah yang selalu kuimpikan. Sepupu-sepupu yang saling menyayangi, menghabiskan waktu bersama seperti wanita muda yang beradab."

Eleanor menatapku penuh harap. "Kau akan ikut kan, Elara? Jangan mengecewakan Isabella. Dia sudah susah payah menyiapkan semuanya."

Aku terpojok.

Di depanku ada Isabella dengan senyum liciknya. Di belakangnya ada Lily yang memohon dengan mata anak anjing. Dan di pintu ada Eleanor, sang nyonya rumah yang memberiku makan dan tempat berteduh, yang sedang memintaku dengan "halus" untuk bersikap kooperatif.

Menolak sekarang berarti membuat Eleanor sedih. Membuat Eleanor sedih berarti membuat posisi kami di rumah ini semakin sulit. Dan yang lebih parah, itu akan membuat Ciarán punya alasan untuk menceramahiku lagi soal "tidak tahu terima kasih".

Aku menarik napas panjang, menelan rasa curigaku bulat-bulat.

"Tentu, Bibi Eleanor," kataku, memaksakan sudut bibirku naik membentuk senyum tipis yang kaku. "Aku akan dengan senang hati bergabung."

Isabella bertepuk tangan kecil, matanya berkilat penuh kemenangan.

"Bagus sekali!" serunya. "Pakai sesuatu yang cantik ya, Elara. Teman-temanku sangat... fashionable. Kau tidak mau terlihat berbeda sendiri, kan?"

Dia berbalik dan berjalan keluar, menggandeng tangan Lily seolah mereka sahabat sejati. Eleanor mengikutinya dengan senyum puas.

Aku ditinggalkan sendirian di kamar.

Jebakan sudah dipasang. Dan aku baru saja melangkah masuk ke dalamnya dengan mata terbuka.

***

Taman belakang Vane Manor sore itu tampak seperti lukisan Renoir yang menjadi hidup.

Cahaya matahari sore yang keemasan menembus sela-sela dedaunan pohon ek tua, menciptakan pola-pola cahaya di atas rumput hijau yang sempurna. Di bawah naungan gazebo putih bergaya Victoria, sebuah meja bundar telah disiapkan dengan taplak meja renda putih, perangkat minum teh porselen Royal Albert, dan menara piring tiga tingkat yang dipenuhi kue-kue mungil nan cantik.

Tapi keindahan itu terasa palsu begitu aku melangkah mendekat.

Di sekeliling meja itu duduk tiga gadis muda lainnya. Teman-teman Isabella. Mereka semua tampak serupa: cantik, berkulit putih bersih, rambut ditata salon, dan mengenakan gaun desainer yang harganya mungkin bisa memberi makan satu panti asuhan selama setahun.

Saat aku dan Lily mendekat, percakapan mereka terhenti serentak.

Empat pasang mata menatap kami. Tatapan mereka bukan tatapan menyambut. Itu adalah tatapan pengunjung kebun binatang yang sedang melihat spesies baru yang aneh di balik kaca. Menilai. Mencari cacat.

"Ah, ini dia!" seru Isabella, berdiri menyambut kami. Senyumnya terlalu lebar. "Perkenalkan, ini sepupu-sepupuku yang... baru ditemukan. Elara dan Lily."

Lily tersenyum lebar, melambai canggung. "Halo! Aku Lily!"

Aku hanya mengangguk singkat, menarik kursi besi bercat putih di sebelah Lily dan duduk. Gaun navy baruku terasa kaku di badan, melindungiku seperti baju zirah.

"Halo," sapa seorang gadis berambut merah dengan hidung mancung yang sedikit mendongak. Dia menatap Lily dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Gaunmu... cerah sekali. Sangat... berani."

"Terima kasih!" jawab Lily polos, tidak menangkap sarkasme di sana. "Ini hadiah dari Bibi Eleanor. Seperti bunga matahari, kan?"

Gadis-gadis itu bertukar pandang, lalu terkikik kecil di balik cangkir teh mereka. Suara tawa mereka seperti denting lonceng beracun.

"Silakan duduk, jangan malu-malu," kata Isabella, menuangkan teh Earl Grey ke cangkirku. "Kami sedang membicarakan liburan musim panas. Chloe baru pulang dari Saint-Tropez. Kalian pernah ke sana?"

"Belum," jawabku datar, mengambil cangkir teh itu. "Kami jarang bepergian."

"Oh, tentu saja," sambar gadis berambut pirang pendek di sebelah Chloe. Matanya bulat dan terlihat lugu, tapi pertanyaannya setajam silet. "Isabella bilang kalian tinggal di panti asuhan sebelum ini. Panti asuhan... yang bangkrut?"

"Ya," jawab Lily sambil mengambil sebuah macaron merah muda. "Tempatnya sudah tua, tapi kami punya banyak teman di sana."

"Benarkah?" Gadis berambut merah itu memcondongkan tubuh ke depan, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu yang kejam. "Aku selalu penasaran. Apa benar di panti asuhan kalian harus berbagi sikat gigi? Aku pernah baca di novel kalau anak panti itu sangat... komunal."

Aku membeku. Cangkir teh di tanganku berdenting pelan melawan piring kecilnya.

"Tidak," jawabku dingin. "Itu tidak higienis."

"Oh, syukurlah," kata si rambut merah sambil menghela napas dramatis. "Aku membayangkannya saja sudah mau muntah. Maksudku, berbagi ludah dengan lusinan orang asing? Ew."

Mereka tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

Lily berhenti mengunyah macaron-nya. Senyum di wajahnya mulai goyah.

"Lalu, bagaimana dengan orang tua kalian?" tanya gadis ketiga yang memakai kacamata berbingkai permata. "Maksudku... siapa mereka? Kenapa mereka membuang kalian? Apa mereka penjahat?"

Pertanyaan itu meluncur begitu santai, seolah dia sedang menanyakan cuaca.

"Mereka tidak membuang kami!" sergah Lily, suaranya sedikit meninggi. "Ayah kami meninggal! Dan Ibu kami..."

"Ibu kalian kabur dengan pria lain, kan?" potong Isabella dengan senyum simpatik yang palsu. "Itu yang kudengar dari Ayah. Kasihan sekali. Pasti genetikanya... rumit."

Darahku mendidih. Julian Vane berbohong. Dia tahu Ibu meninggal karena sakit, Ayah sendiri yang mengatakannya di depan gerbang dua belas tahun lalu. Tapi Julian memilih untuk memfitnah orang mati demi merendahkan kami di mata anak-anaknya. Betapa piciknya pria tua itu.

Tanganku di bawah meja meremas kain rok gaunku begitu erat hingga rasanya buku jariku akan meledak. Aku ingin menyiramkan teh panas ini ke wajah Isabella. Aku ingin membalikkan meja cantik ini dan membungkam mulut-mulut berbisa mereka.

Tapi aku tidak bisa.

Eleanor mengawasi dari jendela lantai dua. Aku bisa merasakan tatapannya. Jika aku membuat keributan, akulah yang akan disalahkan. Akulah "binatang liar" yang tidak tahu adat.

"Dan bajunya," lanjut si gadis pirang, menunjuk gaun kuning Lily dengan dagunya. "Sebelum Bibi Eleanor membelikan baju baru... apa benar kalian memakai baju bekas orang mati? Maksudku, sumbangan panti kan biasanya dari orang-orang yang sudah meninggal, bukan?"

Lily terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia meletakkan macaron yang baru digigit setengah itu kembali ke piring.

"Itu... bukan baju orang mati," cicit Lily pelan. "Itu baju sumbangan orang baik."

"Sama saja, sayang," kata Isabella lembut, menepuk punggung tangan Lily seolah sedang menenangkan anjing. "Baunya pasti apek. Seperti bau kuburan."

Gadis-gadis itu menutup mulut mereka, bahu mereka berguncang menahan tawa.

Mereka menikmati ini. Mereka sedang bermain-main dengan makanan mereka.

Aku menatap Lily yang menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan air matanya. Lalu aku menatap Isabella yang sedang menyesap tehnya dengan anggun, jari kelingkingnya terangkat.

Cukup.

Aku melepaskan cengkeramanku pada rok gaun. Aku menegakkan punggungku. Aku meletakkan cangkir tehku dengan suara klik yang tegas di atas meja.

"Menarik sekali," kataku tiba-tiba. Suaraku tenang, tapi dingin menusuk, memotong tawa mereka seketika.

Keempat pasang mata kembali menatapku.

"Apa yang menarik, Elara?" tanya Isabella, alisnya terangkat menantang.

"Bahwa kalian begitu terobsesi dengan kehidupan orang miskin," jawabku, menatap mata mereka satu per satu. "Kalian bicara soal sikat gigi dan baju bekas dengan semangat yang luar biasa. Sepertinya hidup kalian yang penuh kemewahan itu sangat membosankan, sampai-sampai kalian harus mengais hiburan dari penderitaan orang lain."

Senyum di wajah teman-teman Isabella lenyap.

"Dan soal baju bekas orang mati," lanjutku, tatapanku terkunci pada si gadis pirang. "Setidaknya baju itu diberikan dengan ketulusan. Berbeda dengan gaun mahalmu yang dibeli dengan uang hasil... apa pekerjaan ayahmu? Penggelapan pajak?"

Gadis pirang itu tersentak, wajahnya memerah padam. "Berani-beraninya kau—"

"Elara!" bentak Isabella.

"Apa?" Aku tersenyum tipis, meniru senyum Ciarán. "Aku hanya bertanya. Sama seperti kalian."

Suasana di gazebo itu berubah drastis. Dari pesta teh yang manis menjadi medan perang yang tegang.

Aku tahu aku baru saja menyalakan api. Tapi aku tidak peduli. Jika mereka ingin bermain di kandang ular, aku akan menunjukkan pada mereka siapa yang punya bisa paling mematikan.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!